
Jika aku bisa memutar waktu, malam itu aku tidak minum kopi entah milik siapa yang tersaji di atas meja. Minuman pekat yang membuat tubuhku menggelenyar dan dalam beberapa menit aku lupa dengan apa yang kulakukan.
Yang jelas keesokan harinya, aku bangun dalam keadaan tanpa busana memeluk Eliza yang juga sama polosnya. Di kamar ukuran 3x2m aku mengkhianati janji suci kepada wanitaku, Mariam.
Eliza merekam semua yang kami lakukan, membuatku muak pada diriku sendiri. Jika bunuh diri adalah sesuatu yang halal, maka saat itu juga aku lakukan. Tak ada gunanya makhluk bejat sepertiku hidup di dunia ini.
Aku mulai enggan berada di rumah, tak sanggup menanggung malu menatap mata indah Mariam. Netra bening yang memantulkan rasa sakit akibat kanker rahim namun selalu memancarkan cinta begitu melihatku. Cinta yang telah kuhempaskan.
Tak bisa kujelaskan apa yang membuatku melakukan perbuatan laknat malam itu, yang jelas sebulan kemudian, Eliza menyatakan dirinya hamil. Keluarga dan beberapa pengurus warga memaksaku untuk menikahinya.
Sejak hari itu, keluargaku, hidupku … hancur.
Aku bersimpuh di hadapan Mariam. Dalam kamar yang sudah menjadi saksi cinta kami, aku mohon ampun pada wanitaku.
Mariam, Mariam Cintaku.
Aku tahu wanitaku hancur, tapi dia mengusap rambutku dengan lembut.
“Aku memaafkan kamu, Mas. Menikahlah, aku ikhlas.”
“Mariam, aku rela kau pukuli, kau ludahi, kau buang ke jalan. Aku tidak layak, sama sekali tidak layak menerima maafmu,” isakku. Mariam hanya diam seribu bahasa.
Malam itu aku terus menangis di pangkuan wanitaku. Meratapi kebodohan yang terjadi hanya dalam waktu semalam. Wanitaku terus mengelus rambutku, sesekali kutatap mata teduhnya dan hatiku bagaikan teriris karena telah menyakiti wanita yang selalu tegar dan ikhlas berdiri di sampingku.
Waktu Aisya dan Dicky datang, tak adalagi sorot penghormatan padaku sebagai ayahnya. Dicky memandangku dengan jijik. Aisya tidak lagi memedulikanku. Mereka membuat benteng setingginya untuk melindungi wanitaku.
Aku ikhlas. Memang aku tak lagi layak dihormati.
Di hari akad, Mariam masih menyematkan melati di jas putih yang dulu kupakai saat menikahinya. Bibirnya tersenyum, namun hatinya hancur lebur.
Kata akad kuucapkan dengan separuh nyawa. Apalagi kulihat Mariam menyeka air mata yang lolos ke pipinya.
Eliza kini jadi istri keduaku. Tak henti ia berusaha menyakiti Mariam dengan menunjukkan kemesraan antara aku dan dirinya.
Wahai, Eliza, ketahuilah tak ada cinta buatmu. Aku memilih untuk menjauhkan Eliza dari Mariam. Ia hanya bisa tenang jika aku menyentuhnya. Namun aku tak sanggup. Biarlah aku dilaknat dunia akhirat karena tidak memberikan nafkah batin padanya. Aku memilih memberikan materi yang memang ia inginkan sejak awal.
Ya, Eliza tidak mungkin menginginkan aku. Umurnya baru dua puluh satu tahun, sementara aku sudah di atas empat puluh tahun. Aku bukanlah pria tampan, wajahku biasa saja. Jika anak-anakku rupawan, itu karena Mariam. Wanita itu adalah wanita tercantik di duniaku.
__ADS_1
Sejak malam terkutuk itu, aku tak pernah menyentuh Eliza lagi. Tak pernah sekali pun. Beberapa kali ia datang menggoda, namun tubuh dan hati ini bergeming.
Aku hanya menemani saat kehamilannya bermasalah, sebagai tanggung jawabku. Terlebih hasil DNA menunjukkan anak dalam perutnya berasal dari benihku.
Mariam bertahan delapan bulan. Aku bahkan tak ada saat ia pergi karena lagi-lagi Eliza berulah. Ia minta makan sate buntel di Kota Solo. Jauh dari tempat kami tinggal.
Anak-anakku bolak-balik memohon agar aku pulang. Sebelum terlambat. Dan aku terlambat. Wanitaku telah pergi untuk selamanya.
Aku bersyukur masih sempat melihat jenazah Mariam. Wajahnya bersinar, bibirnya tersenyum, ia tidak meninggal. Wanitaku hanya tidur pulas karena tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi pengkhianatan. Mariamku sedang bermain di taman surga.
Eliza kembali berbuat ulah karena tidak ingin berada dekat mayit. Katanya tidak baik untuk janin. Malam itu ia pulang dijemput abangnya. Biarlah, biarlah ini menjadi kali terakhir keluargaku bersama.
Pemakaman Mariam berlangsung lancar. Aku dan Dicky menurunkan jenazahnya. Terakhir kali kupandang wajah cantik itu sebelum tanah merah memisahkan dunianya dan duniaku.
“Selamat jalan, Sayang. Jadilah bidadari surga meski bukan untukku.”
