Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Kalandra Akira Putra Thoriq


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Hanna sudah hamil besar. Thoriq kini menjadi suami siaga. Walau hubungannya dengan Hanna sebatas kewajiban, namun calon ayah itu sangat menantikan kelahiran bayinya.


Qiara yang kehamilannya beberapa minggu lebih dulu dari Hanna pun juga sudah tinggal menunggu hari. Ia sudah mengalihkan pekerjaan ke teman-teman, tapi ada beberapa klien yang masih ditangani sendiri.


Seperti pekerjaan di mansion Devan yang kini memasuki ruangan-ruangan yang lebih pribadi.


Siang itu Qiara sedang merancang tata letak dan dekorasi kamar yang dulu dipakai Liam. Kamar itu terletak di samping kamar utama di lantai atas. Devan menginginkan bekas kamar Liam dijadikan ruang kerjanya. Qiara beranggapan, kamar tersebut sangat pas untuk ruang tidur anak, sementara untuk ruang kerja bisa dibuat di kamar lain yang terletak di seberang kamar utama.


Qiara ingin menunjukkan ke Devan desain kamar anak terlebih dulu. Jika kliennya masih tidak setuju, maka Qiara akan membuatnya menjadi ruang kerja.


Sambil bersenandung, Qiara menata ulang perabot yang ada. Ia membawa contoh karpet dan wall paper ceria untuk mengubah nuansa kamar. Ia tak sabar mengajukan konsepnya pada Devan.


Qiara mendengar suara lift tiba di lantai atas mansion. Dia bersiap menyambut Devan dan menjelaskan konsep ruang tidur anak.


Tak berapa lama Devan masuk diiringi Jack di belakang kursi rodanya.


“Hi, good morning, Doctor D,” sapa Qiara ramah.


Senyum hangat di wajah Devan menghilang begitu masuk ke kamar.


“Qiara, what are you doing? This isn’t what I want!” Devan menatap berkeliling dengan tatapan tak suka.


“Sebentar, Doctor D, aku tahu ini tidak sesuai keinginanmu, tapi ruangan ini sangat pas untuk ruang tidur anak. Pencahayaannya dan aliran udaranya sangat bagus. Untuk ruang kerja saya bisa buatkan di ruangan depan kamar tidur utama,” jelas Qiara. Wanita hamil itu berbalik ingin menerangkan lebih lanjut.


“Keluar!” Devan membentak Qiara membuatnya terlonjak kaget.


“Aku bilang keluar! Nggak akan ada lagi anak kecil di rumah ini. Ngapain kamu bikin kamar anak, hah? Ini bukan rumahmu! Jangan kau pikir kau sedang menyiapkan kamar untuk anakmu. Pergi!”


Devan berteriak sambil menjalankan kursi rodanya berkeliling kamar. Melempar semua barang yang bisa diraihnya.


Tak menyangka reaksi Devan yang begitu menyeramkan, Qiara berdiri diam. Devan masih berteriak-teriak dan memaki. Jack mendekati Qiara lalu menuntun wanita yang tengah shock itu keluar ruangan.


Baru berapa langkah, Qiara berhenti. Air ketubannya pecah membasahi lantai dan bajunya. Rasa sakit membuatnya berteriak. Jack menahan wanita hamil itu agar tidak jatuh.


Devan berhenti mengamuk.


“Qiara!” Amarah berganti dengan panik dan khawatir.


“Jack, baringkan dia. Cepat! Telepon ambulance.”


Karena di kamar itu tidak ada tempat tidur dan hanya ada box bayi Liam, maka Jack membaringkan Qiara di karpet lalu mengambil bantal. Rasa sakit di perut Qiara membuatnya terus mengaduh dan merintih.


“Ya Allah, ya Allah, tolong aku. Tolong selamatkan anakku, ya Allah, ya Allah.”


***


Thoriq sudah bersiap berangkat ke kantor ketika tiba-tiba rasa sakit yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya hingga terjatuh di kamarnya.


“Ya Allah, sakit!”


Sudah payah ia berusaha mengangkat tubuhnya ke tempat tidur dan berbaring di sana.


Thoriq terus merintih, rasa sakit terus menghujam, rasa sakit yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.


***


“Qiara aku akan memeriksamu, ya, kamu tahu kan aku adalah dokter kandungan.”


Di sela sakitnya, Qiara menggeleng.


“No, tolong bawa ke rumah sakit.”


“Qiara, ijinkan aku menolongmu.”


“Aaaaah!” Qiara berteriak kesakitan. Darah keluar dari antara ke dua kakinya.


“Jack, cepat ambilkan beberapa handuk besar, air hangat, gunting, dan antiseptik. Qiara akan melahirkan di sini,” titah Devan.


