
Sudah seminggu ini Hayyan terbaring di ICU. Dokter telah berhasil mengeluarkan peluru dari tubuhnya. Luka-luka bakar juga sudah diobati. Kondisi Hayyan stabil walau ia betah menutup matanya.
Sama halnya dengan Hayyan, Azka dan Barran masih tergolek tak sadar di bed ICU. Thoriq dan Kala tiap hari memberikan update melalui video call kepada Qiara.
Pasukan yang dipimpin Hamilton harus kembali ke tempat tugas mereka. Entah kenapa Abby kadang berharap ada sosok tinggi besar yang duduk di sekitar mereka.
Thoriq setia di samping Barran, melantunkan ayat-ayat suci. Kehadirannya membuat perawat wanita tidak berani masuk karena menggoda iman mereka. Bisik-bisik tentangnya pun santer beredar.
Belum lagi wajah Barran yang terlihat damai dalam tidurnya. Blasteran wajah bule Devan yang tampan dan Qiara yang cantik berpadu sempurna di wajah triplets.
Dengan telaten, Thoriq memandikan Barran karena tak ingin putra Qiara dibersihkan oleh perawat yang bukan mahram. Thoriq juga sudah berkenalan dengan orang tua Farah yang sedang mengunjungi putri mereka.
Ayah Farah meminta seluruh santrinya mengirim doa untuk kesembuhan Hayyan, Azka, dan Barran. Demikian juga dengan Kala yang sudah berkenalan dengan keluarga Zaenab.
Satu hal yang mengganggu Kala adalah saat Fatimah mulai sulit dihubungi. Demikian juga dengan Aira yang jarang bisa bicara lewat telepon atau video call dengan Fatimah.
Kala berusaha menyingkirkan pikiran buruk. Berserah bahwa jodoh terbaik telah dipersiapkan untuknya. Selebihnya ia berdoa untuk keselamatan Fatimah.
Setiap hari Qiara datang lalu duduk berjam-jam di kamar ICU yang ditempati Hayyan. Ia bicara mengenai kenangan-kenangan indah mereka sekeluarga. Keseruan saat mereka bersembilan pergi umroh atau keliling Eropa. Perjalanan seru mentadaburi alam ciptaan Yang Maha Kuasa.
Tak lupa juga tingkah usil Kala pada adik-adiknya, atau Liam yang paling dewasa. Qiara juga menceritakan tentang calon keponakan yang masih berada di perut Aira. Ibu yang sedang gundah mengharap ada respon dari anaknya. Namun Hayyan masih lelap dalam tidur.
Qiara melantunkan ayat-ayat suci di telinga Hayyan, meyakini setiap hurufnya akan mendekatkan putranya pada kesembuhan.
“Hayyan sayang, apakabar kamu, Nak? Udah seminggu lebih Hayyan tidur terus. Bangun, yuk. Buna kangen sama Hayyan. Mbak Abby dan Zee juga nggak sabar kumpul lagi sama kamu.”
Sambil memegang lembut tangan anaknya, Qiara berbisik.
“Kamu tau nggak, arti nama Hayyan itu adalah hidup. Kamu adalah kehidupan buat Buna. Waktu Hayyan baru lahir, kamu sempat pergi lalu kembali. Berjuang Hayyan. Buna nggak akan pernah siap kehilanganmu.”
Qiara menciumi tangan Hayyan. Hape di tasnya bergetar. Qiara bangkit mencium kening Hayyan.
“Buna keluar sebentar, Sayang…”
Qiara keluar dari ruang untuk menerima telepon dari Thoriq.
“Assalamualaykum, Mas …” Sapa Qiara dengan nada lesu dan tak bersemangat.
“Waalaykumussalam, Buna.”
Mata Qiara terbelalak. “Barran … Barran anak Buna. Ya Allah alhamdulillah, alhamdulillaah.” Qiara menangis terharu.
Beberapa perawat yang mendengar dan sudah tahu mengenai kondisi dua kembaran Hayyan ikut terharu.
“Apa yang kamu rasain, Nak?”
“Nggak ada rasa apa-apa. Kemarin sore, Barran kayak baru bangun tidur aja. Kaget karena badan Barran kena air. Ternyata Uncle lagi washlap-in Barran. Makin kaget karena banyak kabel monitor nempel. Hayyan gimana, Buna?”
Qiara menatap Barran tidak percaya. Air mata masih mengalir.
“Buna jangan nangis. Barran nggak apa-apa kok. Bahkan dokter malah suruh pulang. Uncle lagi urus semua. Semalam dokter tes motorik dan memori semua berjalan baik. Juga udah di MRI. Barran emang beneran kayak tidur biasa aja.”
Qiara menghapus air matanya.
“Buna seneng kamu udah sadar. Istirahat ya. Doain adik kamu.”
__ADS_1
Qiara mengarahkan kamera ke tempat tidur Hayyan.
“Ya Allah, Yan … Buna, Barran ke sana sama Uncle. Hayyan, kamu bertahan ya. Aku ke sana, Bro.”
“Barran, jangan travel dulu … kamu masih harus istirahat,” cetus Qiara khawatir.
“Enggak apa, Buna. Barran udah sehat. Barran mau nemenin Buna dan Hayyan. In syaa Allah. Uncle udah cari tiket. Buna, kemarin kata Uncle, keluarga Farah nemenin Barran.”
“Ya udah kalau waktunya pas, halalkan.”
“Siap! In syaa Allah! Buna juga …”
“Maksudnya?”
