
“Liam, pergilah, Mommy mau bicara dengan Jack dulu.”
“Mom, please. Aku takut.”
Jack menatap Stella dengan pandangan menghujam.
“Liam, pergilah. Aku ingin bicara dengan ibumu.” Jack tak melepas pandangannya dari Stella.
“I love you Liam, you remember that.” Stella tak gentar menatap balik ke arah Jack.
“Nooo! Mommy …” Liam menangis sambil memeluk ibunya.
“Mommy … Mommy, please don’t go again. Satu bulan ini aku bahagia karena bisa bertemu Mommy di kantor Grandpa.” Liam bercucuran air mata, memeluk wanita yang sangat ia cintai.
Stella diam-diam mengangkat kemejanya, perlahan sehingga Liam tidak tahu. Jack melihat kilatan pistol tersangkut di pinggang ramping wanita yang pernah jadi majikannya.
Mata Stella menatapnya datar.
“Liam, come here.” Jack berusaha menggapai tuan mudanya.
“Liam aman bersamaku. Kaulah yang harus berhati-hati Jack.”
Dengan sekali gerakan, pistol berperedam itu mengeluarkan timbal panas dan merobohkan Jack.
Liam terpekik namun mulutnya ditutup oleh Stella yang sudah gelap mata.
“Liam, look at me! Look at me!” Stella memegang pundak anaknya yang gemetaran.
Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah Liam.
“Everything is gonna be alright. It’s gonna be you and me from now on.”
Liam melirik ke arah Jack yang bersimbah darah dengan mata tertutup. Stella mencegah.
“Don’t look. Let’s go, kiddo.”
Penuh ketakutan Liam mengikuti Stella keluar mansion. Wanita itu sangat mengenal bangunan itu sehingga tahu jalan keluar tersembunyi.
Mereka berdua menyusuri jalan setepak yang tertutup semak-semak.
“Liam …”
Stella dan Liam berbalik terkejut melihat Qiara yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Jasmine, Liam, kalian mau kemana?”
Qiara menatap keduanya dengan tatapan heran. Alisnya bertaut melihat ketakutan di mata Liam. Napas anak sambungnya itu memburu.
“Liam Sayang, ada apa?” Tanyanya lembut mendekati Liam.
Langkah Qiara terhenti melihat benda berkilat di tangan Jasmine.
“Halo, Qiara …”
Qiara tertegun mendengar suara Jasmine yang berubah dari biasanya. Suaranya kental dengan aksen Australia.
“Astaghfirullah…”
“Jalan!” Perintah Stella mengacungkan senjata ke Qiara.
Perlahan, Qiara bergerak menuju Liam yang langsung memeluknya. Badan anak itu gemetar hebat.
“Kamu gila, Stella! Kau mengacungkan senjata di depan anakmu! Lihat anakmu ketakutan luar biasa. Dimana hati nuranimu sebagai seorang ibu?”
“Diam, wanita sialan! Ini semua gara-gara kamu.”
Tubuh Qiara menegang merasakan benda dingin menempel di pungungnya.
“Ya Allah, jaga hamba.” Pintanya dalam hati, sambil menyuruh Liam berjalan di depannya. Lututnya lemas, tapi ia berusaha untuk berani karena ada Liam dan bayi dalam perutnya yang harus selamat dari situasi ini.
Qiara merutuki permintaannya pada Devan untuk mengurangi penjagaan di mansion. Kini Stella bebas melenggang di jalan setapak tertutup semak yang Qiara sendiri tidak pernah tahu.
Memori ketika Hanna menangkap dan hampir membunuhnya berkelebat si benaknya. Qiara tak percaya sekali lagi dia berada di situasi yang sama.
“Stella, lepaskan Liam. Anakmu sudah sangat ketakutan.” Qiara merasakan tangan dingin Liam menggenggam kuat.
“Nggak usah mengkhawatirkan anakku, pikirkan saja nasibmu dan bayi sialan di perutmu!”
Jalan setapak membawa mereka ke jalan, tak jauh dari Stella memarkir mobilnya. Agaknya wanita itu telah memikirkan segala sesuatu.
“Naik! Liam, Sayang … kamu nggak usah takut, duduk belakang dan pakai seatbealt.”
Liam menatap Qiara.