“No, no, no! Nak, kuat kamu harus kuat. Buna nggak mau melahirkan di sini. Aaah!”


“Cepat Jack, kontraksi Qiara sudah kurang dari 1 menit.”


Devan mendekatkan kursi rodanya ke arah Qiara yang terbaring di karpet.


“Qiara, aku menduga kamu sudah siap melahirkan. Ijinkan aku memeriksamu saat Jack datang.”


“Nggak! Aku sanggup menunggu sampai… sampai aaaaah!”


Qiara meremas karpet hingga buku-buku jarinya memutih.


“Ya Allah, ya Allah, astaghfirullah… tolong hamba.”


Devan menatap wanita di depannya yang sedang merintih kesakitan. Bayangan dulu saat istrinya melahirkan Liam berkelebat di benaknya. Betapa Stella tidak pernah melepas tangannya dan mencari kekuatan saat terjadi kontraksi dengan terus menatap mata Devan. Laki-laki yang dicintainya.


Wanita hamil di hadapannya kini sedang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan buah hati, ditemani seorang yang dikenalnya beberapa bulan lalu dan baru saja mengamuk di hadapannya.


“Qia ambil napas dalam, kontraksi akan segera datang. Aku bantu kamu atur napas.”


Air mata mengalir membasahi pipi Qiara.


“Sakit banget. Kamu janji, jika ada apa-apa, kamu akan …. Kamu akan bawa … anakku ke kakakku. Janji!”


“Ijinkan aku memeriksamu, Qiara. In syaa Allah aku bisa menolongmu,” mohon Devan dengan nada khawatir.


Qiara mengangguk pasrah. Devan menggerakkan kursi roda untuk memeriksa Qiara. Di saat genting, kursi roda malah tidak bisa bergerak sama sekala.


“Ya Allah, laa ilaahaillallaah, laa ilaahaillallaah.” Kontraksi kembali mendera Qiara. Kini ia sudah di ambang kepasrahan. Dirinya merasa darah masih keluar dari antara kedua kakinya.


Devan masih berusaha menggerakkan kursi roda ketika akhirnya ia mengucap, “Bismillaahirrahmanirrahiim.”

__ADS_1


Dengan tertatih, Devan bangkit berdiri di atas ke dua kakinya, selangkah demi selangkah menuju ke arah bawah tubuh Qiara lalu duduk bersimpuh.


Jack datang dan tercengang melihat Devan tidak di atas kursi roda.


“Jack, cepat! Kamu bawa antiseptik juga kan?”


“Iya, Tuan.”


Devan membersihkan tangannya. Di mansion tidak ada sarung tangan karet. Ia terpaksa membantu Qiara dengan peralatan yang minimal.


“Maaf Qiara aku mulai periksa, ya.”


Devan menekuk kedua kaki Qiara lalu meletakkan handuk di atas kedua lututnya.


Dengan seksama Devan memeriksa Qiara.


“Bukaan mu sudah lengkap, bayi juga sudah masuk ke jalan lahir. Kamu sudah siap melahirkan Qiara. Jika kontraksi datang, kamu tahan perut lalu mulailah mengejan.”


Jack berlutut sambil memegangi tangan Qiara yang kini dingin.


Suaranya lembut ketika berkata, “You got this. Kamu pikirkan dalam beberapa menit, kamu akan melihat buah hatimu. Aku dan Devan akan menjagamu.”


Qiara melirik ke arah Jack lalu mengangguk.


“It’s coming, aaaaah!” Serunya.


“Push Qiara! Yeah you’re doing great! Push!” Perintah Devan.


Qiara menggenggam tangan Jack erat-erat saat mengejan. Sedapat mungkin mengatur napas saat kontraksi berhenti.


“Bismillaahirrahmanirrahiim, aaaaah!” Qiara sekali lagi mengejan saat kontraksi datang. Jack terus menggengam tangan Qiara memberinya kekuatan pada wanita yang sefang mempertaruhkan nyawa.


Qiara beberapa kali mengejan, hingga akhirnya terdengar suara bayi menangis dengan lantang.


Qiara bernapas lega. Seluruh rasa sakitnya hilang seketika. Ia kini menangis penuh haru diiringi tawa bahagia. Jack yang menangkap bayi yang baru lahir itu kini meletakkannya di dada Qiara.


“Selamat, anakmu laki-laki dan sehat.”


“Maa syaa Allah, alhamdulillah. Alhamdulillah.” Qiara menatap wajah buah cintanya dengan Thoriq.


“Assalamualaykum Kalandra Akira Putra Thoriq,” ucapnya dengan penuh kebahagiaan.


Jack membantu Devan bangkit lalu kembali mendudukkannya di kursi roda.


Dua laki-laki itu menatap takjub pada ibu dan bayi yang kini nampak berseri-seri.


