Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Bonding


__ADS_3

Thoriq, Kala, Liam, dan Aira menyelesaikan sholat maghrib. Solo diguyur hujan deras sehingga mereka memutuskan untuk sholat di rumah saja.


“Aya, besok jam berapa kita berangkat ke Yogyakarta?”


“Abis subuh kita berangkat, gimana? Kepagian nggak? Sampai Yogya kita sarapan dulu. Gudeg mau, ya? Baru abis itu kita ke Ayunan Langit Watu Jaran, makan di daerah sana. Sore pulang ke hotel lalu malam kita cobain Teras Malioboro. Ada bebek enak.”


“Lusa kita jadi ke Merapi, kan? Aku ingin liat jejak-jejak gunung meletus.”


“In syaa Allah, Liam. Nanti Uncle sewa jeep jadi seru.”


“Yay!” Kala dan Aira bersorak kegirangan. Tak terasa sudah dua minggu mereka berlibur di Indonesia. Thoriq mengajak Kala dan Liam ke berbagai tempat wisata termasuk melihat villa-villa miliknya.


Di akhir minggu, Thoriq mengosongkan villa terbaiknya dan mengajak para remaja untuk menginap di sana. Villa yang menghadap Gunung Lawu.


Thoriq dan Kala memanfaatkan waktu bersama untuk mengenal lebih jauh. Thoriq kagum dengan bagaimana cara Qiara dan Devan membesarkan Kala. Walau hidup di Inggris, tapi anaknya bisa mengaji dengan baik dengan suara merdu. Sholat juga tidak pernah putus.


Demikian juga Liam. Berbeda dengan pemuda-pemuda bule lainnya, Liam jauh lebih santun. Terutama dengan Aira. Ia akan bertanya sebelum memasuki ruangan apakah Aira sudah memakai kerudungnya. Walau dengan nada iseng, tapi ia menghormati Aira untuk menutup aurat.


Mereka berempat sering diskusi mengenai berbagai hal, dari kehidupan, agama, cita-cita. Termasuk juga akal-akalan Liam yang ingin membuat Thoriq bercerita tentang perasaannya. Agaknya Liam ingin mencoba kemampuan di level yang lebih tinggi, bukan cuma di teman-teman sekolahnya.


Thoriq tidak banyak cerita tentang masa lalu. Ia hanya mengatakan dulu sangat mencintai Qiara. Saat ditanya tentang ibu Aira, pria itu hanya menjawab Hanna memilih untuk pergi.


Aira sudah lupa siapa ibunya. Tidak ada foto Hanna di rumah ayahnya. Thoriq tidak ingin mengatakan hal-hal buruk tentang Hanna. Kala pun agaknya lupa bahwa Hanna pernah menyulik dan menyakitinya. Padahal anak itu pernah mengalami trauma.


Sedang asyik mengobrol dan becanda hape Liam bergetar.


“Kala, Buna telepon.”


Kala langsung mendekat ke Liam lalu tertawa girang melihat wajah Buna dikelilingi empat adik-adiknya.


“Assalamualaykum, Buna.” Gaya Kala sedikit berubah menjadi sok cool. Tapi tidak dengan adik-adiknya


“Waalaykumussalam Mas Kala dan Liam,” teriak mereka serempak. Liam menolak dipanggil dengan atribut mas, kak, atau bang. Cukup nama saja.


Yang dipanggil melambai ke Abby, Azka, Barran, dan Hayyan.


“Mas Kala, Abby udah lulus grade lima untuk piano academy. Abby jadi murid termuda di grade enam.”


“Azka dan Barran juara satu, Hayyan juara tiga di lomba berkuda,” celoteh Azka dan Barran. Hayyan diam saja, sorot matanya kecewa.


Abby dan kembar tiga hanya berjarak kurang lebih satu tahun. Mereka sepantaran kecuali Hayyan yang lebih kecil dari saudara-saudaranya. Ia sering minder dan lebih pendiam.


