
“Daddy, hari Minggu aku ada pertandingan soccer. Daddy sama Mommy nonton, ya,” pinta Liam sambil menyendokkan es krim dengan flavor cookie dough kesukaannya.
“Oh iya dong, Daddy dan Mommy nanti nonton,” balas Liam sambil membersihkan mulut anaknya yang celemotan.
“Nanti Mommy bawain minuman buat tim kamu. Pada suka jus strawberry kan?”
Mata Liam berbinar.
“Yay! Iya temen-temenku semua suka jus strawberry buatan Mommy.”
Devan dan Stella tersenyum melihat anak mereka tertawa bahagia. Devan mengacak rambut putranya yang berumur tujuh tahun.
Selama hampir tujuh tahun, ia tidak bertemu dengan Liam. Semenjak pertemuan mereka yang tak disengaja, Devan memutuskan untuk berusaha mendekatkan diri pada anaknya.
Devan teringat betapa terlukanya Liam ketika melihat dirinya bersama Kala. Pria itu menghela napas mengingat Qiara dan Kala yang sudah lama tidak ia temui.
Pria itu merasa bersalah pada Qiara dan Kala. Selama dua tahun ia selalu hadir dalam kehidupan ibu dan anak itu. Dirinya tahu kebiasaan-kebiasaan Kala.
Kini ia memandang Liam, bahkan baru beberapa menit yang lalu ia tahu putranya masuk dalam tim sepak bola.
Devan memutuskan untuk menjauh dari Qiara dan Kala. Ia tidak pernah membalas telepon atau pesan dari Qiara. Walau tidak bisa dipungkiri, dirinya sering memikirkan Qiara.
Bersama Qiara, Devan merasakan tenang. Qiara membuatnya selalu melihat pada hal-hal positif. Keceriaan Qiara membuat hati Devan selalu terasa ringan setiap mereka bertemu.
Hingga Devan mengetahui bahwa di hati Qiara masih ada mantan suaminya. Ia tidak ingin mengulang kesalahan.
Terlebih lagi kini ada Liam yang sangat mengharapkan kehadirannya. Stella pun mengatakan bahwa hubungan dengan Nick sudah berakhir dan kini ia siap merajut kebahagiaan bersamanya. Membangun keluarga kecil mereka.
Devan tersentak melihat sosok wanita berkerudung yang dua tahun ini selalu ada di benaknya. Qiara berjalan masuk ke restauran bersama teman-teman kantornya.
Entah kenapa hatinya berdegup lebih kencang. Anehnya saat bersama Stella, ia hanya merasakan kehadiran wanita itu. Tidak ada lagi getaran-getaran yang ia rasakan seperti dulu.
Stella diam-diam mengikuti arah pandang Devan. Ia menggigit bibirnya menahan marah. Kemudian Stella mengalihkan pandangan ke Liam yang masih asik dengan es krimnya.
“Tenang, Liam. Mommy tidak akan membiarkan perempuan nggak tau diri itu merebut Daddy dari kita.” Gumamnya lirih.
Qiara duduk agak jauh dari mereka. Namun Devan masih bisa melihat wanita yang terlihat cantik dan ceria seperti biasa. Hatinya menghangat setiap melihat Qiara tertawa bersama teman-temannya.
“Dev, kamu mau kuenya lagi?”
“Daddy cobain double chocolate cake, enak banget.”
Devan menghela napas lalu melihat ke arah Liam dan Stella. Ia tidak boleh lagi memikirkan Qiara demi Liam … dan Stella.
***
Qiara masuk ke toilet untuk mencuci tangan. Tak berapa lama seorang wanita cantik masuk. Stella.
“Aku sudah bilang, kan? Mudah bagiku untuk membuat Devan kembali bertekuk lutut.”
Stella menatap pantulan dirinya di kaca. Tubuhnya tinggi semampai, rambut coklatnya berkilau, tergerai dengan indahnya. Make up tipis, namun wajahnya masih terlihat memesona.
Model ternama itu membuka tas kecilnya lalu mengambil lipstik. Sedikit touch up, dan bibirnya terlihat sempurna lagi.
