Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Masa Depan


__ADS_3

Sepuluh tahun kemudian


“Hanna ijin pamit, ya. Kakak-kakak semua baik-baik di sini.” Hanna memeluk satu persatu teman satu sel yang sudah seperti saudara kandung.


“Kamu harus hidup baik, Hanna. Kamu masih muda, buka lembaran baru begitu keluar dari lapas,” ucap Susi yang dulu sangat membenci Hanna namun kini mereka bagai kakak beradik.


“In syaa Allah, Kak. Maafin pasti Hanna banyak salah sama kakak-kakak.”


“Udah dimaafin. Jaga diri kamu, Hanna. Jangan terjebak lagi. Kami di sini semua menanggung hukuman seumur hidup hanya karena kami mengikuti emosi dan hawa napsu,” balas tahanan lainnya.


“Iya, Kak. In syaa Allah Hana akan ingat nasihat kakak semua. Hanna pergi dulu, ya.”


Hanna keluar dari ruangan selnya diiringi tatapan penuh harap dari tahanan lainnya. Ada yang tak sabar menunggu giliran tiba untuk keluar dari tempat yang memisahkan dari kehidupan luar. Tak sedikit yang menyerah karena hukuman seumur hidup yang harus ditanggung.


Hanna berganti baju. Melepas seragam tahanan yang selama ini dipakai. Ia telah membeli satu set pakaian gamis dan kerudung panjang. Ia tak mau lagi memakai pakaian yang dipakainya saat dijebloskan ke penjara.


Seorang petugas mengantarnya hingga ke pintu gerbang.


“Sampai di sini saya mengantar. Ingat kamu masih ada wajib lapor setiap minggu. Lalai, kami akan menciduk dan mengembalikanmu ke sini. Hiduplah dengan baik. Saya harap ini kali terakhir kita bertemu.”


“Baik, Bu. Terima kasih untuk semuanya.” Hanna mencium tangan petugas lalu melangkah keluar dari pintu kecil yang dibuka untuknya.


Hanna menaiki ojol yang sudah menunggu untuk mengantar ke stasiun bis. Rikuh rasanya melihat lalu lalang kendaraan dan orang setelah sepuluh tahun pandangannya terbatas tembok tinggi dan kawat berduri.


Tak ada keluarga yang menjemput, tidak juga Thoriq mantan suaminya yang sama


sekali tidak pernah menjenguk. Hanna mengikhlaskan karena menyadari begitu banyak kejahatan dan kebusukan yang ditorehkan.


Tiba di stasiun bis Hanna membeli tiket menuju Semarang. Hanya membawa sisa uang hasil menjual kerajinan tangan membuat bunga kering di penjara, ia membeli minum dan penganan untuk bekal di jalan.


Hanna menatap ke luar jendela bis yang ditumpanginya. Ingatannya melayang ke sepuluh tahun yang lalu.


Flash back on


Hanna memegang paket yang diberikan Qiara. Tangannya masih gemetar karena marah. Bisa-bisanya Qiara datang dan berkata telah membayar tahanan lain untuk membully-nya.


Dengan penuh kebencian Hanna melihat ke teman satu selnya yang sudah tidur. Dirinya sendiri masih berdiri di pojokan tidak diijinkan untuk duduk.


Kakinya pegal bukan kepalang. Melihat mereka sudah tidur, Hanna memutuskan untuk duduk. Malang baginya beberapa detik salah seorang dari mereka bangun dan menyuruhnya berdiri lagi dengan sedikit tendangan di kaki.


Tak berani melawan, Hanna langsung berdiri. Paket dari Qiara jatuh. Hanna buru-buru memungut dan mengumpulkannya takut yang lain bangun dan ramai-ramai mengerjainya.


Di remang sel-sel tahanan, Hanna membaca buku Jalan Tobat. Mendengus kesal, ia mulai membacanya.


“Hukuman di dunia bagi pendosa adalah kesulitan terus menerus dalam hidup…”


Hanna mengerutkan kening.


