Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Perjuangan


__ADS_3

Di sebuah hanggar private, Devan, Qiara serta anak-anak mereka berpamitan dengan Thoriq dan Kala.


Tidak biasanya triplets tidak berceloteh. Abby diam menggandeng Liam. Mata gadis itu sembab karena akan meninggalkan kakaknya ribuan kilometer.


Jangan tanya bagaimana perasaan Qiara. Dua malam dia tidak bisa tidur memikirkan Kala yang akan tinggal dengan ayahnya.


“Buna, bilang kalau nggak pengin Kala di Indonesia,” kata Kala sambil menatap netra Qiara.


“Aku nggak pengin Mas di Indonesia!” Sahut Abby setengah berteriak.


“Mas pulang sama kita!”


“Aku mau sama Mas Kala.”


Protes juga keluar dari kembar tiga yang kini mengepung Kala. Sementara Abby tersedu-sedu menangis dipelukan Liam.


Qiara berusaha untuk tegar. Ia tahu keinginan Kala untuk tinggal bersama Thoriq bukan sekadar ingin menemani. Kala ingin lebih dekat dengan ayahnya. Empat belas tahun ia bertemu hanya melalui video call dengan Thoriq.


“Qia, kamu yakin? Mas seneng Kala mau tinggal di sini, tapi kalau itu berat buat Qia, lebih baik Kala ikut pulang ke London.”


“Mas ikut pulang,” rengek Hayyan yang sudah menempel di kakaknya.


Qiara mengelus pipi anaknya. Kala bukan anak kecil lagi yang dulu selalu bermanja-manja. Jalan pikirannya sudah semakin dewasa. Walau Devan tidak pernah kurang memberikan kasih sayang dan bimbingan namun sudah saatnya Kala mengenal Thoriq tidak hanya sebatas melalui video call.


“Kamu baik-baik di sini ya, Sayang. Kala harus pandai beradaptasi dengan lingkungan di sini. Jaga sholat dan mengaji. Nurut sama Aya. Telepon Buna anytime. Buna … Buna sayang sama Kala.”


Qiara dan Kala saling memeluk erat. Ibu dan anak itu memang tidak pernah terpisah kecuali saat Kala diculik. Kala adalah sekolah bagi Qiara untuk menjadi seorang ibu. Kala mengajarkan kasih sayang tak bertepi dari seorang ibu kepada anaknya.


Enggan untuk mengurai pelukan, akhirnya Qiara menangkup wajah putranya. Matanya menatap lembut, mengamati putranya lekat-lekat.


“Buna loves you so much, Kala. Always, always remember that. We love you so much.”


“Kala juga cinta sama Buna.”


Qiara melepas Kala untuk kini berpelukan dengan Devan.


“Hey kiddo, I brought you into this world. You are forever my son. Call me anytime. I love you, you know that?” Devan berusaha menyembunyikan kesedihannya.


“Daddy …” Kala memeluk Devan dengan erat.


“Kala akan jalani semua pesan Daddy. Tunggu lepas SMA, Kala akan kuliah kedokteran di Inggris,” sambungnya.


“Daddy tunggu.”


Kini giliran Liam, dibalik sikap cool, remaja tujuh belas tahun itu menahan kesedihan.


“Kala, kita tidak punya hubungan darah, tapi kamu adalah adik aku, sahabat aku. Jujur aku nggak kebayang besok bangun tidur liat kamar kamu kosong. But, Bro, kamu harus wujudkan keinginan kamu. Aku akan dukung kamu seribu persen.”


Mereka melakukan toss yang biasa dilakukan. Lalu berpelukan. Tangan mereka saling menepuk pundak memberi semangat satu sama lain.


“Kids …” Kala memanggil triplets lalu duduk untuk menyamakan tinggi dengan mereka. Ketiganya langsung memeluk Kala. Tersedu-sedu menangis di pundak kakaknya.


“Jangan berantem terus, saling jaga, ya.”


“Nggak janji,” sahut Barran yang paling vokal dari ketiganya.


“Mas Kala, kalau aku nggak ngerti matematika gimana?” Tanya Hayyan sambil mengucek matanya.