Aku berniat untuk bersama anak-anakku. Namun lagi-lagi Eliza memisahkan kami. Pendarahan katanya. Dengan enggan aku pergi ke kampung istri keduaku meninggalkan anak-anak yang sedang berduka.
Kupastikan tidak ada yang serius, gegas aku pulang ke rumah mendapati Aisya dan Dicky sudah tidak lagi di sana. Sepucuk surat mereka tulis menyatakan kekecewaan padaku. Keduanya pindah ke Semarang dan berharap tidak bertemu lagi denganku.
Mendiang istriku ternyata telah menjual toko kain dan memberikan hasil penjualan pada Aisya dan Dicky. Mariam, bagaimana aku bisa tidak terpikirkan itu semua. Dalam benak ini aku mengharapkan semua masih seperti dulu.
Diam-diam aku mengikuti perkembangan Aisya dan Dicky. Mereka menjadi siswa-siswi berprestasi. Aisya mendapatkan jalur undangan ke fakultas kedokteran gigi.
Aku pernah menawarkan untuk menanggung biaya kuliah. Aisya menolak dan tanpa banyak kata pergi menjauh. Kutatap punggung putriku. Wajahnya semakin mirip dengan Mariam.
Beberapa tahun kemudian, Dicky lulus SMA dan diterima di fakultas kedokteran. Aku mendatanginya. Ingin sekali merangkul anakku, mengatakan betapa bangganya aku sebagai seorang ayah.
Tatapannya dingin. Belum sempat aku memanggil, Dicky sudah melarikan motornya. Kucari dia hari itu ke kampusnya. Sekali saja, sekali saja aku ingin mengucapkan kata “Selamat, Nak. Bapak bangga.”
Tak kutemukan pemuda tampan kebanggaanku itu.
“Bapakmu ini akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Nak,” kataku dalam keputusasaaan.
Anak-anakku berjuang mati-matian untuk membiayai kuliah dan hidup mereka. Miris rasanya. Setiap aku mengirim uang, tak berapa lama uang tersebut ditransfer kembali. Mereka benar-benar kecewa dan tak lagi mau berhubungan denganku.
Aku berhenti mengirimkan uang namun masih sering mengawasi mereka dari jauh.
__ADS_1
Termasuk saat Aisya berkenalan dengan pemuda bernama Ibrahim. Naluri kebapakanku mengatakan ada sesuatu yang salah dari laki-laki ini. Entah apa.
Beberapa bulan kemudian, aku didiagnosis dengan penyakit ginjal. Eliza sering mengamuk karena aku membutuhkan biaya besar untuk cuci darah rutin. Ia memaksaku untuk mengalihkan semua aset menjadi atas namanya.
Di saat yang bersamaan, Aisya dan Dicky datang, memintaku jadi wali nikah untuk Aisyah. Aku berusaha mengatakan bahwa Ibrahim bukanlah pria yang tepat, namun dua anakku itu mengacuhkan. Untuk mengalihkan rasa sakitku, kutunjukkan pada mereka bahwa ada Karenina yang jadi penghibur laraku.
Akhirnya aku terpaksa menikahkan Aisya dengan Ibrahim. Mereka diberi dua anak, Latifah dan Fatimah. Keduanya menurun garis Mariam. Cantik jelita.
Naluriku tentang Ibrahim ternyata tepat. Laki-laki itu adalah penjudi kelas kakap. Ia memiliki hutang ratusan juta.
Aku hendak menolong Aisya ketika ginjalku anfal. Eliza tidak terlalu memedulikan, sepertinya ia berharap aku cepat mati.
Ya, aku pun begitu. Hidup bersamanya seperti hidup di neraka dunia. Di malam terakhir, Liong dan Wen Wen menjengukku. Pesaing nomor satu sekaligus sahabat terbaikku.
Kutulis surat dengan kertas surat sisa peninggalan toko kain milik Mariam. Kuharap anak-anakku bisa melihat betapa cintaku pada ibu mereka masih sangat besar.
Bismillaahirrahmanirrahim,
Assalamualaykum Aisya dan Dicky, anak-anak Bapak yang tersayang,
Maafkan Bapakmu yang bodoh dan bergelimang dosa. Tidak ada kata selain menyesal dan maaf yang ingin Bapak sampaikan pada kalian.
Jika surat ini sampai pada kalian, berarti Bapak sudah nggak ada. Hiduplah dengan rukun dan saling menjaga, anak-anakku.
Bapak bangga sama kalian.
Aisya, maafkan sikap Bapak yang tidak menyetujui pernikahanmu dengan Ibrahim. Kamu berhak mendapatkan laki-laki lebih baik. Aisya, Bapak sisakan tabungan Bapak untuk menutup hutang suamimu. Sebelumnya, Bapak sudah buka rekening atas nama Dicky. Ya, atas nama adikmu karena Bapak takut Ibrahim tahu dan mengambilnya darimu.
Dicky, jadilah pria yang kuat. Jika suatu saat kamu memiliki istri, jagalah dia, saya gi dia, jangan tempatkan dirimu dalam situasi yang bisa membuatmu tergelincir karena setan ada dimana-mana.
Anak-anakku, Bapak pamit.
Barakallahu fiikum.
Bapakmu yang menyayangimu selamanya,
Mardi
__ADS_1
***