“Waah congratulation semua,” sahut Kala. Liam tersenyum melihat adik-adiknya.


“Good job Abby, Azka, Barran, dan Hayyan.”


“Tapi aku cuma juara tiga, nggak jagoan kayak Azka dan Barran,” sahut Hayyan lirih.


Qiara mencium pipi si bungsu.


“No worries, mate,” sahut Liam santai dengan gaya Aussie-nya.


“Kalian lomba di kategori yang berbeda, kan? Pasti lawannya beda, tingkat kesulitannya beda. Nggak usah bandingin sama Azka dan Barran, next kalau ada lomba, kamu usaha supaya prestasimu lebih bagus lagi. Kalian juga, ya, Azka dan Barran.”

__ADS_1


“Emang ada juara di atas juara satu?” Azka bertanya sambil mengerutkan alis.


“Ya score-nya harus lebih tinggi dan usahakan jangan sampai merosot.”


Qiara menatap bangga pada anak sambung yang kini bersikap lebih dewasa.


“Kalau nggak makin bagus, aku gigitin pantat kalian satu-satu,” tambah Liam langsung meruntuhkan pendapat Qiara tentang sikap dewasanya.


Candaan Liam sukses membuat Si Triplets tertawa, termasuk Hayyan.


“Bos Kala …kapan pulang Abby kangen.”


“Abby, panggilnya Mas Kala,” ucap Qiara mengingatkan. Dari kecil Kala memang selalu mendidik Abby bahwa dia bukan sekadar kakak tapi bos. Abby sendiri nampak oke dan menuruti keinginan kakaknya.


Kala cengar-cengir lalu mengedip sebelah mata ke Abby. Kode agar adiknya menuruti perintah Buna.


“Mas Kala kapan pulang?” Abby meralat panggilannya masih dengan wajah merajuk.


“Tiga minggu lagi, sabar ya.” Kala dengan gaya sok tau menenangkan adiknya.


“Assalamualaykum Mas Thoriq dan Aira,” sapa Qiara yang melihat mantan suami dan putrinya sibuk entah melakukan apa di belakang Liam dan Kala.


“Alaykumussalam Tante Qia,” balas Aira cepat sambil terkekeh. Thoriq putus asa melihat kelakuan putri satu-satunya yang berusaha menghalangi pandangannya ke arah Qiara.


Liam dan Kala menatap heran dengan kelakuan bapak-anak itu.


“Apakabar Qia?”


Mereka baru berhenti ketika Devan masuk ke ruangan dan menangkap Barran


“Stop, stop …”


Azka yang bebas meledek Barran sambil melakukan tari kemenangan.


“Azka, udah kasih salam sama Uncle Thoriq belum.”


Liam dan Kala merindukan keributan antarsaudara. Kadang mereka jadi penengah, tak jarang jadi penyulut.


“Halo Thoriq, semoga Liam dan Kala nggak ngerepotin kamu, ya,” sapa Devan kini duduk di samping Qiara. Abby sebagai anak Daddy langsung duduk di pangkuannya.


“Nggak kok. Seru, biasanya di sini sepi. Ada mereka jadi rame. Kapan tu mereka malah ngotot pengin ke sawah, aku aja males turun ke sawah.”


“Sawah as a ricefield? You went and play in a ricefield?” Abby memasang wajah kepengin.


“Iya, aku kena lintah, terus sama Aya diludahin, lintahnya copot.”


“Waaaw. Uncle Devan kalau kapan-kapan aku ke sana ajakin juga, ya. Mba Aira mau nemenin, kan?”


Aira yang sama seperti Thoriq gampang jijik langsung memasang muka mau pingsan.


“Mmm aku bisa ajakin kamu ngebatik deh. Udah anak cewek main yang cantik-cantik aja. Nanti aku ajakin spa. Di sini ada spa, kamu bisa scrub pake rempah-rempah khas Indonesia. Kulit kamu jadi mengkilat. Glowing gitu.”


