
“Mas Dhanu!”
Qiara berjalan cepat menuju kakaknya yang langsung berlari ke arahnya. Dua kakak beradik yang telah berpisah berbulan-bulan itu berpelukan erat. Qiara menangis di pelukan kakaknya. Dhanu memeluknya erat, pelukan erat seorang kakak yang ingin melindungi adik perempuannya.
Marianne mendekati calon suami dan adik ipar yang juga sahabatnya. Rama, putra satu-satunya mengikuti dari belakang digandeng Angel, adik Marianne.
Dhanu menangkupkan tangannya ke wajah Qiara.
“Apakabar kamu, Sayang. Baik-baik kan kamu?”
“Qia baik, Mas. Liat perut Qia udah kayak tambur gede banget. Oops, ini adek bayi lagi nendang.”
Dhanu mengusap perut adiknya. Merasakan tonjolan akibat pergerakan calon keponakannya. Ia tersenyum.
“Qia, dia gerak lagi!” Dua kakak beradik itu tertawa-tawa.
“Terus Mbak dicuekin nih?” Marianne mendekati Qiara dan langsung memeluk wanita hamil itu.
“Mba Anne! Qia kangen!”
“Qia, kamu hamilnya glowing banget. Badan kamu nggak menggemuk. Cuma perutnya aja mlendung. Waktu Mbak hamil Rama, kayaknya badannya melar sampe segede kulkas.”
“Tapi semua normal kan, Qia.”
“Alhamdulillah, normal, Mas. Qia selalu rutin cek ke bidan tiap bulan. Lalu ke obgyn juga sesuai rujukan dari bidan.”
Qiara kemudian memeluk Angela dan Rama, bocah kecil yang sibuk melonjak-lonjak karena ingin segera ketemu Mark dan Melanie, neneknya.
“Mark dan Mel akan segera ke sini, tadi parkir penuh jadi mereka memutar. Qia seneng banget kita bisa ketemu kalian semua.”
Wajah Qia nampak berseri-seri. Dhanu terus memandang wajah adiknya. Ia merangkul Qiara.
“Dek, jangan jalan dulu, tunggu bentar.”
“Kenapa sih, Mas? Kasian Mel sama Mark.”
Dari jauh terdengar suara riuh memanggil, “Qiara … Qiara!”
Qiara terbelalak, matanya tak memercayai, semua sahabatnya berlarian ke arahnya sementara anak dan suami mereka mengekor.
“Alya, Cherish, Ella, Sabrina! Maa syaa Allah,” Qiara berjalan mendekati wanita-wanita penuh semangat dengan wajah sumringah.
Kelimanya berpelukan erat sambil tertawa dan menangis bahagia.
“Qi, lu hamil kece banget sih. Aslik. Gue hamil dah kayak badak berendem,” celetuk Sabrina sambil menatap Qiara dari ujung kaki ke ujung kepala.
Ella menyambung, “Glowing banget ya, dia. Hmmm jangan-jangan lu udah punya taksiran, ya?”
“Kagak … kagak sempet gue naksir-naksir. Gue di sini kerja bagai kuda, pulang dah tepar akut,” balas Qiara sambil terkekeh.
Mereka berjalan menuju area penjemputan mobil.
“Surprise banget liat kalian dateng semua.” Qiara menggandeng Sabrina dan Alya, setelah bertegur sapa dengan para suami dan anak-anak sahabatnya.
“Gila lu ye, kagak akan dah kita lewatin mega wedding abad ini. Abang lu sama Mbak Anne kan berantem terus. Eh malah sekarang mau married.” Sabrina menjawab sambil melirik Dhanu dan Marianne yang tersipu.
“Aku senang mau punya papah baru,” celetuk Rama yang tidak mau melepaskan gandengannya dari Dhanu. Semenjak ayahnya meninggalkan ibunya, ia kehilangan sosok ayah. Istri baru ayahnya langsung punya anak kembar hingga jarang menengok Rama.
Dhanu yang sangat menyukai anak kecil sebetulnya memang akrab dengan semua anak sahabat Qiara. Tapi dengan Rama ia seperti punya ikatan khusus hanya saja Marianne menurut Dhanu adalah sosok wanita keras kepala.
Waktu mereka mengurus perceraian Qiara, keduanya punya kesempatan mengenal satu sama lain. Marianne bukanlah wanita keras kepala, namun sebagai ibu tunggal, ia harus tegar dan tegas.
__ADS_1
Dhanu adalah sosok yang melindungi. Semenjak ibunya meninggal, dia lah yang mengasuh Qiara. Padahal usianya juga belum dewasa. Ayahnya seorang dokter sangat sibuk. Marianne sangat membutuhkan bahu untuk bersandar dan akhirnya ia menemukannya pada Dhanu. Kakak sahabatnya.
