
Dhanu memeluk adiknya sebelum berangkat bulan madu.
“Adikku sayang, Mas doakan kebahagiaan kamu dengan Devan. Kita ketemu lagi bulan depan untuk resepsi di Melbourne, in syaa Allah …”
“Kakakku terzheyenk, makasi doanya buat adikmu yang cantik ini. Aku juga doakan kebahagiaan Mas Dhanu dengan Mba Marianne.”
Dua kakak beradik itu melepaskan pelukan dan saling memeletkan lidah satu sama lain. Mereka tertawa sambil terus bercanda khas kakak beradik.
Setelah puas, Dhanu beralih ke adik ipar yang usianya setahun lebih tua darinya.
“In-law, titip adik dan keponakanku.”
“In syaa Allah, Dhanu,” balas Devan lalu merangkul kakak iparnya.
Setelah berpamitan dengan Marianne dan Rama rombongan kecil itu berangkat menuju airport.
Devan menggandeng Qiara, satu tangannya menepuk pundak Jack, asisten yang tampak manyun.
“Smile, Jack, it’s a happy day …”
Jack mendelik, disambut dengan tawa Devan yang menyebalkan baginya. Pria mesum itu kemudian merangkul Qiara dengan erat.
“Happy day, happy day, lu enak bisa nyoblos, lha gue, ngangon anak,” sungutnya.
“Oom Jack, ngomong apa?” Tanya Kala.
“Ooh nothing, nothing, yuk ke mobil.” Jack menggiring Kala dan Liam sementara hatinya tetap mendongkol kepada tuannya.
Malam itu mereka akan terbang ke Switzerland. Jack tahu ini akal-akalan Devan mencari negara-negara yang beriklim dingin. Qiara tidak suka udara dingin, pasti tuan itu modus ingin memberi atau malah minta kehangatan dari istrinya.
Mereka melambaikan tangan ke keluarga Dhanu.
“Anne, kayaknya kita udah siap punya anak. Aku nggak mau kalah sama Devan dan Qiara.”
“In syaa Allah, siapa takut?”
“Tambah lima anak sanggup?”
“Tujuh pun aku sanggup.”
Rama mendengus mendengar obrolan tak mutu dari orang tuanya.
***
Setelah terbang hampir lima belas jam dan satu kali transit, mereka tiba di Zurich, Switzerland.
Walaupun musim panas, udara di sana tetap dingin. Setelah Qiara memasangkan jaket untuk Kala, kini Devan memasangkan jaket untuknya. Sengaja berlama-lama menaikkan ritsleting jaket istirnya. Taktik lama yang membuat Jack tiba-tiba merasa mual.
Liam dan Kala asik berlarian di bandara yang luas dan nyaman. Kala sudah tak sabar ingin bermain di resort dan belajar main ski.
Setelah Jack dan Devan mengurus bagasi dan imigrasi mereka naik mobil yang sudah disewa oleh Devan. Mereka akan istirahat semalam di kota Zurich sebelum besok berangkat ke St Moritz.
Wajah Kala terus menempel di kaca jendela, menikmati pemandangan yang tak biasa dilihatnya. Liam yang sudah beberapa kali ke Zurich bersama ibunya bertindak sebagai tour guide, menjelaskan tempat beli coklat dan permen enak serta toko mainan terbesar di kota itu.
Kala manggut-manggut mendengarkan penjelasan Liam yang sudah resmi jadi kakaknya.
Devan tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan Qiara. Tak sabar untuk kembali berduaan dengan istrinya. Walau nampaknya ia harus bersabar karena mengajak anak-anak bersama mereka.
__ADS_1
Ibunya menyebut mereka pasangan berani mati karena mengajak anak-anak, biasanya honeymooners tidak mau diganggu urusan apapun. Tapi Devan dan Qiara berpendapat mereka lebih baik mengadakan family moon, supaya bisa saling menyesuaikan.
Jack mengurus segala sesuatunya dengan efisien. Tak perlu waktu lama untuk check-in mereka kini berada di presidential suite hotel terbaik di Zurich.
Kala yang polos berulang kali mengucapkan kata ‘wow’ setiap ada hal yang membuatnya kagum. Sementara Qiara sibuk mengambil foto interior dari hotel yang mereka tempati.
“Qiara, now that you married my Dad, may I call you Buna? The way Kala calls you?”
“No! My Buna …” Kala yang diam-diam nguping langsung protes. Bagi bocil itu, Qiara adalah miliknya.
Qiara menggendong Kala.
“Jadi Kala bolehnya Kak Liam panggil Buna apa?”
Kala memainkan tali jaket ibunya, tak mau menjawab. Bibirnya menjebik tanda ia sedang tidak suka.
