
Sejam kemudian anak-anak sudah tidur di kamar masing-masing. Malam itu mereka memang rencana menginap di rumah Phil.
Setelah makan malam, mereka duduk di patio. Udara London agak dingin, namun tidak terlalu dingin sehingga mereka masih bisa menikmati suasana outdoor.
Qiara menyandar ke Devan, agak lelah setelah bercinta sesiangan lalu lanjut menyusui empat bayi termasuk Abby. Matanya mulai terpejam. Devan menatap istri yang bersandar ke dadanya.
“Daddy lega kalian baik-baik saja.”
“Alhamdulillah, Dad.”
“Kamu mau cerita apa yang terjadi?”
“Kesalahanku adalah merahasiakan sesuatu dari Qiara. Aku … aku menghadapi tuntutan pelecehan seksual sesama rekan dokter.” Devan sebetulnya malu mengucapkan.
“What?”
Devan menceritakan semua, termasuk bagaimana Qiara tak sengaja merekam kejadian sebagai bukti valid yang membebaskannya dari tuduhan.
Alih-alih menempuh jalur normal, istrinya memilih untuk mendatangi Nadine.
“Bicara heart-to-heart katanya,” pungkas Devan. Sementara Phil melirik tidak percaya. Sepak terjang menantunya sangat jauh dari sekedar bincang-bincang ringan antarwanita.
“She’s a keeper. Kesetiaan. Hanya itu yang diharapkan seorang istri. Mereka sanggup berjuang dari bawah tanpa harta. Mereka akan rela mati asal suami dan anak-anaknya bahagia. Tapi begitu suami tidak setia, itu sama saja dengan membunuh istri secara perlahan. Hatinya akan terluka dan mati.”
Devan merangkul kepala Qiara. Phil mengambil throw sebagai selimut untuk Qiara. Kini ibu lima anak itu telah terbang ke alam mimpi.
“Awalnya Daddy tidak yakin Qiara bisa move-on dari mantan suaminya. Dia seperti terpaksa menerimamu. Tapi lama kelamaan, Daddy lihat betapa ia berusaha bangkit untuk membangun rumah tangga denganmu.”
Masih dengan mata terpejam Qiara menggumam, “Kala ayo Abby jangan diajak beranteman.”
Dua laki-laki yang mendengar tersenyum. Bahkan dalam tidur Qiara masih mengasuh anak.
“Qiara jauh berbeda dengan mantan istrimu. Stella mencintaimu untuk dirinya. Qiara mencintaimu karena kamu. Daddy titip, jaga dia, ya. Cobaan pernikahan itu bukan hanya godaan orang ke tiga. Ibumu dan Daddy sudah mengalami banyak hal.”
Phil merenung, matanya menerawang jauh.
“Daddy pernah ditipu dan kehilangan semua aset. Daddy nggak kasih tau Mommy karena sedang hamil kamu. Akhirnya Mommy tau dan langsung membantu. Dengan perut besar, Mommy memasak tekwan dan dijual ke teman-teman Indonesia yang sedang belajar di Inggris.”
__ADS_1
Devan belum pernah mendengar cerita ini, alisnya terangkat. Menyangka kehidupan orang tuanya aman damai selalu.
“Daddy yang terpuruk jadi semangat melihat ibumu memasak dan berjualan. Jaman dulu tidak ada jasa pick-up barang. Jadi ibumu harus jalan dengan perut besar ke kantor pos. Saat musim dingin, pesanan justru meningkat. Ibumu pernah terjebak badai salju ketika hendak mengantarkan pesanan. Begitulah wanita jika sudah tulus mencintai.”
Pelayan mengantarkan dua cangkir kopi untuk Devan dan Phil.
Setelah menyeruput kopinya, Phil berkata, “Daddy sangat merindukan kopi buatan ibumu. Sangat merindukan. Aku pernah hampir kehilangan Dian. Suatu kebodohan yang sengaja kulakukan.”
Devan mendengarkan laki-laki paruh baya yang terlihat sangat merindukan pasangannya.
“Setelah bangkit dari keterpurukan, Daddy sangat sibuk. Sering berbulan-bulan harus ke luar negeri. Bahkan karena keasyikan bekerja, Daddy suka langsung tidur dan lupa kasih kabar ke ibumu. Daddy keliling Eropa untuk menawarkan kerja sama. Seru sekali waktu itu, Dev. Uang kami mulai berlimpah. Akhirnya Daddy pulang …”
Phil mengigit bibirnya.
“Hampir satu tahun Daddy meninggalkan ibumu tanpa kabar. Berjauhan membuat jarak kami renggang. Jika sesekali menelepon percakapan kami canggung. Tidak ada wanita, Daddy tidak pernah mengkhianati cinta ibumu. Setelah setahun pergi, Daddy pulang ke rumah yang kosong. Keluarga ibumu tidak pernah menyukai Daddy. Mereka menjemput Dian dan kamu lalu membawa pulang ke Palembang.”
Devan makin tercengang.
“Daddy menyusul ke Palembang. Di sana ayah mertua dan kakak-kakak ipar siap menyambut Daddy dengan surat cerai. Mereka ingin Dian menikah dengan anak seorang juragan kelapa sawit. Tunangannya dulu sebelum menikah dengan Daddy.”