“Aku tidak berdosa, toh dalam Islam laki-laki boleh berpoligami walau tanpa ijin istri pertama,” sungutnya dalam hati, menutuo buku dengan kasar. Ia tetap menyalahkan Qiara sebagai sumber masalah. Hanna akhirnya tertidur sambil bersandar ke tembok.


Tahun-tahun berjalan teramat sangat lambat bagi Hanna. Sedikit pun sikapnya tidak berubah. Ia masih seperti orang tidak bersalah dan menganggap dunialah yang menyudutkannya.


Suatu hari Hanna terlibat dalam perkelahian dengan seorang tahanan. Ia dimasukkan ke sel isolasi. Dirinya hanya diijinkan membawa mukena, Qur’an, dan buku yang tak pernah lagi dibaca.


Hanna iseng membuka buku Jalan Tobat. Berlembar-lembar dia baca, hingga tiba di satu paragraf yang menyubit hatinya tentang dosa yang sering dianggap benar.


“Boleh bagi wanita menawarkan diri untuk dinikahi laki-laki sholih untuk kebaikan. Namun Nabi Muhammad melarang keras seseorang mengganggu keharmonisan rumah tangga seseorang.”


Meneruskan bacaannya sebuah kalimat dari ulama besar Aa Gym:


"Saat kita melakukan kemaksiatan sebenarnya kita sedang mempersiapkan penderitaan, hanya tobat yang mampu membatalkannya."


Makin lama Hanna semakin tenggelam dalam tulisan-tulisan. Hatinya bergetar. Ia tak sanggup melanjutkan. Diletakkan buku itu pelan-pelan.


Pernikahan dengan Thoriq yang diharapkan mewujudkan mimpinya malah menjadi sumber ketidakbahagiaannya. Dirinya selalu hidup di bawah bayang-bayang Qiara.


Demi menikahi Thoriq dan merebut cintanya, Hanna rela mengandaskan kesempatan yang sudah ada digenggamannya. Orang tua Hanna dan Kakek Thoriq memiliki perusahaan ekspedisi yang cukup besar. Dulu ia sempat ingin memimpin perusahaan itu.


Keinginannya goyah ketika mimpinya menikah dengan Thoriq muncul lagi. Ia yakin bisa bahagia bersama pria impiannya. Toh poligami sah-sah saja, begitu pikirnya saat itu. Kehadirannya adalah satu-satunya sebab hancurnya keharmonisan rumah tangga Thoriq dan Qiara.


Entah apa tapi sesuatu menyentuh kalbu Hanna malam itu.


Hanna menyandarkan kepalanya ke dinding batu yang dingin dan keras. Bersikeras atas nama kebahagiaan, kini disinilah dia, jadi sosok terhukum dan terbuang.


Sepertinya air mata sudah lama mengering, kesedihan yang dirasakan sudah melewati batas yang dapat ditanggung. Dan selama ini menyalahkan Qiara padahal dirinyalah yang busuk.


Hanna tak mau menangis lagi. Dirinya lelah. Malam itu ia melakukan ibadah yang sudah lama ditinggalkan. Empat rakaat sholat Isya disusul dua rakaat sholat tobat.


Usai sholat, tangan Hanna menengadah. Mengadukan betapa beratnya hidup ini, begitu menyakitkan hari-harinya dan akhirnya … memohon ampun.


Malam itu, mata hati Hanna terbuka. Ratapan Qiara saat Thoriq memukulnya, tatapan datar suaminya ketika Hanna menyatakan ingin bercerai, meninggalkan Aira untuk pergi bersama Bastian, hingga diperlakukan sebagai barang mainan ranjang … semua adalah kesalahannya.


Hanna menatap kosong dinding di depannya. Bau toilet menyengat hidung. Hanna berharap dapat keluar dari tempat terhina ini dan memiliki keberanian untuk minta maaf pada semua yang pernah ia sakiti.


