
Dua hari lagi adalah pesta pernikahan Thoriq dan Hanna. Tak bisa diungkapkan betapa hancur hati Qiara.
Walaupun Thoriq sudah minta ijin seminggu ini untuk bersama Hanna, namun suaminya selalu mampir ke rumah menemuinya sebelum ke apartemen.
“Qia …”
Thoriq menatap istrinya yang termenung selepas mereka sholat maghrib berjamaah. Hatinya teriris melihat sorot mata yang menanggung luka.
“Qia sanggup nggak ya Mas?”
Thoriq mendekat dan memeluk istrinya.
“Qia, Mas tau permintaan Mas ini sangat berat. Tapi tolong jangan tinggalin Mas.”
“Qia takut Mas akan tinggalin Qia. Kamu bilang belum ada rasa apa-apa untuk Hanna. Lama-kelamaan rasa itu akan timbul.“
Thoriq menghela napas menyetujui perkataan Qiara. Memang saat ini dia belum merasakan apa-apa. Perasaan pada Hanna hanya sebatas tanggung jawab. Namun lama kelamaan, apalagi mereka sudah berbagi ranjang, pasti akan timbul rasa sayang.
“Seperti yang kamu bilang. Kita hadapi hari demi hari dengan menjaga perasaan. Mas minta maaf jika acara Mas akan menyakiti kamu.”
“Qia nggak tahu apakah akan sanggup hadir. Qia nggak kuat seperti tokoh-tokoh perempuan di novel yang sanggup menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain.”
“Mas mengerti. Qia, besok Mas nggak ke sini, ya lalu Mas juga minta ijin untuk pergi sama Hanna setelah pesta. Hanya dua hari. Setelah itu dua minggu ke depan, Mas akan sama kamu.”
“Yaa Allah, sakitnya harus berbagi suami,” jerit Qiara dalam hati.
Qiara mengangguk lemah. Menangis, mengamuk, dan memaki sudah tidak ada gunanya di titik ini. Malah akan menjauhkan Thoriq. Walau sakit namun berpisah dari suaminya lebih menyakitkan bagi Qiara.
Thoriq melirik jam. Ia berjanji untuk makan malam bersama Kakek, Nenek, dan Hanna.
“Mas harus berangkat Qia. Maafin semua yang terjadi. Mas cinta kamu Qiara Anjani.”
“Qia cinta Mas.”
Setelah membereskan alat sholat, keduanya berpelukan lama. Kemudian Qiara mengantarkan Thoriq masuk ke mobil. Qiara menatap mobil Thoriq yang meninggalkan rumahnya dengan perasaan remuk redam.
Setelah melepas suaminya untuk bersanding dengan wanita lain, Qiara memasak makan malam untuk dirinya. Sungguh berbeda, dulu ia akan memasak untuk dua orang. Thoriq sering membantunya di dapur sambil mengobrol tentang pekerjaan. Kini Qiara sendiri ditemani alunan murottal.
Berulang kali ia menghela napas, menepis rasa sakit. Tiba-tiba hapenya bergetar.
“Hai Cherish.”
“Bukain pintu, berat nih. Buruan!”
“Ha?”
“Ha ho ha ho. Buruan bukaan atau kita teriak teriak biar Pak RT lu yang galaknya setengah modyar itu ngamuk.”
“Bentaaar, bawel.”
Setengah berlari Qiara membuka pintu rumahnya.
“Surprise!” Pekik ke lima sahabatnya termasuk Marianne yang juga atasannya di kantor.
“Ya Allah, kalian ngapain ke sini?” Sapa Qiara kegirangan melihat sahabat-sahabatnya. Alisnya sedikit mengernyit melihat bebawaan mereka.
“Ya nemenin elu lah tsaaaay. Nggak akan ya kita biarin elu ngelewatin ini sendirian.”
Netra Qia mulai menghangat.
“Haish udah nggak usah nangis,” sela Alya tapi ia langsung memeluk Qiara disusul yang lainnya.
“Kita udah dapat ijin dari para paksu dan bos kecil untuk nemenin lu. Terus nanti Mas Dhanu akan gantian nemenin sampai Thoriq dateng.”
“Pokok dua hari ini kita akan seru-seruan. Life is a *****, but we are the …”
“Queen!” Jawab enam sahabat serempak.
Mereka menata barang di rumah Qiara yang nyaman.
“Qi, kalau gue renovasi rumah, lu jadi interior design, jangan lewat kantor lu. Maharani,” cetus Sabrina sambil melirik Marianne yang mencibirkan bibir.
__ADS_1
“Jangan bikin repot desainer andalan gue. Eh iya Qi, kayaknya lu ke Australi bulan depan. Mereka impress banget sama kerjaan lu, jadi mau lu liat proyek-proyek lainnya. Gile kayaknya tahun depan ada yang naik pangkat nih.”
“Aamiin,” jawab mereka serempak.
