Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
She’s Back/Jasmine Porter


__ADS_3

Sambil berendam di jacuzzi, Stella meredakan amarahnya. Sebuah foto yang ditemukan di sebuah laman berita membuatnya kalut.


Devan Donavy putra mahkota Grup Donavy memperkenalkan istri barunya, Qiara Anjani di sebuah pesta eksklusif di London.


Di foto itu nampak Devan, lebih tampan dari biasanya, wajahnya berseri menatap sang istri, yang dibalut busana muslim tertutup tetap terlihat memesona.


Kemurkaan Stella bukan karena itu. Di foto itu Liam nampak menggandeng Qiara sambil tertawa lebar pada Kala. Potret sebuah keluarga bahagia.


“Brengsek! Kau boleh ambil Devan, tapi tidak dengan anakku.”


Stella berpikir sebentar sebelum menyentuh layar hape untuk menelepon seseorang.


“Nick! How are you?”


“Stella, Baby! How have you been, long time no see.”


Stella tersenyum sinis. Dirinya adalah orang terakhir yang ingin ditemui Nick. Mantan suaminya yang demi dia, Stella meninggalkan Devan dalam keadaan lumpuh.


Awal pernikahan mereka bahagia, membesarkan Liam bersama. Hingga Stella memergoki Nick sedang bercinta dengan seorang model muda, dua tahun setelah pernikahan. Bukan itu saja, suaminya ternyata tidak pernah setia dari awal pernikahan.


Malu dengan keputusannya meninggalkan Devan untuk Nick, Stella memilih mengalah dan menerima pengkhianatan demi pengkhianatan suaminya.


Ia memutuskan bercerai ketika Liam tanpa sengaja masuk ke kamar dan melihat Nick bersama wanita lain saat dirinya sedang berada di lokasi pemotretan.


Stella dibantu seorang pengacara berhasil membuat Nick hampir bangkrut untuk membiayai berbagai tunjangan. Walau uang yang dihasilkannya sebagai model sangat bisa membiayai Liam. Tunjangan ini lebih sebagai balasan atas sakit hati terhadap Nick.


“Nick, aku terlibat kesulitan. Dengar, apakah aku bisa minta tolong? Kamu punya kenalan di perusahaan milik Donavy?”


“Ada sepupuku, kenapa? Itu perusahaan mantanmu bukan?”


“Ya, anyway, aku perlu membantu seseorang bernama Jasmine Porter. Apakah kau bisa minta membuat sepupumu mengundangnya untuk magang di sana?”


“Wait, kamu terlibat kesulitan apa? Permintaanmu ini aneh. Siapa Jasmine Porter?”


“Katakanlah, aku berhutang nyawa padanya. Please … Jasmine adalah mahasiswa S2 jurusan ekonomi. Ia mau ditempatkan di mana saja asal keluar dari negaranya. Ia berasal dari Afrika Barat.”


“What are you doing in Africa. Baby, permintaanmu ini benar-benar tidak masuk akal.”


“Look, aku akan menceritakan semuanya padamu suatu saat. Tapi untuk sekarang, tolonglah aku. Nick, kamu berhutang banyak padaku. Ayolah.”


“Setelah ini kita impas?”


“Impas.”


“Kuusahakan Stell, kirimkan CV dari temanmu ini nanti kubicarakan dengan sepupuku.”


“You’re the best, Nick. Bye, love.”


“I know. Bye!” Balas Stella dengan suara manja merayu.


“Tapi kamu juga seorang playboy bajingan, Nick,” gumam Stella setelah panggilan terputus.


Stella mengirim CV yang sudah lama disusunnya. Ia juga mengirim credentials palsu yang disiapkan dengan bantuan pemalsu yang membuatkan identitas atas nama Jasmine Porter.


Sejak menikah dengan Brian, Stella selalu menjadi istri yang baik untuk mendapatkan kepercayaan Brian. Lambat laun Brian mulai mempercayai dan memberikan akses ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Sambil menunggu semuanya siap, Stella semakin memikirkan masak-masak rencananya. Mereka-reka ulang dan mencari potensi kegagalan.


Berminggu-minggu Stella menunggu surat undangan dari Donavy Group. Hingga akhirnya Nick mengirimkan padanya.


“Kita impas, aku tidak perlu membayar tunjangan-tunjangan gilamu. Toh anakmu baik-baik saja dengan ayahnya.”


Stella hanya mendengus.


Berbekal surat tersebut, ia mengurus segala sesuatu. Tinggal uang tunai.


Kesempatan itu muncul setelah Brian minta Stella mulai mengurus keperluannya. Stella tidak mau mengundang kecurigaan, di beberapa kesempatan ia mengambil sedikit demi sedikit uang tunai dari brankas.


Perjuangan Stella tidaklah selalu mudah. Brian ternyata memiliki keinginan seksual yang berbeda. Tak jarang Stella babak belur usai melayani Brian. Beberapa kali Stella harus ke rumah sakit karena mengalami retak pada tulangnya atas perlakuan Brian.


Stella terlihat beruntung namun pada kenyataannya ia buntung.


***


Jasmine Porter alias Stella menghirup udara Melbourne yang dirindukannya.