“Daddy benar-benar merasa harta yang dicari sampai tulang ini rontok tidak ada gunanya. Kamu juga sama sekali tidak mengenali Daddy, malah nyaman digendongan calon suami ibumu. Dian … Dian menatap Daddy dengan pandangan kecewa. Daddy mohon kesempatan kedua. Semalaman Daddy berdiri di luar rumah. Bahkan berdiri di teras saja tidak diijinkan. Tak peduli hujan deras yang mengguyur Daddy tetap berdiri berharap Dian memaafkan.”
Suara Phil terdengar bergetar, terbayang betapa sakitnya kala itu jika harus merelakan Dian.
Saat itu semua keluarga Dian memang memaksanya menandatangani surat cerai. Phil bertahan dan bersikukuh hingga mereka meninggalkannya tergugu di luar rumah.
“Hujan yang mengguyur semalaman tidak merobohkan Daddy. Tapi ketika di pagi hari seorang tukang memasang janur kuning untuk Mommy, saat itu duniaku berputar. Daddy seketika menyadari mereka nekat menikahkan walau Daddy tidak menandatangani surat cerai.”
Devan refleks mengeratkan pelukannya ke bahu istrinya.
“Mungkin waktu itu Daddy pingsan, sampai ada tangan lembut menyentuh pipi Daddy. Mommy berbisik mengajak Daddy kabur. Kamu berada di gendongan seakan tau apa yang terjadi. Seperti mendapat kekuatan, Daddy berdiri menggandeng Mommy dan langsung ke mobil.”
Devan semakin ternganga, tak menyangka kehidupan orang tuanya pernah mengalami aral melintang seperti ini.
“Dev, ini semua kejadian nyata. Terlalu menyakitkan untuk diceritakan tapi tersimpan dalam hati Mommy dan Daddy. Kamu tau? Keluarga calon suami Mommy mengejar. Kami tertangkap. Mereka memukuli Daddy tapi Mommy ikut memasang badan. Melihat Mommy terkena pukulan Daddy melindungi Mommy. Kamu menangis dalam pelukan Mommy. Akhirnya orang tua Mommy datang. Mommy menitipkan kamu pada mereka lalu berdiri di samping Daddy. Siap mati bersama.”
Devan menahan marah membayangkan kedua orang tuanya dipukuli.
__ADS_1
“Kakekmu akhirnya mengalah. Memberikan kembali Devan ke pelukan kami. Lalu mengusir Mommy, menyatakan Mommy bukan anaknya lagi. Mommy begitu terpukul. Kami kembali ke London. Mommy melepas semua kekecewaan pada Daddy. Dari situ Daddy memperbaiki diri. Daddy menjadi tempatnya bersandar ketika keluarganya benar-benar membuang Mommy. Tak ada yang lebih menyedihkan ketika pulang mendapati rumah kosong karena kelakuan Daddy.”
Qiara bergerak untuk berpindah posisi. Devan melihat istrinya benar-benar sudah tidur pulas.
“Dengan keluarga Mommy akhirnya semua membaik setelah beberapa tahun. Kami tetap pulang setiap lebaran. Hingga saat terakhir Kakek dan Nenekmu, mereka minta maaf karena telah berniat memisahkan Mommy dari Daddy. Hal ini hampir kami lakukan kepada kamu dan Qiara. Mommy dan Daddy lebih condong pada Stella sebagai ibu Liam untuk kembali menjadi istrimu. Kami baru menyadari setelah kamu mencurahkan isi hatimu.”
Phil menatap putranya. “Kehidupan kalian masih panjang. Suami bisa menjadi surga atau neraka bagi istrinya. Pesan Daddy, bangunlah surga bersama hingga hidupmu tenang. Itu yang paling penting.”
Dengan lembut, Devan mengelus pucuk kepala Qiara.
“In syaa Allah, Dad. Terima kasih buat cerita masa lalu yang penuh pelajaran. Devan mau ke kamar dulu, ya, Qia udah pulas banget padahal belom sholat.”
Dengan hati-hati Devan memindahkan kepala Qiara dari pangkuannya lalu membopongnya.
“Ngga usah lebay juga kali. Kamu kan bisa bangunin Qiara.”
“Sirik tanda tak mampu,” jawab Devan singkat dan jelas.
“Anak mesum!”
Devan terkekeh lalu menuju ke kamarnya. Sementara Phil menghabiskan kopi.
“I miss you Dian …”
***
Setelah kasus selesai, Devan mulai praktek lagi. Ia harus membangun kredibilitas yang sempat ternoda. Akhirnya lambat laun pasien-pasien yang sempat pindah karena tidak mau dirawat Devan memutuskan untuk kembali.
Nadine dipecat dari rumah sakit. Reputasinya rusak hingga akhirnya ia terpaksa pindah ke negara lain dengan koneksi keluarganya. Namun kemana pun pergi, rekan dokter seperti memandangnya sebelah mata. Enggan bekerja sama dengannya.
Belum lagi dokter-dokter wanita yang jelas menampakkan sikap bermusuhan. Sepertinya ada kode etik di antara kaum hawa untuk mengucilkan pelakor dan bibit-bibitnya.
Terlepas dari nama Grayson yang tersemat, Nadine berusaha berjalan tegak dengan reputasi yang hancur karena obsesinya.
Qiara mendengar kabar terakhir Nadine lalu mengirimkan pesan: Semoga kamu belajar dari pengalaman pahitmu.
***
__ADS_1