“Liam! Untuk apa kamu minta persetujuan padanya? I’m your mom, not her!” Bentak Stella, matanya mendelik.
“Ok, Mom, maaf,” ucapnya lirih. Liam berusaha menahan air matanya.
Stella mengacungkan pistol ke perut Qiara.
“Don’t … at least not in front of Liam.” Suara Qiara bergetar. Hatinya terus menyebut nama Allah memohon perlindungan. Ia melirik kiri kanan, tak nampak seorang pun.
“Mom, please don’t hurt Buna,” pinta Liam dari dalam mobil.
“Oh, I probably will, Liam. Kalau dia nggak nurut dan berbuat aneh-aneh, Mommy nggak segan menembaknya.”
Liam terhenyak di kursi belakang sambil menutup wajahnya.
“Kamu itu benar-benar nggak punya hati, Stella. Anakmu akan trauma seumur hidup!” Sentak Qiara.
Stella melayangkan pukulan dengan pistol mengenai pelipis Qiara. Wanita hamil itu terhuyung dan ambruk. Tanpa kasihan, Stella menyeretnya ke kursi depan dan mendudukkannya.
“Buna!”
“Next time, kamu nggak akan seberuntung ini,” bisik Stella pada wanita yang menahan sakit di kepalanya.
***
“Qiara!” Seru Thoriq tiba-tiba membuat Devan keheranan. Ia melihat berkeliling dan tidak mendapati istrinya,
“Kenapa kamu memanggil istriku?”
“Aku nggak tau, Dev. Dimana Qiara?”
“Tadi dia mau ambil pinata di samping, oiya kok belum balik, ya?”
“Devan! Kenapa bukan kamu sih yang ambil pinata?” Thoriq bicara ketus.
Devan tergagap.
“Ayo kita cari, jangan-jangan Qiara nggak kuat. Kamu dokter kandungan bukan sih? Bisa-bisanya biarin istri hamil gede ambil
pinata,” omel Thoriq panjang pendek membuat hati Devan menggelegak.
“Pinatanya kecil, Thoriq. Aku aja yang cari, kamu temenin anak-anakmu.”
__ADS_1
Baru Thoriq melangkah, terdengar jeritan dari arah dalam mansion.
“Qiara!” Seru Thoriq dan Devan bersamaan. Belum mereka berlari ke dalam, Dian sudah keluar berteriak.
“Call the police! Phil, Devan … Jack … Jack!” Dian kemudian jatuh pingsan setelah memanggil suami dan anaknya.
Suasana berubah panik. Kala dan Aira yang sedang asyik bermain dengan anak-anak sebayanya mulai menangis. Thoriq menghampiri anak-anaknya dan memeluk keduanya dengan erat.
Devan, Phil, dan beberapa penjaga masuk. Sebagian keluarga dan kerabat menolong Dian yang masih tak sadar diri.
Suasana pesta benar-benar kacau. Para orang tua menggendong anak-anak mereka untuk keluar dari mansion itu.
Di dapur, Devan dan Phil menemukan Jack sudah tidak bernyawa.
“Jack … no!” Devan tak percaya melihat orang kepercayaan yang sudah dianggapnya sebagai sahabat terbujur kaku bersimbah darah.
“Qiara, Liam, where are they?” Devan menyadari tidak melihat keduanya sedari tadi.
Lisa masuk, “Oh my God, Jack.”
“Lisa call the police!”
Kepala penjaga masuk, “Sir, sistem keamanan dibobol, petugas penjaga ditembak dan CCTV dimatikan.”
“Find Liam and Qiara, jaga Kala!” Perintahnya.
Devan berlari keluar, polisi berdatangan. Thoriq mendekatinya dengan menggendong Kala dan Aira.
Kala menangis memanggil Bunanya.
“Thoriq, kamu naik ke lantai atas bawa anak-anakmu. Kala, tunjukkin Aya kamarmu lalu kamu main sama Aira. Daddy cari Buna dulu.”
Thoriq mengangguk lalu bergegas membawa anak-anaknya yang terus menangis karena takut dan bingung.
Sesampai di atas, ia meletakkan anak-anaknya dan berjalan ke jendela. Keningnya berkerut melihat mobil sedan hitam melintas menjauhi mansion. Walaupun jaraknya jauh namun Thoriq yakin wanita yang duduk di kursi samping supir adalah Qiara.