“Aku ikut senang keluarga kalian kembali utuh. Pasti Liam bahagia.”
Stella menatap pantulan Qiara dari cermin.
“Nggak usah pura-pura baik.”
“Stella, kita baru bertemu tiga kali. Apa sih yang membuatmu memusuhiku? Bukankah saat aku dan Devan dekat, kalian sudah lama bercerai. Ya, aku memang menyukai Devan, tapi itu tidak salah karena dia tidak terikat apapun denganmu. Aku bahkan berniat membantumu.”
__ADS_1
Stella tertawa sinis.
“Aku tidak butuh bantuanmu. Lagi pula, kamu bukanlah pesaing bagiku. Aku heran, bisa-bisanya Devan menyukai kamu. Tapi lihat, dalam hitungan hari saja, Devan sudah kembali ke pelukanku. Baginya kamu hanyalah seperti perawat yang membimbingnya agar kembali berjalan normal.”
Hati Qiara tertusuk.
Lagi-lagi Stella menatap Qiara dengan pandangan merendahkan. Tangannya merapikan rambutnya. Dibanding Stella, penampilan Qiara memang sangat jauh lebih sederhana.
“Aku mendoakan kebahagiaan kalian. Permisi.” Akhirnya Qiara membalas dengan suara tercekat.
Wanita itu bergegas meninggalkan toilet dengan mata berkaca-kaca. Ia berjalan menunduk tidak menyadari seseorang tertegun melihatnya mengusap sudut netranya.
“Qiara … “
Langkah Qiara terhenti, mendengar suara yang ternyata ia rindukan.
“Hi Dev, maaf aku buru-buru. Bye!”
Qiara menyapa Devan, sekuat tenaga menahan air mata dan berusaha membuat suaranya tidak bergetar. Dirinya kemudian kembali ke mejanya. Teman-teman sudah menunggunya untuk kembali ke kantor.
Pandangan Devan terus mengikuti Qiara dan tak sadar Stella sudah berada di depannya.
“Hey Babe, let’s go. Liam is waiting …”
Stella menggandeng mesra. Beberapa pengunjung restoran diam-diam mengambil foto mereka berdua.
***
Media sosial Australia geger dengan bersatunya Devan dan Stella. Sepasang manusia tampan dan cantik yang kini sering muncul dimana-mana bersama Liam, anak semata wayang mereka.
Qiara menatap wajah Devan yang nampak berseri-seri. Dulu, Devan bercerita betapa pria itu sakit dan kecewa namun tetap ada cinta buat Stella.
Cerita Devan sangat familiar bagi Qiara. Sekecewa dan sakit hatinya dulu pada Thoriq karena menikah lagi, namun rasa cintanya masih begitu besar hingga ia memilih menerima berbagi suami dengan Hanna.
“Qiara, somebody here wants to see you,” kata Marcel, anak buahnya, membuyarkan lamunan Qiara.
“Mrs Donavy! How are you?” Qiara berdiri untuk menyapa Dian, ibunda dari Devan.
“I’m good my dear, how are you?” Jawab Dian dengan ramah lalu mengecup pipi Qiara.
“Saya baik, Mam. Silakan duduk.”
“Aku sudah bilang, panggil Dian aja. Kita bukan di Indonesia loh, jadi nggak usah pake bu, tante, mam.” Dian tersenyum sambil memandang berkeliling ruang kerja Qiara.
“Kejutan sekali Anda datang, ada yang bisa kubantu?”
“Kamu tahu sekarang Devan dan Stella sudah kembali bersama, kami sangat bahagia karena bisa bertemu Liam setiap saat.”
“Oh ya, saya baca beritanya,” Qiara heran kenapa Dian tiba-tiba membicarakan Devan dan Stella.
“Saya mewakili suami saya Phil, yang minta kantor ini untuk menggantimu dengan konsultan lain.”
Kening Qiara berkerut.
“Aku yakin kalian saling menyukai. Dengan rendah hati aku minta dirimu untuk mundur. Biarlah Devan, Stella, dan Liam bahagia. Kami akan memberikan apresiasi tertinggi untuk hasil kerjamu, hanya untuk proyek hotel-hotel berikutnya, kami minta orang lain yang mengerjakan.”
