Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Hubungan Kekal


__ADS_3

Di dalam mobil sepulang dari rumah Lastri, mereka berlima terdiam.


“Mas putar balik! Kita nggak boleh tinggalin Malika di sana!” Tiba-tiba Hanna meminta pada Dicky.


“Hanna, aku pun berat meninggalkan Malika, tapi dia akan histeris dan terganggu kejiwaannya kemudian malah menolak kita. Begitu kata psikolog Asima yang sudah kita datangi.”


“Nggak bisa, Mas! Putar balik! Atau stop! Kalau Mas nggak mau ambil anak kita, biar Hanna aja! STOP AKU BILANG!” Teriak Hanna histeris.


Dicky meminggirkan mobil, mereka sedang melaju di jalan antarkabupaten. Hanna segera membuka pintu mobil dan berlari ke luar dengan perut besarnya.


“Malika! Pulang sama Mama, Nak! Teriaknya dengan air mata bercucuran. Ia tidak ingin meninggalkan putrinya dengan orang asing.


Dicky gegas keluar dari mobil lalu menangkap dan memeluk Hanna dari belakang.


“Sayangku, sabar, istighfar,” ucapnya lirih. Air mata pun mengalir deras dari mata pria itu.


“Lepasin! Hanna mau sama Malika!”


“Hanna, Hanna, please. Istighfar.”


Hanna berbalik, matanya menatap nyalang ke arah Dicky. Ia mengurai pelukan suaminya dengan kasar.


“Kenapa Mas nggak mau ambil Malika? Apa nggak mau Malika kumpul lagi? Biar Malika hidup sama Hanna aja!” Hanna terus berteriak-teriak di pinggir jalan lalu jatuh terduduk sambil menutup wajahnya.


Aira, Latifah, serta Fatimah memandang Dicky dan Hanna dengan kebingungan.


Dicky mendekati Hanna lalu memeluknya. Hanna mendekap suaminya erat, menangis tergugu di dadanya.


“Sakit, Mas. Sakit ketika anak sendiri nggak mengenali dan malah menganggap wanita lain adalah ibunya. Hanna ibunya Malika, Mas,” teriak Hanna sambil memukul-mukul dadanya.


Wanita itu masih histeris lalu berteriak pada suaminya, “Besok kita bawa Malika untuk DNA. Kalau sudah fix terbukti, kita langsung bawa pulang.”


Hanna terus menangis. Suaminya tidak berkata apa-apa, ia menyediakan dada sebagai tempat Hanna bersandar, meluapkan seluruh emosinya.


“Sayang, aku juga pengin Malika pulang sama kita. Secepatnya, Sayang. Aku udah tempatkan beberapa orang untuk mengawasi Bu Lastri dan keluarganya. Kalau-kalau mereka berniat membawa pergi Malika.”


“Mas, kita cari kontrakan dekat Malika. Hanna nggak peduli dimana. Tapi Hanna mau dekat Malika. Tolong, Mas, yuk kita putar balik dan cari penginapan atau kost-kostan juga nggak apa.”


“Hanna, kamu kan sebentar lagi melahirkan. Ingat ada bayi di dalam perut kamu. Kita nggak bisa jauh-jauh dari dokter kandungan kamu. Coba tenangin diri. Kita harus pikirkan langkah agar Malika juga nyaman.”


“Mas …” Mata bulat Hanna menatap manik suaminya. Dicky meletakkan telapak tangan di sisi wajah Hanna.


“Tenang, ya. Aku nggak akan biarkan Malika hilang lagi. In syaa Allah. Semoga semua langkah kita selalu dimudahkan.”


Hanna masih terisak-isak.


“Aamiin … Mas, maafin Hanna, tadi marah-marah.” Hanna tidak berani menatap netra suaminya. Sebagai istri tidak sepatutnya ia bertingkah seperti tadi. Bicara keras, membentak, adalah hal-hal yang harus dihindari saat berbicara dengan suami.


Dicky menyubit dagu istrinya lalu mengecup keningnya lembut.


“Mas akan jagain kamu dan semua anak-anak kita. Sekarang kita pulang, kamu harus istirahat. Nanti malam kita video call dengan psikolog untuk mengatur langkah.”


Dicky membantu Hanna untuk berdiri lalu mengantarnya ke tempat duduk di samping pengemudi. Memastikan istrinya sudah memakai seatbealt sebelum dirinya kembali ke kursi pengemudi.


***


“Aya, boleh kah aku ngobrol sama Liam?”

__ADS_1


Kala yang ada di video call itu langsung memasang antena panjang.


“Ngapain kamu mau ngobrol sama Liam. Nggak boleh laki-laki dan perempuan yang belum menjadi mahram untuk ngobrol berdua-dua,” ucapnya serius.


“Ya nggak berdua, kan Mas Kala temenin aku.”


