
“Kala ….!”
“Liam! Liam!” Seri Kala yang sudah sejak pagi bertingkah seperti cacing kepanasan tak sabar menunggu Liam.
Kedua anak selisih umur empat tahun itu berpelukan erat.
“Auntie Qiara…” Liam mencium tangan Qiara, sebuah kebiasaan yang baru dipelajari di pesawat.
Sementara Si Lincah Kala langsung lompat ke pelukan Devan.
“Uncle Devan how are you?” Kala memeluk leher kekar Devan.
“I’m good kiddo, are you good?”
Kala mengacungkan jempolnya sambil tertawa lebar. Devan mencubit gemas pipi gembilnya.
“Kala, look, I got a lot of Thor figurines. These are from the latest version. Daddy and I waited for hours until the store opened when they were launched at the first time.”
(Kala, liat, aku punya figurin Thor. Ini semua edisi terbaru. Aku dan ayahku menunggu berjam-jam sampai toko buka pas acara launchingnya.)
Liam semangat mengeluarkan mainannya. Sementara setelah Kala merosot dari gendongannya, Devan terpesona menangkap sosok wanita yang berdiri di hadapannya.
Setelah insiden yang membuat Qiara tertembak, mereka memutuskan untuk menunda tanggal perkawinan. Di samping untuk memastikan Qiara telah pulih seratus persen, memberi waktu untuk Kala yang direkomendasikan menemui psikolog.
Selama mereka berhubungan jarak jauh, Devan dan Qiara melakukan video call tiap malam. Devan merasakan sesuatu yang berbeda. Pria itu merasa Qiara menjaga jarak darinya. Wanita yang biasanya ceria dan penuh cerita menjadi lebih banyak diam.
Devan merindukan Qiara yang dulu. Namun ia sadar, wanita tegar itu baru saja mengalami kejadian mengerikan. Apalah yang lebih mengerikan bagi seorang ibu daripada anaknya jadi korban penculikan.
Qiara tersenyum manis, “Assalamualaykum, Dev, ih kok bengong?”
“Oh enggak, errr … assalamualaykum, eh salah, waalaykumussalam, Qia, apakabar? Aku kangen.”
Devan langsung menutup mulutnya dengan tangan. Tak menyangka bisa sebocor itu mengungkapkan perasaannya.
Semburat merah muncul di pipi Qiara, bertepatan dengan Thoriq yang baru tiba sambil menggendong Aira. Hati Thoriq berdesir melihat Qiara yang malu-malu terhadap Devan. Pipi merona itu dulu adalah miliknya.
“Aira!” Kala lari menyambut adiknya lalu mencium takzim tangan ayahnya.
Aira minta diturunkan dan berlari menyambut kakaknya. Langkahnya terhenti melihat Liam dan langsung lari berbalik ke ayahnya.
“Aya …” Aira bersembunyi memeluk Thoriq.
“Adek, sini kenalan sama Liam,” bujuk Kala.
Aira melingkarkan tangannya ke leher ayahnya, wajahnya tertunduk sambil mengintip ingin tahu ke bocah bule yang menatapnya dengan mata bertanya-tanya.
Tanpa disangka, Liam menghampiri Aira dengan bahasa Indonesia terbata-bata, ia memperkenalkan diri, “Nama aku, Liam Donavy. Umur de-la-phan thaun.”
“Ai, kenalan sama Liam,” bujuk Thoriq lembut. Aira makin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ayahnya.
“Wait!” Liam berlari mengambil sesuatu dari tasnya. Devan dan Qiara bertukar senyum melihat interaksi tiga anak kecil di depan mereka.
“Tada! Daddy, translate for me please. I bought you a cute teddy bear,” ucap Liam dengan tulus menyodorkan boneka beruang kepada Aira. Devan menerjemahkan sambil menahan geli.
Definisi cute dari Liam agak berbeda. Ia memilihkan boneka grizzly seram berwarna hitam. Qiara ingat pernah menamai kontak Devan di hapenya dengan nama Beruang Grizzly.
Thoriq memandang geli pada anak bule yang mengulurkan boneka menyeramkan untuk anaknya. “Ai …” Bisik Thoriq sambil mencium pipi Aira.
Tanpa disangka, Aira turun lalu menerima boneka grizzly dari Liam. Anak perempuan itu tersenyum malu-malu pada Liam.