“Buna punya Kala …” Cetusnya lirih.
“Liam kan kakaknya Kala sekarang, bener nggak?”
Kala mengangguk, masih tak mau menatap Qiara.
“Jadi, kalau udah jadi kakak, boleh nggak manggil Buna?”
“Boleh …” Jawab Kala sambil melirik Liam yang cengar-cengir melihat polahnya.
“Liam boleh panggil Buna, tapi Buna harus tetap sayang Kala.”
“Yes …” ucap Liam sambil nyengir.
Kala menyandarkan kepalanya ke pundak Bunanya, tanda anak kecil itu masih merajuk. Ia menyembunyikan wajahnya. Qiara mengelus kepala anaknya yang sedang cemburu sambil menciumi pipinya.
Kepala Kala langsung tegak, dalam sekejap sudah merosot dari gendongan ibunya.
“Kala mau es krim.”
“Sama Oom Jack ya, terus langsung kesini buat makan siang,” sahut Devan melihat kesempatan berdua dengan Qiara.
Kala dan Liam langsung menarik tangan Jack menuju toko es krim di seberang jalan.
Devan menutup pintu sementara Qiara berjalan ke jendela.
“No … no … sini dulu.” Belum sempat Qiara menjawab bibir Devan sudah ******* bibirnya.
“Dev,” bisiknya ketika Devan sejenak melepaskan bibirnya sebelum kembali **********.
“Hmm?” Devan yang sedang menikmati tak mau membalas istrinya. Ia terus mengarahkan Qiara ke tempat tidur dan membaringkannya.
“Quickie?”
Qiara hanya pasrah ketika Devan sudah melepaskan pakaiannya dan kembali mereka bercinta. Dirinya pun menginginkan Devan. Walaupun singkat, keduanya merasakan kenikmatan dari permainan cinta mereka.
Devan lalu mengajak Qiara untuk mandi. Ketika Jack dan anak-anak tiba, Devan membuka pintu. Jack kembali mendengus kesal melihat tuannya hanya pakai baju handuk dengan rambut basah.
“Sempet-sempetnya,” gumam Jack.
“Buna mau es krim?” Tanya Kala dengan wajah celemotan menerobos masuk ke arah Bunanya.
__ADS_1
“Nanti Buna beli sendiri sama Daddy…” Qiara geli melihat wajah anaknya.
“Yes, kita makan es krim lagi nanti, Liam.”
Liam tersenyum penuh arti sambil menatap Daddy-nya yang langsung mendecak sebal.
“Tuan Devan, ijin ke kamar dulu. Makan siang akan diantarkan sepuluh menit lagi.”
Devan mengangguk. Mereka baru ada jadwal sore nanti untuk jalan-jalan ke danau.
“Bye, Oom Jack,” ucap Kala sambil melambaikan tangan.
***
Setelah makan siang yang nikmat, mereka semua beristirahat. Kala dan Liam tidur di satu kamar.
Devan sudah menunggu Qiara di kamar utama.
“Sini, Sayang,” ucapnya sambil menepuk kasur yang empuk.
Qiara naik ke ranjang dan langsung memeluk Devan.
“Thank you udah ajak aku ke sini. Zurich cantik banget.”
“Tunggu kalau malam, lampu-lampu kota dari kamar ini benar-benar menakjubkan.”
Tidak ada jawaban dari Qiara.
“No, way. Gak boleh tidur, Qiara bangun.”
“Dev, cape …”
“Sekali lagi aja, please Qia …”
Qiara tak tega menolak suaminya yang menatapnya dengan pandangan memohon. Devan langsung beraksi melihat persetujuan istrinya.
Pasangan baru itu kembali bergumul di balik selimut. Devan berulang kali membuat Qiara mendesah penuh kenikmatan. Tekadnya adalah membuat Qiara tergila-gila padanya.
Kini giliran Qiara memimpin. Devan menikmati setiap sentuhan dari jari-jari istrinya yang lembut. Menelusuri tubuhnya yang terbentuk sempurna. Mereka kembali mendaki puncak kebahagiaan untuk kesekian kali.
“You are amazing, Dev,” ucap Qiara yang masih terengah-engah.
“So are you, Qia Sayang. Kamu bener-bener bikin aku tergila-gila.”
“Jangan gila dulu, dong, aku masih pengin…”
“What, Qia?” Mata Devan menatap nakal.
“Kenapa kamu, Dev? Lemah?”
“Unbelievable …”
Tiga ronde dituntaskan oleh pasangan yang saling mendamba satu sama lain, hingga akhirnya mereka tertidur pulas.
***
Sebuah pesan dari Mario:
__ADS_1
Stella kabur, aku akan mengetatkan penjagaan.
***