
“Aya, Adek Aira, sekarang Kala udah tinggal di London. Sekarang Kala mau house tour ya. Ini kamar Kala, ngadepnya ke kolam renang. Buna bikin gambar-gambar super hero. Terus di pojok dikasih tenda jadi kalau aku bosen tidur di tempat tidur, aku bisa tidur di situ.”
Thoriq dan Aira senyum-senyum mendengar celoteh penuh semangat dari Kala yang sibuk berjalan kian kemari lalu mengarah ke bagian-bagian lain dari rumah barunya.
Tak sengaja, Kala menyorot Qiara yang sedang berada di dapur. Thoriq tersenyum melihat Qiara dari kejauhan. Aira menyenggol.
“Aya, gakboleh sedih lagi liat Tante Qia,” bisiknya. Thoriq menggangguk lalu kembali menyimak Kala yang terus menunjukkan rumah barunya.
“Oya, Aya, Aira, sebentar lagi Kala akan punya adik baru. Kala udah berdoa setiap habis sholat supaya adiknya cowok.”
Thoriq menelan salivanya. Walau berusaha melupakan dan move on namun tetap saja berita kehamilan Qiara menohok hatinya.
“Ss.. salam buat Buna. Semoga sehat selalu buat Buna dan debay. Aya ikut seneng.”
“Mas Kala, kalau Adek Abby udah bisa apa?”
“Udah bisa jadi princess. Cerewet banget, kalau liat Kala sama Liam pasti ngoceh nggak jelas. You know, girl thing,” jawab Kala mulai sok tahu.
“Airaaaaa … Airaaaaa.” Suara Liam memanggil dari jauh. Dengan segera Aira bersembunyi di belakang ayahnya.
“Aya udahan teleponnya, ada kakak bule,” bisik Aira terus menempelkan wajah di belakang punggung Thoriq.
Liam makin mendapat angin melihat mangsanya ketakutan.
“Aira, aku akan tangkap kamu …” Liam menjadi-jadi sementara Kala dengan alis terangkat menunggu reaksi Aira.
“Ai …”
“Liam, hayo kamu nakut-nakutin Aira lagi?”
“Eh enggak Buna, eh iya ding, abis lucu.”
Qiara mendekat dan kini Thoriq bisa melihat perut yang mulai menyembul.
“Assalamualaykum Mas Thoriq dan Aira. Maaf ya ini Liam nggak sembuh-sembuh jahilnya sama Aira.”
“Waalaykumussalam Qia. Nggak apa koq. Aira, udah jangan ngumpet ada Tante Qia.”
Aira mengintip dari balik pundak Thoriq dengan gaya yang lucu. Hampir-hampir Liam mulai menakuti kalau Qiara tidak menahannya. Akhirnya Liam hanya nyengir lebar karena aksinya ketahuan.
“Selamat, ya, Qia, Mas dengar kamu udah isi lagi.”
“Haha iya, alhamdulillah. Ngebut.”
Lagi-lagi ulu hati Thoriq seperti tertonjok.
“Berapa bulan?”
“Jalan tiga bulan.”
“Ya udah, Qia dan bayi sehat terus ya. Aira, udahan yuk. Aya ada zoom sama kantor. Kala, jagain Buna, ya, Nak. Bye-bye semua …”
Selesai video call, Aira menangkup pipi ayahnya. Anak kecil itu memerhatikan netra Thoriq dengan seksama.
“Bagus, nggak nangis.”
“Aira apa sih…” Thoriq tergelak. Jika Kala ceriwis dan banyak gaya, maka putrinya ini lebih pendiam namun peka. Kadang Thoriq merasa Aira lebih dewasa dari usianya jika dibanding kakaknya.
“Beneran ada zoom, Ay? Atau tadi kabur?”
“Kamelia Aira Putri Thoriq, kamu nih.” Thoriq pura-pura mengejar putrinya yang sudah kabur mengelilingi meja makan.
Bik Surti, asisten rumah tangga yang baru ikut tersenyum melihat keakraban ayah dan anak.