Tangannya kembali menengadah lalu dengan lirih memohon, “Ya Allah, jika ini hukumanku di dunia, hamba ikhlas. Bimbinglah hambaMu ini untuk menebus dosa dan kesalahan. Jangan kau matikan hamba sebelum semua dosa ini terampuni, ya Allah. Hamba mohon ampunanMu, Ya Ghafur.”


Flash back off.


***


Setelah tujuh jam perjalanan, Hanna tiba di Semarang. Turun dari bis, seorang wanita memakai kerudung panjang dan gamis memanggilnya.


“Hanna, sini …”


“Assalamualaykum ustadzah,” sapa Hanna sambil mencium punggung tangan Ustadzah Nurlela.


“Waalaykumussalam, alhamdulillah kamu sudah sampai, Nak. Lapar? Mau makan dulu?”

__ADS_1


“Matur nuwun, Bu, masih kenyang,” sahutnya sementara di saat yang sama terdengar bunyi keroncongan dari perut Hanna.


Nurlela atau yang kerap dipanggil Ela tersenyum lalu menggandeng Hanna, “Ibu lapar, temani Ibu makan soto, yuk.”


Hanna menggangguk, antara malu dan lega. Uangnya habis untuk membeli bekal di jalan.


Sesungguhnya Ela tidak terlalu lapar, namun ia tahu Hanna pasti malu untuk minta. Ela memerhatikan Hanna yang seperti baru makan enak pertama kali seumur hidup.


Ela berkenalan dengan Hanna saat masih di lapas. Mereka bertemu saat Hanna sedang mengaji di musala. Keduanya kemudian sering bertukar pikiran. Hanna belajar banyak dari Ela, ustadzah dengan mata meneduhkan. Perlahan tapi pasti Hanna membenahi akhlak, ilmu, dan ibadahnya.


Saat Ustadzah Ela memutuskan untuk kembali mengurus pesantren yang didirikannya di Semarang, Hanna terpukul.


Ela menenangkan, “Hanna, bukan ibu yang membuat kamu kuat melangkah, tapi Allah. Mohonlah hanya padaNya. Manusia ini tempatnya khilaf, tapi kasih sayang Allah melebihi murkaNya. Tetaplah di jalan yang diridhoi.”


Hanna bertekat jika suatu hari Allah mengijinkan keluar dari lapas, ia akan belajar di pesantren Ustadzah Ela. Mereka sering bercakap melalui telepon, membina hubungan bak ibu dan putrinya.


Semangkuk soto dihabiskan dalam sekejap.


“Alhamdulillah ya, Allah …”


Hanna tiba-tiba malu, “Maaf ustadzah ..”


“Nggak apa, Nak. Yuk habis ini kita berangkat, semoga kamu betah di pesantren, ya …”


“In syaa Allah, ustadzah. Saya ingin belajar. Semoga di sisa umur saya masih diberi kesempatan untuk bertobat dan minta maaf pada orang-orang yang saya sakiti.”


“Berdoa sama Allah, umur itu hak Allah yang menentukan.”


“In syaa Allah …”


***


Remaja berkerudung pink bolak-balik melongok ke pintu kedatangan.


“Aya, kok lama banget sih? Pesawatnyanudah mendarat dari tadi,” sungutnya manja.


“Sabar, Ai, mungkin Mas Kala lagi ambil bagasi.”


Aira kembali melongok mencari sosok kakaknya. Terakhir bertemu kakaknya lima tahun lalu ketika Devan dan keluarga besar berkunjung ke Indonesia menengok putra ke tiga Dhanu dan Marianne.


Itu pun hanya pertemuan singkat di akhir pekan karena Aira masih harus sekolah. Selebihnya mereka secara rutin berhubungan via video call.


Kali ini Kala dan Liam datang sendiri ke Indonesia. Liam sudah berumur tujuh belas tahun jadi Devan dan Qiara memercayainya untuk menemani Kala ke Indonesia. Solo tepatnya.


