Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Dunia Tipu-tipu


__ADS_3

Qiara dan keluarganya berdiri di depan rumah Hanna. Sempat terjadi kehebohan ketika Liam, Kala, Abby, dan Si Triplets keluar dari mobil. Para tetangga langsung berkerumun dan menyangka anak-anak Qiara adalah pemain film.


Qiara meninggalkan Baby Zee di rumah Thoriq bersama Devan. Ia tidak mau Hanna bersedih karena Baby Zee kurang lebih seumur dengan anak Hanna yang hilang.


Hanna keluar bersama Dicky. Diiringi tiga remaja putri.


“Assalamualaykum Hanna, Dicky, girls,” sapa Qiara.


“Waalaykumussalam Mbak Qia,” jawab Hanna canggung, mengulurkan tangan untuk menyalami Qiara.


Tanpa ragu, Qiara memeluk wanita yang dulu pernah merebut laki-laki yang dicintainya. Di samping ia telah memaafkan, sebagai seorang ibu, Qiara tidak bisa membayangkan apabila satu dari anaknya hilang.


Hanna memeluk erat Qiara, menangis sejadi-jadinya. Padahal ia sudah berjanji pada Dicky dan anak-anak untuk


Qiara mengelus belakang kepala Hanna. Paham dengan hancurnya perasaan seorang ibu yang tidak bisa bertemu anaknya. Qiara pernah merasakan itu.


“Mbak, maafin Hanna.”


“Sssh, yang udah lewat ya udah. Sekarang Hanna harus fokus karena ada anak di dalam kandungan dan ada Aira, Latifah serta Fatimah yang butuh kekuatan seorang ibu. Lalu ada Dicky, kalian harus saling menguatkan, ya.”


Dicky mengelus punggung istrinya, beberapa tetangga yang mengintip dari rumah mereka ikut merasa sedih. Dicky dan Hanna sudah seperti keluarga. Mereka pun semoat membantu mencari bagi yang hilang namun tidak ada titik terang.


“Hanna, istighfar, Sayang. Ajak Mbak Qia dan anak-anak masuk, yuk,” ujar Dicky sambil terus mengelus punggung istrinya.


Hanna mengurai pelukan, menghapus air mata yang membasahi wajahnya lalu mengajak semuanya masuk.


Liam menatap Aira dengan pandangan khawatir. Sejak Aira kehilangan adiknya, Liam selalu menghibur melalui Kala dan Thoriq. Mengirimkan makanan kesukaan Aira, juga untuk Fatimah dan Latifah. Terkadang juga Liam membeli baju-baju gamis atau kerudung yang dikirim Thoriq ke pesantren.


Aira merasa terhibur, walau masih sering pikirannya melayang memikirkan keberadaan adiknya.


Kala menarik adiknya lalu memeluk erat. Liam memerhatikan betapa wajah Aira kini menirus.


“Ai, how are you?” Tanya Liam lembut.


“I don’t know Liam. Aku merasa khawatir setiap saat. Kadang kalau aku melihat anak berusia satu tahun di jalan-jalan sedang ikut orang tuanya mengemis. Aku takut salah satu dari mereka adalah adikku.”


Mata Liam mengeruh, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Aira.


“Aku ikut mendoakan adikmu ditemukan dan dia dalam keadaan baik-baik saja. Aamiin, terima kasih Liam.”


Abby dan Triplets berdiri saling berdekatan. Mereka mendekat ke Aira lalu memeluk gadis yang sudah seperti kakak bagi mereka.


“Mbak Aira, kami ikutan sedih,” bisik Barran. Hayyan mengelus punggung Aira sementara Abby dan Azka hanya memandang Aira dengan sendu.


“Doakan adiknya Mbak Aira, ya …”


“Kami selalu doakan setelah sholat, Mbak. Nggak kebayang kalau kami nggak bisa ketemu Zee lagi,” sahut Hayyan.


“Ssh, Hayyan, kok ngomong gitu, Mbak Aira jadi sedih,” tegur Azka. Aira tersenyum melihat Hayyan yang langsung merasa bersalah.


“Nggak apa-apa, Azka. Mbak harus kuat sekarang. Yuk kalian belum ketemu langsung sama Latifah dan Fatimah kan?”