“Den Thoriq, Non Aira, mau digorengin oncom?”
“Mau!” Sahut ayah dan anak serempak. Wanita berusia hampir enam puluh tahun itu mengangguk dan menggoreng makanan kesukaan.
Thoriq terkenal sebagai duda keren. Tak sedikit wanita-wanita baik lajang maupun yang sudah bersuami menganggumi ketampanannya.
Tak terhitung jumlah wanita yang dikenalkan Nenek pada cucu satu-satunya. Sayangnya, Thoriq hanya menerima perkenalan tanpa ada aksi lebih lanjut. Jika si wanita yang bertindak lebih dulu, malah membuat Thoriq mengambil langkah sepuluh ribu.
“Sampai kapan kamu mau kayak gini? Merana nggak kejuntrungan. Kenapa sih nggak mau sama Melati? Nenek kenal sama orang tuanya, mereka orang baik-baik. Melati pun dokter, loh. Cobalah membuka hati.”
“Thoriq sudah beberapa kali bertemu. Tapi nggak ada rasa apa-apa.”
“Witing tresno jalaran seko kulino. Lama-lama rasa itu timbul, kok.”
“Nggak pasti juga, Nek. Biarlah Thoriq menentukan apa yang terbaik.”
“Kamu mesti bisa melupakan Qiara.”
“Nek, rasa untuk Qiara sudah kusimpan. Kalau Thoriq memilih untuk tetap sendiri bukan karena berharap untuk bisa bersamanya. Qiara sudah bahagia bersama Devan. Apalagi sekarang sedang hamil anak mereka yang ke dua.”
“Oh, maa syaa Allah. Nenek ikut senang. Kakek dan Nenek masih merasa bersalah padanya, padamu.”
“Qadarullah. Memang kami tidak berjodoh. Nek, tenanglah. Thoriq sudah dua kali gagal dalam rumah tangga. Wajar jika ke depan lebih berhati-hati.”
“Nenek akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu dan Aira.”
__ADS_1
“Terima kasih, Nek.”
“Gimana kalau sama Azizah?”
Thoriq mendesah putus asa dengan kelakuan neneknya.
***
“Please to meet you Dr Devan Donavy, I am Dr Nadine Grayson.”
“Nice to meet you. Saya dengar kita akan bekerja sama untuk kasus-kasus besar.”
“Ya, dan saya sudah menantikan kerja sama kita. Kasus pertama adalah melahirkan bayi kembar enam. Dua di antaranya siam. Jadi perlu penanganan m tim.”
“Terima kasih sudah update. Saya akan bicarakan dengan dokter Damian. Selamat siang.”
“Wait …, untuk menyambut kedatanganmu, aku telah membuat pesta kecil nanti sore. Hanya dari bagian obgyn saja. Kantorku, lantai 3 gedung utara.” Nadine mengubah gaya bahasanya menjadi lebih santai.
“Maaf, nanti sore akan mengantar istri ke dokter kandungan.”
“Di sini juga kan? Ayolah, kan tidak lama. Kamu bisa bertemu istrimu setelah itu.”
“Terima kasih atas sambutannya. Tapi maaf saya tidak bisa menghadiri. Mari.”
Devan berjalan menuju ruang kerjanya. Nadine menatap punggung koleganya dengan kecewa. Devan adalah dokter yang lebih senior darinya.
Mendengarnya akan bergabung, Nadine bekerja keras untuk bisa menjadi salah satu dokter andalan hingga bisa kerja di satu tim.
“It’s okay, Nadine, you will see him often.”
Nadine memutuskan untuk pergi ke ruangannya sambil menelepon asisten dan membatalkan pesta penyambutan Devan.
***
“Sayang, kamu nanti siap-siap jam 3 karena aku akan jemput. Kita ke klinik privat milik sahabatku dokter Irine, aku tahu kamu lebih nyaman dengan dokter wanita.”
“In syaa Allah, Dev. Kamu nggak ada operasi?”
