
“Bu, Aira asmanya kumat, mungkin perlu dibawa ke dokter lagi.”
“Aira mau digendong Mama,” ucap anak kecil yang mengulurkan tangan tanda ingin berpindah dari gendongan Mbak Pur pengasuhnya.
Hanna menggendong Aira, anaknya yang berumur dua tahun terlihat sangat lemas.
“Aira, kita ke dokter, ya.”
Hanna sebetulnya tidak ingin membawa anaknya ke dokter karena pasti butuh biaya, namun melihat mata Aira yang lesu, ia tidak mau terjadi apa-apa.
“Aira mau sama Papa aja.”
“Mba Pur, siapin semuanya, lalu panggil Jaka.”
Hanna menggendong Aira yang masih merengek ingin sama papanya. Tak berapa lama perawat yang menjaga Thoriq datang.
“Ya, Bu?”
“Bapak sedang apa?”
“Habis saya kasih makan, sekarang lagi duduk di teras.”
“Ok, titip saya mau bawa Aira ke dokter.”
“Mama, Aira mau sama Papa aja,” rengek Aira lagi.
Hanna menatap wajah anaknya. Matanya memelas. Walau Thoriq lumpuh dan sulit bicara, namun hubungan ayah dan anak ini tidak terpengaruh. Mereka tetap lengket.
Aira senang bermain di sekitar Thoriq, kadang hanya sekedar corat-coret atau main boneka. Terkadang Hanna bisa melihat bibir Thoriq tersenyum melihat tingkah polah Aira.
“Papa nggak bisa anter. Aira sama Mama, okay? Mba Pur, ayo …”
Tiba di rumah sakit, Hanna sedang menggendong Aira.
“Hanna!”
“Ya ampun, Bella, apakabar? Siapa sakit?”
“Enggak ada, gue mau ke dokter kulit. Biar makin glowing. Anak lu sakit lagi? Lu kayaknya mesti time-out deh, Han. Bisa-bisa kena mental lu ngurus anak dan suami sakit.”
“Udah kena mental gue. Ya udah kapan janjian.”
“Sip, see you, keep in touch.”
Hanna menatap Bella yang kelihatan semakin cantik. Rambutnya terurai panjang, kulitnya putih terawat, pakaiannya, sepatunya, tas, semua bermerek.
“Aku dulu seperti itu. Lebih cantik malah, walau hamil,” gumam Hanna sambil melihat baju yang dipakainya.
Rok longgar alakadar, atasan kaos, serta sendal rumah. Rambutnya dicepol awut-awutan, lingkaran hitam di sekitar mata, kulitnya kusam karena semua skincare ia stop.
Hanna kemudian melihat Aira yang lelap digendongan Mbak Pur, lalu menghela napas panjang.
“Yuk Mbak Pur, nanti nomor kita kelewat.”
***
“Hanna!”
Bella dan Diana melambai ke arah Hanna yang bergegas mendekati mereka. Tiga serangkai akhirnya berkumpul kembali di kafe langganan mereka dulu.
Ketiganya berpelukan karena sejak Thoriq sakit dan ia kehilangan uang investasinya, Hanna jarang ke luar rumah dan bertemu teman-temannya.
“Gimana kabar lu, Han?”
“Ya gini deh, suami dan anak sakit, duit ilang,” balas Hanna sambil tertawa getir.
“Endorsan masih jalan gue liat.”
“Alhamdulillah kl nggak ada endorsan, ya makan batu gue,” sahut Hanna sambil menyeruput ice lychee tea yang sudah dipesankan teman-temannya.
“Rencana lu apa, Han?” Tanya Bella dan Diana serempak.
“Ga tau. Mumet pala ni.”
Bella memegang tangan Hanna lalu berkata, “Han, lu masih mau terus nikah sama Thoriq? Lu masih cinta sama dia?”
Hanna tertohok. Entah apa perasaannya kini terhadap Thoriq. Ia hanya ingin semua kembali seperti dulu.
“Gue nggak tau apakah ini cinta atau gue nggak tega ninggalin dia.”
__ADS_1
“Kalau gue jadi lu, Han, gue cerai, gue jual rumah, cari yang lebih kecil, duitnya gue simpen. Duit Thoriq ilang juga kebawa investasi bodong?”
“Nah itu juga yang bikin gue bersalah.”
Diana mendelik lalu berkata ketus, “Ngapain sih lu masih bucin sama dia? Bukannya dari dulu dia nggak cinta elu? Dia nggak bisa move on dari mantannya, kan?”
“Come on lah, lu masih muda banget. Duapuluh lima tahun aja belum ada. Lu mau seumur hidup ngurus laki-laki lumpuh? Eh btw, laki lu masih berfungsi ga? Kalau lu pengin gituan gimana?” Tanya Bella sambil terkekeh.
“Percaya gak sih, laki gue masih bisa, say.”
Hanna teringat pertama kali ia mencoba untuk berhubungan setelah dua atau tiga bulan Thoriq lumpuh.
