Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
PDKT


__ADS_3

Hanna dan Aira duduk di bangku taman. Sore ini mereka akan kembali ke Indonesia. Sisa waktu di Malaysia dimanfaatkan untuk saling mengenal.


Sambil menikmat es krim mereka bercakap. Masih canggung, tapi setidaknya Aira mulai membuka diri.


“Ai, Mama tau kalau masa lalu sudah tidak bisa diubah. Melihat ke depan, tujuan Mama hanya ingin menjadi Mama yang baik untuk kamu. Mama mohon kamu kasih kesempatan, ya?”


“Kita jalanin bareng ya, Ma. Aira juga harus biasa mematikan rasa marah dan kecewa sama Mama. Kalau keinginan Aira cuma satu. Pengin lihat wajah Mama. Aira lupa, Ma …”


Hanna menyentuh wajah Aira dengan punggung telunjuknya. Wajah perpaduan antara Thoriq dan dirinya. Ia ingat dulu mati-matian berusaha membuat dirinya hamil agar Thoriq meninggalkan Qiara.


Kenangan itu membuat dirinya bergidig.


“Mama inget dulu, ya? Udah Ma, katanya Allah akan menerima tobat selama nyawa kita belum di kerongkongan.”


Hanna menghela napas. “Mama dulu jahat banget. Kamu jangan sampai seperti Mama, ya Nak. Kebahagian kita tidak akan utuh dengan menyakiti orang lain.”


Aira senyum-senyum. Di benaknya tergambar wajah seseorang berambut coklat tua, bermata biru dengan sorot penuh percaya diri.


“Iih, anak Mama udah punya pacar?”


“Beluuum! Tapi kalau naksir sih udah.”


“Siapa, Ai? Anak pesantren Darut Tauhid?”


Aira tertawa, “Bukan. Mama pasti nggak percaya. Anaknya Uncle Devan. Namanya Liam.”


“Oh yang jangkung ganteng itu? Umur berapa Ai? Kayaknya udah mature. Bule lagi, aneh-aneh nggak dia?”


“Liam udah tujuh belas tahun. Muslim taat, Ma. Pas waktu itu nginep di rumah Aya, dia selalu sopan dan hormat sama Aira, dan nggak celamitan. Waktu Aira diserang preman, Liam yang menyelamatkan sampai kena tusuk.”


“Apa? Kamu diserang preman? Aira kamu nggak apa-apa kan? Mas Thoriq gimana, sih?”


“Eh Mama, jangan salahin Aya. Pokoknya Aira sehat wal afiat.“


“Aira, Mama liat ada boneka beruang serem di tempat tidur kamu di pesantren. Itu dari Liam?”


Aira terkekeh geli. “Iya, yang kecil dia kasih waktu Aira umur dua tahun. Yang gedean dikit pas tinggal di rumah Aya.”


Hanna teringat dulu saat seumur Aira, dia pun jatuh cinta pada Thoriq yang jauh lebih tua.


“Ai, dijaga perasaannya ya. Jalan kamu dan Liam masih panjang. Jodoh di tangan Allah. Jangan paksakan sesuatu.”


Gadis remaja berkerudung pink polos itu mengangguk. Dirinya paham, Hanna sedang menceritakan kisahnya. Matanya menghangat, percakapan seperti inilah yang ia rindukan. Percakapan ibu dan putrinya.


“Ma, jangan pergi lagi, ya …”


“In syaa Allah, selama Mama masih ada umur, Mama berharap bisa terus ada di samping kamu.”


Aira memeluk ibunya. Air mata mengalir membasahi kerudung ibunya.


“Maaf, Ma, kerudungnya basah.”


“Nggak apa, Sayang. Sini senderan di bahu Mama.”


Aira menyenderkan kepalanya ke bahu ibunya. Hanna menarik napas dalam-dalam. Ia harus mencubit dirinya meyakinkan bahwa momen bersama Aira bukanlah mimpi.


“Mama akan berusaha untuk nggak mengecewakan kamu, Aira,” bisik hatinya penuh tekat.


