
Di rumah sakit lain, Qiara tak sadarkan diri di tempat tidur ruang gawat darurat. Wajahnya pucat pasi.
“Astaghfirullah Qiara!” Dhanu yang sedang praktek segera berlari ke UGD mendengar adiknya di sana.
Para tetangga yang juga mengenal Dhanu memutuskan untuk membawa Qiara ke rumah sakit tempatnya praktek. Sebagian dari mereka adalah pasien Dhanu.
“Telepon suaminya!” Usul salah seorang dari mereka.
“Jangan, tadi saya liat Pak Thoriq keluar merangkul perempuan yang juga kesakitan. Lagi pula liat tuh lebam di pipi kiri dan kanan Bu Qiara. Saya takut ada KDRT,” jawab istri Pak RT yang pertama kali datang ke rumah Qiara. Kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah Qiara.
Dhanu mengepalkan tangannya mendengar obrolan para tetangga Qiara.
Seorang dokter obgyn senior datang.
“Dokter Dhanu, saya periksa pasien dulu ya.”
“Siap, Prof.”
“Apakah adiknya sedang hamil?”
“Setau saya enggak sih, dia nggak cerita. Kalau hamil pasti saya dikasih tau Prof.”
“Kok saya yang dipanggil?”
Dhanu mengerutkan kening.
“Maaf Prof, tadi ibu-ibu yang mengantar ngotot pasien diperiksa obgyn. Karena mereka melihat pasien selalu memegang perut bagian bawah.”
“Oooh insting emak-emak biasanya bener.
Bismillaah, saya periksa Bu Qiara ya Dokter Dhanu,” Profesor Diningrat, seorang obgyn senior menempelkan alat USG di perut Qiara. Ia terus menggeser-geser alat USG.
“Bu Qiara pakai spiral, nih. Agak mengsol jadi nusuk ke rahim. Sakit sekali ini… Tapi sebentar saya lihat lagi.”
Profesor itu kembali menggeser alat USG di perut Qiara yang masih belum sadar.
“Allahu Akbar! Dokter Dhanu sini lihat.”
Profesor menunjuk ke bulatan kecil di rahim Qiara.
“Ya Allah, Dek, kamu hamil!”
“Ini benar-benar bukti manusia berencana, Allah yang Maha Menentukan. Sudah pakai spiral, masih bisa hamil. Ya sudah ini saya akan lepas spiralnya supaya nggak sakit lagi. Kalau dari usia kehamilan, Bu Qiara hamil 6 minggu. Kondisinya aman. Nanti saya resepin obat penguat dan vitamin.”
Profesor Diningrat merapikan alat USG. Sebelum berlalu ia mengamati wajah Qiara yang lebam.
“Dok, nggak divisum aja?” Tanyanya pada Dhanu.
“Saya belum tau kejadiannya, Dok.”
“Saya sarankan divisum. Sepertinya Bu Qiara pingsan menahan sakit di perut jadi nggak perlu CT Scan. Lebih baik dihindari saat hamil.”
“Baik, Dokter.”
Prof Diningrat berlalu setelah Dhanu mengucapkan terima kasih.
“Dek, kamu hamil. Mulai sekarang, Mas Thoriq yang akan jagain kamu. Kalau perlu Mas akan tuntut suami biadabmu itu.”
***
Hanna sudah berbaring di ruang perawatan. Beberapa dokter dipanggil karena Thoriq menginginkan kepastian istrinya baik-baik saja.
Dan semua dokter mengatakan tidak ada masalah dengan Hanna. Paling berat mereka mengatakan Hanna shock saja karena didorong oleh Qiara.
Thoriq menahan marah setiap kali mendengar Hanna mengulang kejadian. Setiap Hanna bercerita, semakin pula ia menambah bumbu yang membuat Qiara terdengar sebagai istri tua yang cemburu, sementara Hanna kesana dengan niat baik dan tulus.
