
Dhanu menatap sepasang suami istri yang sedang menunggu panggilan dokter obgyn. Hanna terlihat sangat bahagia, terus bergelendot ke pundak Thoriq.
Sesekali Thoriq mengusap perut istrinya yang mulai membesar. Hanna mencium pipi Thoriq beberapa kali.
“Dasar exhibitionist,” gumam Dhanu, lalu berjalan menjauhi pasangan menyebalkan itu.
“Dokter Dhanu,” seorang perawat memanggil. Dari sudut mata ia melihat Thoriq menoleh. Ingin cepat kabur tapi perawat malah menanyakan beberapa hal.
Thoriq sudah berdiri di hadapannya ketika Dhanu siap beranjak dari tempat itu.
“Assalamualaykum, Mas, apakabar?”
“Baik. Kamu?”
Thoriq menelan liur karena ia terlihat baik, namun sesungguhnya dirinya jauh dari kondisi baik.
“Saya baik, Mas. Emmm, gimana kabar Qiara?”
“Dia bukan urusanmu lagi. Urus saja istrimu yang sedang cemburu itu,” jawab Dhanu sambil mendengus kesal karena Hanna berani menatapnya dengan pandangan tak suka.
“Permisi, saya banyak urusan,” ucap Dhanu meninggalkan laki-laki yang telah menyakiti adiknya.
“Mas, saya minta maaf, Mas. Saya nggak bisa menjaga Qiara.”
Dhanu berhenti melangkah.
“Sudahlah, Qiara tidak perlu kamu. Dia jauh lebih baik tanpamu.” Lalu tanpa menoleh meninggalkan Thoriq yang termangu.
“Betulkah kamu lebih baik tanpaku, Qia?” Gumamnya lirih.
“Mas Thoriq, sini. Ngapain sih di situ lama-lama,” seru Hanna tak senang, matanya menyorotkan kecemburuan melihat Thoriq bercakap dengan mantan kakak iparnya.
Thoriq kembali duduk di samping Hanna yang langsung memegang tangan suaminya.
“Sial banget harus ketemu Mas Dhanu. Kan Mas Thoriq jadi inget Mbak Qiara lagi,” rutuk Hanna dalam hati.
Bagi Hanna, berita perceraian Thoriq adalah berita terindah kedua setelah kehamilannya. Akhirnya Hanna resmi menjadi istri satu-satunya Thoriq Aditya. Pria yang ia idamkan sejak remaja, pria yang pertama menyentuhnya.
Kehidupan mereka juga tambah baik. Keduanya pindah ke rumah mewah yang dibeli dengan uang warisan dari orang tua Hanna. Perusahaan orang tuanya semakin maju, Thoriq pun kini sudah menjadi salah seorang Vice President di perusahaannya.
Hanna merasa perceraian Thoriq dengan Qiara membuka pintu keberkahan. Ia kini masuk dalam sirkel sosialita. Wajahnya nampak berseliweran di media sosial bersama para sosialita lainnya.
Wanita itu sudah berubah total. Kerudung sudah ditinggalkannya. Mengindahkan permintaan suaminya untuk menutup aurat, kini Hanna memakai pakaian terbuka dan barang-barang bermerk.
Terlebih lagi usianya terbilang masih muda, dia masih bisa mempertahankan tubuh sintalnya. Hanya perutnya saja yang kelihatan membuncit.
Jika Thoriq bisa mencintai Hanna, maka ia adalah pria yang bahagia. Istri cantik dan seksi, harta berlimpah, karir bagus. Pada kenyataannya, Thoriq belum bisa mencintai Hanna, hatinya hampa tanpa rasa.
Hanna yang mulai banyak kesibukan sudah tidak terlalu merongrong Thoriq dengan permintaannya. Namun untuk urusan hasrat, ia masih berusaha membuat Thoriq tergila-gila pada permainan ranjangnya.
Sebagai laki-laki normal, Thoriq akhirnya menikmati kepuasan yang diberikan Hanna hampir setiap malam. Ia hanya berharap suatu saat bisa mencintai Hanna seperti dulu mencintai Qiara.
Walau ia belum bisa mencintai Hanna, namun Thoriq menyayangi calon buah hatinya. Kandungan Hanna kini berusia lima bulan. Sudah mulai bergerak-gerak.
Di ruang obgyn, Thoriq melihat sosok janin yang kini makin menyerupai bayi. Tangan-tangan dan kaki-kaki kecil, posisi jarinya seperti sedang diemut. Thoriq menatap layar dengan penuh harap.
Hanna memandang suaminya. Hanya saat pemeriksaan kehamilan, suaminya terlihat sangat bahagia. Hanna bertekat terus memakai bayinya untuk mengikat Thoriq.
“Mau tahu jenis kelaminnya nggak? Udah kelihatan nih,” tanya Dokter Amita.
“Mau dok,” jawab Thoriq bersemangat.
“Niiih, anaknya cewek, in syaa Allah.”
“In syaa Allah,” jawab Thoriq dengan mata menghangat.
“Duuh Si Bapak happy banget mau dapet princess,” balas dokter sambil membantu merapikan pakaian Hanna.