“Ma, masih ada perasaan sama Aya nggak?”


Hanna mengelus kepala Aira. “Kenapa Aira nanya?”


“Kali aja Mama masih penisirin,” ucap Aira dengan nada jahil.


“Cinta ke Mas Thoriq? Udah nggak ada. Yang ada Mama malu setiap ketemu. Dan sepertinya juga ayahmu belum bisa move on dari Mbak Qia, ya?”


“Ah itu emang problem. Kalau tentang Buna pasti Aya jadi mellow yellow.”


“Mama selalu doakan kamu, ayahmu, Mbak Qia, dan Kala agar diberi kebahagiaan. Mama nggak bisa mengoreksi apa yang sudah terjadi, tapi Mama akan menebus dengan mendoakan kalian.”


“Mama ada niatan menikah lagi?”


Hanna teringat betapa tubuhnya dulu pernah dieksploitasi menjadi budak **** laki-laki hidung belang. Tanpa henti Bastian membuat Hanna harus melayani pelanggan-pelanggannya. Memuaskan napsu mereka atau menjadi samsak bagi mantan suaminya.


Pengalaman pahit itu meninggalkan trauma yang mendalam. Hanna tidak ingin lagi tubuhnya disentuh oleh laki-laki. Itulah sebabnya saat Dicky memegang, ia langsung mengamuk dan menuduhnya sebagai pria cabul seperti para pelanggannya.

__ADS_1


“Allah memang menciptakan manusia berpasangan dan tugas kita adalah memperbanyak keturunan. Hanya kalau boleh, Mama ingin fokus menjadi ibu dulu bagi kamu, Ai.”


Hanna menjawab pertanyaan Aira dengan hati-hati. Dirinya yakin Aira atau siapa pun akan jijik padanya, bekas pelacur. Ia bermohon pada Yang Maha Kuasa agar aibnya tidak pernah terbongkar.


Aira melihat jam di tangannya.


“Kita udah harus balik ke hotel, Ma. Dua jam lagi kata Aya kita akan dijemput buat ke airport.”


Hanna menangkup kedua belah tangannya ke wajah ayu Aira.


“Terima kasih, Sayang. Mama nggak akan sia-siakan kesempatan yang udah kamu kasih.”


“Maafin Aira, kemaren-kemaren udah kurang ajar sama Mama.”


“Sama-sama, Nak. Mama minta maaf jika suatu saat kamu akan dengar hal buruk tentang Mama. Jangan ditiru. Mama dulu bodoh. Sekarang, kita janji untuk fokus ke masa depan, ya. In syaa Allah Mama akan selalu ada buat Aira.”


Aira memeluk ibunya dengan erat. “Mama ..”


***


“Jadi Adek udah baikan sama mamanya? Terus sekarang Adek dimana?”


“Tadi ijin ngobrol sama Tante Hanna. Perasaan Kala gimana?”


“Kala sih seneng, ya, Aira mau terima Tante Hanna. Cuman Kala-nya yang masih susah memaafkan Tante Hanna. Menurut Aya, Kala jahat nggak sih?”


“Sudah seharusnya kita memaafkan kesalahan orang lain. Karena kita juga tidak luput dari salah dan khilaf. Hanya semuanya perlu proses. Tapi yang jelas jangan jadi orang pendendam, berbuat jahat untuk membalas kejahatan.”


“Ih malesin. Kayak orang gabut aja cari cara buat bikin orang menderita. Hmm … Kala liat dulu deh, kalau Aira happy, baru Kala mau maafin Tante Hanna. Oiya, ada berita bagus. Kala mau punya adek. Buna hamil lagi loh, Ay.”


“Oh, maa syaa Allah. Aya … Aya ikut senang. Salam buat Daddy dan Buna …” Suara Thoriq sedikit bergetar.


“Ay, sedih, ya?”


“Happy tears for your Buna,” sahutnya sambil menyamarkan kesedihan dengan senyuman.


Kala melihat wajah ayahnya.


“Ayah kenapa sih nggak mau move-on?”


