Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Moving On


__ADS_3

Perjalanan ke Yogya sunguh canggung untuk Thoriq, Kala, dan Aira. Setelah yang terjadi di malam sebelumnya. Hanya Liam yang bersikap normal, menikmati cemilan lokal yang dibelinya sepanjang jalan.


Thoriq bolak-balik menengok Kala dari spion. Anaknya duduk termenung menghadap jendela. Entah apa yang ada di pikirannya. Aira juga diam saja, sekali-sekali menghela napas.


“Uncle Devan, tau nggak wisata goa yang seru dimana? Aku pengin ke sana. Di insta aku lihat banyak yang menarik. Waktu ke Swiss aku pernah diajak Daddy wisata ke goa es, seru banget. Kita bisa melihat proses alam yang pernah terjadi,” cerocos Liam sambil mengunyah kulit ceker garing.


“Ada beberapa goa, yang paling populer Goa Pindul. Kalau yang searah dengan tempat wisata kita adalah Goa Kiskendo dan Goa Kidang Kencana. Konon keduanya bersambungan.”


“Aya udah pernah?” Tanya Aira yang duduk di samping ayahnya.


Thoriq tersenyum tipis, di awal pernikahan, dirinya dan Qiara suka mampir wisata ke Yogya sebelum pulang kampung ke Solo. Mereka menyukai tempat-tempat wisata yang jarang dikunjungi. Masa itu, wisata goa belum trending.


“Alhamdulillah sudah.”


“Sama Tante Qia?”


Thoriq mengangguk, dalam hati heran kenapa Aira menanyakan hal itu. Putrinya tidak berkata apa-apa hanya kembali menatap keluar.


Liam mencari keterangan di internet lalu berkata, “Ke Goa Kidang Kencono aja yuk, kan katanya dekat dari Ayunan Langit Watu Jaran.”


Thoriq balik bertanya pada kedua anaknya, “Kala sama Aira gimana? Setuju nggak?”


“Kala nggak masyalah.”


“Aira ikut Mas Kala aja.”


“Aaiiirraaaa … nggak mau ngikutin aku, nih?” Tanya Liam dengan nada iseng. Yang dipanggil sok menjebik tapi di sudut bibirnya ada sedikit senyum. Celetukan Liam membuat suasana sedikit lebih cair.


Dari spion Thoriq melirik Liam yang dibalas dengan kedipan satu mata.


“Ya Allah, Qia, Mas doakan kamu tabah dan sabar menghadapi Love Guru satu ini.”


Mereka tiba pukul delapan pagi, Thoriq bersyukur karena sudah ada petugas yang jaga. Ia membayar tiket masuk dan tiket untuk naik ayunan.


Thoriq dan tiga remaja berjalan mengikuti jalan motor. Walau masih pagi tapi hawa sedikit gerah. Terlihat wajah Liam dan Kala memerah seperti tomat.


Beberapa kali mereka berpapasan dengan sekelompok remaja putri atau ibu-ibu muda yang terbengong dengan ketampanan Liam dan Kala.


Thoriq memerhatikan Liam dan Kala asik bercanda tak menghiraukan. Justru ia melihat Aira yang cemberut setiap mendengar komentar kaum hawa untuk Liam dan Kala.


Dengan penuh kasih sayang, Thoriq merangkul putrinya lalu menyium pucuk kepalanya. Putrinya sudah besar sekarang.


Mereka melewati jalan mendaki untuk sampai di tepi jurang. Kala, Liam, dan Aira mengagumi pemandangan perbukitan hijau. Langit biru jernih dengan awan beriringan. Rombongan burung terbang membentuk formasi dan berpindah dari pohon ke pohon.


“Tiang pinten, Pak?” Tanya petugas ayunan menanyakan pada Thoriq berapa orang yang akan naik.


“Tigo kemawon. Kulo mboten sah,” jawabnya menjelaskan hanya tiga remaja saja yang akan naik.


“Guanteng lan ayu, putro kalean putrine.”


Beberapa petugas sedang bergosip apakah Liam, Kala, dan Aira adalah artis-artis muda yang baru naik daun.


“Alhamdulillah … aman tho, Pak?”