“Aku memang baru aktif mulai besok, hari ini baru perkenalan aja. Lagi pula aku mau tahu perkembangan jagoanku.”
“Jagoan? Baru juga mau jalan tiga bulan mana kelihatan.”
“Ucapan adalah doa, Sayang. Itu kata Kala.”
“Dev …”
“Yes, Love.”
“Harus selalu kangen. Nggak boleh nggak kangen.”
“I love you, Dev.”
“Love love you more, Baby.”
Devan sengaja memilih klinik privat karena ingin istrinya lebih santai baik dalam pemeriksaan dan persalinan.
“Dev, kliniknya mewah banget. Mahal, ya?”
“Sssh, udah nggak usah dipikirin.”
“Nggak usah lah yang semahal ini. Aku ni ngelahirin di atas karpet pernah, abis berantem ngelahirin juga pernah. Udah lah ke bidan aja.”
“Aku masih ingat proses melahirkan Kala. Boleh dikata aku benar-benar mengenalmu luar dalam setelah membantumu melahirkan.” Devan menaikturunkan alisnya.
“Mesum!”
“Biarin. Dan untuk klinik, kamu nggak usah worry. Aku berencana praktek di sana, jadi pasti pakai harga karyawan.” Devan menenangkan Qiara.
Terkadang ia heran dengan kelakuan istrinya yang selalu mengirit di berbagai hal. Jika membeli tas adalah obsesi wanita, maka Devan lah yang terobsesi membelikan Qiara dengan barang-barang merk.
Termasuk pemilihan mobil untuk mengantarkan Kala ke sekolah, Qiara memilih mobil sederhana. Tentu saja Liam akan langsung menempel pada adiknya dan mau diantar dengan mobil sederhana.
Sebagai anak tunggal Phil Donavy, pemilik Donavy grup yang punya bisnis mendunia, jangan membayar ongkos pemeriksaan kehamilan, membeli klinik privat pun dirinya sanggup.
“Oh gitu. Tapi aku di bidan aja juga nggak apa. Besok aku cari yang deket rumah. Kita sekarang ke sana karena udah keburu janji, nggak enak,” cetusnya mantap.
Devan menarik tubuh Qiara, menghadapkan wajah cantik itu lalu ******* bibirnya.
“Bilang apa tadi?”
“Aku nggak mau …” Qiara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena bibir Devan kembali menyesapi bibirnya.
Javier yang sedang mengemudi hanya mengelus dada melihat kelakuan tuannya.
“Semua udah diberesin, Sayang. Kamu enjoy aja kehamilannya. Biar aku yang pikiran hal lainnya. Aku mau istriku happy.
“Istrimu melahirkan di rumah sama kamu aja udah happy.”
“Emang mau dicium kamu ya? Nantangin banget.”
__ADS_1
Tangan Devan mengarahkan wajah Qiara ke wajahnya namun dengan sigap wanita itu malah merebahkan kepala ke dada suaminya.
Aambil mengelus kepala Qiara yang tertutup kerudung, Devan berkata, “Sayang, aku nggak mau GR. Tapi rasanya ada dokter di rumah sakit yang memberi perhatian lebih padaku.”
“Siapa?”
“Dokter Nadine.”
“Oh ini perhatian jenis itu ya?” Suara Qiara terdengar khawatir.
“Iya…”
“Jaga dirimu, ya, Dev. Ingat, jaga pandangan. Terapkan batasan mahram non mahram. Dan ingat, kamu imam buat aku, Liam, Kala, Abby, dan bayi di perutku. Imam yang akan memimpin kami untuk kelak masuk ke dalam surga.”
“In syaa Allah, aku akan jaga diriku.”
Qiara menghela napas.
“Hey, don’t worry. I love you.”
“I love you, too.”
“I’m not Thoriq. Kamu dan anak-anak adalah hadiah paling indah. Aku nggak akan sia-siakan, in syaa Allah.”
Qiara tidak menjawab, hanya membenamkan wajahnya lagi ke dada bidang suaminya. Dalam hati berdoa agar Allah menjaga keutuhan keluarganya.