Hanna menyentuh tangan Thoriq perlahan, ingin berbagi kebahagiaan. Thoriq tersenyum tipis sembari membantu Hanna turun dari tempat pemeriksaan.
Thoriq menyimak penjelasan dokter mengenai perkembangan bayi. Dirinya bersyukur calon bayinya sehat. Hanna merasa kesal karena suaminya tidak menanyakan kesehatannya.
__ADS_1
Di mobil Hanna menumpahkan kekesalannya.
“Mas, bisa nggak sih perhatian sedikit sama Hanna. Dari tadi yang ditanyain bayinya. Kondisi ibunya malah nggak ditanya.”
“Dokter bilang kamu sehat, kan? Mau tanya apalagi?” Thoriq menjawab tanpa menoleh. Ia terus fokus pada kemudi.
“Ya kasih perhatian kek, Hanna merasa Mas cuma sayang sama bayi.”
Thoriq meminggirkan kendaraan ke parkiran ruko tidak jauh dari rumah sakit.
“Memang betul, Hanna. Sampai saat ini rasa sayang masih untuk bayiku. Mas berusaha menyayangi dan mencintai kamu. Sungguh demi Allah, Mas berusaha. Namun sampai sekarang Mas belum bisa merasakan.”
Air mata mulai membasahi netra Hanna.
“Apa karena Mas masih mencintai Mbak Qiara. Wanita yang Mas puja itu meninggalkan Mas. Hanna yang selalu bertahan di samping Mas. Hanna sungguh-sungguh mencintai kamu Mas Thoriq,” isak Hanna.
“Jangan bawa-bawa Qiara. Dan ingat kamu dan akal licikmu yang membuat Qiara pergi. Cinta kamu membuat Mas kehilangan wanita yang sangat Mas cintai. Kehilangan semua kebahagiaan yang sudah Mas miliki bersama Qiara,” ungkap Thoriq dengan hati pilu.
Pria itu melanjutkan, “Lalu apa yang sudah kamu lakukan untuk membuat Mas jatuh cinta padamu? Sebagai istri, kamu tidak mendengarkan Mas, mana kerudung yang Mas minta kamu pakai? Mana baju panjangmu? Apakah kamu menyiapkan keperluan Mas? Kamu hanyalah wanita manja yang mengandung anakku.” Suara Thoriq bergetar karena marah.
“Tapi aku membahagiakanmu di setiap permainan cinta kita, Mas,” balas Hanna, tidak menyangka ungkapan kekesalannya dibalas dengan ungkapan menyakitkan dari suaminya.
“Fisik, ya. Mas akui. Tapi pernahkah kamu merasakan sulitnya bercinta tanpa rasa? Hambar, Hanna.”
Hanna menangis sesunggukan, pundaknya naik turun. Berbulan-bulan berjuang mendapatkan cinta Thoriq tanpa tahu kapan cinta itu akan utuh untuknya.
“Hey hey, jangan sedih nanti bayiku ikutan sedih.” Thoriq mengusap kepala Hanna lalu kembali menjalankan kendaraannya.
Hanna masih terisak menatap lalu lintas Jakarta yang harus bersanding dengan hujan lebat.
***
“Mel, Stephanie, look!” seru Qiara begitu tiba di rumah Mel.
Kedua wanita paruh baya itu mendekat, mengambil selembar foto dari tangan Qiara.
“Oh my God. It’s a boy. Our grandchild is a boy, Steph.”
“Grandchild?” Qiara menatap Mel dan Stephanie bergantian.
Qiara tidak dapat berkata sepatah kata pun.
Stephanie menyela, “Tapi kalau kamu keberatan, kami sangat mengerti. Apa pun itu kami menyayangi kamu dan bayimu.”
“Are you kidding? Ibu saya meninggal sejak saya berumur dua tahun. Saya tidak ingat rasa dicintai seorang ibu. Ijinkan saya menganggap kalian sebagai ibu.
Mereka bertiga berpelukan, lalu membahas foto tiga dimensi dari bayi yang ada di perut Qiara.
“Dasar perempuan, drama banget,” ucap Mark kepada Jeremy sambil terkekeh.
Jeremy memperhatikan betapa berseri-seri wajah Qiara. Hatinya menghangat.
Hari Minggu mereka semua berkumpul di rumah Mel untuk makan siang. Hape Qiara berdering. Video call dari Dhanu.
“Assalamualaykum Mas Dhanu.”
“Waalaykumussalam Qia. Apakabar Dek?”
“Alhamdulillah, baik. Qia lagi di rumah Mel.”
Qiara kemudian mengarahkan kamera video ke semua orang yang ada di sana, termasuk Jeremy.
Mereka sudah mengenal Dhanu karena Qiara sering menerima video call kakaknya. Juga sahabat-sahabat Qiara. Marianne sendiri
“Mas, anak aku in syaa Allah cowok! Ini foto USG-nya,” ucap Qiara dengan wajah berseri-seri.
“Waaah, in syaa Allah, sehat terus bayi dan ibu. Dek, fotonya kirim ke Mas dong.”
“Nanti Qia kirim. Mas apa kabar?”
