
“Assalamualaykum Mas Dicky, ini Warto, masih ingat mboten? Saya kerja di toko material Pak Mardi almarhum.”
“Waalaykumussalam, Pak Marto, ya saya ingat, dulu Bapak suka bantu di rumah juga, kan?”
“Njih, Mas.”
“Wonten nopo? Kok Bapak tau nomor telepon saya?”
“Saya nggak sengaja liat berita Mas cari-cari anak yang hilang lalu tanya-tanya ke studio. Nasib, Mas baru dibalas sekarang. Nyuwun sewu ini ada sesuatu yang urgent. Mas kan tau kalau toko material sekarang dipegang Bu Eliza? Suami Bu Eliza kabur bawa uang toko. Kami pun sudah berbulan-bulan tidak digaji.”
“Loh, tapi toko, kan, jalan terus, harusnya Eliza tetap bisa gaji pegawai, dong.”
“Nah itulah, semenjak dipegang Bu Eliza, toko udah nggak seperti dulu. Ibu tirinya Mas nggak jual material yang bermutu jadi banyak komplenan. Langganan pada pindah ke toko sebelah.”
“Astaghfirullah,” sahut Dicky menyayangkan karena toko itu dibangun dengan peluh dan pengorbanan kedua orang tuanya. Ia ingat di masa kecilnya sering membantu ayahnya di toko material.
“Pokoknya semenjak diserahkan ke Bu Eliza, kami ini tidak diperhatikan. Gaji sering terlambat, boro-boro rawat inap, rawat jalan aja tidak diganti. Jauh berbeda dari waktu dikelola Pak Mardi.”
“Lalu sekarang gimana?”
“Kami sudah laporkan Bu Eliza ke kantor polisi, tapi dia kenal orang-orang di kepolisian jadi kami cuma disuruh damai dan bersabar. Dia malah bilang tidak punya uang karena semua dibawa kabur Pak Daru. Sementara kami liat sendiri Bu Eliza dan Non Karenina minggu lalu baru pulang dari Hongkong abis shopping. Padahal kami sudah berbulan-bulan hidup dari hutang.”
Warto melanjutkan, “Kami bertahan di toko ini karena setia dengan Pak Mardi. Kami semua banyak hutang budi ke beliau. Berkat bantuan Pak Mardi anak-anak saya bisa sampai kuliah. Tapi sekarang kami mau berhenti, gaji kami masih ada di Bu Eliza.”
“Saya juga bingung mesti gimana, Pak,” jawab Dicky bingung. Semenjak ia dan kakaknya meninggalkan rumah, mereka tidak lagi tahu menahu mengenai perkembangan toko material.
“Saya mohon Mas Dicky mau membantu kami.”
“Saat ini saya belum kepikiran bagaimana caranya, coba saya pikirkan.”
“Terima kasih, Mas. Mungkin Pak Mardi hampir tidak pernah bicara dengan Mas Dicky dan Mbak Aisyah semenjak Bu Mariam meninggal. Tapi beliau bangga luar biasa sama Mas Dicky dan Mbak Aisyah. Setiap bertemu kolega, Pak Mardi selalu menceritakan tentang Mas Dicky, Mbak Aisyah juga cucu-cucunya.”
“Bapak? Bapak tau anak-anak almarhum Mbak Aisyah?”
“Almarhum? Mbak Aisya sudah meninggal, Mas? Innalillaahi wa innailaayhi rooji’un. Turut berduka cita, Mas. Kami di sini nda ada yang tau.”
“Udah lama, Pak, Mbak Aisya kecelakaan bis. Pak, Bapak tau Mbak Aisya punya anak?”
“Tau, Mas. Dulu sebelum toko diambil alih Bu Eliza, ruang kerjanya banyak foto Mas Dicky dan Mba Aisya sekeluarga.”
Dicky tercenung.
“Bapak sekalipun nggak pernah nemuin kami.”