Devan juga sudah bicara panjang lebar untuk minta ijin pada Thoriq karena Liam ingin menjelajahi beberapa tempat di Jawa Tengah. Thoriq tidak keberatan bahkan ikut menyiapkan rencana perjalanan untuk Liam.


Thoriq sendiri belum menikah atau akhirnya memilih untuk tidak menikah. Dirinya merasa baik-baik menjadi ayah sekaligus ibu bagi putrinya.


Aira tidak pernah merasa minder jika di acara sekolah tidak hadir bersama seorang ibu. Ia malah dengan bangga menceritakan tentang ayahnya.


Di kejauhan sosok yang dinantikan terlihat mendorong trolley dengan dua koper besar.


Aira langsung berlari menyongsong kakaknya yang hanya berbeda satu bulan. Remaja empat belas tahun itu berada di ambang peralihan. Tubuhnya tinggi, tulang-tulang wajahnya mulai berubah ke arah pria dewasa, namun begitu melihat Aira langsung berlari sambil menadak-nadak lalu memeluk adiknya.


Thoriq tersenyum, Kala adalah fotocopy dirinya waktu kecil. Hati kecil Thoriq merasa menang karena paling tidak Qiara melihat versi muda dirinya setiap saat.


Menyadari pikirannya yang ngalur ngidul, Thoriq bergegas menyambut Kala.


Aira dan Kala masih tertawa lalu berjoget-joget kesenangan. Kakak beradik itu melepas rindu dengan cara yang unik.


Melihat Thoriq mendekat, Kala gegas menghambur ke ayahnya.


“Aya, Kala kangen,” serunya langsung memeluk Thoriq dengan erat. Mata Thoriq menghangat, pelukannya tak kalah erat.


“Assalamualaykum Uncle Thoriq, Aira.” Thoriq menoleh ke pemilik suara.


Mulut Aira dan banyak kaum hawa di tempat itu melongo melihat pemuda tampan bak bintang film barat berdiri di hadapan mereka.


“Waalaykumussalam,” sahut Thoriq sambil menjawil putrinya agar menutup mulutnya yang ternganga.


“How are you, Liam?” Ayah Aira menyalami Liam yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa.


“Aya, kok dia bilang assalamualaykum?” Bisik Aira heran.


“Dia mualaf, Ai,” sahut Kala tenang lalu menggandeng adiknya yang masih terpana melihat Liam.


Yang dilihat hanya cengengesan lalu menangkupkan tangan ke arah Aira. Liam adalah anak Devan dengan Stella, jadi ia tidak punya hubungan darah dengan Thoriq dan Aira.


“Aku ada hadiah buat kamu.”


Liam mengambil sesuatu dari tas tangannya.


Alis Aira terangkat, wajahnya terbengong.


“Boneka grizzly dari aku masih kamu simpan nggak? Kalau udah lapuk, ini aku belikan yang lebih besar.”


Boneka beruang grizzly yang diberikan kali ini lebih seram dari yang diterima waktu pertama bertemu Liam. Aira menerima malu-malu karena sebetulnya boneka grizzly dari Liam adalah boneka favoritnya. Sampai sekarang, boneka itu setia menemaninya tidur.


Sementara itu Liam terkekeh puas melihat boneka menyeramkan itu berpindah tangan ke gadis imut. Liam memang tidak pernah bosan mengganggu Aira, dari pertama kali kenal, di setiap video call dengan Kala, sampai akhirnya mereka bertemu.


Thoriq melirik Aira yang salah tingkah kemudian merangkulnya. Putri kecilnya kini sudah jadi gadis remaja. Thoriq mencium sekilas pucuk kepala Aira lalu mengajak semuanya ke mobil.


Mereka menuju rumah Thoriq, di sana sudah ada Kakek dan Nenek yang sudah tidak sabar bertemu Kala.


