
Seorang wanita mendorong trolley berisi dua koper besar keluar pintu kedatangan Bandara Tullamarine, Melbourne.
“Qiara … Qiara, there she is,” seorang wanita berambut pendek yang memiliki wajah sangat mirip dengan Marianne melambaikan tangan ke arah Qiara.
Qiara membalas dan mendorong trolley ke arahnya. Seorang pria Australia yang tadinya berdiri di samping wanita itu bergegas mendekati Qiara.
Dengan logat Australia yang kental ia menyapa ramah, “Hi, I’m Mark, Marianne’s step dad, nice to meet you and welcome to Melbourne.” Pria itu mengambil trolley dari tangan Qiara.
(Hai, saya Mark, ayah tiri Marianne. Senang berkenalan dan selamat datang di Melbourne.)
“Hi Oom Mark, I’m Qiara. Thank you and so sorry to bother you and Tante Melanie.”
(Hai Oom Mark. Saya Qiara, terima kasih dan maaf sudah merepotkan Anda dan Tante Melanie.)
“Nonsense! A friend of Marianne will always be a family of ours. Oh, just call us Mark and Mel.”
(Omong kosong! Teman Marianne akan selalu jadi sahabat kami. Oh ya, panggil kami Mark dan Mel saja, ya.)
“Qiara, akhirnya kamu sampai.” Melanie langsung memeluk Qiara. Mereka sudah mendengar cerita dari Marianne.
Qiara menangis dalam pelukan Melanie yang terus mengusap punggungnya. Walau disamarkan dengan make up tebal, lebam bekas tamparan Thoriq masih nampak, membuat Mark ingin terbang ke Indonesia dan menghajar laki-laki bernama Thoriq Aditya. Menurutnya laki-laki yang memukul perempuan tidak layak hidup.
“Menangislah sampai puas. Setelah itu stop, tegakkan kepala. Banyak kebahagian yang menantimu, Qiara.”
Melanie menuntun Qiara untuk duduk di bangku. Wanita itu masih menumpahkan emosi dalam tangisan. Melanie terus mengelus punggung Qiara.
Ibunda Qiara meninggal saat dirinya berumur dua tahun. Qiara lupa rasanya memiliki seorang ibu. Melanie menghadirkan kembali kasih sayang ibu bagi wanita yang tengah menanggung kepedihan mendalam itu.
Setelah puas, Qiara mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.
Melanie menangkup wajah Qiara.
“Sekarang, saatnya kamu menata lagi hidupmu dan bayimu. Semangat! Ada aku dan Mark yang akan membantu kamu. Oya juga Stephanie, saudara kembar Mark. Dia sudah tidak sabar bertemu kamu.”
Qiara mengusap wajahnya.
“Kalian begitu baik, padahal belum betul-betul mengenalku.”
“Kamu pasti orang baik, Qiara. Semua perilaku kita kepada orang lain, akan selalu kembali. Can you smile now? I want to see you smile.”
Qiara tertawa mendengar permintaan Mel, wajahnya kembali memerah, binar ceria mulai kembali di matanya.
“Thank you, so much …”
“Oh dear, ini adalah hal terkecil yang bisa kami lakukan untuk membantumu. Masalahmu sudah begitu berat. Ayo, sekarang kita ke apartemen yang akan kamu tinggali. Steph sudah menuggu di sana.”
Mark tersenyum lalu mempersilakan dua wanita itu berjalan di depannya sementara ia mendorong trolley menuju mobil.
Apartemen yang akan ditempati Qiara berada di pinggir kota Melbourne, di dekatnya ada halte bus. Mel memberi tahu nomor-nomor bus yang bisa membawa Qiara ke pusat kota.
Mereka melewati area pasar yang tertata cantik dan rapi. Juga kios-kios tempat belanja bahan keperluan sehari-hari.
Tidak berapa lama mereka berhenti di sebuah gedung apartemen yang cukup bagus. Qiara terbelalak, ia khawatir tidak bisa membayar uang sewa.
Seorang wanita berambut pirang sebahu dengan mata biru laut seperti mata Mark menyambut mereka.
“Finally, you came. Qiara, oh my God, you are so beautiful. Mark, get the lugage and bring upstairs.”
(Akhirnya kalian datang juga. Ya Tuhan, kamu sangat cantik Qiara. Mark, bawa koper-koper ke atas.)
__ADS_1
Mark hanya cengar-cengir mendengar titah kakak kembarnya. Ia memarkir mobil lalu menyusul wanita-wanita yang sudah menggandeng Qiara naik ke unit yang akan ia tempati.
