Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Surga Dunia


__ADS_3

\~Bacaan bebas bocil\~


Hanna terkejut melihat air mata mengalir di wajah suaminya. Matanya membola tak berkedip.


“Mas, Mas … istighfar. Mas nggak suka sama Hanna, ya?”


Dicky terkesiap, “Astaghfirullah, Hanna, kamu cantik banget. Mas nggak nyangka. Mas duduk dulu.”


Dicky menggandeng Hanna lalu mengajaknya duduk di tepi ranjang. Matanya menatap lekat wajah Hanna. Punggung jarinya menelusuri wajah istrinya.


Hanna memiliki alis bagai semut berbaris dengan mata yang bulat indah. Hidungnya mancung dan bibirnya penuh. Tulang pipinya tinggi dan lehernya jenjang.


Dicky meneguk salivanya berkali-kali.


“Hhhaanna, kamu bersih-bersih dulu, lalu kita sholat maghrib baru sholat sunnah setelah ijab kabul.” Suara Dicky terdengar serak menahan hasrat.


“Mas …” Suara Hanna tercekat.


“Ya, Sayang …”


Hanna gugup bukan kepalang. Dirinya sendiri heran dengan reaksi yang dirasakan. Seperti baru pertama berhadapan dengan pria.


“Hanna mandi dulu, ya. Mas bisa bantu buka kerudung Hanna?”


Dicky mengangguk lalu melepas kain yang jadi pembatas salah satu aurat istrinya. Tangannya melepas kunciran membuat rambut Hanna yang hitam legam jatuh terurai.


“Hanna kamu masuk kamar mandi, aku nggak kuat.”


Hanna menunduk malu lalu mengangguk. Dicky mengambilkan handuk dan baju tidur yang dibelinya di kota. Berbahan satin lembut berwarna peach dengan potongan baby doll. Ia juga memberikan jubah dari bahan yang sama.


“Aku tunjukin kamar mandinya. Maaf nggak ada kamar mandi dalam kamar. Peralatan mandi juga sudah aku lengkapi. Termasuk body lotion dan parfum ada di sana.”


Hanna mengikuti Dicky keluar kamar menuju ke bagian belakang rumah.


“Kamu mau mandi pakai air hangat? Aku udah siapin di termos.”


Hanna mengusap air mata di sudut netranya. Tak menyangka begitu teliti Dicky mempersiapkan segala sesuatu untuk dirinya.


“Mas aja yang nanti mandi pakai air hangat. Termosnya dimana? Biar nanti Hanna siapin buat, Mas.”


Dicky tersenyum, kebahagiaannya membuncah mendengar perhatian Hanna padanya.


“Termosnya di sini. Makasi ya, Sayang.”


Di dalam kamar mandi, Hanna mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Jantungnya berdegup. Ia berharap bisa melayani Dicky dengan baik, tanpa drama masa lalu yang bakal mengganggu.


Perlahan memakai baju tidur dan jubah yang dibelikan suaminya. Mengikat rambutnya ke atas lalu keluar dan menyiapkan air mandi untuk Dicky.


Di dapur Dicky sedang menjerang air. Matanya membola melihat Hanna keluar memakai baju tidur dan rambut dicepol ke atas. Cantiknya alami tanpa pulasan apapun.


“Mas lagi bikin apa?”


“Susu hangat. Dulu waktu Rasulullah menikahi Aisya, beliau minum susu hangat, kemudian Aisya juga minum sedikit dari gelas yang sama.”


Dicky menjawab sambil kembali menunduk. Menatap Hanna adalah sesuatu yang sudah halal, namun ia harus menahan hasrat agar bisa melaksanakan sholat wajib terlebih dulu.


“Hanna ambil handuk dulu sama baju buat, Mas. Nanti biar Hanna aja yang terusin.”


Hanna kembali membawa handuk dan baju untuk suaminya. Setelah Dicky masuk kamar mandi, ia meneruskan membuat segelas susu hangat.


Ia melihat di kulkas Dicky sudah menyiapkan lauk pauk untuk makan malam. Juga nasi telah tersedia di magic jar. Hanna menyiapkan lauk pauk untuk mereka makan setelah sholat Isya.


Ia meletakkan gelas susu hangat di meja makan karena di kamarnya hanya ada ranjang, lemari baju, lampu kecil, dan kipas angin. Hanna kemudian menyiapkan peralatan sholat.