“Qi lu lagi mau masak? Nggak usah, ini kita bawa Nasi Goreng Kambing Kebon Baru. Terus Si Ibu Sehat Ella ini bawa salad segabruk.”
“Gue tadi mau masak teriyaki, yang simple-simple aja. Kalau perlu tambahan gakpapa dagingnya udah siap kok.”
“Nggak! Ini aja udah takut gendut,” jawab Cherish sambil mematut dirinya di cermin.
“Girls, dua malam ini, kita happy-happy aja. Di Netflix ada film Red Notice baru keluar kayaknya seru.”
Qia menggeluarkan peralatan makan dan menatanya di atas meja. Hatinya merasa terhibur dengan kehadiran sahabat-sahabatnya.
“Girls, makasi ya udah bela-belain ke rum.,”
“Oke oke, siapa mau makan?” Sela Cherish barbar memotong kalimat Qiara.
“Sialan lu, nyet,” balas Qiara.
“Gue cuma nggak mau ada monyet nangis, nyet,” balas Cherish lagi sambil mencibir namun bergerak memeluk sayang sahabatnya.
Malam itu mereka berenam menghabiskan malam dengan ceria. Walaupun luka masih menganga di hati Qiara namun kehadiran sahabatnya membuatnya lupa akan rasa sakit.
***
Hanna sedang sibuk bercerita tentang persiapan pesta pernikahannya. Beberapa kerabat akan datang dari kampung. Thoriq bolak-balik meneguk air putih.
Ingin menyalahkan Kakek dan Nenek yang membebaninya dengan amanah menjaga Hanna, tapi merekalah yang membesarkannya dengan penuh cinta.
Thoriq berusaha tersenyum dan menanggapi cerita Hanna dengan antusias. Namun semua serba dipaksakan. Hanna juga merasa kecewa akan sikap suaminya namun ia menafikan dan menganggap semua baik-baik saja.
“Mas, aku dah pesenin hotel. Kenapa kita nggak di Bali Cliff aja sih, itu hotel lagi viral.”
Thoriq menjawab, “Interdom ini juga hotel lagi viral. Kamu pasti suka karena tamannya bagus.”
“Iya sih, Hanna liat tiap kamar ada private pool,” balas Hanna sambil melirik nakal.
“Hanna, Kakek bisa bicara berdua dengan Thoriq?”
“Oh bisa Kek.”
Thoriq mengerutkan kening namun berdiri mengikuti Kakek yang mengarah ke luar balkon restoran.
“Thoriq, gimana perasaan kamu?”
“Bertahan dan masih hidup,” jawabnya miris.
“Thoriq!”
“Maaf Kek. Namun Thoriq tidak bisa menjawab baik-baik saja. Memang pengorbanan Thoriq pastinya tidak sebanding dengan pengorbanan dan kelelahan Kakek dan Nenek saat membesarkan Thoriq. Maka dari itu Thoriq bertahan.”
“Terima kasih. Kakek dan Nenek berharap, suatu saat hari hati kamu akan terbuka untuk Hanna dan kalian bisa hidup bahagia. Juga Qiara tetap bisa bahagia bersama kamu dan kehadiran Hanna.”
Thoriq mengangguk.
“Kamu kelihatan lelah.”
Thoriq memang lelah karena ia mengambil proyek lebih banyak untuk menghidupi dua istri. Ia tidak ingin memotong bulanan Qiara walau ia tahu gaji Qiara lebih dari cukup untuk menutup kebutuhan sebulan. Namun ia tetap menunaikan kewajiban sebagai suami.
“Masih adaptasi dengan semuanya,” jawab Thoriq singkat, tidak ingin membebani kakeknya.
“Beritahu Kakek jika kamu perlu tambahan. Kamu tahu perusahaan ekspedisi Kakek ini juga milik kamu. Ada hak kamu di sana.”
“Biarlah itu menjadi tabungan untuk anak-anak Thoriq ke depannya, Kek. Terima kasih atas tawaran bantuannya.”
“Sekali lagi Kakek dan Nenek minta maaf. Kami akan selalu mendoakan kebahagiaanmu.”
“Aamiin, terima kasih, Kek.”
Thoriq merangkul Kakek dan mengajaknya masuk.
__ADS_1
***
Pesta pernikahan Thoriq dan Hanna diadakan dengan sederhana namun tetap cantik. Thoriq mengenal beberapa wedding organizer yang membantunya membuat suasana ruang serba guna menjadi bak di taman bunga.
Hanna terlihat menawan. Kebaya berwarna gold yang senada dengan kerudung. Sementara Thoriq tampan dan berwibawa. Sebagian sudah mendengar kabar pernikahan kedua Thoriq. Ada yang mendukung dan mendoakan kebahagiaan mereka bertiga karena mereka juga mengenal Qiara. Ada yang mencibir.
Thoriq hadapi dengan sabar. Sementara Hanna menebar senyum, Thoriq beberapa kali menghela napas. Matanya memqadang ke seluruh ruangan. Ia tidak ingin Qiara melihat dirinya bersanding dengan Hanna di pelaminan, namun di lain pihak, hanya Qiara yang bisa menenangkan hatinya.