Setibanya, Kakek dan Nenek menyambut Kala dan Liam. Kala dan Liam mencium takzim tangan mereka berdua. Kakek kini sudah memakai kursi roda karena pernah terkena stroke, Nenek harus dibantu dengan tongkat karena persendian mulai rapuh.


Kala tidak terlalu mengenal Kakek dan Nenek Buyutnya. Dari Liam ia mendengar bahwa keduanya penyebab Aya dan Buna berpisah. Walau demikian Kala bersikap sopan pada keduanya.

__ADS_1


Thoriq menunjukkan kamar yang akan dipakai oleh Kala dan Liam selama mereka menginap. Kamarnya di lantai paling atas menghadap ke arah pegunungan.


Setelah sholat dan membersihkan diri, Kala dan Liam turun untuk menemui Nenek dan Kakek.


“Bagaimana kabar Bunamu?” Tanya Kakek perlahan.


“Buna baik, Kakek. Buna nggak bisa ikut karena Abby sedang ada ujian piano. Terus kembar tiga juga mau pertandingan berkuda.”


“Syukurlah, Kakek ingin bertemu sebetulnya.”


Kala hanya mengangguk tak menanggapi. Liam menyenggol adik tirinya.


“Mmm iya nanti Kala sampaikan, Kakek Buyut.”


Bik Jumin keluar membawa aneka penganan ringan. Ada pisang goreng, oncom goreng, dan ubi kukus. Tak lupa teh poci dan gula batu. Aira langsung menyomot oncom goreng kesukaannya.


“Ai, tamu dulu dong. Cobain ini oncom mungkin di Inggris nggak ada.” Larang Thoriq sambil menangkap tangan putrinya lalu menyidorkan piring ke Kala dan Liam.


“Oncom? Ada, Buna suka bikin, kok. Walau jarang karena belinya harus nitip,” sahut Kala setelah memeletkan lidah ke adiknya.


Liam memilih pisang goreng dan Kala mengambil oncom kesukaannya.


“Aira juga suka oncom,” balas Aira menyomot satu tak memedulikan tatapan ayahnya.


“Kala pernah makan soto? Kapan-kapan Nenek buatkan.”


“Boleh, Nek. Kala suka makan soto sama perkedel.”


Memandang Kala, Kakek dan Nenek seakan terbawa ke masa lalu saat membesarkan Thoriq. Makanan kesukaannya adalah soto dan perkedel. Camilan favorit oncom goreng.


Hadirnya Kala dan Aira membuat perasaan mereka campur aduk. Di satu sisi merekalah yang menyebabkan Kala terpisah dari ayahnya, namun di lain pihak ada Aira, cicit yang juga sangat mereka sayangi.


“Mas Kala, cobain ubi kukusnya juga. Manis enak.” Aira melihat kakaknya kembali mengambil oncom goreng. Kala mengangguk, tangan satunya mengambil ubi. Lagi-lagi Liam menyenggol Kala.


“Pelan-pelan makannya, Kala,” kata Liam memperingatkan karena melihat Kala tak sabar menghabiskan semuanya. Adiknya ini memang dari dulu doyan makan.


“Liam sekarang SMA, ya?” Kakek bertanya kepada pemuda sopan di hadapannya.


“SMA itu highschool, kah? Betul, Kek,” balasnya dengan Bahasa Indonesia logat Inggris.


“Kamu bisa Bahasa Indonesia sekarang?”


“Alhamdulillaah bisa. Buna ingin kami semua bisa Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dengan baik. Hanya logatnya saja yang masih belum seperti Buna dan Kala.”


Kakek dan Nenek saling melirik sekilas. Mereka kagum terhadap bagaimana Liam terlihat sangat menyayangi Qiara.


“Mau kuliah ke mana?” Tanya Nenek penasaran.


“Liam mah, enak Nek, udah keterima di universitas terkenal di Inggris, fakultas psikologi. Dari kecil dia pengin jadi Love Guru,” ceplos Kala sambil terus mengunyah.