“Hanna, maafin Mas nggak bisa jagain kamu sehingga Qiara menyakiti kamu. Alhamdulillah semuanya baik. Sekarang kamu coba tidur sambil nunggu makanan datang. Mas udah pesan Bakmi JM kesukaan kamu. Istirahat dulu ya, Sayang.”
“Cium dulu,” pinta Hanna manja.
Thoriq mendaratkan ciuman di bibir Hanna yang kini terlihat menggemaskan. Entah kemana rasa cinta pada Qiara yang selama ini dipujanya. Thoriq kecewa dan menganggap Qiara adalah wanita cemburuan yang berpikirkan sempit dan tega menyakiti wanita hamil.
__ADS_1
Tidak ada keinginan Thoriq untuk mencari tahu keadaan Qiara. Ia ingin fokus pada Hanna dan janin di perutnya.
Pria itu memeriksa hape, banyak telepon dari Dhanu dan teman-teman Qiara. Ia mematikan hapenya, baginya Hanna dan janin di perutnya lebih penting dari Qiara.
***
Qiara terbangun. Matanya mengerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya di kamar.
Dhanu mendekati adiknya. Di dalam kamar sudah ada Marianne, Cherish, Ella, Alya, Sabrina. Dhanu memanggil semua sahabat Qiara. Karena dirinya belum berkeluarga, Dhanu pikir Qiara akan lebih nyaman bicara dengan sahabat-sahabatnya.
“Hai kamu! Duuh putri tidur lamaaa banget deh. Gue ampe bosen ngeliatin lu tidur,” seloroh Alya yang sebetulnya lega melihat sahabatnya bangun.
“Gue dimana? Mas Thoriq?” Tanya Qiara begitu kesadarannya pulih.
“Nggak tau dari tadi Mas Dhanu telponin nggak angkat,” jawab kakaknya.
Netra Qiara berubah sendu.
“Kok gue di sini?”
“Kamu tadi pingsan Dek. Itu ibu-ibu se RT kompleks pada nganterin kamu. Tapi mereka nggak tau kejadiannya. Mereka cuma liat Thoriq pergi sama perempuan kayaknya kesakitan juga. Terus salah satu dari ibu itu sayup-sayup denger orang minta tolong. Sebenernya kejadiannya gimana?”
Qiara memejamkan mata. Terlintas di benaknya bagaimana Hanna dengan keji menuduhnya, lalu Thoriq yang berjanji melindunginya malah langsung memercayai Hanna. Thoriq, laki-laki yang ia cintai dan membuatnya bertahan dalam pedih menamparnya dua kali dan mendorongnya.
Tanpa iba malah mengatakan ini adalah hukuman baginya karena telah mendorong Hanna.
Bulir-bulir air mata membasahi pipi Qiara.
“Sshh sshhh, udah jangan dipikirin. Kamu harus tenang Dek. Jangan sampai janin di perut kamu terganggu karena kamu stress.”
Qiara terbelalak.
“Janin? … Mas … Qiara hamil? Beneran Qia hamil? Kan Qia pakai spiral.”
“Itulah Maha Besar-nya Allah. Kun Fayakun. Kamu hamil sudah enam minggu. Yang membuat sakit adalah karena spiral kamu menusuk ke rahim. Mas Dhanu lihat di perut kamu ada memar, pasti karena benturan. Sekarang spiralnya sudah dilepas. Mungkin beberapa hari kamu masih ada rasa nyeri-nyeri dikit. Tapi semuanya okay. Janin kamu aman.“
“Allahu Akbar. Maa syaa Allah. Qia hamil! Alhamdulillah ya Allah.” Kini Qiara menangis bahagia, kelima temannya memeluk tubuh ringkih itu.
“Kamu mau kasih kabar ke Thoriq?”