“Itu aku mau juga, sih. Oke deh tahun depan, boleh kan, Dad?”

__ADS_1


Devan menyetujui, Abby nampak puas.


“Mba Aira main ke London juga, dong sama uncle Devan.”


Aira tahu alasan Devan tidak ingin mengunjungi Kala ke London adalah supaya tidak berdekatan dengan Qiara. Sesungguhnya dari sisi financial mereka sangat berkecukupan.


“Ayaku justru sibuk kalau holiday season. Ya, kan Ay?”


“Betul, Uncle malah jarang bisa pergi-pergi kalau holiday season. Kalau di luar itu Aira sekolah. Nanti deh kapan kita atur waktu ya, Abby.”


“Kala dan Liam rajin nggak sholatnya, Mas?”


“Maa syaa Allah, rajin, Qia. Nggak usah Mas suruh, mereka udah sholat ke masjid. Malam ini aja hujan deras jadi kami sholat di rumah.”


“Buna, masak seminggu sebelum Kala pulang, Adek Aira mau masuk pesantren,” sungut Kala.


“Tadi baru dikabarin, Tante. Katanya karena Aira pindahan jadi ada masa adaptasi.”


“Kala kan jadi sebentar ketemu sama Adik Aira. Harusnya lima minggu jadi cuman empat minggu,” keluh Kala lagi. Thoriq gemas dengan anak sulungnya yang kadang bersikap manja.


“Nanti kita anterin aja ke pesantren.” Liam berusaha menghibur adiknya.


“Pesantrennya di deket kota Semarang, kita bisa pakai mobil aja. Nanti kita stop di beberapa tempat. Ada air terjun asik, kamu pasti suka deh, Kal,” bujuk Thoriq karena Kala masih cemberut.


“Yawdah, yawdah …”


“Kalandra,” tegur Qiara dengan suara rendah. Dari enam anaknya memang Kala yang sering dipanggil Si Loba Gaya. Sikapnya posesif. Menurut psikolog ini adalah dampak jangka panjang dari trauma pernah mengalami penculikan.


Sikap posesif ini muncul ketika seseorang yang ia sayang harus pergi. Walau berusaha memaklumi, Qiara, Devan, dan Thoriq selaku ayah biologis berusaha meredamnya dengan halus.


“Maaf, Aya, Aira,” suara Kala melembut, bibirnya tidak lagi manyun.


“Nanti Mas coba ngomong sama Ustadzah Nurlaila, deh. Siapa tau Aira dapat dispensasi. Kan jarang juga kita ngumpul.”


“Ditanyakan saja, Mas, tapi kalau nggak boleh, Kala harus ngerti, ya,” ujar Qiara menatap lembut Kala yang masih tidak terima tapi tidak berani membantah ibunya.


“Kalian kok belum tidur, di London kan udah malam banget.”


“Lagi summer, Uncle, jadi matahari juga baru tenggelam beberapa jam yang lalu. Terus masih libur jadi bebas mau tidur jam berapa aja. Ya, kan Bun?” Hayyan mencari celah untuk bisa begadang.


“Maunya. Sejam lagi semua tidur.”


“Ah Daddy sama Buna juga selalu tidurnya malem banget. Sebelum tidur berisik pula. Aku kan sering denger …”


Devan buru-buru menutup mulut Barran dengan tangannya sementara wajah Qiara mendadak merah padam. Devan dan Qiara langsung salah tingkah di depan anak-anak dan Thoriq.


Liam menaikturunkan alis dengan mata jahil membuat Devan ingin melemparnya dengan gulungan kaos kaki.


“Okay, have fun, ya Liam dan Kala. Mas Thoriq, Aira, kapan-kapan kita video call. Bye!” Qiara cepat menutup telepon.


Masih terdengar di telinga Thoriq pertanyaan dari salah satu dari si triplets, “Emang Buna dan Daddy kalo berisik lagi ngapain?”


***

__ADS_1


__ADS_2