“Yes, sekarang kita main bareng. Aira juga suka Thor, sudah aku didik.” Kini giliran Qiara bersitatap dengan Thoriq mendengar celotehan sok tahu dari Kala.
Kala menggandeng adiknya untuk langsung main diikuti Liam. Tak berapa lama ketiganya sudah asik berceloteh. Aira belum bisa berbahasa Inggris, Liam hanya mengerti beberapa patah kata Bahasa Indonesia. Kala yang paling menguasai dua bahasa bertindak sebagai penerjemah sekenanya.
Qiara menawarkan Thoriq dan Devan untuk duduk minum es teh sereh dan menikmati singkong goreng buatannya. Mendadak kedua laki-laki bertingkah canggung menuruti tawaran Qiara.
Untuk anak-anak, Qiara membuatkan brownies keju memakai resep dari Jeremy.
Dhanu, Marianne, dan Rama sedang tidak di rumah, mereka main ke rumah salah satu teman kerja Dhanu.
Qiara mengintip tiga anak yang masih berkutat dengan figurin Thor, buku gambar, dan brownies. Sementara di hadapannya ada dua laki-laki yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Siang itu Qiara memakai gamis biru muda dan hijab bunga-bunga pink. Kulitnya yang putih bersih terlihat makin glowing. Wajahnya berseri-seri dan matanya berbinar.
Tak ada yang tahu dibalik tingkahnya yang kalem, Qiara berusaha keras menyembunyikan degup jantung yang tidak karuan.
Ia mengakui dirinya masih memiliki cinta yang mendalam untuk mantan suaminya. Terlepas dari semua kekecewaan dan sakit hati yang pernah ia rasakan.
Namun di sisi lain, Qiara merasakan cinta tulus Devan. Bersamanya, Qiara merasa tenang dan nyaman. Devan pernah merasakan keterpurukan sehingga ia kini lebih hati-hati dalam berpikir dan bertindak.
“Singkongnya enak, nih. Dari dulu memang kamu jago masak, Qia,” puji Thoriq tulus.
Qiara mengangguk, balasnya, “Maa syaa Allah. Alhamdulillah dapet singkong bagus. Qia tinggal bumbuin terus goreng. Kala juga suka, Mas.”
“Anak itu semua juga suka. Bagus karena Aira jadi ikutan doyan makan.” Thoriq terkekeh mengingat anak sulungnya yang sangat gampang makan. Bahkan sering mengambil jatah Aira jika adiknya tidak habis.
Devan merasa sedikit tersisih. Ia dapat melihat kebahagiaan yang terpancar dari Qiara dan Thoriq.
“Aku cinta kamu, Qia. Kalau kebahagiaan kamu adalah bersama Thoriq, aku akan merelakan. Tapi jangan harap aku akan menyerah dengan mudah,” batin Devan sambil diam-diam menyeringai.
“Es teh serehmu ini juga the best, Qia. Pakai bunga telang, ya? Enak segar …” Celetuk Devan sambil menyesap minuman dingin berwarna biru.
“Inget nggak kamu dulu sering bawain minuman segar pas kita piknik. Aku dan Liam suka semua.”
__ADS_1
Thoriq melirik tajam ke arah Devan, tahu pria itu sedang membalas manuvernya.
“Oh iya, kapan-kapan aku buatin ya, Dev. Sini aku tambahin minumannya. Kamu makan singkongnya mesti pake abon roa. Sebetulnya resep asli pake sambel roa tapi aku yakin perut kamu pasti nggak kuat.”
Sambil mengunyah, Thoriq menyeringai melecehkan, membuat hati Devan panas.
Otak pria kasmaran itu langsung bereaksi, “Gimana cara makannya, Qia?”
“Nih, gini aku racikin, ya. Abon roa-nya harus agak banyak, terus kamu cocol singkongnya.” Sementara Qiara tekun meracik singkong dan abon roa, Devan tersenyum penuh kemenangan ke arah Thoriq.
Giliran Thoriq mendengus kesal.
“Qia bikin brownies buat anak-anak, ya? Kala dan Aira pasti doyan.” Thoriq sengaja menyebut nama anak-anak.
“Jangan tanya deh, urusan brownies buatan Qia, si Liam nggak akan berhenti kalau belum habis. Wah bener, kalau abon roa-nya dibanyakin jadi tambah enak. Makasi, Qia.”
“Sama-sama, Dev,” balas Qiara sambil tersenyum manis. Thoriq tak tahan hingga tanpa sengaja meletakkan piring kecilnya agak keras di meja kaca.