Qiara merenung. Terbayang di benaknya sorot mata Thoriq yang tajam dan penuh kemarahan. Sedikit pun tidak ingin mendengarnya. Seharusnya Thoriq tahu, tidak mungkin Qiara menyakiti siapapun atau apapun. Terlebih lagi wanita hamil.
Setelah merenung, akhirnya Qiara meengambil keputusan tersulit dalam hidupnya. Ia harus memikirkan janin yang ada di dalam perutnya.
“Hanna juga hamil. Mas Thoriq sudah berubah sekarang. Lebih baik Qia mundur.”
“Qi, lu nggak mau mikir dulu? Hamil sendirian nggak enak loh.” Ella mengingatkan.
“Lebih baik sendiri daripada hidup sama orang yang udah nggak cinta sama kita, El,” jawab Qiara lirih.
Bulir air mata lolos di pipi yang masih nampak pucat.
“Thoriq sudah menyakitin fisik gue. Dia tampar dan dorong gue. Dia bisa membahayakan anak dia sendiri padahal gue nggak ngelakuin apapun yang dituduhin Hanna.”
“What? Jadi gimana ceritanya.” Dhanu dan sahabat-sahabat Qiara terbelalak mendengar penuturannya.
Dengan berlinang air mata, Qiara menceritakan kejadian tadi sore. Tanpa ada yang ditutupi. Setidaknya ia bisa menceritakan kebenaran pada kakak dan sahabat-sahabatnya.
Dhanu mengepalkan tangan. Sementara kelima sahabatnya berurai air mata. Tak menyangka Thoriq yang mereka kenal begitu mencintai Qiara kini bisa berbalik membenci Qiara.
“Plan lu apa Qi?” Tanya Alya sambil menggenggam tangan Qiara.
“Gue mau pisah aja, gue mau keluar dari Jakarta. Gue nggak mau ketemu Thoriq lagi. Gue masih cinta dia, gue akan lemah dan mungkin akan bertahan sambil menahan sakit dan kecewa. Apalagi ada Hanna yang psycho, gue takut dia bakal beneran sakitin gue dan janin gue. Dia kan ngotot banget pingin jadi istrinya Mas Thoriq.”
Marianne termenung, akhirnya ia membuka suara.
“Qi, ini Mbak ada ide gila ya. Kamu mau nggak pindah ke Melbourne mumpung udah ada visa kerja setahun. Ya setelah setahun kamu emang harus balik ke Indo, tapi Mbak rasa kamu udah kuat lah.”
“Jauh amat? Nggak sekalian ke Timbuktu, Ne?” Dhanu bertanya sinis.
“Ini juga cuma usulan, Dhanu. Jangan ngegas dong.”
__ADS_1
“Lagi sih usulan ekstrim banget. Qia kamu tinggal sama Mas aja di sini. Gampang lah itu Thoriq kalau mau macem-macem bisa Mas tendang.”
“Kayak mampu aja,” gumam Marianne yang masih dongkol dengan komentar Dhanu.
Dhanu mendelik ke arah Marianne yang pura-pura tidak melihat.
“Ini kalian berdua malah ribut sendiri. Ayo kita pikirin yang terbaik buat Qiara,” titah Sabrina yang jengkel dengan kelakuan dua orang yang bisa dibilang jauh lebih senior dari mereka malah bertingkah seperti anak kecil.
“Aku setuju.”
“Mas nggak setuju. Dek, please yang bener aja. Kalau kamu pindah ke Kudus, Mas masih rada tenang. Melbourne loh Dek. Kita nggak punya rumah, nggak punya keluarga. Dokter juga mahal.”
“Ada rumah,” sela Marianne yang langsung dipelototi oleh Dhanu.
Tak menghiraukan kakak Qiara, Marianne melanjutkan detail rencananya.