“Anak-anak di sini badannya lebih kecil. Jadi pada nggak berani sama Kala. Yang ada juga banyak yang naksir Kala,” ujarnya sambil terkekeh.


“Jangan macem-macem, Kala. Inget pesen Aya, Buna, dan Daddy. Harus apa?”


“Harus punya banyak cewek,” balasnya dengan mimik serius.


“Kalandra …”


“Ay ay … Harus sopan sama wanita, tidak boleh mempermainkan perasaan, harus setia, tidak boleh berduan karena akan mengundang fitnah dan zinah …”


Thoriq tersenyum, “Nikmatilah kehidupan remajamu yang garing kriuk, Kala. Tapi lebih baik garing daripada bikin dosa.”


“Tidak masyalah, itu tidak syulit. Karena Kala masyih tidak mau pacyaran.” Kala yang sedari kecil konyol kini berlagak mengikuti gaya orang bule bicara. Dia tidak sadae terkadang Bahasa Indonesia-nya masih tercampur logat Inggris dan Australia.


“Ya udah ya, Kala. Nanti malam Aya pulang. Bilang Bibik supaya masak sayur lodeh sama pepes ikan asin.”


“Ay ay, Captain!”


Setelah mengucapkan salam, Thoriq menutup telepon. Ia melihat Hanna dan Aira baru kembali.


Putrinya melihat dirinya duduk di coffee shop dekat lobby dan langsung mendekati. Hanna hanya mengangguk dari jauh ke arah Thoriq dan memberi kode ke Aira bahwa ia akan ke kamar.


Aira melihat rona sendu di wajah ayahnya.


“Kenapa, Ay? Mas sakit?”


“Enggak, Mas sehat barusan Aya telepon.”


“Buna?”


“Iiih kok jadi Buna, sih? Kamu udah beberes belom? Dua jam lagi kita dijemput buat ke airport.“


“Hmmm, Buna berarti. Semangat, Ay. Kalau tentang Buna udah mentog nabrak tembog.”


“Udah sana-sana ke atas.” Thoriq pura-pura ingin mencubit Aira. Sambil tertawa geli Aira lari ke lift untuk membereskan barangnya di kamar.

__ADS_1


***


Hanna berjalan menyusuri toko-toko di bandara bersama Ella. Aira dan Latifah memilih duduk menyaksikan hiruk pikuk kesibukan kru bandara mempersiapkan pesawat yang sedang diparkir.


Latifah bahkan bercita-cita menjadi pilot agar bisa selalu terbang menembus awan.


“Bisa kan, Ustadzah dari pesantren lanjut ke sekolah pilot?”


“Bisa aja, kenapa enggak? Asal kamu lulus tes dan dalam kondisi sehat.”


Mata Latifah langsung berbinar-binar sementara otak Dicky berputar sepuluh kali lebih cepat agar bisa mengumpulkan dana yang tidak sedikit.


“Masih beberapa tahun lagi, semangat!” Cetus Dicky dalam hati yang tetap saja gundah.


“Kalian di sini aja, jangan kemana-mana. Ustadzah sama Bu Hanna mau cari oleh-oleh.”


“In syaa Allah saya awasin, Ustadzah. Kebetulan pas lagi ada kerjaan juga jadi sekalian ngetik-ngetik,” ucap Thoriq yang duduk tidak jauh dari Aira dan Latifah.


“Terima kasih, Pak. Yuk, Hanna,” balasnya lalu menggandeng Hanna ke toko coklat dan permen tak jauh dari sana.


Hanna melayangkan pandangan mencari Dicky yang sudah lenyap entah kemana. Kemudian ia sibuk membantu Ella memilih makanan kecil dan coklat untuk dibawa ke pesantren.


Setelah membeli oleh-oleh mereka berjalan berkeliling. Di salah satu toko yang menjual peralatan make-up dan parfum, Hanna melihat sosok flamboyan sedang berdiri di samping counter dikerumuni para SPG. Mereka nampak asyik menyimak entah bualan apa yang keluar dari mulut Dicky.


Hanna mendengus dan mendecak. Bukannya cemburu tapi terganggu dengan betapa laki-laki itu bagaikan magnet bagi para wanita.