“Video call me. Indonesia lebih cepat enam jam, Hayyan hitung aja waktunya, okay?”


“Kalau aku mau main badminton gimana?” Azka menjebik.


“Sudah saatnya kamu main lawan saudara-saudara kamu.” Kala mengacak rambut ikal Azka.


Terakhir Abby yang langsung menghambur ke pelukan Kala.


“Mas, Abby janji akan selalu bersihin figurine kamu semuanya. Mas yang baik-baik di sini. Abby pasti bakal kangen banget.”


“Makasih, Abby. Pokoknya Mas pulang, kamar harus rapih.”


“Ay ay, Captain.” Kala mencium pipi dan kening Abby. Mereka berjanji akan bertukar pesan sesering mungkin.


Co-pilot memberikan tanda bahwa mereka sudah mendapat ijin terbang.


Qiara beralih ke Thoriq.

__ADS_1


“Mas …”


“Mas akan selalu jagain Kala. In syaa Allah.”


Qiara mengangguk. Devan menyalami Thoriq. Sebelum masuk ke jet pribadi Devan, Qiara, dan anak-anaknya berpelukan. Entah kapan mereka bisa lengkap berkumpul lagi karena tahun depan Liam pun akan masuk kuliah.


Thoriq menatap mantan istrinya yang terlihat rapuh.


“Qia, Mas nggak akan kecewain kamu dan Devan. Kala akan selalu Mas jagain, in syaa Allah,” janjinya dalam hati.


Tak berapa lama, pesawat tinggal landas meninggalkan Thoriq dan Kala yang terus melambai hingga burung besi itu menjauh menembus awan.


***


“Selamat siang Bu Hanna,” sapa beberapa santriwati yang berpapasan dengan Hanna di lorong sekolah.


Santriwati paling belakang hanya mengangguk sekilas tanpa senyum, terus berlalu bersama teman-temannya.


Hanna menatap pungung santriwati itu hingga menuruni anak tangga menuju ruang kelasnya.


“Mama memandang kamu aja udah senang, Nak. Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan langkah kamu menuntut ilmu.”


Sudah tiga bulan Aira menjadi santri di pesantren. Seperti janjinya pada Thoriq dan Kala, maka Aira akan bersikap sopan pada ibunya namun tidak mau lebih dari itu.


Aira menganggap Hanna tidak lebih dari guru atau karyawan di pesantrennya. Ia mengaku sebagai piatu kepada teman-teman dan para guru hingga sampai ke telinga ibunya.


“Aira, sebegitu malunya kamu hingga kamu menganggap Mama sudah meninggal,” ratap Hanna dalam hati.


Dari semua hukuman yang diterima maka yang terberat adalah penolakan Aira. Hanna benar-benar berjuang sendiri. Thoriq juga sama acuhnya dengan Aira. Bukannya Hanna mengharapkan bantuan mantan suaminya, tapi setidaknya ia berharap bisa bertanya-tanya tentang kesukaan dan kebiasaan Aira.


“Jika ingin tahu mengenai anakmu, berusahalah. Kamu kan yang melahirkan Aira?” jawab Thoriq ketika Hanna menemuinya saat berkunjung.


Akhirnya Hanna mengamati Aira dari jauh. Saat makan siang, ia memerhatikan lauk apa saja yang menggugah selera Aira.


Pepes ayam dan ikan goreng kering adalah lauk kesukaannya.


Jajanan yang paling dicari adalah oncom goreng. Aira suka sarapan dengan potongan buah, baru setelah itu ia makan bubur kacang ijo.


Aira suka warna biru muda. Saat diijinkan keluar pesantren karena nilainya bagus dan setoran hafalan ayat Qur’an sudah sempurna, Aira memilih pakai kerudung panjang warna biru muda.


Sering kali Hanna iri dengan kehangatan Thoriq, Kala, dan Aira. Ia ingin bisa bercengkrama layaknya ibu dan putrinya. Itu saja harapannya, tidak lebih.


Seperti biasa, Hanna mengintip di ruang makan untuk melihat Aira sarapan bersama teman-temannya. Ia kelihatan ceria dan makan dengan lahap aneka buah potong yang disediakan.