“Ngantuk.”


“Nanti aku bikinin cake buah.”


“Sama apalagi?”


Aira manyun, jika dekat, Kala sudah habis ia cubiti.


“Sama tahu kriuk.”


“Cocok.” Kala mengacungkan jempol dengan wajah sumringah.


Thoriq hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan dua anaknya itu. Kala memang sangat protektif terhadap adiknya. Tubuhnya tinggi dan tegap belum lagi otaknya encer membuat ia disegani oleh murid-murid SMA-nya, bahkan SMA sekitar.


Kala sengaja mengikuti lomba di daerah Semarang dan bercerita bahwa ia punya adik di pesantren. Kala tak ingin ada yang mengganggu adiknya seperti dulu lagi.


Walau Liam adalah kakaknya, namun ia tidak ingin adiknya bercengkrama langsung selama belum ada ikatan yang sah. Dan itu masih sangat lama karena Aira sama-sama di SMA.


“Adek Aira emang mau ngomong apa?” Tanya Kala kepo.


“Liam kan mau lulus jadi psikolog, aku mau nanya-nanya tentang psikologi anak. Ini mengenai Malika, Mas.”


Thoriq menyela, “Kalian masih sering ketemu Malika, kan?”


“Selama libur ini Papa Dicky dan Mama menyewa rumah dekat rumah Bu Lastri. Kami bergantian mengunjungi Malika. Hanya saja kok prosesnya lama. Apakah ada cara lain. Kasihan Mama, tiap pulang nangis karena Malika masih belum mau kalau dekat.”


Kini Hanna harus berjuang keras agar Malika mau menerimanya. Tidak mudah bagi anak berusia satu tahun yang hanya mengenal Lastri sebagai ibu untuk dekat dengan Hanna ibu kandung yang tidak pernah ditemuinya.


Malika masih belum mengenal konsep ibu kandung atau bukan. Baginya ibu ya Lastri, yang membesarkan, menyayangi, membuatkan susu, dan ada bersamanya tiap hari.


Bagi Malika, Hanna hanyalah orang asing yang menjadi tamu Lastri. Malika lebih bisa berkumpul dengan Aira, Latifah, dan Fatimah. Namun dengan Hanna dan Dicky, anak itu masih menjaga jarak.


“Aira, ngomong sama Liam besok aja kan kamu nginep sini. Sekalian kalau udah bikin cake buah dan tahu kriuk,” titah Kala yang selalu berlagak jadi bos terhadap Aira. Anehnya adiknya itu mau saja disuruh-suruh kakaknya.


“Aira mau ngomong apa sama aku?” Liam tidak tahan dan bergabung di video call. Ia menguping di luar ruang kerja Thoriq begitu mendengar suara Aira di hape.


Aira tersipu-sipu. Liam menatapnya dengan mesra sebelum Kala melempar bantal ke kepala kakaknya. Liam terkekeh.


“Tundukkan pandangan! Aya, ni orang dipulangin aja ke Inggris,” omel Kala sambil menatap galak ke Liam.


“Susah, Kala, gimana aku mau ngomong sama Aira kalau nggak boleh lihat Aira? Apa aku gini aja?” Liam dengan gaya teatrikal menghadap tembok.


“Atau gini?” Kini Liam jongkok di kolong meja. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun terlihat gemas terhadap Kala dan Aira yang menertawakannya.


“Kalian nikah aja lah, kan beres aku nggak usah jadi perantara atau nyamuk,” usul Kala menyampaikan solusi cemerlang menurutnya.


“Hush, jangan macam-macam,” kini giliran Thoriq yang mengomeli Kala, sementara Liam mengambil kesempatan untuk mengedipkan sebelah matanya ke Aira.


Si gadis terkekeh, sesaat melupakan kekhawatiran terhadap ibu dan adiknya.


“Aira mau ngomong apa?” Tanya Liam mendorong Kala agar memberikan tempat duduknya.

__ADS_1


“Malika. Aku dah kirim fotonya kan ke kalian? Tante Qia juga udah dapet. Lucu, kan? Mirip aku …”


“Cantikan kamu,” gumam Liam yang langsung kakinya diinjak oleh Kala.


“Iya iya mirip …” Liam melirik bodyguard jadi-jadian di sampingnya.


“Liam, kamu kan belajar psikologi, sampai kapan sih harus dalam mode PDKT gini?” Tanya Aira dengan raut khawatir.


“Hmm, waktu itu Oom Dicky cerita kalau kalian sudah dalam bimbingan psikolog senior. Pasti ilmu dan pengalamannya lebih komprehensif. Aku akan coba bicara dari pengalamanku. Begini …” Liam memperbaiki duduknya, wajahnya berubah serius. Thoriq tersenyum melihat Love Guru yang siap beraksi.


