
Devan memegang surat yang dinantikan. Surat yang memberinya ijin untuk melakukan co-parenting untuk Liam.
Stella setengah hati menyetujuinya. Ia selalu menggunakan Liam sebagai senjata untuk kembali ke Devan. Memojokkan Devan sebagai ayah tak bertanggung jawab.
Devan menerima tuduhan. Tidak sedikit pun mengingkari. Pria itu mohon agar diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Hingga akhirnya majelis setuju memberikan kesempatan co-parenting dengan review setiap tiga bulan. Stella akan tinggal di Melbourne juga di sebuah apartemen lain yang bukan milik Devan.
Devan tegas menarik batas antara dirinya dan Stella. Tidak memusuhi, namun juga tidak terlalu akrab, hanya sebatas keperluan Liam.
Kini pria itu merasa siap untuk membangun hubungan dengan Qiara. Berbulan-bulan selama masa penentuan hak asuh, Devan tidak mau menghubungi Qiara. Tidak juga mencari tahu tentang Qiara dan Kala dari orang suruhannya.
Devan tidak ingin masalah Qiara ini dipakai Stella dan pengacaranya untuk memberatkan Devan.
Selain itu, Ia ingin meyakinkan bahwa masa lalunya sudah tamat, the end. Kini Devan ingin melihat ke depan.
Jika ke depan Qiara adalah pasangan yang ditakdirkan untuknya, Devan yakin cepat atau tidak lambat mereka akan bersatu. Tapi jika tidak, maka Devan tidak mau buru-buru, ia hanya akan fokus pada Liam dan terus menjadi sahabat bagi Qiara juga Kala.
Devan melipat surat itu lalu menyimpannya ke dalam brankas setelah membuat copy dan mengirimkan ke beberapa pengacaranya untuk penjagaan.
Ia juga menuliskan wasiat terkait hubungannya dengan Liam sebagai ayah dan anak.
Setelah menyelesaikan semua, Devan beranjak menuju mobilnya. Siang itu ia mengosongkan jadwal. Tujuannya adalah bertemu dengan Qiara dan Kala.
Devan masuk ke kafe milik Jeremy yang siang itu penuh. Jeremy sedang bercakap akrab dengan seorang wanita.
“Hey mate, long time no see,” sapa Jeremy ramah kepada Devan yang mengedarkan pandangan mencari Qiara.
“She’s back to Indonesia.” Jeremy menjawab singkat, tatapan bertanya Devan yang tidak menemukan Qiara.
“What?”
“Qiara and Kala moved to Indonesia for good.”
Devan menghela napas mendengar hal yang ditakutkan terjadi.
“Duduklah, kubuatkan caffe latte ya, kamu seperti mau pingsan.”
Devan duduk. Dirinya paham betul alasan Qiara dan Kala pulang ke Indonesia.
Jeremy datang membawa secangkir cafe latte.
“So …” Ucapnya sambil duduk di depan Devan. Seorang pelayan membawakan brownies andalannya.
“I missed her and Kala. Mereka punya keahlian membawa aura bahagia bagi orang-orang di sekitarnya.”
Perkataan Devan membuat Jeremy tersenyum. Begitulah yang ia rasakan selama Qiara bekerja di kafenya sementara Kala duduk asik menggambar di counter.
Tamu-tamu kafe kadang tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu. Interaksi hangat dan penuh cinta, ditambah kekonyolan Kala.
“Kamu cinta dia?” Tanya Jeremy sebelum menghirup camomile tea kesukaannya.
“Aku ingin memulai semuanya dari awal. Merasakan jatuh cinta, saling mengenal, mencari kecocokan. Entahlah, hal normal yang dilakukan dua orang untuk memulai hubungan. Ooops bukan dua, tapi tiga orang. Kita nggak mungkin melupakan Kala, bukan?”
“Tidak mungkin,” sahut Jeremy sedikit terkekeh.
Ia melanjutkan, “She’s worthy, you know? Tipe wanita yang ingin kau jadikan pendamping hidup, menceritakan keseharian, dan tertawa bersama, menua bersama.”