Dengan malu-malu dua kakak beradik itu berkenalan dengan semua saudara Kala.


Qiara dan Hanna memerhatikan interaksi para remaja sambil tersenyum. Keduanya tak menyangka takdir akan membuat semua berkumpul dalam keakraban.


“Hanna sekarang hamilnya sudah berapa bulan?” Tanya Qiara sambil mengusap perut buncit Hanna.


“Jalan delapan, Mbak. In syaa Allah bulan depan lahiran. Adiknya Aira dan Malika sepertinya cowok. Gerak terus nggak mau berhenti.”


“Semoga sehat, ya.”


“Aamiin,” sahut Hanna sambil mengusap perutnya. Qiara dan Hanna kemudian terlibat dalam obrolan terkait kehamilan dan topik lain terkait aktivitas emak-emak.


Karena Devan tidak ikut, Dicky bergabung dengan Liam dan Kala di teras. Ayah sambung dari Aira itu memerhatikan Liam yang sering mencuri pandang ke Aira. Begitu juga Aira pada Liam.


“Jadi Liam sekarang sudah kuliah?”


“Sudah, Pakde.”


Kala menahan tawa. Ia menyuruh Liam memanggil Dicky dengan sebutan pakde. Aira, Latifah, dan Fatimah yang baru bergabung setelah menyediakan minuman dan kudapan juga ikut tersenyum.


Liam menatap heran ke Kala. Curiga bahwa adiknya yang super iseng itu mengerjainya.


“Kak Liam, panggilnya Oom Dicky aja,” ujar Fatimah berbaik hati.

__ADS_1


Sambil mendelik, Liam memonyongkan bibir ke Kalandra yang makin terkekeh.


“Oom Dicky, aku kuliah di psikologi. Jadi kalau Oom Dicky mau curhat ke aku, biasa aja. Mumpung masih gratis.”


Dicky tersenyum jenaka.


“Siap! Nanti Liam mau ambil psikologi apa?”


“Klinis, Oom. Aku suka membantu orang mengurai problem mereka.“


“Wah, bagus dong. Kapan-kapan kita ngopi bareng. Oom pengin juga curhat sama kamu.”


“Anytime, Oom. Kala lagi libur jadi bisa disuruh jadi supir. Aku juga lagi mau apply buat SIM Internasional, supaya bisa sering ke Semarang,” ujarnya sambil melirik Aira. Yang dilirik tersipu malu sementara Kala yang baru punya SIM manyun karena harus mau jadi supir kakaknya.


Dicky semakin yakin antara Aira dan Dicky ada sesuatu.


“Liam udah punya pacar?” Dicky langsung menembak.


“Nggak, Oom. Aku sudah punya gadis yang ingin aku nikahi jika kami sudah siap lahir batin. Jadi aku nggak mau pacaran.”


Aira menahan napas mendengar jawaban Liam.


“Oom kenal gadis itu?”


Tanpa tedeng aling-aling, Liam menjawab dengan lugas, “Kenal, Oom. Gadis itu Aira. Tapi aku nggak mau pacaran. Aku juga sudah bilang sama Uncle Thoriq tentang perasaanku terhadap Aira. Mungkin sekarang sebaiknya aku juga mengatakan niatanku pada Oom.”


Dicky mengagumi Liam yang nampak sangat mantap. Sementara Aira hatinya berbunga-bunga, wajahnya merah merona dan langsung diledek adik-adiknya.


“Baik, Oom akan ingat. Jagalah marwah Aira sebagai wanita yang kelak kamu nikahi.”


“In syaa Allah, Oom. Selama ini pun aku tidak pernah menghubungi Aira secara langsung. Selalu lewat Oom Thoriq atau Kalandra.”


Kala mengangguk tanda setuju ketika Dicky meliriknya.


“Btw, Oom Dicky, apakah sudah ada perkembangan tentang pencarian Malika?” Tanya Kala yang malas mendengarkan kisah kasih kakak dengan adiknya.


“Oom dan Tante Hanna sudah menyewa detektif. Sudah ada beberapa petunjuk namun akhirnya buntu.”


“Daddy-ku punya orang yang mungkin bisa membantu. Namanya Oom Mario. Dulu waktu, maaf, Kala hilang, beliau yang berhasil menemukan bersama polisi Indonesia. Aku bisa tanya ke Daddy apakah Oom Mario bisa membantu untuk kasus Malika.”