“Bapak suka diem-diem, Mas. Kalau pulang dari Semarang pasti girang banget nunjukin foto-foto Non Latifah dan Non Fatimah. Katanya cantik-cantik kayak almarhumah Bu Mariam dan Mbak Aisyah.”
Dicky menghela napas panjang.
“Ya udah, Mas, moga-moga bisa bantu ya. Bu Eliza ini nduableg kaya tembok,” ujar Warto mengakhiri percakapan.
“In syaa Allah, coba saya pikirkan. Yang sabar ya Pak.”
***
Masalah toko material sempat terkubur di benak Dicky karena pasien-pasiennya. Ia menjadi salah satu bedah onkology handal di usianya. Dirinya banyak membantu pasien kanker dari stadium awal hingga lanjut.
Dicky memperlakukan pasien-pasiennya bagai dulu ia merawat ibunya. Janji yang ia pernah dibuat di depan Sang Ibu adalah menjadi dokter dan membantu banyak orang.
Sepulang kerja, Dicky disambut oleh Hanna dan anak-anak serta keponakan-keponakannya. Pria itu bersyukur Hanna tidak pernah sedikit pun membedakan antara anak-anak dan keponakan-keponakannya.
Latifah dan Fatimah pun sering bermanja-manja dengan Hanna. Kadang bertukar pikiran tentang bagaimana bersikap terhadap lawan jenis.
Hanna yang pernah tersandung, tersungkur, dan terjerembap memberikan nasihat sesuai muamalah dalam Islam. Terpenting ia mengingatkan bahwa bahagia di atas luka itu tidak akan pernah abadi.
“Assalamualaykum, Mas,” sapa Hanna sambil menggendong Rafathar dan Malika bergelantung di satu kakinya. Hanna berada di dalam rumah sehingga tidak memakai cadar dan rambutnya bebas terurai.
Dicky tidak mengerti bagaimana Hanna bisa tetap tampil memesona di tengah riuh rendah Malika dan Rafathar yang selalu heboh minta perhatian.
“Waalaykumussalam, Sayangku, Cantikku,” balas Dicky sambil memberikan tangannya untuk dicium oleh Hanna, Malika, dan keponakan-keponakannya.
__ADS_1
“Papa lebay,” celetuk Malika yang setelah mencium tangan Dicky langsung minta gendong. Begitulah Malika, Si Anak Papa, yang langsung anteng di pelukan Dicky.
Dicky menciumi Malika. Aroma minyak telon bercampur bedak bayi menguar lembut. Rafathar tak mau kalah, bayi enam bulan itu menggapai-gapai leher Dicky sementara Malika posesif tidak mau berbagi papa kesayangan.
Situasi heboh namun dinantikan oleh Hanna dan Dicky setiap hari. Biasanya berakhir dengan Rafathar yang merajuk. Untuk mengalihkan, bayi itu langsung disusui oleh Hanna membuat Dicky manyun di pojokan.
Ia menunjuk-nunjuk ke arah dada Hanna jika tidak ada yang melihat.
“Nanti malam, dua-duanya jatah aku,” bibirnya bergerak tanpa suara. Hanna hanya menggeleng melihat tingkah polah suaminya.
Latifah dan Fatimah mengajak Malika untuk bermain di taman belakang sehingga Dicky bisa membersihkan diri dan bersiap untuk sholat.
Setelah itu biasanya mereka akan sholat berjamaah. Hanna ikut sholat dan meletakkan Rafathar di baby bouncer. Sedari dini ia membiasakan Rafathar agar bayi itu terbiasa dan tidak menangis jika ditinggal orang tuanya untuk mendirikan kewajiban sholat.
Malika juga walau masih tidak berpola tapi selalu semangat dan mau berada di baris depan bersama ayahnya. Hanna memberikan pengertian bahwa perempuan harus di belakang laki-laki saat sholat berjamaah. Kadang sukses, tapi lebih sering Malika malah di depan ayahnya berlagak jadi imam.