Ia membuka jendela ketika melihat Devan.
“Devan! Devan! Qiara dibawa naik sedan hitam ke arah sana!” Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk.
“Buna, Kala mau Buna. Aya … Buna,” anak berumur empat tahun itu teringat traumanya setahun lalu ketika diculik Hanna.
Thoriq menghambur dan memeluk erat anak-anaknya.
“Kita berdoa buat keselamatan Buna.”
***
Stella menyetir mobil seperti orang kesetanan. Liam terisak-isak, apalagi melihat Qiara yang setengah sadar dengan darah mengalir di pelipisnya.
Antara sadar dan tidak, Qiara melihat Stella memukul-mukul kemudi dengan tangan yang memegang pistol.
“Stell, menyerahlah. Kamu tidak mungkin bisa lolos kali ini,” bisiknya dengan sisa tenaga.
“Diam! Kalau tidak ada Liam, aku sudah membunuhmu di mansion.”
Qiara menoleh ke belakang.
“Liam, close your eyes and ear, dear.”
“Aku bilang jangan urus anakku!”
Dengan sekuat tenaga Stella mengayun tangannya yang memegang pistol untuk memukul perut Qiara. Dengan naluri ibu yang rela mati demi anak-anaknya, Qiara menangkis dan melindungi perut besarnya.
“Brengsek! Diam kau, jangan urus anakku!” Stella membelokan stir dengan mendadak hingga membuat kepala Qiara terantuk keras ke jendela.
Setelah beberapa menit, Stella masuk ke jalan hutan. Mobilnya bergoyang hebat menerabas akar-akar yang tumbuh malang melintang.
“Mom, please stop, aku mau muntah.”
“Sebentar lagi, Sayang, Mommy akan selesaikan urusan dengan Qiara lalu kita bisa pergi berdua.”
Merasa ia sudah jauh dari jalanan, Stella menghentikan mobil. Wanita itu keluar dan membuka pintu Qiara, dengan sigap menarik tubuh tak berdaya itu keluar mobil. Setelah Qiara keluar ia mengunci pintu meninggalkan Liam yang teriak sambil terus memukuli jendela mobil.
Stella mendorong Qiara supaya berjalan. Wanita hamil itu terhuyung ke sana kemari memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit sementara kepalanya berdentam nyeri. Setiap terjatuh, Stella menarik kerudungnya hingga berdiri dan berjalan lagi.
Qiara sudah memasrahkan nasibnya. Ia hanya berdoa apapun yang terjadi, Devan dan Thoriq akan menjaga Kala. Dan jika ada keajaiban, bayi dalam perutnya bisa selamat.
Stella siap menghabisi perempuan hamil yang dibencinya. Perempuan yang diyakini merampas kebahagiannya. Qiara siap menerima takdir kematian, ketika terdengar suara keras memecah kesunyian hutan.
Qiara memejamkan mata, ia yakin tembakan itu untuknya.
“Laa ilaahaillallaah …” Ucapnya siap menerima ajal. Mendengar derap langkah dan gesekan daun-daun, ia memberanikan diri menoleh ke belakang.
Matanya terbelalak melihat Stella terkapar dengan luka tembak di dada. Wanita itu masih hidup, napasnya satu-satu. Darah bercampur gelembung udara ke luar dari mulutnya.
“Stella …” ucap Qiara panik. Ia menjauhkan senjata milik Stella lalu mendekati perempuan yang sedang meregang nyawa.
Qiara mendongak saat mendengar langkah mendekati dirinya dan Stella. Netranya nanar melihat sekelompok orang dengan wajah menyeramkan.
Ketakutan, ia bergeser ke belakang.
“Nyonya Qiara, it’s me Mario.”
Qiara mengenali kepala pengawal yang bekerja untuk Devan. Wajah Qiara yang terlihat lega seketika menegang melihat sosok anak laki lari berkelebat menuju arah mereka.
“Mom, no! No! Don’t kill my mom! Buna, help my mom, please!”
Seorang pengawal menangkap Liam dan menahannya agar tidak mendekat.
Qiara bangun dibantu Mario menuju Liam yang meraung-raung. Qiara memeluknya erat.