“Terima kasih Liam,” sahut Dicky yang terharu dengan ketulusan hati Liam.


“Mbak Abby, kita bisa bikin podcast wawancara Oom Dicky dan Tante Hanna. Kami bertiga juga bisa bantu. Tiktok kami The Triplets juga banyak followers, walau belum sebanyak Mbak Abby,” usul Hayyan.


Dicky kini benar-benar terharu. Anak-anak yang baru dikenalnya beberapa menit lalu dengan ikhlas ingin membantu dengan cara yang kita bisa.


“Kalau Tante Hanna setuju, kami akan pikirkan kontennya. Lalu kita produksi besok. Lusa kita edit dan langsung bisa di-upload,” cetus Azka lagi.


“Nanti Oom bicara sama Tante Hanna. Tapi sebelumnya terima kasih kalian semua sudah mau datang dan membantu.”


“Mbak Aira kan kakak kami, jadi in syaa Allah kami bantu,” jelas Abby sambil merangkul Aira.


“Aku, Latifah, dan Fatimah juga pernah posting, tapi mungkin karena follower kami nggak banyak, jadi nggak bisa jadi viral. Moga-moga dengan postingan kalian, bisa segera membuat adikku ketemu.”


“Aamiin …”


***


Dalam waktu tiga hari, postingan Abby dan Triplets mengenai seorang bayi yang diambil dari NICU dan belum ditemukan setelah setahun meramaikan jagat dunia maya.


Netizen dalam dan luar negeri banyak me-repost postingan dimana Hanna dan Dicky diwawancara oleh Abby perihal hilangnya bayi mereka.


Di postingan Triplets mereka mewawancarai Aira, Latifah, dan Fatimah dan berhasil menggaet simpati para followersnya.


Beberapa stasiun TV mengundang Hanna dan Dicky untuk diwawancarai. Selama seminggu, Hanna dan Dicky dapat menceritakan kisahnya dan betapa mereka berusaha tegar dengan selalu mendoakan Malika dimana pun ia berada.


Dari layar kaca, Lastri menatap pasangan itu dengan miris. Malika sedang bermain dengan boneka dinosaurus yang diperoleh dari bazaar barang bekas berkualitas di mesjid.


“Ibuuu, mik cucu …”


Lastri menggendong Malika sambil menyiumi pipinya lalu memberikan segelas susu. Malika hanya sebentar minum dari dot. Dia ingin minum susu dari gelas seperti kakak-kakaknya.


Di layar kaca, kamera menyorot dari dekat wajah Hanna. Tepat ketika Malika berdiri di samping televisi. Kemiripan mata yang tak terelakkan membuatnya mematikan TV.


Sebagai ibu, ia tak sanggup hidup jika salah satu anaknya hilang. Di lain pihak, ia juga tidak berani mengembalikan Malika karena takut akan hukuman penjara yang menantinya. Namun ibu tiga anak itu juga khawatir jika ada tetangga yang curiga.

__ADS_1


Malika duduk bergelendot padanya setelah menghabiskan susu. Seperti biasa satu tangannya naik untuk memainkan rambut Lastri. Posisi bersiap terbang ke alam mimpi.


Lastri menepuk-nepuk bokong Malika dan dalam hitungan detik, mata bulat dengan bulu mata lentik itu sudah terpejam.


Mikala masuk perlahan, ia tahu ini adalah jam-jam tidur Malika. Setelah meletakkan tisue-tisue dagangannya, remaja dia belas tahun itu mendekati ibunya. Ia mencium pipi Malika yang mulus dengan gemas. Anak kecil itu menggeliat, membuka mata untuk memberikan senyum manis pada Mikala lalu tidur lagi.


Lastri menyuruh Mikala untuk sholat dzuhur. Ia menunggu sampai Malika pulas betul baru memindahkan ke kasur.


Mikala mendatangi ibunya lalu berkata, “Bu, orang tua Malika kembali mencari anaknya. Mika khawatir kalau ada tetangga yang bertanya-tanya lagi dan melaporkan kita.”


“Sebetulnya Ibu juga nggak tega melihat ibunya Malika. Tapi Ibu takut kalau ditangkap. Kalian sama siapa?”


