Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
EP 3: Biang Kerok


__ADS_3

Alex memburu masuk ke rumahnya.


“Fatimah, Fatimah …”


Istrinya keluar dari dapur.


“Ikut aku.” Alex menarik tangan Fatimah.


“Abang, kenapa? Kita mau kemana?”


Alex tidak menjawab. Ia mengemudikan mobil sport mewahnya menuju klinik dokter kepercayaannya.


Begitu tiba di klinik mewah bercat ungu krem, Fatimah menyadari sesuatu. Ia membuka pintu untuk kabur.


“Nop! Kamu akan lepas spiral dan mengandung anakku.” Alex merengkuh Fatimah lalu menggandengnya masuk.


“Abang … Abang, aku belum siap.” Fatimah menarik tangannya.


Dengan sekali gerakan, Alex memanggul Fatimah masuk ke ruang praktek.


“Ck, kenapa harus heboh sih, Lex?” Tanya Dokter Mirza. Fatimah memukul-mukul punggung suaminya. Kakinya bergerak ke sana kemari mempersulit Alex.


“Ya gitu deh. Liat kan bini gue juga heboh. Sayang, udah dong. Percuma ngelawan. Kamu nggak mungkin menang.”


“Lex, lu harus belajar jadi suami. Nggak gini caranya.”


“Iya nanti gue jadi suami. Sekarang copot dulu IUD istri gue. Ini nggak ada dokter cewek apa?Nggak rela istri gue diliat sama elu.”


“Ada di rumah sakit lain,” Mirza terkekeh, tahu betul sahabatnya tidak mungkin pergi ke klinik lain.


“Buruan.”


“Blo’on, lu lepas dulu Fatimah, biar gue ajak ngobrol.”


Begitu Alex menurunkan Fatimah, wanita itu langsung melayangkan tendangan. Untung saja Alex juga jago bela diri sehingga bisa menghindar.


Fatimah yang sudah gelap mata mengayunkan tangannya yang ditangkis oleh Alex. Mirza menatap miris pasangan suami istri yang jauh, bahkan sangat jauh dari batas normal.


“Excuse me.”


Fatimah terus melancarkan serangan sementara Alex terus bertahan tanpa menyerang.


Tak sabar dan tak mau ruang praktiknya hancur, Mirza meniup peluit anaknya yang tertinggal di sana.


“Kalian stop! Nyonya Fatimah, silakan duduk. Biang kerok, kamu juga.”


Alex mencibir ke arah Mirza. Fatimah siap menghajarnya lagi.


“Stop! Silakan duduk, Bu.”


Fatimah menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Alex duduk di kursi agak jauh, tidak mau memancing keributan yang akan menunda Mirza mencopot spiral istrinya.


Setelah semua tenang, Mirza membuka file kesehatan milik Fatimah yang dikirim dari London.


“Nyonya, di sini sudah pakai IUD dari dua tahun lalu?”


“Ya, Dokter. Anak saya yang bungsu ada kelainan, jadi saya dan Mas Kala memutuskan untuk tidak punya anak dulu.”


Alex menekan cemburu saat istrinya menyebut nama mantan suaminya. Setiap pagi dan malam menggempur Fatimah tidak serta merta membuat wanita keras kepala itu jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Malah ia masih merasakan kehangatan saat Fatimah menyebut nama Kalandra. Alex mengepal tangannya.


“Nyonya mau copot?”


“Nggak mau. Saya belum siap punya anak dari Bang Alex,” jawabnya terus terang.


“Fatimah …” Alex memanggil nama istrinya dengan gusar.


“Lex … lu tenang atau keluar.”


“Suruh keluar aja, Dok.”


“Pak Dokter Mirza, saya akan sopan dan tenang,” balas Alex sambil tersenyum manis pada Fatimah.


“Dokter, saya memang belum siap lahir batin. Bang Alex, ijinkan saya pakai IUD beberapa bulan lagi.”


“Nggak! Mirza, you are wasting everyone’s time. Lepas, nanti aku akan bicara dengan Fatimah.”


“Bicara? Bang, kamu nggak pernah ajak aku bicara. Semuanya order dan hukuman. Kamu janji nggak akan menyakiti aku. Tapi itu yang kamu lakukan tiap hari. Bahkan untuk bercinta pun, kamu nggak pernah nanya aku siapa atau enggak, kan?”


“Fatimah! Ada Mirza!”


“Udah kadung. Fine, kalau kamu mau aku hamil. Dokter, bener kata suami saya. Percuma kita ngomong kalau dianya tetep jadi tembok. Abang, antar aku ke rumah sakit buat cari obgyn wanita.”


“Nggak, sama Mirza aja.”


Fatimah mendelik. “Kamu mau punya aku diliat sama dia? Aku mah ogah.”


Tanpa peduli reaksi suaminya, Fatimah bangkit lalu keluar ruangan.


“Fatimah! Mir, bentar gue tangkep dia dulu.”


“Mir, lu tau kan gue nggak gampang percaya sama orang.”


“Kali ini, lu harus percaya. Lu punya istri sholihah tapi warrior. Tolong jaga dia.”


Alex mengambil kertas yang diulurkan Mirza kemudian gegas menyusul Fatimah.