Mereka akan menikah dalam dua hari. Marianne akan dinikahkan pamannya yang muslim dan tinggal di Australia.
Kendaraan Mark dan Mel mendekat, Rama melonjak kegirangan melihat nenek dan kakeknya. Di belakangnya Jeremy mengemudikan mini bus untuk mengangkut para sahabat dan keluarga mereka.
Jeremy turun hendak memeluk Marianne. Setelah mempelajari batasan mahram dan non mahram, Marianne mengatupkan tangannya di dada.
“Jer, no hugging,” kata Qiara mengingatkan pria bule bermata biru.
“Oops, I forgot, old habbits die hard. Sorry, you must be Dhanu. Don’t get me wrong, Marianne and I grew up together.”
(Ops, aku lupa. Kebiasaan lama susah hilang. Maaf kamu pasti Dhanu. Jangan salah sangka ya, aku dan Marianne barengan dari kecil.)
“No worries. Nice to meet you.” Dhanu menyambut uluran tangan Jeremy, menjabatnya erat.
“Qia, kamu okay?” Jeremy bertanya pada Qiara yang masih cengengesan bersama sahabat-sahabat lainnya.
“I’m so happy. I missed them so much!”
“I can see that,” balas Jeremy, matanya menatap lembut ke arah Qiara yang sudah asik bercanda lagi dengan sahabat-sahabatnya.
Dhanu dan Marianne saling melirik melihat tatapan Jeremy ke Qiara.
“Qia kamu naik mobilnya Mark, kita ketemu lagi di hotel,” sambung Jeremy.
“Okay, see you guys. Nanti kita ngobrol lagi.” Qiara melambaikan tangan ke sahabat-sahabatnya.
Jeremy mengarahkan Qiara untuk masuk ke mobil. Dhanu memandang dengan berkerut. Setelah Thoriq, ia tidak percaya dengan laki-laki yang punya maksud tertentu dengan adiknya.
Jeremy jelas-jelas menyukai Qiara.
“Allow me to help my sister,” ucap Dhanu pada Jeremy, memotong langkahnya dan membantu Qiara naik ke mobil. Jeremy tetap berdiri di samping Dhanu memastikan Qiara sudah nyaman.
“You mess with her, you are a dead meat. I kill you myself, Jer,” bisiknya di telinga laki-laki bule itu.
(Bakalan mampus kalau kamu macem-macem sama Qiara, ya, Jer. Aku sendiri yang akan hajar kamu!)
Jeremy bergidig namun tetap berdiri di tempatnya. Lalu setelah melihat Qiara aman di tangan kakaknya, ia menuju mini bus, tidak lupa memeletkan lidah pada Marianne yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.
***
Jeremy mengemudikan mini bus menuju hotel. Fauzan duduk di sebelahnya lalu bertanya, “So, you and Qiara?”
“Me and Qiara what?”
“Aaah, there’s something between you guys,” celetuk Sabrina.
(Sepertinya kalian ada apa-apa.)
“It’s obvious Uncle Jeremy. Or at least you like Auntie Qiara,” sahut Rama dari belakang. Walau merindukan Mel, ia memaksa ikut di mobil bersama teman-teman sebayanya.
(Kelihatan banget Oom Jeremy. Atau paling tidak kamu suka Tante Qiara.)
“What do you know, boy?” Jeremy tergelak diiringi tawa yang lain.
(Tahu apa kamu, boy?)
“Well, tapi menurut aku Auntie Qiara masih biasa aja sama Uncle Jeremy. You have to work harder,” balas Rama sok tahu.
“Kasih waktu, Jer, Qiara masih berusaha melupakan rasa sakitnya terhadap Thoriq. Saya yakin dia masih cinta sama Thoriq. Tapi dia harus move on. Thoriq udah bahagia sama Hanna, saya sering ketemu dia di acara-acara peluncuran produk. Dia udah beda banget sekarang,” ucap Alya sambil menatap mata Jeremy dari kaca spion.
__ADS_1
Jeremy diam-diam menghela napas mendengar Qiara masih mencintai Thoriq.
***
“Marianne, kamu cantik banget.” Kelima sahabat masuk ke kamar Marianne sebelum ijab qabul dilaksanakan.
Qiara memeluk Marianne yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
“Mbak Anne, aku titipkan kakakku ya. Cintai dan sayangi Mas Dhanu,” bisik Qiara.
Marianne melepas pelukan lalu menatap Qiara dalam-dalam.
“In syaa Allah, Mbak akan menjadi istri sholihah, ibu yang baik untuk Rama, dan kakak ipar yang akan ikut menjaga kamu.”