Suaminya sedang tidur. Hanna lalu berbaring di samping suaminya, meraba-raba titik sensitif. Dirinya lega karena pusaka suaminya masih merespon pada rangsangannya.
Thoriq terbangun berusaha menolak istrinya, namun hasrat Hanna sudah memuncak. Wanita itu tak peduli apakah suaminya tidak nyaman atau malah kesakitan, Hanna hanya ingin menuntaskan keinginannya yang menggebu.
Dirinya terus merangsang lalu bergerak di atas tubuh suaminya. Sementara Thoriq hanya memejamkan pasrah terhadap perlakuan istrinya.
Sering Thoriq dengan pandangan mata memohon agar Hanna tidak memaksakan dirinya. Tangannya mendorong Hanna, tapi kini ia lebih lemah. Akhirnya Thoriq membiarkan Hanna menuntaskan hasratnya.
Tidak ingin hamil dengan kondisi yang masih carut marut, Hanna memakai pengaman supaya ia bebas berhubungan.
Hanna tahu Thoriq ketakutan setiap dirinya masuk ke kamar. Tapi ia adalah wanita muda yang masih penuh gejolak. Dan selama Thoriq masih mampu, selama itulah Hanna akan terus meminta haknya.
Hanna menuntaskan lamunan yang sekonyong membangkitkan syahwatnya. Nanti malam ia akan kembali meminta nafkah batin.
“Waaah gila lo, Han. Seriusan laki lu masih bisa?”
“Masih. Cuma ya gitu, gue yang aktif. Gak apa-apa dari pada gue pusing nahan-nahan.”
“Mendingan sama care givernya keles, gelay deh lu gituan sama orang lumpuh.”
“Nggak mau. Gue yang halal-halal aja.”
“Kalau lu mau main halal, lu gugat cerai aja laki lu terus kawin lagi. Lu masih muda, cantik, banyak yang pengin sama lu.”
“Ntar deh gue pikir-pikir dulu.”
“Dasar bucin …”
Ketiganya tertawa terbahak-bahak. Hari itu untuk pertama kali dalam dua tahun, Hanna bisa tertawa lepas.
***
Mereka duduk santai di ruang keluarga setelah makan siang. Aira duduk di pangkuan Nenek. Thoriq duduk di kursi roda. Jaka memberikan susu padanya melalui selang makan.
Setelah Thoriq dirapikan dan Jaka meninggalkan ruangan, Hanna berkata, “Kakek, Nenek, dan Mas Thoriq. Hanna memutuskan untuk bercerai. Hanna sudah tidak kuat lagi menjaga Mas Thoriq dan Aira.”
Kakek terperanjat.
“Maksud kamu tidak kuat apa, Hanna? Kamu istri Thoriq, sewajarnya kamu menjaga dan merawat suami jika sedang sakit. Dan kamu ibunya Aira, kalau nggak kuat terus kamu mau tinggalin anak kamu?” Ujarnya keras.
“Sudah cukup Hanna menjaga Mas Thoriq, malah lebih lama dari Mas Thoriq menjaga Hanna. Tiga tahun kami menikah, dua tahun Mas Thoriq lumpuh,” ucap Hanna dingin.
Nenek menatap Hanna tajam. Ia tidak bisa memercayai apa yang barusan didengarnya. Dulu, sampai sujud memohon Kakek dan Nenek kepada Thoriq agar menikahi Hanna.
Mereka melihat cucu kesayangan hancur perlahan karena menduakan wanita yang dicintainya. Kini setelah Thoriq lumpuh, Hanna malah berniat meninggalkannya.
“Hanna masih muda, berhak bahagia. Lagi pula Mas Thoriq selalu bilang bahwa dirinya menikahi Hanna karena kewajiban. Sekarang Kakek dan Nenek lihat sendiri, kan? Mas Thoriq menjaga diri sendiri pun tak bisa. Bagaimana mau menjaga Hanna?”
Netra Hanna menatap Thoriq. Sesungguhnya hatinya pun sedih untuk berpisah dari cinta pertamanya, tapi ia tidak mau menyia-nyiakan hidup yang hanya sekali.
“Cinta bisa datang lagi, bahagia harus dicari.” Begitulah nasihat Diana dan Bella.
Dari luar terdengar bunyi klakson. Tak lama, laki-laki berwajah blasteran masuk. Kulitnya putih, tubuhnya tinggi tegap, rambutnya coklat, wajahnya tampan bak model papan atas.
“Sebastian, kamu datang,” sapa Hanna dengan senyum ceria.
Kakek dan Nenek bingung. Mereka tidak mengerti jalan pikir Hanna, wanita yang mereka kenal sejak lahir.
“Semuanya, ini Bastian. Setelah urusan perceraian selesai, kami akan menikah dan tinggal di luar negeri. Bastian mencintaiku, Mas, tidak seperti kamu yang hanya menganggapku beban.”