Setelah makan malam, Hanna menyusui Rafathar hingga bayi itu tertidur. Jika Latifah dan Fatimah ada di rumah, maka Malika memilih untuk tidur bersama mereka. Permintaan yang membuat Dicky girang karena kini Malika punya kebiasaan baru. Bangun saat dini hari lalu minta pindah ke tempat tidur besar dan tidur memeluk Hanna.
Dicky tidak bisa tidur tanpa memeluk istrinya. Lekuk dan aroma tubuh Hanna saja sudah jadi candu, apalagi aset kembar dan bibir. Hanna sudah tidak ada hak di sana jika Dicky sudah berada di atas kasur bersamanya.
Setelah Rafathar tidur, Hanna keluar untuk membereskan rumah lalu bergabung dengan Dicky yang berada di teras, membaca kasus-kasus operasi keesokan harinya dari tablet.
“Sayang, aku lupa terus mau cerita sesuatu,” ucapnya seraya menutup tablet. Kisah kezholiman Eliza mengalir lancar dari mulut Dicky.
“Jadi mereka minta tolong Mas?”
Dicky mengangguk.
“Hati-hati, Mas. Eliza itu liciknya ngalahin ular. Kalau salah langkah bisa berbalik ke kita.”
“Kamu mau nemenin aku nengokin Toko Material?”
“Boleh aja, Rafathar bisa aku titip ke Bu Lastri, nanti aku pompa susu dulu buat stok.”
Mata Dicky langsung berbinar cemerlang.
“Aku aja yang pompai’in, yuk …”
***
“Sayang, itu yang Toko Material Berkah adalah milik Bapak dan Ibuku. Yang sebelah, Toko material Sumber Cahaya punya Babah Liong.” Dicky menunjuk ke dua toko material yang letaknya berdempetan di kota kelahirannya.
“Babah Liong itu sebel banget sama Bapak, karena dia dulu satu-satunya penjual material di sini. Maka dari itu seenak udel aja taro harga. Setelah Bapak jadi pesaing, dia langsung turunin harga. Kan orang jadi tau dong kalau selama ini dia jualnya mahal,” ujar Dicky sambil terkekeh.
Hanna mengangguk lalu mengamati ke dua toko itu. Sumber Cahaya dipenuhi pelanggan sementara Toko Berkah sepi hingga banyak pekerja yang nongkrong di luar memandang ke Sumber Cahaya dengan iri.
“Bapakku itu orangnya supel. Gampang ketawa, bawel. Di keluargaku cuma ibu yang pendiam. Lambat laun, Babah Liong akhirnya malah jadi sahabatan sama Bapak. Dia sempat marah ke Bapak waktu memutuskan menikahi Eliza,” tambah Dicky sambil termangu mengingat masa lalu.
“Rencana kamu adalah ketemu Babah Liong untuk tanya-tanya kondisi Toko Berkah?”
“Aku bahkan nggak tau kalau Babah Lion masih hidup atau tidak. Dulu aku kenal anaknya Ko Jeffri dan Ci Liliana. Moga-moga aja tokonya belum dijual.”
“Yuk, kita ke sana, mumpung pegawai Toko Berkah sudah pada masuk.”
Dicky dan Hanna berjalan masuk Toko Sumber Cahaya yang padat pembeli.
“Dicky, lu, Dicky anaknya Mardi?” Seru seorang tua yang duduk di kursi tinggi mengawasi toko begitu kereka melangkah masuk.
“Oom Liong! Iya saya Dicky,” serunya sambil melambai tangan. Babah Liong dengan gesit turun dari kursi tinggi.
“Waduh, lu orang apakabar? Ini siapa bini?” Tanyanya sambil menepuk-nepuk pundak Dicky. Hanna mengatup tangan ke dada dan dibalas oleh Babah Liong.