“Cakep juga enggak padahal,” batinnya sambil mengerling sinis. Ella yang memperhatikan sikap Hanna langsung tersenyum tipis. Apalagi dari sudut matanya ia melihat Dicky yang kaget saat melihat Hanna.


“Dicky emang kayak gitu dari dulu. Gampang banget bikin cewek kelimpungan. Tapi anak itu nggak pernah serius menanggapi. Bahkan setau ibu, dia belum pernah pacaran.”


“Dia normal nggak sih, Bu. Ya kali aja mleyot,” sahut Hanna asal.


“Hush! Ngaco. Normal kok dia. Dia sama kakaknya diberi karunia otak yang cerdas dan paras yang bagus. Kamu mesti liat Aisya, cantiiik banget. Ibunya juga cantik.”


Hanna tidak berkomentar, ia melihat Dicky keluar dari toko sambil melambaikan tangan pada para SPG.


“Ck … sok kecakepan,” batinnya lagi.


“Dia terlahir kaya tapi harta bapaknya dikuasai istri mudanya. Dicky dan Aisya tidak mendapat sepeser pun setelah ayah mereka meninggal. Ibu tirinya itu telah membalik semua aset menjadi atas namanya.”


“Bu, kita ni ghibah nggak sih? Rugi tau ngomongin dia doang jadi dosa.”


“Menurut Ibu ini adalah cerita kehidupannya Dicky, yaa siapa tau …” ucap Ella menggantung kalimatnya.


“Siapa tau apa, Bu?”


“Ah enggak, eh liat deh, ini ada pie durian. Bisa masuk pesawat gak ya? Tanya yuk.” Ella mengalihkan perhatian.


Sebelum masuk toko, Hanna menoleh ke arah Dicky yang sedang melihatnya sambil tersenyum-senyum sendiri.


Saat mata mereka bertatapan, Dicky memberi kode menembak dengan kedua tangannya.


“Jayus. Dasar Tuan Dokter Ting ting,” gerutu Hanna yang terlanjur malu karena tertangkap basah melihat ke arah Dicky.


Dari jauh Dicky tertawa lebar. Baru kali ini ia merasa penasaran dengan seorang wanita. Padahal Hanna bukanlah kriterianya. Janda ruwet dengan satu anak remaja. Belum lagi Hanna mempunyai semangat membantah. Perlakuan yang jarang ia terima dari wanita.


Dicky masuk ke sebuah toko kukis tak jauh dari situ lalu membeli sekotak kue kering. Dibungkusnya rapi lalu ia melenggang keluar menuju tempat Aira dan Latifah yang masih asik melihat pesawat-pesawat yang tiba maupun berangkat.


Pesawat Thoriq berangkat duluan. Setelah berpamitan pada Aira karena anaknya akan langsung ke pesantren dan dirinya pulang ke Solo. Thoriq menitipkan Aira pada ibunya.


Setelah itu Ella dan rombongan berangkat dengan pesawat di jam berikutnya. Dicky mengambil pesawat terakhir di tengah malam karena tiketnya paling murah.


“Oom nanti sampai di Jakarta dini hari dong.” Latifah memandang pamannya dengan khawatir.


“Nggak apa, Oom ambil pesawat subuh ke Semarang jadi nunggu sejam dua jam.” Bandara rame kok.” Dicky memegang pucuk kepala Latifah untuk menenangkannya.


Gadis kecil itu memeluk, “Makasi ya Oom udah nemenin Ifah.”


“Kamu udah ditungguin. Baca doa sebelum take-off. Nanti kita ketemu dua minggu lagi saat waktu kunjungan, ya.”


“Oom juga hati-hati.”


“In syaa Allah, fii amanillah Ifah.”


Dicky mengucapkan selamat jalan pada Ella, Hanna, dan Aira. Tak lupa menitipkan Latifah pada mereka. Dari ruang tunggu ia melihat pesawat yang membawa mereka tinggal landas menuju tanah air.

__ADS_1


***


__ADS_2