Thoriq menatap Bastian. Walau ia terjebak dalam tubuh yang tidak bisa bergerak dan mulut yang tidak bisa bicara, namun ia masih bisa berpikir dan merespon.
Penuh harap, Hanna memandang Thoriq, menanti adanya rasa cemburu atau terluka karena kehadiran Bastian. Ia berpaling sambil mendengus.
“Hanna, apakah kamu sudah berpikir masak-masak?” Tanya Kakek lagi.
“Kek, yang jelas Hanna nggak mau terjebak dengan suami lumpuh dan anak yang penyakitan.”
__ADS_1
“Hanna!” Bentak Nenek.
Hanna beranjak lalu berdiri di sisi Bastian.
“Hanna akan pergi sama Bastian sampai malam. Ketika Hanna pulang, Mas Thoriq, Kakek, Nenek, harus sudah keluar. Terserah Aira akan dibawa atau tidak.”
Dengan manja Hanna menggelendot di lengan Bastian. Pria yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir ini.
“Yuk, Bas …” Hanna dan Bastian berjalan keluar.
“Hhhh aaaannaaa,” terdengar suara Thoriq serak seperti dipaksakan.
Hanna menoleh, masih ada sebersit rasa cinta di hatinya untuk Thoriq. Jika pria itu menyatakan cinta padanya, maka Hanna akan tinggal.
Netra Hanna menatap lembut pada suaminya.
“Ttteeriim..a ka… siiih. Jaa…ga diri..mu.”
Hanna tersenyum tipis, sulit mengartikan ucapan terima kasih yang disampaikan Thoriq. Namun ia paham, Thoriq pun melepasnya. Ia mengendikkan bahu.
“Sama-sama. Mas, selamat tinggal.”
Sepeninggal Hanna dan Bastian, terdengar suara lembut.
“Eyang uyut, Aira mau sama Aya aja,” ucap anak kecil itu lirih.
Ia lalu berpindah ke pangkuan ayahnya. Memeluk lehernya erat erat sambil menyembunyikan wajah di dada Thoriq.
Dengan tangan yang masih bisa digerakkan, Thoriq membalas pelukan Aira.
Nenek lalu memanggil Jaka dan Mba Pur untuk mengemasi barang-barang.
“Ne…nneeek, rum..ah Qi..ara.”
Nenek tertegun, bersitatap dengan kakek. Setelah sekian lama, Thoriq masih memikirkan Qiara.
“Tenang, Nak. Kamu akan kami bawa kembali ke kampung, sebelumnya kita mampir rumah Qiara, ya.”
Thoriq mengangguk, setelah sekian lama netranya hampa, kali itu terlihat kilatan binar penuh harap.
Hanna yang kembali untuk mengambil sesuatu diam-diam mendengar percakapan mereka. Air mata lolos membasahi pipinya.
Ia masih berharap cinta Thoriq. Bahkan bila ada sedikit saja rasa cinta itu untuknya, maka ia pun akan sanggup menjalani kehidupan bersama. Asalkan Thoriq mencintainya.
Dengan kasar, Hanna mengusap pipinya mengeringkan air mata kekecewaan.
“Cukup.”
***
Tiba di rumah yang dulu ditempati Qiara, Kakek dan Nenek bingung karena rumah itu terlihat bersih dan rapi.
“Saya dan Mbak Pur yang bergantian membersihkan rumah ini setiap kami cuti, Bu Sepuh,” ujar Jaka dengan sopan melihat keheranan Nenek.
Netra Thoriq menghangat menatap foto-foto bahagia dirinya dengan Qiara. Ia berusaha meraih foto favoritnya, ketika mereka berdua di pantai.
Nenek membantunya dan meletakkan foto itu di pangkuan Thoriq. Dengan lembut Thoriq mengusap wajah Qiara di foto itu.
“Aya, siapa?” Tanya Aira melihat foto-foto ayahnya bersama wanita selain ibunya.
“Bu.. naaa,” Thoriq bersuara untuk menjawab anaknya.
“Buna cantik.”
Thoriq mengangguk lalu bersuara lagi, “San…gat.”
Pria itu lalu minta diarahkan ke kamar tidur. Jaka membuka pintu lalu mendorong kursi roda masuk.
Thoriq melihat berkeliling ruangan yang masih terlihat rapi seperti terakhir dirinya datang. Ia menunjuk ke bantal. Jaka mengambilkannya. Thoriq lalu mendekap bantal yang bertahun lalu dipakai Qiara.
“Ne..nek, Tho..riq mmmaa..u ssembu..h”
“Iyah, in syaa Allah. Nanti di Solo kamu akan ikut terapi. Semangat, kamu punya Aira yang masih perlu ayahnya.”
Thoriq mengangguk.
Setelah menitipkan rumah pada tetangga untuk selalu dijaga dan dibersihkan, mereka semua berangkat ke Solo. Thoriq memandang rumahnya untuk terakhir kali.
“Aku akan kembali …”Bisiknya dalam hati.
__ADS_1
***