“Njih aman, in syaa Allah. Sinten rumiyin bade naik?”


(Ya aman, in syaa Allah. Siapa dulu yng mau naik?)


“Aira mau naik duluan?”


“Nggak mau, Liam atau Mas Kala aja dulu.”


“Aaaiiiiraaa, ayo naik duluaaan,” Liam dengan mata jahil tidak pernah bosan mengganggu Aira. Yang diganggu hanya mencibir lalu mepet ke ayahnya minta perlindungan.


“Oke, aku dulu, ya, Uncle. Kala fotoin aku yang banyak,” titahnya lalu memberikan hape kepada adiknya.


“Ay ay …” Kala lalu mengambil posisi untuk mendapatkan angle terbaik.


Ayunan yang dipasang setinggi 800m dari dasar jurang memang menantang adrenanalin siapapun yang menaikinya.


Setelah petugas memasang alat pengaman, Liam diminta duduk ke ayunan. Laki-laki baru gede itu cengar-cengir sebelum petugas melepas ayunan.


“Wuiii… wuiii…” Liam kegirangan ketika ia mengayun melewati batas tepi jurang.


“Aaaah this is amazing! Wuiiii …”


Beberapa orang pengunjung ikutan mengambil foto remaja bule yang keasikan sendiri. Thoriq memerhatikan Aira yang berusaha untuk tidak melihat Liam. Agaknya usaha Aira tidak berhasil karena ia malah tidak berkedip menatapnya.


“Ai, jangan bengong, ah.”


“Aira nggak bengong, biasa aja keleus,” ucap anaknya dengan judes lalu mendekati Kala yang sibuk mengambil foto-foto.


Kala tertawa cengengesan sambil terus menekan jempolnya ke bulatan putih di layar hape Liam.


“Ai liat deh tiap Liam mengayun maju, rambut depannya naik kayak burung kakak tua.”

__ADS_1


Aira ikutan terkekeh.


“Aku fotoin tiap dia maju aja.”


“Eh jangan nanti Liam marah.”


“Nggak ding, aku udah ambilin yang dia ganteng kok. Nih …” Aira melihat foto Liam yang sedang tertawa kegirangan, tiba-tiba hatinya berdesir. Rasa asing yang belum pernah dialami.


Karena bingung, Aira berlari memeluk ayahnya.


“Ayaaa …”


Thoriq mengelus belakang kepala Aira yang menyembunyikan wajah ke dadanya.


“It’s normal Aira. Nggak apa. Tapi yang jelas, Aira harus tetap jaga pandangan karena bagaimana pun Liam bukan mahram kamu. Tetap pakai kerudung di rumah, jangan ngobrol berdua. Kalau mau ngobrol harus ada Aya dan Mas Kala.”


“Aya apa sih, orang Aira nggak kenapa-kenapa juga,” balas Aira dengan suara merajuk menutupi rasa malunya.


“Iya, iya, tapi ingat pesan Aya. Dan ini berlaku buat semua cowok yang bukan mahram ya,” imbuh Thoriq dengan lembut namun penuh penekanan.


Aira mengangguk, masih membenamkan wajah di dada ayahnya.


Setelah ketiganya naik ke ayunan, mereka mampir ke sebuah warung. Ketiganya memesan es teh manis dan cemplon. Kala dan Liam penasaran dengan tiwul. Kala menyukai namun Liam tidak terlalu. Tapi anak itu konsekuen dan tetap menghabiskan bagiannya.


“Ai aku ambil foto kamu nih.” Liam menggeser layar hapenya. Serangkaian foto Aira dengan ekspresi konyol tertangkap oleh kameranya.


“Liam! Jelek! Hapus!”


“Nggak mau, Aaiiiiraaa.” Yang disuruh malah terkekeh lalu menyimpan hape di saku celananya.


Aira menatapnya marah tapi tidak berani bertindak lebih jauh.


“Aya! Liam …”


“Udah, nanti juga Liam akan hapus, ya kan?” Thoriq menatap dalam-dalam netra Liam sehingga mau tak mau remaja itu mengangguk.