“Mmm Dek, sebenernya Mas mau kasih tau kamu sesuatu.”
__ADS_1
Kening Qiara sedikit berkerut.
“Mas, ada apa? Semua baik-baik, kan?”
“Semua baik, kok Dek. Cuma ada yang mau Mas ceritain.”
Tiba-tiba di layar muncul Marianne dan Rama putranya yang masih berumur delapan tahun.
Qiara ternganga. Marianne terlihat sangat berbeda, rambut pendeknya kini tertutup kerudung rapi. Pakaiannya yang selalu cenderung terbuka kini tertutup tunik panjang.
“Assalamualaykum Qiara, sayang.”
“Mas Dhanu, Mbak Marianne. Maa syaa Allah! Kalian? Waalaykumussalam, Qia sampai lupa jawab salam. Ya Allah sejak kapan? Kalian kan kayak Tom and Jerry berantem terus.”
“Sejak kamu pergi Qi. Awalnya memang kami sering berdebat. Kakak kamu ini marah sama Mbak karena kasih ide pindah ke Melbourne. Terus kami berdua kan yang kontak Pengacara Reza buat urus macam-macam. Akhirnya jadi dekat.”
Qia melihat Rama yang kini bergelendotan ke Dhanu.
“Kamu nggak apa-apa kan, Dek? Kalau Mas Dhanu dan Mba Marianne menjalin hubungan?”
“Ya nggak apa banget. Qia kasih tahu Mel,” ujar Qia hendak memanggil Mel dan yang lain-lain yang kini mengobrol di teras rumah Mel yang luas dan nyaman.
“Mereka udah tahu, Dek. Kami sengaja nggak kasih tahu kamu karena banyak yang harus kamu lewati seorang diri. Maafin Mas, ya, Dek.”
“Iiih Mas. Qia nggak marah, Qia seneng banget. Udah jangan lama2, halalin aja.”
“In syaa Allah, Qia. Dua minggu lagi kami berencana akad di Melbourne, supaya kamu nggak usah terbang ke sini. Di sana ada paman Marianne yang muslim.”
Qiara mengangguk-angguk. Hatinya bahagia karena kakaknya bertemu seseorang yang ia cintai. Marianne adalah seorang mualaf saat menikah dengan mantan suaminya. Keluarganya juga sebagian besar non muslim.
“Qi, nanti kamu ajarin aku banyak hal ya. Aku masih baru di agama Islam. Tapi aku ingin sungguh-sungguh melaksanakannya.”
“Siap, Mbak! No worries. Jadi dua minggu lagi in syaa Allah kita ketemu?”
“In syaa Allah,” jawab Dhanu dan Marianne kompak.
“Dek, mobil kamu udah dijual, nanti bentar Mas Dhanu transfer hasil penjualannya. Kalau rumah, mmm, Thoriq nggak mau jual. Tapi dia kasih uang untuk hak kamu atas rumah itu.”
Pandangan Qiara yang berbinar-binar mendadak berubah muram.
“Kenapa Mas Thoriq nggak mau jual rumah itu, ya? Apa Mas Thoriq mau tinggal di sana sama Hanna?”
“Kayaknya enggak, Qi. Mereka sekarang tinggal di rumah gedongan mewah di perumahan elit. Mobilnya Thoriq aja udah ganti BMW. Hanna juga udah jadi sosialita, nggak tahu malu mejeng pesta-pesta dengan perut besar,” papar Mel ketus.
Qiara menghela napas. Mungkin kini Thoriq sudah move on dan benar-benar melupakannya.
“Qi, sorry, Mbak nggak bisa diem, ya?”
“Nggak apa kok, Mbak. Semua udah lewat. Sekarang Qia fokus aja sama bayi di perut Qia.”
“Iya Qia. Ya udah tuh, Jeremy dateng buat manggil kamu.”
“Oke, semuanya.”
“Tante Qiaraaaa,” seru Rama tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya ke layar.
“Iya Rama, sayang,” sahut Qiara.
“Nanti adek bayi mau dikasih nama siapa?”
Qiara tercenung, sesungguhnya dirinya dan Thoriq pernah merancang nama anak-anak mereka tapi kini semua sudah berubah.
“Belum tahu, nanti Rama bantu Tante mau?”
“Kasih nama Captain America aja, Tante,” ucapnya polos.
Ketiganya tergelak, Dhanu mengacak rambut Rama dengan gemas. Mereka bercakap beberapa saat kemudian menyudahi video call.
Qiara beranjak ke teras, menikmati aneka rupa makanan yang disiapkan Jeremy. Dengan patuh Qiara mencoba semua makanan yang diberikan Jeremy setelah memastikan semuanya halal.
Tiga pasang mata mengamati interaksi Qiara dan Jeremy. Walaupun Jeremy selalu supel, tapi ia jarang sekali memberi perhatian pada wanita. Tidak seperti perhatiannya pada Qiara.
__ADS_1
Sementara Qiara yang masih dalam masa iddah dan memiliki luka karena cinta, belum ingin membuka hati untuk siapapun. Baginya melahirkan bayinya dengan sehat adalah prioritas utama.
***