Tenggorokan Qiara tercekat. Benar kata orang, bahwa kita akan menghargai sesuatu atau seseorang jika sudah tidak lagi bisa memiliki.
Qiara belum bisa menentukan apakah ia tanpa sadar telah jatuh cinta pada Devan dalam dia tahun terakhir. Kini yang jelas, Qiara kembali merasa sedih.
“No worries, aku akan bicarakan dengan Mario dan Jess. Semoga Devan, Stella, dan Liam bahagia.” Qiara tersenyum kepada Dian.
__ADS_1
“Aku… aku ingin mengucapkan terima kasih. Karena kamu, Devan jadi semangat untuk berlatih dan kini sudah hampir pulih seperti sedia kala. Terima kasih sudah membuat hari-hari Devan kembali ceria. Sampaikan cium sayang untuk Kala.”
Dian berdiri lalu memeluk Qiara, setelah berpamitan wanita itu meninggalkan kantor.
Qiara menghela napas. Ia melihat jam, baru menjelang siang. Dirinya perlu bicara dengan seseorang.
“Alya, assalamualaykum ….”
“Hey you from down under… ada apa Qi? You alright?”
“Devan balikan sama Stella. Dan gue sedih. Bukan … bukan karena gue kalah dari Stella. Kayaknya gue beneran udah fall in love sama Devan dan gue baru sadar.”
“Aaaw, Qi. Sorry …”
“Yeah, me too. Good thing, pasti Liam bahagia banget bisa sama ayahnya lagi.”
“Ya ampun, Qi, lu sempet-sempetnya mikirin Liam. Baik banget sih.”
“Ya kan nasib Liam sama kayak anak gue, Al.”
“Qi, take it easy ya. Lu udah punya Kala sekarang. Jangan terlalu sedih.”
“Sedih sih gue, kayak bego banget baru nyadar kl sebenernya gue suka sama Devan.” Qiara mengusap wajahnya yang murung.
“Sshh, sshh, everything will be alright. Lu seneng-seneng sama Kala gih. Lalu, Qi, jadikan ini pelajaran. Lu nggak boleh kapok buat membuka hati. Cinta itu datengnya sepaket, ada bahagia, ada duka. Lu harus siap buat keduanya, okay?”
“In syaa Allah. Thanks ya, Al. Met karajo, Nyet!”
“Met nyesel, Nyet!”
Dua sahabat itu tergelak sebelum mengakhiri pembicaraan telepon.
***
“Bunaa, Kala mau telepon Uncle Devan.”
“Kala mau ngobrolin apa?”
“Kala mau tanya kenapa Uncle nggak main sama Kala lagi …”
Hati Qiara berdenyut.
“Kala, Sayang. Kala inget nggak anak laki-laki yang ketemu Uncle Devan di Sydney? Namanya Liam. Uncle Devan dan Liam sudah lama banget nggak ketemu. Sekarang mereka lagi kangenan.”
“Oh. Kala juga kangen Uncle Devan, Buna,” ucap anak itu lirih, menyandarkan kepalanya di pundak Qiara.
“Iya, Sayang. Kala sama Buna aja ya.”
“Buna, kapan Kala ketemu Aya?”
Jantung Qiara hampir berhenti berdetak. Ia memeluk anaknya erat-erat. Qiara mengenalkan Thoriq sebagai ayah kepada Kalandra melalui foto-foto.
Perlahan, Qiara menjawab pertanyaan sulit itu. Ia ingin jujur. “Buna belum tahu. Kala sama Buna dulu, ya. Kalau udah saatnya ketemu Aya, nanti Buna kasih tau.”
“Kala pengin kayak Liam. Ketemu Aya …”
Ucap anak itu lirih.
“Buna juga. Kita terus berdoa ya, Sayang. Semoga kita bisa ketemu Aya.”
Kala mengangguk pelan lalu memejamkan matanya, membayangkan bermain bola dengan ayahnya.
__ADS_1
***