“Sayang …” Panggilnya saat melihat Fatimah sedang mengamati kondisi sekeliling yang lumayan ramai.


“Tadi kamu gotong aku pas lagi banyak orang gini, Bang?” Tanya Fatimah lirih.


Untuk menyelamatkan diri, Alex menjawab, “Aku nggak perhatikan, Sayangku. Oya ini ada referensi dari Mirza buat ke obgyn cewek.”


“Bang, aku capek.” Satu tangan Fatimah menggosok dahinya, matanya terpejam.


Alex menatap tubuh yang terlihat makin kurus.


“Fatimah, maafin Abang.” Alex merengkuh istrinya ke dalam pelukan. Fatimah tidak bergerak, membenamkan wajahnya ke dada suaminya.


Beberapa pengunjung klinik diam-diam merekam. Anak buah Alex langsung membuat barikade untuk menjaga privacy tuannya.


“Kita pergi dari sini, yuk.”


Fatimah mengangguk lemah.


Alex menggandeng istrinya masuk ke dalam mobil sport berwarna putih yang parkir di depan lobby.


Tak lama ia menjalankan mobilnya. Sesekali melirik Fatimah yang memandang ke depan dengan tatapan kosong.

__ADS_1


“Tidurlah, Sayang. Kalau sudah sampai, Abang bangunin.”


“Boleh, Bang?” Fatimah mengangkat alis curiga.


Alex mengangguk.


“Nanti kalau bangun aku nggak dihukum?”


Alex menatap miris ke wajah istrinya yang khawatir. Betapa jahatnya dia sebagai seorang suami.


“Nggak, udah, bobok dulu.”


Fatimah menyandarkan kepalanya. Tubuhnya terasa penat. Semalaman, Alex terus minta jatah. Ia baru bisa tidur beberapa jam setelah Alex berangkat ke kantor.


Begitulah tiap hari kehidupan Fatimah. Malam hari akan menjadi saat penyiksaan lahir batin. Siang hari ia mengisi waktu dengan memasak, mengaji, atau mendengarkan tausiah, karena Alex tidak pernah mengijinkannya keluar rumah sendirian.


Ia bersyukur tiap malam diijinkan video call dengan anak-anaknya. Walau harus menunggu Alex. Kehidupan Fatimah jauh dari kebahagiaan. Jauh dari anak yang sedang sakit, menikah dengan pria yang dibenci, dan meninggalkan cinta dalam hidupnya.


Alex tidak pernah mengajaknya mengobrol. Kalimat yang keluar dari bibirnya adalah perintah yang mutlak harus dipatuhi. Alex memang tidak pernah memukulnya, tapi hukuman saat bercinta lebih sakit dan memalukan.


Kelopak matanya terasa berat. Tak lama ia terpejam. Dalam tidurnya ia mengguman, “ Hazel, Kenzo, Bunda kangen.”


Sepertinya baru sekejap Fatimah terlelap, tiba-tiba gerakan halus membangunkannya.


Alex menikmati bulu mata lentik yang mengerjap-ngerjap setiap bangun tidur.


Fatimah mengernyit, pada awalnya tidak mengenali ruangan tempatnya tertidur.


“Abang, kita di pesawat? Emang mau kemana?”


Alex tidak menjawab. Ia malah memeluk Fatimah. Tak terasa air mata mengalir.


“Abang kenapa nangis?”


“Fatimah, Abang nggak pernah merasa sesedih ini. Bahkan ketika orang tua sendiri menjual Abang, rasanya tak sesakit ini. Belum pernah Abang merasakan cinta ke seseorang kecuali sama kamu.”


“Abang …”


“Fatimah, kita mau ke London. Abang tau kamu memendam rindu. Abang kejam sudah memisahkan kamu dengan anak-anak. Abang tau kamu menderita, tapi Abang nggak berani bawa kamu menemui anak-anak karena kamu masih cinta sama Kala.”


“Abang, nggak mungkin aku menghapus rasa cinta sama Mas Kala. Semua ada proses. Walau Abang memaksa menikahi aku, tapi bagaimana pun berkat donor dari Abang, Kenzo sekarang sudah sehat. Fatimah memang membenci Abang, tapi itu proses yang harus kita lalui. Hanya Abang tidak membuat Fatimah mudah untuk jatuh cinta.”


“Maaf. Mungkin ini semua sudah karakter Abang. Hidup Abang keras sekali.”


Fatimah menggigit bibir. Ia melihat banyak sekali luka di tubuh suaminya. Dari bekas tembakan, jahitan, bekas cambuk. Alex sengaja tidak menutupi untuk mengingatkan dirinya terhadap perjalanan hidup yang sudah ia lalui.


“Kamu tahu, Fatimah, Abang hampir nggak pernah tidur setiap malam. Abang takut kehilangan kamu. Setiap pulang kantor, Abang bahagia dimasakin sama kamu. Walau sering kamu sengaja bikin masakannya keasinan atau kemanisan.”


Fatimah menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Abang nggak pernah nangis, Sayang. Cuma kamu yang bisa bikin perasaan Abang kacau balau. Mafia bucin. Fatimah, apakah kamu mau kembali ke Kala?”


Fatimah membuka tangannya yang menutupi wajah.


“Abang, bolehin?”


“Jika kamu bahagia.”


***

__ADS_1


__ADS_2