Mereka semua tidak ada yang tahu jika Liam juga mengambil banyak foto Aira yang tertawa ceria dan nampak cantik. Love Guru itu memilih menunjukkan sifat jahil dan menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.


***


“Astaghfirullah, pakai jatuh pula jamku,” keluh Hanna yang sedang berdiri di roof top sebuah rumah sakit. Dilihat jam pemberian ibunya tergeletak di dak beton di bawah roof top.


Hanna membungkukkan badan berusaha menggapai dengan sapu yang ditemukan. Ia terus menggapai dan menggapai hingga tiba-tiba merasa pinggangnya ditarik.


“Awas jatuh!” Seru orang itu.


“Heh, ngapain pegang-pegang, hah? Mau cabul, ya?” Hanna memakai sapu sebagai senjata untuk memukuli si pria yang kebingungan plus kesakitan kena gagang sapu.


“Ukhti, ukhti, stop! Saya bukannya mau cabul.”


“Halah, laki-laki itu pikirannya kotor semua.”


“Ukhti kali yang pikirannya kotor ngeliat saya,” seru si pria ojol tadi tak kalah keras.


“Innalillaahi! Kamu awas heh!” Hanna mengacungkan sapu lalu mengejar pria yang berusaha kabur.


Si pria tadi akhirnya berhasil lari menuju tangga dan menghilang.


Hanna membenahi kerudung, cadar, dan gamisnya lalu kembali berusaha mengambil jamnya. Setelah beberapa kali, usahanya berhasil.


“Alhamdulillah, ternyata kaitannya mulai kendur. Nanti kalau aku gajian aku harus ke pasar buat ganti,” gumam Hanna sambil memperbaiki jam tangannya agar tidak terlepas lagi.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh kirang lima belas menit, artinya wawancara dengan asisten administrasi rumah sakit akan dimulai dalam seperempat jam ke depan.


Sudah sebulan Hanna tinggal di pesantren. Belajar mengenai agama, berdiskusi, dan beribadah menjadi rutin yang sangat ia nantikan setiap hari.


Wanita berusia tiga puluh dua tahun tidak mau lagi salah langkah.


Ia pun memutuskan memakai gamis dan cadar untuk semakin memantapkan hatinya.


Ustadzah Nurlaila atau yang biasa dipanggil Ela sangat senang dengan kehadiran Hanna karena mengingatkan pada putrinya yang meninggal dalam kecelakaan beruntun di tol bersama ayahnya.


Walau dipersilakan untuk tinggal secara gratis bersama Ela, bukan berarti Hanna ingin memanfaatkan keadaan. Saat tidak belajar maka ia bekerja sebagai bagian administrasi pesantren.


Di sana Hanna merapikan semua data siswa pesantren sehingga mudah diakses oleh guru-guru. Hanna sering menertawakan dirinya yang dulu sangat terobsesi dengan Thoriq hingga melupakan cita-citanya untuk jadi wanita mandiri.


Dirinya lulus dengan nilai terbaik di bidang administrasi niaga. Sekarang Hanna ingin mempraktekkan ilmu yang masih diingatnya.


Hanna butuh penghasilan. Dari salah seorang guru ia mendengar rumah sakit di kota butuh tenaga honorer untuk bekerja tiap hari Minggu. Setelah minta ijin Ela, Hanna mengirim surat lamaran.


Hari ini ia akan diwawancarai oleh asisten bagian purchasing. Sedikit gugup, Hanna kantor pengelola rumah sakit di lantai enam.


“Selamat siang, saya ada janji wawancara dengan Pak Dicky,” sapanya pada penerima tamu.


“Anda dengan Ibu Hanna Andini?”

__ADS_1


“Betul, Bu.”


“Baik, silakan ketuk pintu nomor tiga dari kiri.”


Hanna mengangguk, setelah mengicapkan basmallah ia mengetuk pintu.


“Masuk,” jawaban dari dalam ruangan.


“Selamat siang saya Hanna … innalillahi wa innailaayhi roji’uun.” Hanna menatap nanar pada pria yang baru membuka jaket ojol. Pria itu juga refleks mengucapkan kalimat yang sama.