“Saya Hanna istrinya Dicky, Oom,” sahut Hanna.
“Istri lu kagak gila kayak istri mudanya Mardi kan? Gue dah bilang, perempuan kayak gitu jangan dipiara. Bapak lu aja bego,” bisik Babah Liong dengan ekspresi serius. Matanya melirik curiga ke arah Hanna. Di balik cadar Hanna tersenyum, walau dicurigai namun ia merasakan ketulusan dari Babah Liong kepada Dicky.
“Wah yang ini top punya, singada lawan,” kekeh Dicky sambil merangkul pundak istrinya. Sedetik Babah Liong masih menatap curiga ke arah Hanna lalu tersenyum ramah menyembunyikan mata sipitnya.
“Lu orang jaga ini ponakan gue. Kesian gue kalo inget hidup dia sama ibunya. Eh itu gue denger kakak lu udah meninggal?”
__ADS_1
“Bener, Mbak Aisya salah satu korban kecelakaan bis waktu desa tempatnya tinggal lagi tamasya.”
“Gue ikut sedih. Dulu, gue mau jodohin kakak lu sama si Jeffri biar bener dikit tu orang. Eh dia sekarang dapet bini galak. Lu denger suara merepet di belakang? Nah itu bini Si Jeffri. Rasain disuruh kerja terus …” Babah Liong terkekeh menertawakan nasib anaknya.
“Liong, dimana lu. Dasar laki-laki tua nggak guna bukannya ngawasin toko malah ngobrol-ngobr … loh lu Dicky anaknya si Mardi?”
“Iya Tante Wen Wen, apakabar?”
“Ya ampun ganteng banget! Wah dulu gue liat lu kecilnya telanjang-telanjang abis mandi di kali. Gue kasih tau ya, ini anak kecilnya susah bener dipakein baju. Si Iyam ibunya harus ngejarin keliling toko.”
Dicky tersenyum kecut sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Sementara Hanna susah payah menahan tawa.
Wen Wen melihat ke arah Hanna. “Bini lu, kan? Wah Dicky dah merit. Kota ngobrol di kantor Liong aja di dalem pake AC.”
Alis wanita berdarah Tionghoa yang masih nampak cantik di usianya berkerut megitu melihat Babah Liong mengikuti mereka.
“Sapa suruh lu ikut. Kerja ngawasin toko! Yuk Dicky, istrinya Dicky, masuk yuk. Enak ngobrol di dalem. Nanti Tante ambilin air.”
Sementara Babah Liong bersungut dan kembali menaiki singgasana untuk mengawasi toko.
“Nih pake botolan aja ye. Gue males nyuci gelas. Bininya Dicky namanya siapa?”
“Saya Hanna, Tante.”
“Gue seneng lu dapet cewek baek-baek. Dijagain suaminya ya. Waktu remaja, badan dia udah tegap gagah, itu yang doyan ma dia, bukan cuman anak sekolah, tante-tante juga ngelirik. Kalo dulu dia jagain toko, langsung yang beli ibu-ibu deh. Kagak tau beli apa semen berapa karung cuma buat liat dia aja,” tutur Wen Wen yang dengan sukarela membeberkan kisah masa kecil Dicky.
Hanna tersenyum sementara Dicky langsung meraih tangan Hanna dan meletakkan di atas pahanya.
“Duile, cinta bener,” celetuk Wen Wen yang tidak luput memerhatikan gerakan Dicky.
“Eh itu toko lu orang kenapa. Gue dengar pegawai kagak digaji sama Si Eliza?”
“Itulah Tante, saya dengar begitu dari Pak Warto.”
“Gila tu Eliza emang. Duit Bapak lu diabisin buat blanja-blenji sama anaknya. Terus itu siapa suaminya Eliza, Si Daru-Daru itu katanya nyolong duit toko. Lagi goblok, duit bukan disetorin malah taro di lemari besi.” Wen Wen berapi-api menceritakan kesebalannya terhadap Eliza.