“Your mom is still alive. They will help her.” Sambil mendekap Liam, ia berbisik untuk menenangkan.
Pria berwajah seram jongkok di samping Stella.
“Halo, tahanan Stella, masih ingat cara memetik kapas?” Tanyanya dengan seringai mengerikan.
Stella berharap dirinya mati detik itu juga.
Karel mendekatkan wajah lalu berbisik, “Kamu dicari di tiga negara di Afrika. Luar biasa prestasi tahananku yang satu ini.”
Lirih, Stella berkata, “Buuu ..nnuuh, aaa..ku.”
Karel tidak menjawab, ia bangkit lalu memerintahkan anak buahnya membawa Stella.
Qiara memeluk Liam agar tidak melihat kondisi Stella. Anak itu hanya bisa mengintip saat ibunya digotong oleh sekelompok orang.
“Mommy … mommy …” Ratap Liam menyayat hati.
Mario membantu Qiara dan Liam untuk berjalan melewati akar dan semak, baru beberapa langkah, Qiara merasakan sakit teramat hebat di perutnya.
Dia langsung ambruk. Liam bingung karena ingin bersama Stella tapi Qiara nampak tak berdaya.
“Buna, Buna!”
__ADS_1
“Nyonya!”
Qiara mengatur napas, ia tahu sakit di perutnya adalah kontraksi. Air mata mengalir, bayi dalam kandungannya belum cukup umur untuk dilahirkan.
Dari arah jalanan, Devan lari sekencangnya menembus hutan. Ia melihat wanita yang dikenalnya sebagai Jasmine sedang digotong.
“Devan, help me.”
Devan berhenti mendengar suara yang dikenalnya dengan baik. Jasmine/Stella melihatnya dengan tatapan memohon. Detik itu juga ia mengenali Jasmine sebagai Stella.
“Go to hell, Stella …” sahutnya geram sambil berlari masuk ke hutan.
“No … no … Devan, please,” Stella berusaha bicara diselingi batuk darah melihat Devan menjauh. Matanya menatap kosong ke arah dedaunan, menantikan nasib buruk menghampirinya.
Devan terus lari, beberapa orang menunjuk ke dalam hutan.
“Qiara, Liam …” Ia berteriak dengan panik.
“Dad, help Mommy and Buna, please.” Liam menghambur ke ayahnya. Devan dalam keadaan kalut. Jack meninggal, ibunya terkena serangan jantung.
Walaupun lega menemukan Liam tapi hatinya mencelos melihat Qiara terbaring kesakitan dengan kepala berdarah.
“Liam, they are taking Mommy to the nearest hospital. Daddy tolong Buna dulu boleh?”
Liam menggangguk sambil menggandeng Devan ke arah Qiara.
“Qia …”
Melihat wajah Devan, sebagian rasa khawatir Qiara terangkat.
“Sayang … maaf aku nggak bisa jaga diri.”
“No! Mommy yang pukul Buna, Dad. Mommy tembak Jack! Mommy jahat!” Liam berteriak histeris. Devan dan Qiara terperanjat.
Wanita yang terbaring lemah itu menarik tangan Devan agar mendekat.
“Sayang, aku masih bisa bertahan. Jaga Liam, dia melihat banyak hal buruk hari ini.”
Tangan Devan membelai lembut wajah istri yang sangat dicintainya.
“Bertahan, Sayang, bantuan akan segera datang.”
“Aaaaah!” Qiara berteriak.
Devan mengerutkan alis.
“Aku harus memeriksamu, Qia. Mario, jaga Liam.”
Devan menatap Liam yang dibalas dengan anggukan.
“Dad, aku bawa sanitizer.”
Devan membersihkan tangannya lalu mulai memeriksa Qiara. Tangannya meraba perut istrinya merasakan kontraksi.
Mario berkata usai koordinasi dengan tim kepolisian, “Ambulans datang tiga menit lagi.”
“Sayang, jalan lahirmu belum siap, tapi ada kontraksi hebat. Bertahan, kemungkinan besar kamu akan menjalani operasi caesar.”
“Apapun yang terjadi, tolong pilih keselamatan bayi ini daripada aku. Devan, jika terjadi sesuatu, tolong titip Kala ke Mas Thoriq.”