Kalandra nampak sangat nyaman di pelukan ibunya.


Di luar terdengar suara sirine ambulance mendekat ke mansion.


“Qiara, kamu dan bayimu akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Mereka akan merawatmu di sana karena aku tidak punya alat lengkap di sini. Aku dan Jack akan terus menemanimu.”


“Devan, boleh aku memanggilmu Devan?”


“Apakah kamu bisa mengadzani putraku?”


“In syaa Allah, Qiara.”


Jack mengambil Kalandra dari pelukan Qiara lalu memberikan ke Devan.


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Hayya 'alashshalaah. Hayya 'alashshalaah. Hayya 'alalfalaah. Hayya 'alalfalaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah.”


Suasana berubah syahdu ketika Devan melafadzkan adzan di telinga Kalandra. Tak terasa air mata lolos dari pria itu ketika menatap wajah Bayi Kalandra yang seolah balik menatapnya dan tersenyum.


“Oh my God. He smiles back at him,” ucap Jack sambil tersenyum menatap Kalandra dengan hangat.


Di tengah kebahagiaan Qiara, kesedihan menyusup di relung hatinya.


“Harusnya kamu, Mas yang mengadzani Kala …” Batinnya sendu.


Tak berapa lama dua orang petugas ambulance naik ke lantai atas.


Devan mengembalikan Kalandra kepada ibunya lalu berkata lembut pada Qiara, “Mereka akan membawamu dan Kalandra sekarang. You’ll be fine.”


Qiara mengangguk sambil mendekap bayinya. Erat sekali, seolah ia mengirimkan cinta yang telah jauh ditinggalkannya namun masih bertahan di hatinya.


Ibu muda itu mengecup pipi mungil bayinya, lalu berkata, “Terima kasih, terima kasih telah membantuku dan mengadzani anakku. Dari semua orang di dunia ini, aku tak menyangka kamulah yang membantuku melahirkan.”


“Oooh she’s back! Semenit dia berterima kasih, semenit kemudian dia mulai mengejekku, kamu lihat itu, Jack?” balas Devan sambil tertawa mendengar ucapan Qiara.


Ketiganya tertawa dengan perasaan yang bercampur aduk. Bahagia, sedih, gamang, menjadi satu.


Dua petugas memeriksa Qiara lalu bersiap memindahkannya ke brangkar. Qiara melirik ke arah karpet.


“I’m sorry I ruined your carpet,” ucapnya lirih.


(Maaf aku merusak karpetmu).


“Oh I think we’re even, dear,” seringai Devan.


(Oh kita seri kok …)


“Devan! You’re sick,” balas Qiara dengan wajah bersemu merah, paham betul makna ucapan Devan yang telah melihat bagian paling inti di tubuhnya.


“Hahaha sorry, no worries about the carpet.” Balas Devan mengurangi kecanggungan.


(Hahaha, jangan khawatirkan karpetnya.)


“Permisi, kami akan membawa pasien ke rumah sakit.” Petugas berkata setelah membaringkan Qiara di brangkar.

__ADS_1


“Baik, kami akan mengikuti dari belakang.”


“Silakan Doctor Devan,” sahut petugas ambulance dengan hormat.


Tak berapa lama, Qiara sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit diikuti Devan dan Jack.


***


Thoriq merasa hidupnya akan berakhir. Ia sudah pasrah, hanya menyesal tidak akan sempat bertemu anaknya yang masih di kandungan Hanna dan belum bertemu langsung dengan Qiara untuk meminta maaf.


Bibirnya terus melafadzkan tahlil. Entah berapa lama Thoriq merasa kesakitan hingga akhirnya rasa itu hilang sendirinya.


“Alhamdulillah ya Allah.” Setelah rasa sakit hilang beberapa menit, Thoriq berusaha bangun. Ia duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih hape.


“Assalamualaykum Hanna, kamu dimana?”


“Waalaykumussalam, ini lagi sarapan sama temen-temen di teras. Sini Mas, ada temen-temenku. Mereka mampir bawain bubur.”


Thoriq bernapas lega karena Hanna baik-baik saja. Ia pernah membaca seorang suami yang ikut merasa kesakitan saat istrinya melahirkan. Dia membenahi pakaiannya lalu berjalan keluar kamar.


Di teras, Hanna dikelilingi teman-teman barunya. Mereka habis berolah raga, hanya mengenakan celana pendek dan tanktop.


“Hanna, Mas berangkat.” Thoriq mengurungkan niat menyapa setelah melihat pakaian teman-teman istrinya.


“Ya Mas,” sahut Hanna. Thoriq menunggu Hanna namun agaknya istrinya sedang asyik bersama teman-temannya. Thoriq mengangkat bahu lalu berjalan menuju mobilnya dan berangkat ke kantor.