“Dulu, gue sama Liong itu kesel banget pas Bapak lu buka toko di sebelah. Tapi Bapak lu baek. Dia dateng ke sini, sering ngobrol. Gue sama Liong banyak belajar terutama untuk dagang dengan jujur. Abisannya kita bertemen. Lu tau nggak dia bener-bener nyesel udah nidurin si Eliza itu.”
Dicky tersenyum kecut, baginya jujur dan menyesal tidak ada di kamus bapaknya.
“Tante, mengenai toko sebelah ada kabar apa lagi? Saya perlu tau kondisinya dari orang luar sebelum menentukan harus bantu dengan cara apa.”
“Pokok, waktu Bapak lu sakit, Eliza itu jadi pegang toko. Dia ambil di supplier kacangan. Ya adalah kayak cat sama keramik gitu dia ambil merek bagus, tapi lainnya jelek. Kayak semen dia ambil malah yang oplosan gak jelas gitu terus dibungkus keren. Harganya murah. Banyak kontraktor beli, yang ada diamuk kan karena adukannya jadi jelek.”
Wen Wen menggelengkan kepala. “Gue sih seneng karena langganan Bapak lu pindah ke toko ini. Hanya gue liat gimana dulu Bapak dan Ibu lu banting tulang bangun dan gede’in toko sebelah lalu gara-gara Eliza goblok itu semua jadi hancur.”
Dicky merenung, ia mengingat sering ikut truk Bapaknya mengantar berkarung-karung semen karena mereka belum bisa membawa supir.
“Jadi bener ya, Tante, emang toko bermasalah.”
“Toko lu kagak bermasalah, yang punya aja kagak waras! Gue kasih tau, ya, lu harus ambil toko sebelah kalau nggak mau bangkrut dan jerih payah orang tua lu sia-sia.”
“Padahal saya denger, Eliza masih punya banyak uang …” Dicky tidak sempat melanjutkan ketika Wen Wen menggebrak meja.
“Duit t*i kucing! Itu bukan duit dia! Eliza itu ngumpulin duit katanya investasi-investasi. Noh, Si Jeffri kena ratusan juta. Makanya Si Susan bininya kagak kasih dia kendor kerja buat ganti duit yang nyangkut. Masalahnya, Eliza itu punya deckingan. Nggak ngerti gue, apa pejabat polisi atau pejabat pemerintah. Yang jelas tu orang selamet terus dah.”
“Udah ada yang laporin, Tante?”
“Bukannya udah ada … udah sering! Ini pegawai sebelah ngelaporin malah dia dipecat dibilang provokator. Gue sama Liong nggak tega jadi ditampung dulu di sini sementara. Sekarang dua orang itu jadi tukang di kontraktor langganan gue. Terus masalah investasi, udah sering juga dilaporin, tapi ya gitu, kasusnya menguap.”
Dicky menggosok wajahnya memikirkan pegawai-pegawai Toko Berkah. Tadi ia melihat sebagian besar adalah wajah lama yang sudah bekerja sejak dirinya masih kecil.
“Mas … nanti kita pikirin bareng-bareng gimana caranya buat membantu pegawai-pegawai toko sebelah.”
“Zhalim banget Eliza itu …” Ucap Dicky dengan geram.
Wen Wen tersenyum.
“Gue ada sesuatu buat lu.” Wanita itu bangkit dan dengan gesit mengambil kardus di atas lemari. Ia mengeluarkan amplop berwarna hijau. Dicky mengenali amplop itu adalah amplop dari Toko Kain milik ibunya.
__ADS_1
“Dari Bapak lu. Dia pesen untuk kasih kalau lu datang. Gue cuma mau kasih tau, cinta Bapak lu itu cuma sama Mariam, Aisyah, dan elu, Dicky.”
***