“Bersabarlah, Ibu yakin Allah akan melembutkan hati anakmu.” Ustadzah Ella sudah berdiri di samping Hanna ikut melihat ke dalam ruang makan.


“In syaa Allah, Bu.”


“Hanna, di mejamu ada berkas Aira untuk ikut lomba tilawah di Malaysia bulan depan. Tolong persiapkan semuanya, ya. Dia sudah dapat ijin dari ayahnya.”


Hanna menyembunyikan rasa bangga dengan rasa syukur. Sebagai ibu bejat, dia masih dikaruniai anak sholihah.


“Oya, nanti kamu akan jadi pendampingnya.”


Mata Hanna terbelalak. “Bu, apakah tepat? Apakah ayahnya akan ikut? Hanna belum


bisa …”


“Harus bisa karena ini pekerjaan. Oya proses juga aplikasi Latifah. Nanti Dicky juga akan ikut menemani. Para orang tua akan cari akomodasi dan transportasi sendiri. Kita hanya urus santri-santri. Berikan jadwal ke santri agar bisa kasih kabar ke ayah-ayah mereka. Jangan terlau cemas, Ibu juga akan ikut.”


***


“Aira, Latifah, ini adalah schedule kita di Malaysia.”


Seminggu setelah percakapan dengan Ella, Hanna memanggil dua siswa yang akan mewakili pesantren untuk lomba di Malaysia.


“Terima kasih, Bu,” sahut Latifah sambil tersenyum ramah. Aira menerima dan hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekilas.


“Tolong sampaikan ke ayah dan paman kalian sehingga bisa menyesuaikan jam ke berangkatan dan pulang. Karena ini urusan sekolah di sana kalian tidak boleh menginap bersama orang tua.”


“Saya sekamar sama Latifah, kan?” Aira bertanya dengan nada dingin. Hanna tahu ini cara anaknya memberitahukan bahwa dia tidak mau sekamar dengan ibunya.


“In syaa Allah, Aira.”


“Yes, yes!” Seru Latifah yang umurnya dua tahun lebih muda dari Aira.

__ADS_1


Hanna dan beberapa petugas administrasi tersenyum. Latifah memang sangat ekspresif, menurut orang-orang sifatnya sama persis dengan mendiang ibunya.


“Kami balik ke kelas ya, Bu Hanna. Ayo, Kak Aira. Aku seneng banget kita di Malaysia bisa sekamar. Ini pertama kali aku ke luar negeri,” celoteh Latifah sambil menggandeng Aira.


Hanna memerhatikan anaknya yang hanya menggangguk padanya dengan pandangan dingin, tanpa senyum.


***


Beberapa hari setelah Latifah menyampaikan jadwal keberangkatan dan susunan acara di Malaysia, Dicky melihat ke aplikasi pencari tiket dan akomodasi di ruang prakteknya. Ia menghela napas.


Ia kembali menggulir ke bawah di layar hapenya, mencari tiket termurah pulang pergi. Ini adalah pertama kali bagi Latifa untuk pergi ke luar negeri dan Dicky masih belum nyaman membiarkan keponakannya pergi sendirian tanpa dirinya.


Tidak ada yang menyangka kehidupannya sebagai dokter spesialis sangat jauh dari cukup. Bukannya ia tidak punya pasien, Dicky adalah dokter spesialis kulit dan kelamin yang memperdalam juga tentang kecantikan. Di kalangan ibu-ibu, ia cukup sukses membuat kulit mereka glowing.


“Bismillaah, rejeki Allah yang kasih. Semangat!”


Dicky membeli tiket kereta Semarang-Jakarta, lalu ia akan menunggu di airport. Akhirnha ia membeli tiket termurah dengan jam penerbangan pukul tiga pagi dan tiba kurang lebih waktu subuh.


Setibanya di Kuala Lumpur ia akan menunggu di airport hingga bisa masuk ke hotel yang dipesan agak jauh dari tempat lomba. Harganya jauh lebih murah dari hotel yang dipesankan pesantren untuk keponakannya. Ia bisa naik MRT atau bis menuju tempat lomba.


Setelah selesai memesan, Dicky melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia mengambil jaket ojol dari lemarinya lalu menyalakan aplikasi menerima pesan antar.