“Qi, kamu tahu kan ibuku nikah sama orang Australi. Beliau tinggal di Melbourne. Mbak bisa minta tolong. Famili suaminya juga baik-baik. Mereka pasti mau bantu. Kalau nggak salah mereka ada apartemen kosong di pinggir Melbourne, suka mereka sewain ke mahasiswa. Nanti Mbak tanyain.”
Qiara mengangguk sementara Dhanu menggeleng.
“Mas, sekali ini aja please ikutin mau Qia. In syaa Allah Qia bisa.”
“Terus kamu mau hamil sambil kerja?”
“Di sini juga bakal begitu.”
“Qi, aku besok telepon ibuku. Oya ada satu temen yang punya kantor interior desain. Mbak akan kasih akun baru yang di Australia buat mereka supaya kamu diterima kerja di sana,” tambah Marianne lagi.
Keempat sahabat Qiara masih belum berkata apa-apa. Mereka semua sudah memilik anak, tahu bagaimana beratnya hamil. Ada suami aja kadang berat. Ini tanpa suami dan di negeri orang.
“Girls … girls. Mungkin kalian nggak ngerti kenapa gue seekstrim ini. Tapi gue liat di mata Mas Thoriq udah nggak ada cinta lagi buat gue. Yang dipikirkan Mas Thoriq adalah Hanna dan kandungannya. Entah gue ini lemah atau apa, tapi gue melihat Mas Thoriq udah nggak adil di antara istri-istrinya. Lebih baik gue dan bayi gue mundur. Jadi Mas Thoriq bisa fokus sama Hanna dan bayinya.”
Qiara berkata perlahan, meresapi setiap kata-kata yang ia ucapkan. Air mata membasahi pipinya yang bengkak dan lebam. Cherish terua mengompres pipi sahabatnya.
Sabrina membalas setelah meresapi perkataan sahabatnya, “Qi, lu cinta abis sama Thoriq ya. Sampai dia udah kayak gitu aja lu nggak mau dia kena adzab jadi suami dzolim.”
Sambil menghela napas panjang Qiara mengangguk.
“Makanya gue harus jauh dari dia. Buat menuntaskan rasa cinta gue. Kalau gue stay di sini, gue bakal lemah. Akhirnya perasaan dan anak gue yang jadi taruhannya. Semoga kalian mengerti dan mau mendoakan.”
Keenam wanita itu berpelukan.
Dhanu mendengus kesal. “Dasar perempuan! Nggak mikir apa di luar negeri itu apa-apa sendiri.”
“Ya Allah ini orang ya,” Marianne tidak habis pikir dengan Dhanu yang keukeuh menolak ide Qiara.
“Ella, lu jangan cerita apa-apa sama Kak Fauzan ya. Laki lu sama Mas Thoriq kan sahabatan,” pinta Qiara dengan pandangan memohon.
“Enggak akan. Mas Thoriq sama Hanna sewa apartemen gue sampai bulan ini. Abis itu gue nggak kasih sewa lagi. Nggak sudi ada wanita ular tinggal di apartemen gue.”
“Mas Dhanu, besok aku boleh pulang, kan? Secepatnya aku mau berangkat.”
“Dek, kalau kamu udah mantep, Mas akan selalu doakan.” Akhirnya Dhanu mengalah.
“Kita juga Qi. Kita doain lu dan anak lu bahagia di sana. Syukur-syukur dapat orang sana,” cetus Sabrina.
“Hush cerai aja belum! Eh Qi, lu mau pisah kan sama Thoriq? Bukan cuma kabur doang?”
***
Thoriq terbangun tengah malam. Hanna sudah tertidur pulas. Ia lega tidak ada yang membahayakan istri dan bayinya.
“Qia, Mas nggak sangka kamu setega itu.”
Thoriq berkata dalam hati.
Thoriq mengamati Hanna yang masih terlelap.
“Semoga kamu dan bayi kamu selalu sehat. Mas nggak sabar ketemu anak kita.”
Thoriq lalu kembali terlelap.
__ADS_1
***