Tak lama mereka tiba di klinik. Dokter Irine sudah menanti dan menyambut Qiara dengan ramah.
“Aaah, finally ketemu dengan Nyonya Devan, silakan masuk. She’s cute and beautiful, Dev.”
“Alhamdulillaah… “
“Aku dan Devan kenal waktu kami ambil spesialis. Suamiku juga dokter. Kalau kamu melahirkan di sini, dia akan jadi dokter anak yang akan membantuku. Sebentar lagi dia akan bergabung.”
Qiara langsung menyukai Irene. Dirinya merasa nyaman berbincang sebelum diperiksa. Walaupun ia merasa berlebihan berada di klinik super mewah.
Tak lama, Irene mempersilakan Qiara untuk duduk di kursi periksa. Melalui USG ia melihat perkembangan janin di perut Qiara.
“Ya Allah …” Cetus Devan.
“Devan ada apa? Kenapa bayiku?” Wajah Qiara berubah tegang.
“Tepatnya ketiga bayimu. Ada tiga bayi di sini Qiara. It’s a triplet.”
“Tiga … tapi tapi waktu di USG di Melbourne cuma ada 1 kantung kehamilan.”
“Qiara, kamu akan punya identical triplets.” Devan berseru. Ia sudah sering membantu persalinan kembar dua atau tiga, tapi saat mengalaminya, rasanya sensasional.
Berbeda dengan Devan yang bersemangat, Qiara malah terlihat lesu.
“Hey Baby, what’s wrong?”
“Aku takut, Dev. Sumpah. Kuat nggak ya aku hamil kembar tiga?”
Devan mengelus pipi Qiara lalu memberikan kecupan di kening.
“Aku akan jagain, kamu. Nanti aku pasang lift di mansion jadi nggak usah naik turun tangga.”
“Kalau kita pindah ke kamar tamu aja yang di bawah, gimana?”
“Boleh juga, tapi kan lebih kecil.”
Irene ikut bahagia mendengar percakapan suami istri yang terlihat saling mencintai dan menjaga. Devan tak salah pilih. Irine pernah bertemu Stella dan tidak begitu menyukainya.
Pintu ruang praktek terbuka. Seorang dokter berjas putih dengan kemeja biru dan jeans masuk. Irene tersenyum lebar.
“Qia, ini suamiku, dokter Finn.”
“Wow, hamil kembar tiga. Bakal seru nih. Apakabar Devan? Kamu pasti Qiara yang lagi stres.” Finn melirik ke layar dengan setengah terkekeh.
Devan membantu Qiara turun dari kursi pemeriksaan. Mereka duduk di sofa sambil berbincang santai.
Irene menjelaskan bahwa kehamilan triplet sama dengan kehamilan biasa, hanya Qiara akan lebih cepat lelah. Ia menyarankan Qiara untuk tidak banyak berdiri jika kehamilannya membesar.
Dengan wajah khawatir, Qiara bertanya,“Jarak kehamilan dengan sebelumnya relatif singkat dan saya sempat pendarahan saat melahirkan caesar, apakah ini membahayakan bayi?”
“Aku akan memberimu vitamin penguat. Usahakan untuk santai, Qiara. Nikmatilah kehamilanmu. Kembar tiga dan identical itu jarang terjadi loh. Kamu istimewa terpilih menjadi ibu mereka.”
“In syaa Allah.”
“Don’t worry. Bagus Devan memilih klinik ini, jadi kamu bisa datang kapan saja. Pesanku tetap santai. Lakukan semua seperti biasa. Devan tau apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ya kan, Devan?”
Laki-laki yang sedang bersuka cita itu langsung mengiyakan.
“You’re gonna be on top, Baby.”
“Devan Donavy!”
Tiga dokter di ruangan itu tergelak melihat ekspresi Qiara dan wajah Devan yang tetap mupeng.
__ADS_1
“You’ll be fine, Qiara,” pungkas Irene.
***