Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Aku Tahu …


__ADS_3

Stella tersenyum sinis melihat Qiara, Lisa, dan Phil sedang berdiskusi tetang lobby gedung perkantoran dengan konsep ramah lingkungan.


Interior yang dibuat Qiara mendukung arsitektur yang menonjolkan cahaya alami. Gaya industrial yang mengedepankan konsep setengah jadi berpadu cantik dengan taman vertikal yang menyejukkan mata.


Qiara juga menempatkan bangku-bangku panjang di beberapa titik untuk menyatukan konsep luar ruang ke dalam.


Lobby gedung lima lantai itu walau belum sepenuhnya selesai bahkan telah masuk ke majalah-majalah desain interior.


Phil hanya merasa ada yang kurang dengan area tangga. Sebagai gedung ramah lingkungan, walau tetap ada elevator yang menjadi sarana untuk naik turun ke tiap lantai, tapi Phil ingin menonjolkan tangga ke tiap lantai.


“Qia, ini seperti nggak nyambung desainnya.”


Qiara berpikir sambil melihat area tangfa yang hanya dipoles semen yang sudah diratakan.


“Betul, Phil, area ini suasananya terlalu dingin. Padahal kita ingin para pekerja lebih memilih tangga daripada elevator.”


Jessica, partner dari MJ tempat Qiara dulu pernah bekerja berkata, “Bagaimana jika kita letakkan beberapa tanaman di pinggir anak tangga?”


“Tapi Jess, nanti akan mengurangi area yang dapat digunakan.”


Qiara menaiki tangga.


“Wait, Qia. Aku antar kamu ke atas,” seru Phil melihat menantunya sudah menaiki beberapa anak tangga.


Stella memerhatikan dengan iri.


“Apa sih istimewanya Qiara, sampai semua menjaga dan memperhatikannya. Biasa aja kali, hamil doang…” ucapnya dalam hati sambil mendengus pelan.


Phil menemani Qiara yang sedang berusaha merasakan suasana yang akan dibangun untuk area itu.


Ia memandang berkeliling. Memang tangga menjadi area yang tidak menyatu jika dibiarkan seperti sekarang.


“Jess, apakah kita bisa membuat area ini seolah jalan setapak? Kita juga bisa meletakkan jenis tanaman bersulur di beberapa titik pegangan tangga.”


“That’s interesting.”


Mereka kemudian terlibat dalam diskusi seru hingga dicapai kesepakatan.


“Jasmine, tolong ambilkan air mineral untuk Qiara,” perintah Lisa melihat Qiara beberapa kali terbatuk.


“Baik, Nyonya Lisa.” Stella menahan emosinya. Ia harus berjalan agak jauh untuk mengambil air mineral. Ketika kembali, ia tidak melihat Qiara di lobby.


“Qiara di lantai empat bersama Lisa,” kata Zaniff, asisten Phil yang menunggu di lantai dasar.


Lantai empat adalah kafetaria, sama dengan suasana lobby, Qiara berhasil memadukan gaya industrial dan konsep hijau dengan baik.


Stella melihat Qiara sedang berdiri di balkon. Ia berjalan mendekati.


“Qiara, ini minumnya,” ucapnya ramah.


“Terima kasih, Jasmine, ya? Anakku Liam pernah bercerita tentangmu.


“Yes, Mam,” Jasmine mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tersenyum ramah sementara menyembunyikan kemarahan yang menggelegak mendengar Qiara menyebut Liam adalah anaknya.


“Bisakah kamu temani aku di sini sebentar?” Pinta Qiara setelah meneguk air minumnya.


“Baik, Mam.”


“Panggil Qiara aja, kita paling seumur, kan?” Ucapnya sambil tersenyum dan sorot matanya yang ramah.


Stella mengangguk setuju. “Maaf kelancangan saya, Qiara, Anda terlihat sedih. Adakah yang Anda perlukan?”


“Oh tidak, aku hanya punya masalah yang kutinggal di Melbourne.”


“Saya yakin apapun itu, pasti ada jalan keluar.”


Qiara menoleh ke arah wanita yang dikenalnya sebagai Jasmine. Wanita berambut bob itu menatapnya sambil tersenyum tulus.


Takut dikenali, Stella menaikkn kaca mata besar yang dipakainya. Ia sengaja memakai riasan agak tebal yang membuat dirinya terlihat kampungan.


Ingin mengalihkan pembicaraan dari berita yang beredar, Qiara berucap, “Liam bilang kamu cool.”


“Oh Liam, dia anak yang baik. Aku hanya mengantarkannya ke toilet dan kami bercakap sebentar. Adikku masih kecil dan juga suka Thor. Jadi aku tau-tau sedikitlah tentang karakter itu,” Stella terkekeh. Jelas saja ia paham karena dulu sering menemani Liam.


Ia bahkan pernah minta langsung tanda tangan aktor pemeran Thor di kaos Liam. Stella segera memalingkan wajahnya karena merasa matanya menghangat. Ia sangat merindukan saat-saat bahagia dengan Liam.


“Kamu kangen adikmu, ya?”