“Malika masih berumur satu tahun. Masih susah memberi pengertian padanya. Meski Tante Hanna sering ke sana, belum tentu Malika mau dekat dengannya. Kalau approach aku adalah bukan mengambil Malika dari Bu Lastri tapi menggabungkan dua keluarga hingga Malika merasa nyaman.”


“Waaat? Oom Dicky harus nikahin Bu Lastri gitu?” Aira mendelik. Liam menggigit bibirnya karena menganggap ekspresi gadis itu sangat menggemaskan.


Setelah menelan saliva ia melanjutkan, “Ya nggak gitu konsepnya. Tante Hanna harus mulai menerima bahwa Malika memiliki wanita lain sebagai ibu. Buatlah kondisi dimana Bu Lastri tetap menjadi ibu dan Tante Hanna menjadi Mama. Kalau aku liat dalam diri Tante Hanna masih ada rasa cemburu dan marah..”


Aira mengangguk membenarkan. Ibunya memang terlihat belum bisa menerima kenyataan bahwa Malika lebih dekat dengan Lastri.


“Aku tidak pernah melupakan My Mommy, tapi aku menerima Buna sebagai ibuku. Ya memang, Mommy jahat ke Buna tapi di depanku, Buna tidak menunjukkan sikap memusuhi yang membuatku merasa bersalah. Aku tidak merasa Buna melampiaskan kemarahannya padaku. Itu yang membuat aku nyaman dari awal sama Buna. Kala aja sampai cemburu.”


“Enggak, sih,” protes Kala sambil memberungut. Memang betul waktu kecil ia sering marah kalau Liam mau dekat dengan bunanya.


“Iya sih, kamu dulu nangis tiap aku manggil Buna. Dasar posesif akut.”


“Biarin, itu kan Buna aku, yek,” jawab Kala sambil memeletkan lidahnya. Di antara anak-anak Qiara, Kala adalah yang paling manja. Walau kini berumur tujuh belas tahun, tetap saja Kala perlu momen untuk ngobrol atau sekadar duduk di samping ibunya saat Qiara ke Indonesia.


Liam mengacak rambut Kala.


“Ai, sebagai seorang ibu, wajar jika Tante Hanna cemburu sama Bu Lastri. Ini berat buat Tante Hanna. Jika suami atau istri berselingkuh, maka jika tidak ada rekonsiliasi bisa jadi keduanya memutus pernikahan. Selesai. Tapi tidak ada yang bisa memutus tali ibu dan anak. Itu adalah satu-satunya hubungan yang kekal abadi. Oleh karena itu berat buat Tante Hanna melihat Malika menyayangi dan menganggap wanita lain sebagai ibunya. Bahkan menurut testimoni yang kubaca, rasanya lebih berat dari diselingkuhi.”


Aira merasa sesak.


“Diselingkuhi aja sakitnya sampai ke tulang dan ubun-ubun,” tambah Liam lagi.


Mendengar perkataan Liam, sorot mata Thoriq berubah sendu. Tahun-tahun berlalu dan rasa bersalah pernah menyakiti Qiara masih menggantung.


“Coba ajak bicara ibumu untuk menjadikan Bu Lastri sebagai partner dan bukan pesaing. Walau Malika tidak bicara, tapi anak kecil itu feelingnya lebih sensitif. Ia akan merasa Tante Hanna memusuhi ibunya.”


“Aku coba, ya. Moga Mama bisa melunak. Makasi Liam.”


“Makasi aja?” Tanya Liam dengan alis turun naik. Kala bersiap menyerbu kakaknya.


“Wait! Oom Thoriq, Kala, aku ingin mengajak Aira nonton, apakah boleh?”


“Nggak!” Jawab Kala tegas. Lebih karena malas harus menemani.


“Kala, kamu kan saudara laki-laki dari Aira, ya harus kamu dong nemenin.” Tegur Thoriq lagi. Malam itu Kala memang sedikit bertingkah.


“Kenapa nggak Abby, kenapa nggak Azka, Barran, atau Hayyan.”


“Ck, mereka bukan saudara Aira, Bambang,” balas Liam mulai jengkel karena Kala berpotensi menjegal rencananya pergi dengan Aira.


“Oke, cake buah dan tahu kriuk dari Aira. Sepeda motor dari Liam.”


“Kalaaa!” Thoriq lagi-lagi menegur anaknya yang selalu banyak akal. Kala sudah berbulan-bulan minta sepeda motor tapi Thoriq, Devan, dan Qiara sepakat untuk tidak mengabulkan.


“Ya udah, Liam, aku mau ditraktir di Steak House.”

__ADS_1


“Beres! Ai, siap-siap ya, malam minggu abis maghrib aku jemput di depan kamarmu.” Liam mengedip genit yang disambut dengan tawa malu-malu tapi mau oleh Aira. Sebuah momen yang membuat Kala pura-pura mau muntah.


***


__ADS_2