“Qiara, kamu dan bayi kita akan baik-baik saja. Kamu ingat rencana kita punya anak banyak? Liam dan Kala akan jadi kepala suku buat adik-adiknya.”
Bibir Qiara tersenyum mengingat kenangan indah bersama Devan. Matanya mulai terpejam. Tak kuat menahan sakit yang mendera di kepala dan perutnya.
“Buna … Buna …” Isak Liam lalu melepaskan diri dari Mario dan duduk di samping ayahnya.
“Ya Allah, jika memang kebersamaanku bersama mereka begitu singkat, aku bersyukur untuk setiap detiknya. Ijinkan anakku lahir dengan selamat ya Allah …” pinta Qiara dalam hati, air mata mengalir dari sudut matanya.
Terdengar derap langkah mendekat. Petugas ambulans datang membawa perlengkapan. Dengan sigap mereka mengangkat Qiara yang terbaring di tanah ke atas tandu.
Tak sampai satu menit, Qiara sudah berada di ambulans menuju rumah sakit. Denyut jantungnya melemah. Devan memberi tahu Thoriq dan menceritakan semua.
Stephanie dan Mel akan datang ke mansion untuk menjaga Kala. Devan minta bantuan Thoriq karena ia harus menjaga Liam dan menemani ayahnya. Dian, ibunya, sedang menjalani tindakan untuk menyelamatkan nyawa.
Air mata mengalir melihat Qiara merintih kesakitan. Petugas sudah mengobati luka kepalanya namun diperlukan jahitan urnuk menutup luka dengan sempurna.
Devan memeluk Liam yang terus memegang tangan Qiara.
“Buna harus sembuh, aku mau ketemu Baby … janji ya, Buna.”
Qiara mengangguk lemah.
Setibanya di rumah sakit, Qiara langsung dibawa ke ruang operasi. Thoriq yang sudah menunggu sempat bertemu Qiara di pintu emergency.
“Mas …”
“Qia!” Thoriq menunduk sambil satu tangan mengelus pucuk kepala ibu dari anaknya.
Qiara menatap mata jernih yang kini berembun.
“Maafin Qia pernah lari dari Mas. Titip Kala, ya.”
“Qia harus kuat, janji. Qia, harus bertahan, ya …”
Devan, Thoriq, dan Liam menatap Qiara yang didorong menuju ruang operasi.
“Qia harus kuat. Mas sanggup melihat kamu menikah lagi, tapi Mas nggak tau apakah sanggup bertahan kalau ada apa-apa sama Qia,” gumam Thoriq yang walaupun lirih masih terdengar oleh Devan.
“Titip Liam, aku akan mencari tahu ke dalam,” cetus Devan sambil menepuk pundak Thoriq.
Thoriq mengangguk lalu mengajak Liam duduk di kursi tunggu.
“Wait here, I’ll get you mineral water from the vending machine.”
“Aku ikut Uncle.” Liam menggandeng tangan Thoriq. Anak berumur delapan tahun itu masih takut, kejadian buruk terjadi di depan matanya.
Thoriq merangkul Liam mengajaknya ke vending machine. Lalu duduk berdiam diri dengan pikiran masing-masing.
“Mommy aku jahat, Uncle. Padahal aku udah mohon sama Mommy supaya nggak sakitin Buna.” Liam mulai terisak.
“Sssh, uncle tahu ini sulit. Berdoa untuk ibumu agar dia masih diberi kesempatan untuk insyaf dan menebus kesalahannya.”
“Aku takut nggak bisa ketemu Mommy lagi.” Liam menahan air mata yang siap tumpah.
Thoriq tidak tega melihat Liam yang bingung dan ketakutan. Semua yang terjadi sulit dicerna anak seusianya.
Dalam hati Thoriq benar-benar tak habis pikir dengan perempuan-perempuan macam Stella dan Hanna.
***
Detik-detik berjalan pelan. Thoriq dan Liam duduk menanti kabar. Tiga tindakan terjadi pada orang-orang terdekat mereka.
Thoriq tak putus melafazkan doa-doa untuk keselamatan Qiara dan buah hatinya. Liam bersandar padanya resah menunggu kabar tentang ibunya, Qiara, dan nenek.
Pintu ruang operasi terbuka. Devan melangkah gontai. Lalu terduduk di atas lututnya setelah beberapa langkah.
__ADS_1
***