“Mas, kenapa?” Qiara terkesiap.
“Nggak, nggak sengaja … maaf udah bikin kaget.”
“Qia nengokin anak-anak dulu ya. Kok anteng, biasanya Kala lagi aneh-aneh kalau anteng.”
Thoriq dan Devan mengangguk. Devan berdiri saat Qiara berdiri. Kebiasaan yang diajarkan ayah ibunya untuk menghormati wanita. Sementara Thoriq bersungut melihat mereka berdua saling melempar senyum.
“Mas sini aku isi gelasnya,” ucap Qiara sebelum beranjak.
“Makasi, Qia … Devan benar, es teh sereh kamu enak banget. Seger dan manisnya pas.”
Senyum lebar Qiara berhasil membuat jantung Thoriq berdegup lebih kencang. Kini giliran Devan yang mencelos. Posisinya sangat tidak menguntungkan. Terlihat jelas Qiara yang berbunga-bunga setiap interaksinya dengan Thoriq.
“Qiara tinggal dulu, ya, Mas, Dev, bentar aja.”
Setelah Qiara tidak terlihat, Thoriq menyandarkan punggungnya.
“Nice try,” cetusnya.
“Aku akan terus usaha. Game on, Thoriq.”
Thoriq mendengus.
Dari arah dalam terdengar celoteh anak-anak bercerita. Aira duduk di pangkuan Qiara sementara Kala menyender ke lengan ibunya. Berdua bermanja-manja dengan Qiara.
Hati Thoriq betul-betul menghangat. Ibu Aira telah menyakiti Qiara dan Kala sedemikian rupa, namun mantan istri pertamanya itu masih tetap baik.
“Ya Allah, Qia, hati kamu itu terbuat dari apa?” Batin Thoriq sambil terus menikmati pemandangan indah di depan matanya.
Devan ikut memperhatikan interaksi Qiara, Kala, dan Aira.
Ia melirik Liam yang tersenyum lebar melihat dua anak kecil sedang bergelendotan. Dengan lahap menyuap brownies keju hingga mulutnya belepotan. Qiara tertawa lalu mengambil tisue dan membersihkannya.
Devan berdiri lalu mendekati anaknya.
“Liam, kita pulang, yuk. Kamu harus istirahat. Semalam kamu nggak bisa tidur.”
“Aku masih pingin main, Dad …”
“Besok kita main lagi, yuk, dibereskan.”
Liam mengangguk. Sementara Kala dan Aira membantu Liam mengemasi aneka mainan yang dibawanya.
Aira mengembalikan boneka grizzly kepada Liam.
“No, itu untuk kamu.”
Aira tertawa lebar, meski tidak paham sepenuhnya perkataan Liam namun ia tahu bahwa boneka itu untuknya.
Thoriq ikut masuk dan Aira langsung berlari ke arahnya. Anak kecil itu melaporkan bahwa kini boneka grizzly itu miliknya.
“Udah bilang thank you?”
Aira menggeleng kuat-kuat lalu mendekati Liam yang masih memasukkan barang-barangnya.
“Kak Liam, thank you.” Tanpa diduga, Aira mengecup pipi Liam.
Anak bule itu melirik ayahnya dengan alis terangkat. Matanya terlihat senang.
“Oh, come on. Cut it, Liam,” ucap Devan sambil mengacak rambut anaknya yang mengaku jagoan dalam nasihat percintaan.
Devan lalu menggandeng Liam, keduanya berpamitan. Sementara Qiara mengantarkan Devan dan Liam ke mobil, Thoriq menemani anak-anaknya.
“Qia, thank you ya, Liam udah boleh main sama Kala dan Aira.”
“Welcome, Dev. Kamu suka nggak main di sini, Liam?”
“Suka masih pingin main tapi aku juga ngantuk,” jawabnya polos.
“Kami pulang dulu, I’ll call you, Qia.”
Qiara mengangguk lalu melambaikan tangan. Ia menunggu hingga mobil Devan dan Liam hilang dari pandangan.
Ada sedikit rasa kecewa ketika Devan mengajak Liam pulang.
__ADS_1
“Buna, masuk deh, liatin Aya lagi ngaco.”
Kala mememanggilnya sambil terkekeh-kekeh.
Qiara bergegas masuk, Thoriq sedang menirukan gaya Thor hingga membuat Aira tertawa terbahak-bahak. Kala minta digendong oleh Aira lalu pura-pura menjadi lawan dari Thor.