“Buna, ada duda ganteng banget, cinta mati sama Buna. Masak nggak tertarik?” Barran terkekeh.
Qiara menyabarkan diri, ingat anaknya baru sadar dari tidur panjang.
“Barran, waktunya nggak tepat, Sayang.” Walau berkata demikian, hati Qiara menghangat dan tanpa sadar pipinya memerah.
Barran tersenyum melihat wajah ibunya yang tersipu.
“Baik, Buna. Salam dari orang tua Farah. Mereka hari ini pulang, tadi malam kami sudah sempat ketemu.”
“Alhamdulillaah. Barran, Buna lega banget. Satu anak Buna udah sehat.”
“Eh Uncle, Barran masih telepon Buna.”
“Qia …” Wajah Thoriq masih nampak lelah, namun ada guratan lega.
“Mas, Qia seneng.” Thoriq menatap lama wajah Qiara. Kebahagiaan Qiara adalah kebahagiaannya.
“Barran …” Thoriq menegur anak Qiara yang baru beberapa jam sadar tapi sudah mengganggu ibunya.
Barran terkekeh. Tidak bersuara tapi bibirnya mengucap kata ‘halalkan’ ke arah Qiara yang mendelik.
“Qia, Mas ajak Barran ke Hamburg ya. Tiketnya dapat yang nanti malam. Barran udah boleh pulang. Secepatnya deh anakmu ini dibawa keluar dari rumah sakit. Bikin heboh perawat di sini.”
Barran tergelak.
“Mereka pasti pingsan kalau tau aku ada tiga,” ucapnya percaya diri.
“Tuh, liat anak kamu, Qia …”
“Btw Buna. Kayaknya bukan Barran aja loh yang jadi idola di rumah sakit ini.” Barran menunjuk Thoriq. Alisnya naik turun.
“Buna nggak takut Uncle Thoriq diserobot cewek Arab?”
“Kalian cepet ke sini,” titah Qiara sambil menjebik. Thoriq dan Barran terkekeh.
“In syaa Allah. Kamu apakabar, Qia?”
“Alhamdulillah kayak ada beban terangkat. Semoga Azka dan Hayyan cepat sadar juga. Kata dokter semua tanda vital Hayyan stabil. Hanya mungkin tubuhnya perlu waktu untuk pulih.”
“Semoga segera pulih. Ya udah, sampai besok ya, Qia …”
__ADS_1
Qiara kembali mendekati ranjang Hayyanz
“Ya Allah, ijinkan anak hamba untuk sembuh, jika ini terbaik untuk kami … jauhkan dia dari rasa sakit.”
Hape Qiara kembali bergetar.
“Abby Sayang, ada apa, Nak?”
“Mayor Kulkas dan teman-teman Hayyan ada di sini. Minta ijin menengok.”
Qiara tersenyum mendengar sebutan yang diberikan Abby untuk Hamilton.
“Buna keluar, sebentar lagi.”
Qiara merapikan Hayyan karena akan ditengok atasan dan teman-temannya. Memberi air pada vas bunga di meja samping dan melipat selimut yang tadi dipakainya.
Setelah rapi, Qiara berjalan keluar menuju ruang tunggu ICU.
Di sana kesatuan Hayyan sudah berkumpul.
Hamilton maju untuk menyapa Qiara ketika matanya menatap nanar ke sosok di belakang ibunda Hayyan. Begitu juga semua yang ada di ruangan itu.
“Mas Hayyan …?” Panggil Zee.
Qiara membalik badan, melihat duplikat Hayyan berdiri dengan senyum lebar.
“Azka! Ya Allah Azka … ini bener kamu kan? Buna nggak mimpi?”
“Ini Barran, Buna. Masak nggak kenal anak sendiri?”
“Azka!” Qiara menghambur lalu memeluk putranya. Azka balas memeluk Bunanya. Mengecup pucuk kepala wanita yang telah seminggu ini bagai hidup segan mati tak mau.
Qiara menjauhkan tubuh Azka, lalu mengamatinya.
“Alhamdulillah ya Allah. Kamu udah travel empat belas jam. Are you okay? Capek ya? Yuk duduk. Mau makan apa? Buna masakin soto mau?”
Azka termasuk Hamilton dan teman-teman Hayyan terharu melihat cinta tanpa batas dari seorang ibu kepada anaknya.
“Amazing, saya tidak bisa membedakan,” gumam Hamilton.
Qiara teringat tadi belum jadi menyapa atasan anaknya.
“Mayor, perkenalkan ini kakaknya Hayyan. Namanya Azka. Dia sulung dari triplets. Kebetulan mereka bertiga itu identik.”
Azka menyalami Hamilton dan rekan-rekan adiknya. Mereka berterima kasih karena Hayyan telah menyelamatkan mereka dari gempuran RPG kedua. Jika Hayyan tidak menolong, mereka sudah ***** bersama Hummer yang mereka naiki.
Abby dan Zee tidak sabar menunggu Azka selesai dengan teman-teman Hayyan. Karena setelah itu, Abby dan Zee langsung memeluk Azka.
“Mbak, nggak bisa napas.”
“Diem kamu. Mbak lagi lega.”
Hamilton tersenyum tipis melihat kelakuan Abby. Salah seorang anak buahnya melihat. Hamilton langsung menatap tajam membuat nyali tentara muda itu menciut.
“Azka, Kala mana?”
__ADS_1
“Masih di luar Buna, Mas Kala lagi sedih. Fatimah membatalkan rencana ta’aruf.”
***