“Kami sangat dekat, aku harus meninggalkannya. Tapi bekerja di perusahaan Donavy sangat penting untuk karirku kelak.”


“Kamu dari Melbourne?”

__ADS_1


“Oh, no, aku merantau. Sebelum ke Australia ini aku di Turki. Mam, udara makin dingin, lebih baik Anda masuk.” Stella tidak ingin Qiara bertanya lebih jauh.


“Betul juga, Devan bisa marah kalau aku berdiri terlalu lama.”


Stella mengepalkan tangannya menahan diri agar tidak mendorong Qiara.


“Hati-hati, Qiara, lantainya masih licin setelah dipoles,” dengan penuh perhatian ia membimbing Qiara masuk.


Dengan gesture tetap menjaga Qiara, Stella melangkah cepat dengan kaki jenjangnya. Tanpa sadar, Qiara mengimbangi langkah Stella.


“Nyonya Qiara!” Pekik Stella ketika Qiara terpeleset. Beberapa pekerja segera lari mendekat untuk membantu Qiara yang masih terkapar sambil memegangi perut.


“Get a stretcher downstair!” Perintah mandor.


Qiara berulang kali mengambil napas. Tak terasa air mata mengalir. Stella diam-diam tersenyum tipis walau ia berakting terus menjagai dan melayani Qiara.


“Minumlah sedikit, supaya lebih tenang.”


Ia membukakan botol air mineral memberikan ke Qiara yang langsung minum beberapa teguk.


Beberapa pekerja datang membawa brangkar dorong diikuti Phil dan Lisa yang menatap Qiara dengan cemas dan panik.


“Qiara, oh my God, what happened Jasmine?” Pekik Lisa.


“Not her fault, Lisa, I slipped. May be I walked too fast.”


“Should we get an ambulance? Call an ambulance!” Phil menopang pundak Qiara.


“Bantu aku, Dad. Kita panggil ambulance jika aku tidak bisa berdiri.” Meski berusaha tenang, Stella menangkap nada panik di suara Qiara.


Perlahan Qiara berusaha bangkit ditopang Phil. Lututnya terasa lemas, Qiara terus mengatur napasnya. Hingga akhirnya ia bisa berdiri tegak.


“Mam, please lay down on the strecher,” pinta mandor. Beberapa pekerja segera bersiap untuk mendorong brankar menuju lift yang sudah beroperasi.


Perlahan, Qiara menaiki brangkar. Ia bersyukur tidak merasakan apa-apa pada perutnya.


“Kita ke rumah sakit, ya. Daddy nggak mau ambil risiko.”


“Devan sudah kuberi tahu, dia menuju ke Perth bersama Liam dan Kala.”


Hati Stella berdegup mendengar nama Devan dan Liam disebut. Ia berdiri agak di belakang mengikuti rombongan yang membawa Qiara ke mobil dan langsung berangkat menuju rumah sakit.


Hape Qiara berbunyi.


“Waalaykumussalam, aku nggak merasa sakit di perut, alhamdulillah. Devan, maaf … maaf aku sudah bikin semua khawatir.”


“Aku ingin berada di sana menemanimu. Tunggu aku sedang menuju airport. Qiara, Kala sangat mencemaskanmu, dia ingin bicara.”


“Buna …” Wajah Kala memenuhi layar hape membuat Qiara tersenyum.


“Buna sama adek jatoh? Kok bisa?”


Lisa dan Phil secara refleks menatap Jasmine yang berada di lokasi tempat Qiara jatuh. Mereka tidak terpikir untuk mencari tahu sebab jatuh dan lebih fokus pada kondisi Qiara.


“Buna terpeleset, doa buat Buna dan dedek bayi, ya.”


“Kala ke sana, Buna, jangan takut.”


Qiara tersenyum, hatinya lebih tenang sekarang. “Sampai ketemu. Kalian semua fii amanillah, safe trip.”


Di rumah sakit, Phil dan Lisa meminta Jasmine/Stella untuk menjelaskan apa yang terjadi kepada dokter yang memeriksa.


Dokter paham karena di usia kehamilan yang masuk ke trimester tiga, ibu hamil terkadang kehilangan keseimbangan.


“Saya pasang alat detak jantung bayi dulu baru setelah itu di USG.”


Semua bernapas lega karena detak jantung bayi masih normal. Dari USG pun semua masih normal. Dokter memberikan salep penghilang nyeri karena Qiara mengeluh sakit di bagian belakangnya.


“Jasmine, tolong cari kamar terbaik. Qiara akan menginap malam ini.”


“Dad, aku bisa pulang setelah Devan dan anak-anak sampai.”


“No, Qiara, Daddy rasa kamu istirahat malam ini untuk observasi.”


“Cepat, Jasmine, urus semua agar Qiara bisa segera beristirahat.”


Stella merutuk nasibnya yang kini jadi orang suruhan. Nasib buruk bermula sejak Qiara hadir.


Menuju petugas admission, ia menelepon seseorang, “Lakukan serangan berikutnya.”