Keempatnya bercanda riang gembira. Mereka tak sadar Devan kembali untuk mengambil mainan Liam yang tertinggal.
Devan tersenyum tipis lalu memutuskan untuk kembali ke mobilnya.
“Dad, kok nggak jadi ambil?”
“Besok aja, kan kita ke sini lagi,” gumamnya sambil melihat ke luar jendela. Ia tidak mau Liam melihat kesedihan yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.
***
Setelah menghabiskan akhir pekan bersama Qiara dan keluarganya, Devan dan Liam kembali ke Australia.
Qiara dan Kala mengantarkan mereka ke airport. Ketika Devan defang mengantar Kala membeli es krim, wajah Liam terlihat muram.
“Hey, are you okay, buddy?” Tanya Qiara sambil mengusap pucuk kepala Liam.
“Naah, I just miss my mom. Biasanya walau pergi lama, Mommy selalu telepon.”
Qiara hanya tahu Stella melarikan diri bersama orang yang membantunya. Sementara Liam tidak tahu sepak terjang ibunya.
Tak tahu harus berkata apa, Qiara memeluk bocah yang sedang sedih itu. Liam balas memeluknya erat.
“Daddy tahu kamu kangen Mommy?” Bisik Qiara. Sedikit terisak, Liam menggeleng.
“Do you want me to talk to your Dad?”
“Aku takut Daddy marah,” sahutnya sambil mengeringkan air mata.
“Marah?”
“Daddy selalu bilang aku harus jadi laki-laki kuat. Jangan cengeng.”
Qiara menjauhkan tubuh Liam. Dengan lembut mengusap wajah anak kecil itu menggunakan punggung jarinya.
“Laki-laki itu memang harus kuat, karena tanggung jawab yang dimiliki sangat banyak. Cengeng itu artinya kalau terus-terusan nangis. Tapi kalau hanya sekali-sekali, itu wajar.”
Mata Liam yang masih berkaca-kaca menatap Qiara.
“Daddy nggak akan marah kalau aku bilang kangen Mommy?”
“In syaa Allah, enggak, dear,” sahutnya sambil tersenyum lembut.
Liam mengangguk, suara ribut Kala mulai terdengar. Devan mengerutkan kering melihat ekspresi sedih anaknya.
“Hey buddy, what’s wrong?”
Kala yang tadinya dengan riang ingin memberikan es krim ke Liam langsung mengurungkan niat. Anak kecil itu lalu menempel ke Buna. Netranya bertanya-tanya.
Liam sekuat tenaga menahan tangis.
“Daddy … I miss Mommy … why hasn’t she called?”
Devan berlutut menyamakan tinggi dengan anaknya lalu memeluk erat. Liam menangis di pelukan ayahnya. Sementara Kala langsung minta digendong Qiara.
“It’s okay to cry, Liam. Nanti kita cari tahu dimana Mommy,” ucapnya sedikit berbohong.
“Promise?”
Devan mengangguk. Dua laki-laki itu berpelukan beberapa saat lagi. Qiara merasa bersalah karena menjadi penyebab Stella kabur.
Setelah puas menumpahkan perasaannya, Liam melepaskan pelukan. Ia menatap wajah ayahnya.
“I love you, Daddy.”
“Love you more, Son.”
Devan kembali berdiri dan Kala mengulurkan es krim ke Liam. Bocah-bocah itu duduk di pinggir trolley menikmati makanan dingin.
“Dev, maaf.”
Devan menatap heran lalu menarik Qiara menjauh dari anak-anak.
“Hey, sorry for what?”
“To make your life such a mess. Gara-gara aku Stella kabur dan Liam tidak bisa menemuinya. Maaf.”
“Oh, Baby, ini semua bukan salah kamu. Stella telah mengambil keputusan yang salah.”
“Why is my love life so complicated …” Gumam Qiara.
Devan menarik napas lalu berkata, “Qiara, you know that I love you with all my heart. Aku nggak mau bikin hidup kamu tambah runyam, that’s why aku memutuskan untuk mundur dari hubungan kita. Qiara, aku lihat kamu masih cinta banget sama Thoriq. Maafkan dia, kembalilah padanya.”
Ada kesedihan di setiap kata yang terucap
“Dev …” Panggil Qiara lirih
“I’m okay, no … I will be okay …”
__ADS_1
***