Liam terkekeh mendengar komentar adiknya sementara Kakek dan Nenek heran dengan istilah Love Guru.


Dengan gamblang Liam menjelaskan, “Waktu kecil, aku suka menasihati teman-teman kalau mereka naksir-naksiran. Bahkan waktu Daddy mau PDKT sama Buna juga aku yang kasih nasihat, loh. Kalau nggak ikutin nasihat aku, mungkin mereka nggak menikah.”


Thoriq melirik Liam, setelah sekian tahun hatinya masih berdenyut setiap mendengar sesuatu tentang Qiara dan Devan. Sementara yang dilirik tersenyum bangga sambil mengambil pisang goreng, entah untuk ke berapa kali.


“Uncle Thoriq kalau perlu nasihat cinta, bisa sama aku,” Liam gagah berani menawarkan.


“Nah, mungkin kamu harus ngobrol banyak sama Liam,” sahut Nenek cepat sambil terkekeh mendegar celoteh Liam yang ekspresif. Dalam hati Nenek khawatir cucu kesayangannya jadi duda lapuk.


Thoriq menanggapi dengan tersenyum lebar dan menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Uncle Thoriq pengidap sindrom gagal move-on parah. Obatnya cuma satu: Berani move-on. Jangan terjebak di masa lalu. Nggak mungkin bisa diulang. Mending cari happy buat masa depan.” Liam menatap dalam netra Thoriq membuat yang ditatap salah tingkah.


Thoriq menggeleng-geleng sambil mengambil ubi, sementara Nenek langsung menepuk pundak Liam.


“Betul sekali! Denger nggak, Thoriq?”


“Aku siap mendengarkan uneg-uneg Uncle Thoriq, anytime.” Penuh percaya diri Liam menawarkan sementara Thoriq makin miris melihat Kakek dan Nenek yang nampak setuju dengan tawaran Liam.


“Ya ya, nanti kita ngobrol, ya …” Akhirnya Thoriq menyerah setelah Nenek bolak-balik menyikutnya.


“Emang Aya masih cinta sama Buna?” Tanya Kala polos.


Liam dan yang lainnya menoleh ke arah Thoriq yang kelimpungan dan ingin kabur.


Karena semua menanti jawabannya, Thoriq menjawab dengan hati-hati. Di sini ada tiga kubu yang berkepentingan dengan jawabannya.


“Bukan cinta seperti suami kepada istrinya. Tapi mmm apa ya, mungkin lebih ke rasa sayang karena Buna kan wanita yang melahirkan anak Aya.”


“Itu bagus, hanya jangan terjebak aja. Kehilangan orang yang pernah kita cinta bisa begitu menyakitkan, hingga melangkah untuk komitmen yang baru menjadi tidak mungkin. Itu kan yang Uncle rasakan?” Liam menyampaikan analisanya.


“Betul,” cicit Thoriq. “Eh ya kurang lebih gitu deh.” Thoriq membetulkan suaranya agar lebih berwibawa.


Liam tersenyum. “Tenang Uncle, selama aku di sini akan kubimbing. Asal Uncle jangan minta nasihat buat balikan sama Buna, ya.”


Kalimat yang keluar dari mulut Liam hampir membuat Thoriq terjengkang dari kursinya.


“Iya, Ay, Buna udah happy sama Daddy,”


sahut Kala masih dengan polosnya.


“Enggak enggak, Aya nggak mungkin kepikiran balik sama Buna.”


Tanpa diketahui semuanya, Aira mencibir ke arah ayahnya yang dibalas dengan kode tutup mulut.


“Sudah-sudah, kita bicarain plan kamu selama di sini.” Thoriq akhirnya merasa jengah.

__ADS_1


“Aaah, pengalihan. Baiklah, tapi ingat tawaranku selalu terbuka, ya, Uncle.” Liam menepuk pundak Thoriq.


***


__ADS_2