***


Di enam tempat yang berbeda, Dhanu, Marianne, Alya, Sabrina, Cherish, Ella terpekik kaget sekaligus bahagia melihat foto yang dikirim Qiara.


“Meet Baby Kalandra Akira Putra Thoriq.”


Dhanu langsung melakukan sambungan video call dengan adiknya.


“Assalamualaykum maa syaa Allah, Adikku. Mas seneng banget …” Ucapnya dengan mata yang menghangat. Tak dipedulikan saat itu ia berada di dalam lift yang penuh orang.


“Waalaykumussalam, Mas. Kala abis nyusu ni. Mas, ternyata nyusuin pertama itu sakit banget, ya…” Qiara berkata polos.


Dhanu tertegun karena menyadari ia berada di lift yang penuh dokter dan pasien.


“Qia, Mas Dhanu lagi di dalam lift nih, nggak pake hands-free.”


Mata Qiara terbelalak, sadar ucapan terakhirnya mungkin didengar banyak orang. Dhanu buru-buru keluar ketika pintu lift terbuka.


“Mas! Ngapain sih telepon dari dalem lift. Qia kan malu.”


Dhanu terkekeh mendengar omelan adik semata wayangnya.


“Kamu gimana kondisinya, Dek? Jam berapa lahirnya?”


“Tadi jam dua-an kalau nggak salah.”


“Wah alhamdulillah sempat ke rumah sakit, ya, Dek.”


“Waah Qia melahirkan nggak di rumah sakit. Di tempat klien, yang bantuin juga kliennya Qia, alhamdulillah dia dokter.”


Dhanu tersentak.


“Ya Allah, Qia. Kamu nggak apa-apa?”


“Sempet horor, tapi alhamdulillah ada Dokter Devan dan Jack nemenin Qia.”


Dhanu memijat pangkal hidungnya, membayangkan adiknya melahirkan ditemani dua orang asing. Rasa bersalah membuncah di dada Dhanu.


“Mas Dhanu akan ke sana Qia. Mas akan jagain Qia dan Kala.”


“Hahaha nggak usah, Mas. Alhamdulillah di sini banyak yang jagain Qia. Sebentar lagi mama mertua Mas akan nyampe barengan Mark. Nanti malam, Stephanie ngotot mau nemenin Qia di sini.”


Beberapa telepon masuk bersamaan, dari sahabat-sahabatnya.


“Mas, temen-temen Qia nelepon.”


“Qia, Qia, anak kamu udah diadzanin? Kalau belum sini Mas adzani.”


“Udah, tadi sama Doctor Devan. Dia blaster Indonesia - Australia. Islam juga. Tadinya Qia ragu apa dia bisa adzan. Alhamdulillah ternyata dia bisa. Paling Qia nitip nanti buat aqiqah ya. Qia kirim uang buat dia kambing.”


“Nggak usah Qia, dari Mas aja.”


“Qia pengin, Mas. Nggak apa pake uang Qia ya. Secepatnya Qia kirim. Mas udahan nanti Qia telepon lagi. Nih say bye sama Baby Kala.”


Qiara mengarahkan kamera ke bayinya yang tidur lelap. Setelah menyudahi, ia mengangkat sambungan telepon para sahabatnya.


“Qiara! Ya ampun, seneng banget. Baby Kala lagi ngapain? Berapa berat dan panjangnya.”


Pertanyaan bertubi-tubi datang dari para ibu yang bahagia menyambut kedatangan anggota baru di keluarga besar mereka.


“Lagi bobok, Onti, abis nyusu. Beratnya 3,2 kg, panjang 52 cm. Gaes, gimana sih cara nyusuin biar nggak sakit.”


Kelima sahabat itu kemudian mengobrol dengan semangat seputar perawatan untuk ibu yang baru lahir. Kala tetap tidur dengan nyenyak, sesekali bergerak namun kembali terlelap.


“Qi udahan dulu ya, mesti meeting. Girl, you look glowing. Iya kan, gaes. Nggak ada itu hidung jambu karena hamil. Cantik banget kamu.”


“Alhamdulillah, doain aku lancar di sini ya.”


“Pasti. Take care Qi, nanti kita bakal sering kasih tips buat kamu. Secara kita dah berkali-kali beranak,” pungkas Sabrina sebelum mereka mengakhiri video call.


Qiara meletakkan hapenya di nakas.


“You and me, Kala. Kita bisa ya, berdua aja. Buna akan jagain kamu. In syaa Allah.”

__ADS_1


Sambil terus mengamati bayinya yang terlelap, Qiara menyadari satu hal, betapa Kala amat sangat mirip dengan mantan suaminya.


***


__ADS_2