Berdehem untuk memecah kecanggungan Dicky berkata, “Baiklah, ternyata kita saling menganggap masing-masing sebagai musibah. Apakah kita akan lanjut atau …”


“Maaf, Pak. Lanjut, lanjut.”


“Supaya kita clear tolong buka pintu lebar-lebar sehingga kamu tidak menyangka saya akan berbuat cabul. Saya nggak nyangka loh kata itu masih dipakai di jaman milenial.”


“Sekali lagi maaf, Pak. Tadi saya benar-benar pikir Bapak mau mengerjai.”


Dicky menggelengkan kepala.


“Nih.” Dia menunjukkan foto dirinya beserta istri dan dua anaknya.


“Kalau saja Bapak tau, dulu saya pernah harus melayani banyak pria yang sudah beristri,” gumamnya dalam hati. Hanna tak sadar bergidig mengenang masa lalunya yang pahit.


“Bergidig, kenapa?”


Hanna tak menyangka pria di depannya ini memperhatikan dan memiliki mulut nyinyir.


“Enggak, Pak. Ada kenangan masa lalu yang tiba-tiba muncul. Nggak ada hubungan sama Bapak.”


“Ooh, ya sudah silakan duduk.”


Hanna mengikuti perintah Dicky. Ia menundukkan pandangan.


“Jadi baru sebulan keluar dari lapas?”


Terkesiap, Hanna meneguhkan dirinya untuk menerima cap yang pasti akan dibawanya kemana pun ia pergi. Mantan napi.


“Betul, Pak.”


“Berat juga kasusnya, ya.”


Tenggorokan Hanna mendadak terasa kering.


“Begitulah Pak, dulu saya bodohnya kebangetan, saya menghalalkan banyak cara buat cari kebahagiaan. Saya bayar dengan sepuluh tahun di penjara, tanpa ada pengurangan hukuman.”


“Terus sekarang udah insyaf? Yakin?”


“Saya masih berupaya, Pak. Mohon doanya.”


“Ih ngapain?”


“Jika kita mendoakan orang lain untuk kebaikan, maka in syaa Allah malaikat juga akan berdoa untuk kita, Pak.”


Dicky menatap mata Hanna yang tidak pernah langsung menatapnya.


“Ya sudah, cukup interview untuk hari ini. Nggak ada pengalaman kerja, aapa juga yang mau ditanya. Nanti dikabari.”


“Terima kasih atas waktunya dan sekali lagi maaf saya sudah menuduh Bapak sebagai pria cabul, wassalamualaykum.”


“Waalaykumussalam.”


Keluar dari rumah sakit, Hanna merasa haus. Pertanyaan-pertanyaan tadi sangat menyubit perasaannya. Tanpa tedeng aling-aling Dicky menyasar kelemahannya.


Siang itu matahari cukup terik. Hanna mengintip dompet, uangnya tinggal sepuluh ribu. Hanya cukup untuk ongkos pulang ke pesantren padahal ia haus setengah mati.


“Ah sudahlah daripada harus pulang jalan kaki.”


Di pengkolan ia menaiki satu ojek setelah tawar menawar cukup sengit. Penuh harap segera mendapat kabar baik dari pihak rumah sakit.


Tiba di pesantren, Ela sudah menunggunya dan langsung mengucapkan salam.


“Nak, makan dulu, kamu pasti lapar dan haus. Ibu sudah masak pecel lele dan sayur lodeh. Sederhana aja, tanggal tua,” ucapnya sambil terkekeh.


“Maa syaa Allah, makasih ibu.”


Sambil menikmati hidangan makan siang, Ella berkata, “Dua minggu lagi ada tiga santriwati mau masuk. Kamu tolong siapkan semuanya ya. Berkas-berkas mereka ada sama Bu Ruqoyyah.”


“In syaa Allah, Bu.”


Setelah makan, Hanna membersihkan piring-piring lalu menuju ke kantor administrasi pesantren.


Bu Ruqoyyah memberikan berkas santri pindahan yang akan masuk dua minggu ke depan.


Tangan Hanna gemetar ketika membaca satu nama yang pernah ia singkirkan dari hatinya: Kamelia Aira Putri Thoriq.

__ADS_1


***


__ADS_2