“Qia, semoga kamu baik-baik saja. Jagalah Qia ya Allah,” doa yang dirapalkan Thoriq selama hari- hari ia tidak bertemu Qiara.
Usai pesta yang diadakan siang hari, Thoriq dan Hanna langsung menuju bandara untuk menuju Bali.
Hanna terus menggandeng tangan Thoriq, tidak melepaskan sedikit pun. Wanita itu sungguh bersyukur menjadi istri Thoriq Aditya. Ia bertekad memberikan service paripurna buat suaminya di Bali. Berbagai model lingerie seksi telah dibelinya.
“Mustahil Mas Thoriq tidak langsung menerkamku.”
Setibanya di Bali mereka membersihkan diri lalu menuju tepi pantai untuk makan malam romantis. Tidak sepeti bersama Qiara, waktu Thoriq rela melewatkan berbagai acara hanya untuk bisa berduaan dengannya.
Hanna terlihat berseri-seri. Ia berusaha tidak memprotes suaminya yang nampak tertekan.
“Setelah malam ini, kamu akan lupa sama Mbak Qiara, Mas.”
Di kamar hotel, setelah shalat isya berjamah, Hanna mempersiapkan dirinya. Ia memakai lingerie tipis yang menampilkan aset-asetnya secara samar namun menggoda.
Perlahan ia keluar kamar mandi. Thoriq sedang berdiri menghadap jendela dan melihat pantulan istrinya.
Sebagai laki-laki matanya membola melihat Hanna. Kulitnya putih, gunung kembar yang menyembul, lingerie pendek yang hanya menutup setengah paha mulus. Tak terasa ada sesuatu di bawah sana yang mengeras.
Hanna jalan perlahan menuju suaminya.
“Mas, aku akan bahagiakan kamu malam ini.”
Hanna mengecup pelan bibir Thoriq, tangannya perlahan membuka kancing piyama suaminya, sambil sesekali memainkan bulu-bulu halus yang selalu menggodanya.
Thoriq yang awalnya bergeming atas ciuman Hanna mulai merespon. Hanna melepas piyama Thoriq, tangannya mengelus punggung kekar suaminya sambil mengarahkan ciumannya ke belakang telinga.
Naluri laki-laki Thoriq akhirnya terusik. Dengan penuh hasrat ia membawa Hanna ke tempat tidur dan membaringkannya. Netranya menatap wajah Hanna. Melihat ada keraguan Hanna langsung ******* bibir Thoriq. Menghilangkan keraguan di pria yang kini tak bisa menahan keinginan untuk memasuki istri keduanya.
Dua manusia bermain dengan penuh napsu. Hanna benar-benar membuat Thoriq melupakan Qiara. Gelombang kenikmatan diberikan bertubi-tubi pada suaminya tanpa jeda.
Thoriq pun akhirnya membalas setiap serangan yang dilancarkan Hanna. Ia menikmati tubuh wanita yang masih berusia dua puluh satu tahun. Tidak ada satu pun yang luput dari sentuhannya.
******* dan erangan memenuhi seluruh ruangan hingga akhirnya keduanya berbaring kelelahan.
Untuk pertama kali Thoriq mendekap tubuh yang telah memuaskannya. Mengecup keningnya. Hanna tersenyum penuh kemenangan saat Thoriq berbisik, “Hanna, Hanna.”
Keduanya jatuh tertidur setelah beberapa kali lagi melakukan pertarungan ranjang yang panas.
Dua hari mereka lewatkan untuk saling mengenal dan bergumul. Terkadang mereka berjalan bergandengan tangan di pantai. Hanya sebentar sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke kamar.
Hanna tahu begitu ia pulang ke Jakarta maka ia harus kembali membagi suaminya dengan Qiara. Namun ia yakin kini Thoriq juga menginginkannya.
***
“Mas, nggak bisa bilang sama Mba Qiara supaya malam ini kamu di sini? Semalam aja, please.”
“Nggak Hanna. Mas akan berusaha menepati janji buat kalian. Termasuk hari ini Mas udah janji ke tempat Qiara.”
Hanna memeluk suaminya dengan manja. Hatinya bahagia karena kini Thoriq juga sudah membalas pelukannya.
“Kamu hati-hati selama Mas nggak ada. Dua minggu kita ketemu lagi.”
“Iya Mas,” balas Hanna menahan gelombang cemburu yang membuncah.
“Assalamualaykum Hanna, Mas berangkat dulu.”
“Waalaykumussalam Mas.” Hanna mengantarkan Thoriq hingga ke depan lift. Di sana mereka kembali berciuman panas sampai Thoriq masuk ke dalam lift.
Begitu pintu lift tertutup, Hanna menyeringai lebar, “Tahap satu berhasil. Aku sumpahin Mba Qiara mens.”
***
__ADS_1