Mikala menatap anak kecil berambut ikal yang sedang tidur pulas.


“Mikala dan adik-adik juga bakal sedih kalau Malika nggak sama kita. Bu, tapi aku sama adik-adik bakal lebih takut kalau mereka menangkap Ibu. Kata orang tua Malika, mereka mau memaafkan asal Malika kembali.”


Lastri terdiam. Air mata membasahi pelupuk mata. Hidup dalam kesulitan membuatnya gelap mata menerima tawaran uang senilai dua puluh juta rupiah untuk mengambil Malika dari orang-orang yang mencintainya.


Kini dirinya berada di persimpangan. Dan semua punya konsekuensi yang ia takuti.


“Ibu, biar Mikala aja yang mengembalikan Malika ke orang tuanya. Aku akan bilang sesuai cerita Ibu bahwa Malika ditemukan di rumah kosong.”


Lastri tidak bisa membendung air matanya. Mikala yang baru menginjak remaja bahkan rela menjadi tameng untuk dirinya.


“Biar Ibu berpikir dan sholat istikharah dulu, ya. Semoga Allah beri petunjuk.”


“Bu, sebelum Ayah meninggal, beliau sempat berpesan agar kita semua hidup dalam kejujuran. Apakah kita tidak bisa jujur saja, Bu?”


“Andai dunia ini bukan dunia tipu-tipu, Mik,” ucap Lastri dalam hati.


***


Setelah Hanna dan Dicky viral di media sosial dan diundang dalam beberapa wawancara stasiun televisi, banyak respon yang mereka terima.


Hanna dan Dicky harus menyeleksi info-info masuk. Dan menyedihkan saat dari itu semua tidak sedikit yang menawarkan anak berusia satu tahun untuk dibeli okeh pasangan tersebut.


Miris sekali saat mereka menerima seorang ibu rela menjual bayi yang baru lahir karena tidak mampu mengurus. Atau seorang remaja putri yang rela menyerahkan bayinya karena hamil di luar nikah.


Hingga di suatu sore, Dicky dan Hanna sedang duduk di teras. Aira, Latifah, dan Fatimah baru pulang dari pertokoan terdekat membeli alat tulis untuk dibawa ke pesantren.


Seorang remaja pria menatap dari jauh rumah berwarna krem yang asri itu. Dicky memberikan alamat rumah sakit jika ada informasi mengenai bayinya dan Mikala sempat mengikuti Dicky pulang ke rumahnya.


Mikala berniat untuk mengembalikan Malika namun Lastri yang ketakutan selalu mencegahnya.


Anak itu pun diam-diam mencari informasi tentang Dicky. Walau ia harus berjalan berkilo-kilo karena rumah mereka berjauhan. Malika membulatkan tekat lalu berjalan mendekati rumah Dicky dan Hanna.


“Assalamualaykum,” ucapnya lirih.


“Waalaykumussalam,” ucap semuanya serempak membalas.


“Loh, dia kan yang jual tisu di persimpangan arah pesantren,” celetuk Fatimah. Mikala mengangguk lalu menunduk. Malu karena dirinya sudah putus sekolah selama dua tahun guna bekerja membantu Lastri.


“Dik, masuk. Ada apa?” Dicky dengan ramah mempersilakan masuk.


Mikala takut-takut untuk melangkah. Setelah mengucapkan bismillah, ia berdiri di hadapan Hanna dan Dicky.


Hanna menuangkan segelas teh poci hangat dan menyuruh Mikala minum. Ia menduga remaja di depannya akan memberi informasi tentang anaknya. Dan berbeda dengan yang lainnya, Hanna memiliki perasaan yang kuat terhadap Mikala.


Setelah meneguk teh poci hangat dan mengambil napas dalam, Mikala memulai, “Bapak, Ibu, kenalkan nama saya Mikala. Sepertinya anak Bapak dan Ibu yang hilang adalah adik saya …”


***


Maafin ya telat, semalam baru sampe rumah lalu bleksek.


Foto-foto dari Labuan Bajo, moga bisa memanjakan mata …



Setelah matahari terbit …



Pulau Kukusan, awannya dong, maa syaa Allah, kayak asep ya ..


__ADS_1


Chasing sunset. Pingin nangis karena udah lama banget nggak liat sunset di laut.


***


__ADS_2