“You guys, jangan nangis, make up bakal luntur!” Seru Cherish buru-buru mengambil tisue untuk Qiara dan Marianne.
“Hey hey, udah, it’s time. Inget, kalau mau posting, jangan ada lokasi, nti duo kunyuk itu liat. Eh maap maksud gue Thoriq dan Hanna,” cetus Ella yang segera meralat sebutan untuk Thoriq dan Hanna.
Qiara mengacungkan jempol. Ia lalu buru-buru menggandeng tangan Marianne untuk masuk ke lokasi ijab qabul.
Dhanu sudah duduk di meja ijab qabul. Mengenaikan tuxedo creme. Gagah sekali. Marianne tersenyum menatap calon suaminya. Qiara menggandeng Marianne untuk duduk di samping kakaknya.
Dhanu berdiri menyambut Marianne, menarik kursi untuk calon istrinya. Kemudian ia memeluk Qiara.
“Dek, doain Mas, ya,” bisiknya. Ia kemudian menatap netra adik satu-satunya.
“Mas, teruslah saling mencinta. Jangan biarkan siapapun masuk di antara kalian, apapun alasannya. Muliakanlah istrimu, jadilah imam bagi keluargamu. Janji, ya, Mas,” pinta Qiara sambil menatap Dhanu dalam-dalam.
“In syaa Allah Qia. Mas juga akan terus jaga kamu walau sudah menikah.”
“Sssh, Mbak Marianne dan Rama sekarang lebih penting. Mas Dhanu udah jagain Qia dari kecil. Sekarang waktunya Mas Dhanu menjaga istri dan anak Mas.” Qiara mencium pipi kakaknya lalu duduk di area keluarga. Menunggu saat paling sakral, saat sebuah ucapan menjadi ikrar.
Qiara teringat saat dulu Thoriq dengan tegas mengatakan ijab qabul untuk menerima nikah dan kawinnya. Matanya menghangat. Sabrina melirik ke arahnya.
“Move-on, Qia. Kamu harus bahagia. Kamu akan bahagia. Ada bayi yang selalu menjadi buah cintamu,” bisik Sabrina sambil memegang tangan Qiara.
Tersenyum dan mengangguk, Qiara menghapus bayangan Thoriq. Ia mendengar kakaknya mengucapkan ijab qabul dan resmi menjadikan Marianne sebagai istrinya.
Sebuah pesta sederhana namun meriah diadakan untuk merayakan ikatan suci antara Dhanu dan Marianne. Rama sangat bahagia karena kini ia memiliki ayah yang bisa menemaninya main bola, berenang, main game. Anak itu dengan bangga memanggil Dhanu dengan sebutan Papa.
“Gaes, kita foto tangan yuk, tanda persahabatan kita makin erat sekarang dan selamanya,” ajak Alya.
Keenam sahabat membuat lingkaran dengan tangan mereka. Fauzan naik ke atas kursi untuk memotret.
“Forever besties!” Keenamnya berseru, membuat semua tamu menoleh dan ikut merasakan kehangatan persahabatan.
***
Thoriq baru bangun, setelah sholat Subuh, ia merasa sakit kepala. Hanna lagi-lagi memaksanya ikut ke pesta temannya. Hanna dengan perut membuncit tidak segan pulang larut untuk bisa hang out bersama teman-teman barunya.
Setiba di rumah, Hanna ingin mengajak Thoriq untuk bercinta, namun Thoriq terlalu lelah dan kepalanya mulai sakit. Ia langsung masuk ke kamarnya, mengindahkan Hanna yang terus memanggilnya.
Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Thoriq mengambil hape. Sebuah notifikasi dari akun media sosial muncul di layar. Notifikasi dari Alya, salah satu sahabat Qiara. Segera Thoriq membuka aku tersebut.
Foto sekumpulan tangan melingkar, namun hanya satu yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Tangan yang pemiliknya ia rindukan.
“Qia, Qia ini tangan kamu. Mas nggak akan pernah lupa.”
Segera Thoriq menelepon Alya. Ia akan memohon untuk bisa bicara sebentar saja dengan Qiara. Thoriq tersedu ketika nomor Alya non aktif. Dicobanya ke semua nomor sahabat mantan istrinya. Tidak ada satu pun nomor yang aktif.
“Qia, semoga kamu baik-baik. Mas selalu kangen kamu.”
__ADS_1
Thoriq mendekap erat hapenya, lalu merebahkan kepalanya ke bantal. Air mata mengalir perlahan. Laki-laki itu memejamkan mata erat-erat. Ia tak tahu mana yang lebih sakit, hati yang terus menerus memendam rindu atau kepalanya yang makin berdenyut.
***