Mereka tiba di unit 1009. Stephanie membuka pintu. Sebuah apartemen yang cukup mewah menurut Qiara. Letaknya di sudut menghadap ke pusat kota. Kaca-kaca besar sepanjang dinding menghadirkan panorama kota Melbourne yang cantik.
Perabotannya bergaya maskulin. Qiara yakin, pemilik apartemen ini seorang pria yang belum berkeluarga. Terdiri dari dua kamar, 1 kamar utama dan 1 kamar anak. Ruang tengahnya nyaman dan dapurnya besar.
“Mam, I can’t afford this,” ucap Qiara lirih.
(Nyonya, saya tidak sanggup membayar apartemen seperti ini.)
“No worries! My son, Geoff lives in London now. He is more than happy that you are gonna stay here.”
(Jangan khawatir, Geoff anak saya sekarang tinggal di London. Dia sudah sangat senang kamu mau tinggal di apartemennya.)
“Geoff sudah berhasil di London, ia tidak akan menarik sewa. Hanya kamu perlu membayar listrik, air, gas, dan maintenance,” sambung Melanie.
Qiara masih tidak bisa memercayai semuanya.
Stephanie mengajaknya duduk di sofa.
“Qiara, aku berharap kamu bisa kembali berdiri tegak setelah meninggalkan suamimu. Poor kid. Aku dan Mel akan membantumu, termasuk ketika kamu perlu memeriksakan kandungan. Di sini tidak perlu setiap saat ke dokter obgyn. Hanya kalau masalah saja. Untuk pemeriksaan kamu bisa ke bidan. Jangan khawatir, bidan yang bertugas di daerah ini adalah teman baikku.”
Mark membuka kulkas.
“Kami sudah menyiapkan juga makanan supaya kamu tidak usah masak. Tinggal panaskan saja. Istirahatlah hari ini. Besok Stephanie akan menemanimu berkeliling.”
Mel menambahkan, “Telepon Anne. Aku hampir gila dibuatnya, meneleponku tiap lima menit menanyakan kamu. Anakku yang bawel itu akan mengatur wawancara kerja dengan Mario, teman kuliahnya. Semoga kamu berhasil.”
“In syaa Allah. Terima kasih. Saya nggak tau akan bisa balas dengan cara seperti apa.”
“Be strong. Tidak mudah hamil tanpa suami. Percayalah, aku mengalaminya. Lihatlah ke depan. Masa lalu adalah kenangan, ingat yang bagus, buang yang buruk. Itu saja yang kami minta,” ujar Stephanie sambil mengelus tangan Qiara.
“Sepertinya kita harus pergi agar Qiara bisa beristirahat,” ucap Mark mengingatkan istri dan saudaranya.
Air mata terharu lolos dari mata Qiara. Sekali lagi ia memeluk Melanie. Setelah itu ketiganya beranjak dan meninggalkan Qiara untuk beristirahat.
Mark sudah meletakkan koper-koper di kamar utama. Qiara membuka lemari-lemari yang sudah dikosongkan lalu menyusun pakaiannya.
Ia berusaha membuang kenangan saat dulu dirinya dan Thoriq pindah ke rumah mereka dan berdua meletakkan pakaian-pakaian mereka di lemari. Pekerjaan sederhana namun Thoriq selalu mengganggu dengan ciuman dan sentuhan.
“Sedang apa kamu, Mas? Apa kamu merindukan Qia? Karena Qia kangen banget sama Mas,” gumamnya lirih.
***
Setelah beres menata segala sesuatu Qiara membersihkan diri. Segarnya air membasahi tubuh yang lelah. Tangannya meraba perut yang masih rata.
“Hello kiddo, it’s just you and Buna now. I hope someday you’ll get to know your Aya.”
\~Flash back on\~
“Qia, kalau nanti kita punya anak, mau dipanggil apa?”
“Aku dari dulu pengin banget dipanggil Buna kalo udah punya anak. Kalau Mas?”
“Ayah aja ya. Kan Ayah Bunda. Tapi kurang seru. Cari yang unik, mau nggak Aya dan Buna.”
“Ha! Lucu banget. Pasti nggak akan ketuker ya, Mas,” Qia membalas sambil tertawa kesenangan.
“Gemes banget sih, istri Mas … sini kamu.” Thoriq menarik Qiara ke dalam pelukan dan menciumi wajah istrinya.
__ADS_1
\~Flash back off\~
Qiara membiarkan air hangat terus membasahi tubuhnya. Berharap kenangan percakapan dengan Thoriq perlahan hilang bersama air yang mengucuri tubuhnya.
“Sayang, walau kita nggak bersama Aya, tapi Buna akan terus menceritakan tentang Aya ke kamu. Kita akan terus menyayangi Aya dari jauh.”