Kini saatnya ia memulai rencana untuk menyingkirkan Qiara Anjani.


Wanita itu tidak memikirkan sedikitpun suaminya yang tengah terkapar di rumah sakit merenggang nyawa. Racun yang diberikan di minuman membuat Brian ambruk dan tak sadarkan diri.


Saat dokter berhasil mengetahui penyebabnya, Stella berhasil terbang menuju Eropa sebelum melanjutkan ke Australia.


Harus berhati-hati menggunakan uangnya, Stella memilih apartemen sederhana. Ia membeli pakaian yang pas untuk bekerja.


“Mulai saat ini aku harus membiasakan diri dipanggil Jasmine.”


Stella kemudian membuka laman-lama berita. Tersenyum kecut melihat resepsi mantan suaminya dengan Qiara. Ia tersenyum kecut membaca ternyata Qiara diterima oleh publik. Bahkan netizen yang terkenal kritis ikut memuji Qiara.


***


Qiara masih tidur pulas. Devan memandangi wajah istrinya. Tak henti dirinya bersyukur atas hadirnya Liam, Qiara, dan Kala dalam hidupnya.


Liam sangat menerima Qiara dan Kala. Jika tidak menjaga perasaan adik tirinya, anak itu akan ikut bermanja-manja dengan Qiara.


Qiara mambalik badan. Devan menahan tubuh istrinya agar terus menghadapnya.


“Gak boleh,” bisik Devan lembut.


Qiara mengerjapkan mata, bulu mata lentik bergerak-gerak membuat Devan menggigit bibir menahan gemas. Tak ingin membangunkan istrinya yang kembali pulas, Devan mengecupi lembut mata, hidung dan bibir Qiara sebelum dirinya akhirnya tidur sembari memeluk istrinya.


***


Phil Donavy, ayah Devan melihat proposal interior design yang dibuat menantunya. Hasil ngobrol-ngobrol setelah makan malam menjadi usulan konkrit yang membuatnya takjub.


“Dev, kamu di mana?”


“Di rumah sakit, aku ada operasi sore ini. Kenapa Dad?”


“Sudah liat desain yang dibuat Qiara?”


“Keren ya … istri siapa dulu …”

__ADS_1


“Istri kamu mau nggak ya pegang proyeknya.”


“Nggak boleh, nanti istriku sibuk.”


“Dev …”


“Nggak! Udah ya, Dad, mau mulai operasi. Bye!”


Phil mendengus sebal, “Dasar pelit!”


Tak mau patah arang, Phil menelepon Qiara.


“Hai Dad …” Phil tersenyum mendengar Qiara memanggilnya Dad. Di keluarganya, mereka biasa memanggil nama untuk mertua.


“Qia, where are you?”


“Lagi di mansion sama Mommy, kami lagi masak casseroles untuk nanti malam. Daddy pulang cepat kan? Soalnya Devan agak telat, ada operasi katanya.”


“Hmm, sok sibuk dia. Qia, aku suka rancanganmu. Aku ingin memintamu memegang proyek ini.”


“Alhamdulillah, syukurlah kalau Daddy suka. Untuk tawarannya, coba aku diskusikan sama Devan. Pada prinsipnya aku ikut aja keputusan suami.”


“You can make any decision on your own, Qia.”


“Kalau sudah menikah, maka istri itu menjadi tanggung jawab suami. Maaf, Dad, aku akan diskusikan dulu sama Devan, ya. Thank you so much…”


Phil tersenyum mendengar jawaban menantunya. “Aku menghargai kepatuhanmu pada Devan. Beritahu aku apa keputusan kalian. See you tonight …”


“Bye, Dad!”


Phil kembali mempelajari rancangan Qiara untuk gedung perkantoran ramah lingkungan yang akan dibangun di Perth.


Pintu kaca ruangannya diketuk.


“Hi, Phil. So, your son married to a genious, I think.” Lisa, sepupu bisnis sekaligus partner bisnis Phil masuk dan langsung duduk di hadapannya.


“Ya, kan … dia baru buat rancangan lantai dasar dari obrolan pas makan malam. “


“I like her. Akan sangat bagus kalau dia bisa terlibat di proyek ini.”


“Dia akan bicarakan dengan suaminya dulu,” sahut Phil.


“Really? Di jaman milenial seperti ini dia masih mau minta ijin Devan? Aku nggak tau mesti bilang crazy atau amazing.”


Lisa dan suaminya telah menikah lebih dari tiga puluh tahun. Sebagai wanita karir dan mandiri, Lisa terbiasa mengambil keputusan sendiri dan hanya memberitahukan suaminya.


George suaminya, juga seorang pebisnis yang sangat bersifat terbuka dengan keinginan istrinya.


Lisa melanjutkan, “Aku berharap dia mau bergabung. Qiara bisa menjadi aset buat kita. Oya btw, aku sudah dapat asisten, dia akan ke sini. Ah, ini dia.”


Pintu kaca kembali terbuka.


“Kenalkan, Phil, ini Jasmine Porter, asisten baruku yang menggantikan Bianca.”


Jasmine Porter mengangguk sopan, matanya menatap ramah Phil.

__ADS_1


“Nice to meet you, Sir.”


***


__ADS_2