Dirinya menunggu Dicky sambil melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Suaranya merdu. Dicky yang sudah keluar dari kamar mandi berhenti sejenak untuk mendengar tilawah istrinya.


Dicky masuk ke kamar. Hanna sudah memakai mukena. Istrinya membantu untuk memakaikan baju koko.


Karena sudah jauh dari masuknya waktu maghrib, mereka melaksanakan sholat wajib disusul sholat sunnah berjamaah. Setelah sholat mereka berdoa memanjatkan rasa syukur karena telah dipersatukan dan memohon agar cinta mereka tak lekang oleh waktu.


Hanna menyium punggung tangan suaminya lalu mengambilkan susu hangat. Dicky minum beberapa teguk, disusul Hanna.


Setelah mengembalikan gelas ke meja makan, Hanna kembali ke kamar.


“Mas dikit lagi Isya.”


“Aku sholat di masjid belakang, ya. Kamu berani sendirian di sini?”


“In syaa Allah berani, Mas.”


Dicky tak sabar untuk menikmati waktu berdua dengan Hanna, tapi ada kewajiban yang harus didahulukan. Setelah mencium pipi Hanna, ia pamit ke mesjid.


Usai sholat Isya, Hanna menghangatkan oreg tempe, ayam goreng, serta sayur labu. Ia menata piring dan menyiapkan minum.

__ADS_1


Mata Dicky kembali membola ketika Hanna membuka pintu. Dirinya belum terbiasa menatap Hanna tanpa cadar terlebih lagi dengan kecantikan yang sudah menjadi haknya.


Leher jenjang nan putih dan mulus seakan menggoda Dicky untuk memberikan cap kepemilikan di sana. Sambil menatap istrinya dari belakang, ia senyum-senyum sendiri membayangkan apa saja yang ingin dilakukan bersama Hanna.


“Kayaknya aku emang beneran cabul. Aku udah bayangin mau ngapain aja sama kamu.”


“Mas! Iiih …” Hanna salah tingkah. Sementara Dicky langsung memeluk Hanna dan mencium sekilas lehernya.


“Segitu dulu, appetizer.” Lalu ia menarik Hanna supaya cepat makan.


Dicky tersenyum melihat Hanna menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piringnya.


“Ya Allah, semoga istriku tidak akan pernah berubah.”


Walau dengan lauk sederhana yang dibeli di warteg, mereka berdua makan dengan nikmat. Pukul delapan setelah Hanna selesai membereskan dapur, Dicky memeriksa kunci pintu dan jendela lalu mematikan lampu.


Saling tersenyum, mereka berdua masuk ke dalam kamar.


Hanna berdiri gugup di hadapan Dicky. Sekali lagi suaminya mengurai rambut lalu mencubit dagunya. Dicky mendekatkan bibirnya ke bibir Hanna lalu menempelkan dengan lembut.


Mata Hanna terpejam. ******* mulai terdengar seiring intensitas ciuman Dicky yang meningkat.


Dicky melepaskan tautan bibirnya dari Hanna. Ia mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu kecil. Suasana kamar menjadi temaram.


“Boleh, ya …” Dicky meminta ijin untuk membuka jubah Hanna lalu menjatuhkannya.


Matanya terus menatap manik legam Hanna. Ia tahu trauma masa lalu yang dimiliki istrinya. Dirinya sudah bertanya pada rekan psikolog agar bisa menghadapi jika trauma itu muncul di antara mereka.


Hanna terbuai dengan mata berbentuk almond berwarna coklat tua yang menatapnya penuh kasih. Terhipnotis ia hanya bisa merasakanpakaian tidurnya terlepas dari tubuhnya, menyisakan pakaian dalam yang menutupi bagian intinya.


Malu, Hanna merapatkan tubuhnya ke Dicky.


Dicky merengkuh tubuh yang hampir polos itu. Ia mengarahkan tangan Hanna untuk membuka kaos. Hanna dengan patuh mengikuti.


Kini giliran Hanna terkesiap dengan dada bidang suaminya. Bulu-bulu halus tumbuh di tengahnya. Hanna menggigit bibir.


Paham jika istrinya masih malu, Dicky terus mendekap Hanna sambil melangkah ke ranjang lalu membaringkan Hanna dengan lembut. Ia mengungkung istrinya dengan badannya yang tegap.