***

__ADS_1


Dian membaca judul berita yang baru muncul. “A Gold Digger in The Donavy’s” lalu foto lama Qiara dari laman media sosialnya. Qiara dengan kesederhanaannya disandingkan dengan fotonya saat ini dengan baju dan tas bermerk pemberian Devan di depan mansion.


Mertua Qiara memijat keningnya. Dari awal perkawinan anaknya diberitakan, tidak ada satu pun berita miring.


“Mengapa sekarang?”


Ia tahu persis Qiara bukanlah seorang yang suka belanja. Semua barang yang dibelikan Devan dan Dian disimpannya rapi. Ia hanya memakai satu tas yang diberikan sebagai serah-serahan saat pernikahannya dulu.


Qiara yang lincah lebih suka pakai kets daripada sepatu mahal yang akhirnya tetap rapi di kardusnya. Walau ia bisa datang ke pesta-pesta sosialita namun Qiara lebih suka berada di rumah untuk memasak buat Devan.


Dian menelepon seseorang. “Della, sudah ada hasil investigasi pemberitaan menantuku?”


Della, manajer PR di Grup Donavy menjawab, “Afternoon, Mam, kami akan bertemu dengan wartawan yang melansir foto Nyonya Qiara dan Jeremy. Kami juga sudah siap dengan statement dari Jeremy bahwa dirinya dan Qiara tidak pernah ada hubungan apa-apa.”


“Kita bisa menuntut balik media yang menyebar kebohongan.”


“Memang bisa, tapi di sini persepsi terhadap Nyonya Qiara sudah ternoda dengan pemberitaan miring. Kami sedanf membuat strategi untuk membalik semuanya.”


“Baik, terima kasih. Kabari saya untuk setiap perkembangan.”


“Siap, Nyonya.”


***


“Buna,” panggil Kala. Lisa lalu menaruh telunjukknya ke depan bibir.


“Your mom is sleeping.”


Kala berjingkat lucu memasuki ruang perawatan Qiara. Lisa dan Phil harus menahan tawa. Sementara Devan dan Liam mengikuti dari belakang.


“Dev, Daddy minta maaf …”


“Memang harus terjadi, Dad. Aku lega istri dan bayiku baik-baik saja,” balas Devan sambil berbisik.


Kala sudah memanjat tempat tidur dan tidur meringkuk di samping Bunanya. Posisi favorit.


Qiara tidur dengan pulas. Tidak merasa pergerakan Kala. Devan mengecup kening Qiara bertepatan dengan Stella yang baru masuk ke kamar.


“Jasmine,” panggil Liam melihat teman barunya.


Sedikit gugup, Jasmine melangkah masuk menyapa Liam dan mengangguk hormat pada Devan. Hatinya mencelos melihat posisi mantan suaminya sedang mengelus pucuk kepala Qiara dan mencium kening berkali-kali.


“Hai Liam, sebentar ya. Nyonya Lisa, ini file yang Anda minta. Jika tidak ada yang diperlukan saya akan menunggu di kafetaria bawah.”


Lisa mengangguk. Devan menatap wanita berkaca mata besar. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.


“Saya permisi dulu.”


“Bye Jasmine …” Liam tersenyum melambaikan tangan. Stella tersenyum lalu berjalan keluar. Ia ingin berlama-lama dengan Liam namun takut samarannya terbongkar. Bagaimana pun Devan pernah hidup bersamanya.


“Wait!”


Jantung Stella hampir copot.


“Kamu bersama istriku ketika dia jatuh? Apa yang terjadi?”


Jantung Stella berhenti berdegup, ia berusaha menenangkan diri.


“Kami sedang berjalan di area kafetaria yang baru selesai dipoles. Nyonya Qiara terpeleset, Tuan.”


Devan mengerutkan kening. Ia sudah minta Jack memeriksa apakah sudah ada CCTV yang menyala di area itu dan ternyata belum ada.


“Saya harap Nyonya Qiara dan bayinya sehat, Tuan. Permisi saya keluar dulu,” imbuhnya sambil bergerak ke arah pintu.


“Jasmine, wait,” Liam memanggil.


“Dad, boleh aku ke kafetaria bersama Jasmine. Aku mau beli sandwich. Lapar, Dad.”


Devan yang masih ragu menatap Jasmine dengan mata menyelidik.


Lisa berkata, “Dev, nggak apa, Jasmine bisa mengantar Liam. Mungkin ia ingin memilih makanan lain juga. Jasmine, kau pakai corporate card untuk membayar makanan cucu keponakanku.”


“Baik, Nyonya Lisa.”


“Aku cuma sebentar, Dad.”


Tangan Jasmine mendadak dingin. Ini sungguh di luar dugaannya. Liam menggandengnya keluar kamar. Tak melepas tangan hingga mereka di lantai dasar.


“Mom, I know it’s you. Aku nggak akan bilang siapapun asal Mommy janji nggak pergi lagi. Please …”


Mata Stella menghangat, ia tidak berkata apa-apa, hanya mengeratkan genggamannya ke tangan Liam, putranya.

__ADS_1


***


__ADS_2