Dicky bersyukur malam itu orderan ramai. Tidak ada yang menyangka bahwa orang yang mengantarkan paket-paket mereka adalah seorang dokter spesialis.


Hingga pukul dua belas malam, Dicky memutuskan untuk pulang karena besok pulul tujuh pagi sudah harus berada di rumah sakit.


Ia masuk ke rumah kontrakan yang tidak terlalu besar. Biasanya ia akan menengok ke kamar Latifah dan Fatimah sebelum membersihkan diri dan tidur.


Setelah Latifah dan Fatimah tinggal di pesantren, rumah terasa sangat sepi. Ia merebahkan tubuhnya dan melepas penat.


Sebuah pesan masuk:


Besok transfer sebesar lima juta rupiah. Bulan lalu Anda kurang bayar. Jika masih mundur maka saya aktifkan lagi bunga atas bunga dan denda perhari.


Dicky menghela napas lalu membalas:


Baik.


***


\~Flash back on\~


“Oom Dicky, Latifah dan Fatimah tinggal dimana?”


Dua keponakannya menangis tersedu-sedu di depan makam ibunya yang meninggal bersama korban kecelakaan bis di jalan tol.


“Latifah nggak mau pisah dari Fatimah, Oom,” isak Latifah di pundaknya.


Dicky menatap makam kakak satu-satunya. Dirinya baru lulus menjadi dokter spesialis setelah mendapat beasiswa dari sebuah yayasan.


“Jangan khawatir Oom akan jagain kalian.” Dicky memeluk keponakan-keponakannya.


Ayah mereka kabur entah kemana setelah Latifah lahir. Kakak Dicky, Aisya adalah seorang dokter gigi sehingga masih bisa menghidupi anak-anaknya. Hanya saja Dicky heran karena kakaknya hidup di garis batas yang sangat pas-pasan sebagai dokter gigi.


Beberapa hari setelah Aisya meninggal, rumahnya didatangi kakak dan adik suaminya. Mereka menunjukkan sertifikat rumah atas ayah mereka lalu minta Dicky dan keponakan-keponakannya pergi.


Mereka berkata selama ada Aisya, mereka rela rumah itu ditinggali, namun setelah Aisya meninggal maka mereka ingin menjual rumah peninggalan ayah mereka.


Dicky berusaha mempertahankan demi keponakan-keponakannya, namun sertifikat bertuliskan nama ayah mertua kakaknya jauh lebih kuat. Mereka diberi waktu satu bulan untuk mencari tempat tinggal baru.


Belum hilang keterkejutannya, serombongan debt collector datang menyatakan bahwa kakak iparnya memiliki hutang satu milyar dan Aisya sudah melunasi setengahnya.


Kepala Dicky terasa berdenyut. Setiap bulan ia harus menyicil lima belas juta rupiah. Sistem bunga berbunga membuat hutang kakak iparnya terus menggunung. Kini ia paham mengapa kakaknya hidup sangat sederhana untuk ukuran dokter gigi.


Dicky tidak punya pilihan. Aisya hanya memiliki sedikit tabungan. Pria itu menyanggupi untuk membayar cicilan dengan persyaratan tidak ada bunga berbunga. Atau ia akan membongkar semuanya secara viral. Pemberi hutang akhirnya setuju dan membuat perjanjian hitam di atas putih.


Yayasan yang memberi beasiswa memberi rekomendasi padanya untuk bekerja di rumahbsakit setempat. Sebagai dokter spesialis muda dengan gaji belum seberapa, Dicky menghidupi dua keponakannya, membayar cicilan, dan kontrakan. Ia mengambil tambahan pekerjaan sebagai pengawas bagian purchasing serta sebagai driver ojol di malam hari selepas praktik di rumah sakit.


\~Flash back off\~


***


Hallo, maaf ya wiken kemarin sama sekali nggak up. Aku tepar setepar teparnya. Jangankan nulis, bangun aja susah. Alhamdulillah sekarang udah sehat lagi, moga bisa up rutin 😉😉😉


Sehat-sehat semuanya..

__ADS_1


***


__ADS_2