Begitulah Qiara, hatinya begitu lembut. Walau ia memilih menjauh tapi ia tidak mungkin membenci. Biarlah jarak dan waktu membentang antara Thoriq dan calon anaknya, tapi ikatan darah tetap kekal mengikat.
***
Malam hari, Qiara video call dengan Dhanu dan ke lima sahabatnya. Mereka semua lega Qiara sudah berada di apartemen yang lebih dari layak.
Qiara berulang kali mengucapkan terima kasih pada Marianne yang telah membantunya.
“No worries, mate!” Jawabnya dengan logat kental Australia. Mereka tertawa terbahak.
“Dek, terus gimana rencana kamu. Semua berkas sudah Mas Dhanu kirim ke Pak Reza. Kamu bilang ‘go’ dia akan mulai urus ke pengadilan agama.”
Qiara termenung, jantungnya berdegup lebih cepat. Berulang kali ia menghela napas untuk memantapkan diri.
“Bismillaah, Qia yakin ingin pisah, Mas. Tolong bilang ke Pak Reza untuk mengurus. Tolong dirahasiakan keberadaan Qia. Dapat dipastikan juga Qia nggak akan hadir di sidang. Qia nggak minta gono-gini. Hanya mobil Qia aja yang akan dijual buat nambah-nambah tabungan buat modal hidup di sini.”
“Kamu udah sholat istikharah, Qia?” Tanya Mas Dhanu lagi.
“Alhamdulillah udah, Mas. In syaa Allah Qia mantap di sini. Semoga besok wawancaranya lancar dan Mario mau terima Qia.”
“In syaa Allah,” jawab kakak dan sahabat-sahabatnya.
“Qi, so you know gue dah kasih notif ke Thoriq dan Hanna supaya akhir bulan keluar dari apartemen. Gue kemaren ke sana. Itu Hanna masih piyik banget. Apartemen gue jadi jorok. Kesel. Thoriq sih bolak balik minta maaf,” papar Ella dengan gemas.
“Laki-laki lemah,” ucap Dhanu yang menganggap Thoriq seperti kerbau dicucuk hidung ketika bersama Hanna.
“Semoga semua baik-baik aja. Gue nggak mau terlalu mikirin mereka. Mau fokus aja sama diri gue dan calon anak gue. Masih suka sedih dan kangen Mas Thoriq, tapi gue bisa handle. In syaa Allah.”
“Eh gue denger juga, Si Thoriq kena SP. Dia banyak bolos katanya sih nyariin elu,” sambung Cherish yang disambut dengan pandangan protes dari teman-teman lainnya.
Qiara menghela napas dalam harinya berkata, “Maafin Qia, Mas.”
Kelima sahabatnya melihat mata Qiara berubah sendu.
“Qi, sorry gue cerita. Moga lu nggak apa-apa, ya…” Sesal Cherish.
“Gue harus kuat Cher. Nanti gue pasti denger berita Hanna melahirkan dan lain-lain. Semoga proses perceraian gue lancar, jadi Mas Thoriq nggak usah mikirin gue lagi.”
“Qi, lu jadi orang baik banget sih. Gue tuh berharap lu bakal ngomong ‘Biar mampus tuh Thoriq’ atau apa kek. Ini malah pengin meringankan derita mantan. Nggak seru, ah!” Cetus Alya.
“Al, gue nggak mau mendoakan buruk, karena bisa berbalik ke gue. Mengenai Mas Thoriq dan Hanna, semua udah ada garis takdir sendiri.”
“Tapi gue pengin liat dua kunyuk itu menderita Qi. Apalagi Hanna, duh gayanya selangit banget. Gue sama Bang Fauzan sampe mau muntah,” sambung Ella berapi-api.
Hati Qiara kembali merasa pedih membayangkan suaminya kini benar-benar hanya menjadi milik Hanna.
“Mmm kalau mau ngomongin mereka, gue udahan ya. Bawa energi negatif. Gue berusaha kuat, tapi belum sekuat itu. Ngebayangin Mas Thoriq sama Hanna masih bikin gue sesak napas.”
“Eiya sorry, sorry. Ya udah Qiara, Sayang, kamu baik-baik di sana. Sukses interview besok ya…” Pungkas Marianne.
“Mas Dhanu akan ke sana secepatnya bisa cuti.”
Mereka mengucapkan salam perpisahan. Qiara meletakkan hapenya lalu memandang keluar jendela. Benaknya melayang ke ribuan kilometer tempat ia meninggalkan cinta sejatinya.
__ADS_1
“Mas Thoriq … Semoga kamu bahagia.”
***