Sekelebat bayangan masa lalu muncul di benak Hanna. Bagaimana pelanggannya juga dulu mengungkungnya sebelum melakukan apa saja yang mereka mau terhadap tubuhnya.


Mata Hanna terkejap, napasnya menyentak.


“Hanna, ini aku. Liat sini.”


“Sayang, istighfar lalu baca doa sebelum berhubungan suami istri.”


Hanna mengikuti suaminya, “Astaghfirullahaladzim. Bismillahirrahmanirrahiim. Allahumma janibnaa syaithana wa janibnisyathana maa razaqnaa. Dengan nama Allah, ya Allah; jauhkanlah kami dari gangguan syaitan dan jauhkanlah syaitan dari bayi yang akan Engkau anugerahkan pada kami. Aamiin ya Allah.”


Netra Hanna bersitatap dengan manik Dicky. “Bismillah, Hanna siap Mas.”


“Bismillah …”


Dicky mencium lembut bibir istrinya. Bibir penuh Hanna membuatnya enggan untuk berhenti menyesap. Tangannya mulai meraba lekuk tubuh istrinya.


Hanna berjuang keras untuk menekan rasa takutnya. Dicky merasakan respon Hanna yang kaku langsung berhenti.


“Maaf jika aku memaksamu. Aku akan menunggu hingga kamu siap, Sayang.”


“Enggak, Mas. Hanna bisa …” Air mata menetes dari sudut netranya. Dicky bergulir ke sampingnya. Ia memiringkan tubuh dan menarik Hanna masuk ke dalam pelukannya.


Hanna terisak-isak. “Maaf, Mas. Maaf. Ini hukuman buat Hanna tapi harusnya bukan buat Mas.”


“Aku nggak merasa terhukum, kok.” Dicky mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Hanna merapatkan tubuh polosnya ke tubuh Dicky seakan mencari perlindungan.


“Hey, jangan nangis, Cantik.” Dicky menghapus air mata Hanna dengan punggung telunjuknya.


“Kalau malam ini Hanna nggak bisa gimana, Mas?”


“Mas akan tunggu sampai kamu ikhlas.”


“Mas Dicky …”


Hanna menyembunyikan wajah di dada Dicky. Sebagai pria seharusnya Dicky kecewa, namun dengan Hanna ia hanya ingin melindungi, menunggu sampai istrinya siap.


“Mas, Hanna boleh sholat sunnah lagi?”


“Boleh, dong. Ini baju kamu.”


Malu-malu karena Dicky diam-diam memoerhatikan tubuhnya, Hanna memakai bajunya lalu pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah sholat, Hanna menengadahkan tangannya lalu bermunajat dalam hati.”


“Ya Allah, Engkau tahu betapa buruknya perbuatan hamba dulu. Entah berapa banyak pria yang telah menyentuh tubuh hamba ini. Ya Allah, kini, ijinkan hamba melayani suami sebaik mungkin. Jangan kau jadikan masa lalu menghalangi hamba menunaikan kewajiban. Bimbing hamba, ya Allah.”

__ADS_1


Dicky melirik air mata yang berlinang di wajah Hanna. Dirinya berniat akan menahan hasrat jika memang Hanna belum siap.


Setelah puas bermunajat, Hanna pamit ke kamar mandi untuk membersihkan wajah.


“Hanna kamu harus bisa menyenangkan suamimu,” ucapnya pada pantulan wajah di kaca.


Ia menghela napas beberapa kali untuk meredakan degup jantungnya. Setelah merapikan rambut dan memakai wangi-wangian, Hanna kembali ke kamar.


Dicky menunggunya sambil memeriksa hape di tepi ranjang.


Bersimpuh di hadapan suaminya, Hanna berkata,“Makasi udah ngertiin Hanna.”


Dicky menggigit bibirnya, ia sungguh ingin menyesap lagi bibir penuh yang menggoda di hadapannya namun ragu akan kesiapan Hanna.


“Bismillah …” Ucap Hanna lirih.


Mendapatkan kode hijau, Dicky pun kembali mendaratkan bibirnya, kini ia merasakan Hanna membalas ciumannya. Tangannya menopang tengkuk istrinya. Ia membaringkan Hanna di ranjang.


Hanna merespon sama hangatnya untuk setiap sentuhan yang Dicky berikan. Sesekali lebih dulu melancarkan serangan. Tangan dan bibir Dicky terus menggodanya. Belum lagi gesekan dari kulit ke kulit yang memberi kehangatan lama kelamaan membuatnya rileks.


Akhirnya kenikmatan mengusai tubuh Hanna, menyingkirkan kenangan buruk masa lalu yang masih tersimpan di benaknya.


Sentuhan Dicky membuatnya hampir gila. Kadang lembut, kadang menuntut. Keduanya telah sama-sama polos ketika Dicky berkata dengan suara serak, “Boleh, ya.”


Hanna mengangguk, mempersiapkan dirinya untuk menerima Dicky. Dengan perlahan, Dicky melakukan penyatuan dengan istrinya. Matanya terpenjam, gelombang kenikmatan mengalir ke seluruh tubuhnya.


Di bawahnya, Hanna menggeliat, menyamakan ritme dengan Dicky. Mereka ingin memuaskan satu sama lain dan saling menyerahkan diri seutuhnya.


Dicky terus menuntut dan Hanna dengan ikhlas memberikan. Hingga tiba mereka mencapai titik terindah dan ternikmat di mahligai pernikahan.


“Hanna, I love you,” ucap Dicky sambil mengerang melepas seluruh hasratnya.


“I love you, too, Mas.”


Bermandikan peluh, mereka saling berpelukan sambil menikmati sisa gelora yang masih menggelenyar di tubuh mereka.


Dicky tidur terlentang sementara Hanna membaringkan kepala di dada suaminya. Mendengarkan degup jantungnya.


“Maa syaa Allah, Hanna, ternyata enak banget.”


Hanna menyembunyikan wajahnya di dada Dicky. Tangannya mencubit kecil pinggang suaminya. Dicky terkekeh.


“Aku sekarang udah bukan tingting lagi,” ucap Dicky sambil mengelus pundak polos Hanna.


“Maaf, Hanna nggak bisa kasih kali pertama buat Mas.


“Nggak apa, kamu jadi bisa tunjukin ke aku apa aja yang bisa bikin kamu bahagia. Dan kamu juga boleh melakukan apa saja yang menurut kamu bisa melepaskan hasratku.”


Hanna mendongak menatap wajah Dicky. Selama ia menikah dengan Thoriq, ia sendiri yang berusaha membuat dirinya bahagia. Ketika menikah dengan Bastian dan dipaksa menjadi wanita panggilan, tidak ada yang pernah bertanya apa yang membuatnya bahagia di atas ranjang.


Kini Dicky dengan sungguh-sungguh ingin membuatnya terbang ke langit ke tujuh. Bukan sekedar meminta hak, tapi suaminya ingin memuaskan dirinya sebagai pasangan.


“Hanna takut … Hanna tau permainan cinta yang bisa memuaskan laki-laki. Hanna berasa seperti wanita nggak bener kalau melakukan itu ke Mas.”


“Asal kamu nggak terbayang orang lain …”


“Masih suka berkelebat tapi Hanna udah bisa kontrol.”


Dicky memejamkan mata. Hasratnya mulai naik.


“Coba sih, emang apa yang bisa bikin suami kamu ini puas. Aku mau tau …”


Wajah Hanna merah padam.


“Hanna … aku mau lagi.”


Kini Dicky kembali berada di atas Hanna. Siap untuk merengkuh kenikmatan surga dunia bersama istrinya.


Hanna memberikan dirinya dengan utuh. Menyentuh Dicky dengan penuh cinta, membuat laki-laki yang baru pertama kali berhubungan itu beberapa kali meneriakkan namanya.


Jika dulu ia harus melakukan, kini Hanna rela memberikan. Jika dulu hubungan di atas ranjang adalah siksaan, kini baginya melayani Dicky adalah kenikmatan.


Secara naluriah, Dicky mengimbangi permainan Hanna. Ia pun ingin istrinya meneriakkan nama Dicky di antara desahannya.


Mereka bergumul penuh napsu hingga memetik bunga cinta untuk kedua kalinya.


Masih terengah-engah, kini Dicky menelusup ke dada Hanna. Dengan penuh rasa sayang, Hanna mengelus rambut Dicky yang lebat dan mengecup pucuk kepalanya.


Tak berapa lama terdengar bunyi dengkuran halus keluar dari mulut Dicky. Hanna tersenyum. Dengan satu tangan merapikan selimut untuk menutup tubuh mereka yang masih polos lalu tertidur dengan Dicky di pelukannya.


“I love you, Suami.”


***

__ADS_1


__ADS_2