“You fell in love with her that deep, huh?” Devan menatap netra Jeremy yang menerawang jauh.
“Yes, Dev, That deep.”
“And?”
“Dia nggak ngerasa apa-apa, sementara aku udah jungkir balik setengah mati membuatnya terpikat.”
“Mungkin karena kamu jungkir balik.” Devan coba menghibur pria di depannya yang dibalas lirikan tajam.
“Tapi kamu tahu nggak? Dia masih berbuat sesuatu luar biasa padaku. Kamu lihat wanita yang sedang mempelajari gambar desain ruang di sana? Dia Shaline, kenalan Qiara. Kami berniat memulai satu hubungan. Shaline sedang mempelajari konsep desain interior yang dibuatkan Qiara untuk kafeku yang baru.”
__ADS_1
Devan tersenyum. “Lebih baik kamu move on dari Qiara, mate. Jangan memulai sesuatu dengan masa lalu menggantung.”
“Seperti kamu, ya …”
“I’m done with Stella.”
“Pertanyaannya adalah, apakah Stella akan melepasmu begitu saja? Lalu bagaimana Liam? Bukankah ia menginginkan orang tuanya bersatu?”
“Aku sudah memintanya untuk tidak berharap. Kami terpaksa tinggal satu kota agar Liam mudah untuk berpindah setiap dua minggu. Mengejutkannya, Liam melihat aku tidak bahagia dengan Stella. Bahkan mengatakan aku harus membicarakan perasaanku dengan Qiara.”
Devan teringat nasihat anak tujuh tahun dan tanpa sadar ia mengikutinya.
“Berhati-hatilah, Stella sepertinya tipe wanita yang siap berbuat apa saja demi mewujudkan keinginannya. Maaf, tapi itu adalah pengamatan jujurku.”
Devan mendengus. Dia sudah mengonfrontasi Stella tentang perbuatannya hingga Qiara dipecat.
Stella tidak berani bicara apa-apa karena Devan mengancam akan minta agency Stella tidak memberikan job bahkan memecatnya jika wanita itu masih mau macam-macam.
Donavy adalah keluarga kuat dan terpandang di kota itu, permintaan mereka bagaikan titah.
“Saat ini Stella aman terkendali.”
“Jangan lakukan apapun yang menyakiti Qiara namun lakukan apapun asal wanita itu tidak kembali ke mantan suami lucknut.”
Devan tersenyum. “Kamu mendukungku sekarang? Are we friends now?”
“Nope, aku mendukung kebahagiaan Qiara. Sekuat apapun Donavy akan kulawan jika menyakiti Qiara.”
Devan dan Jeremy tertawa terbahak.
“Wish me luck, Mate. Btw … Kamu tahu alamat Qiara di Jakarta?
Devan berdiri dan meletakkan uang kertas di meja. Jeremy mengembalikannya.
“Aku traktir aja. Alamat Qiara? Hmmm kasi ga, ya?”
***
Bu RT yang dulu menolongnya juga sudah tidak tinggal di situ lagi.
“Apa yang kulakukan? Bahkan aku belum siap memberi tahu Mas Thoriq kalau dia punya anak dariku. Pikir yang bener dulu, Qia.”
Qiara melajukan mobilnya seputaran kompleks yang dulu ia tinggali bersama Thoriq. Banyak kenangan tertinggal di setiap sudutnya.
Tak kuat dengan gelombang masa lalu yang tiba-tiba menghantam dan membuat matanya menghangat, Qiara membawa mobilnya keluar kompleks.
Sebuah mobil berisi seorang laki-laki dan anak perempuan masuk tak berapa lama Qiara keluar dari kompleks.
***
Stella melihat sosok pria yang sedang muncul di layar TV.
“Mommy … that’s Daddy. Gedein, Mom, aku mau dengar,” pinta Liam sambil duduk di samping ibunya.
Devan sedang membuka fasilitas perawatan penderita kanker untuk anak-anak di rumah sakitnya. Fasilitas dengan subsidi silang agar bisa membiayai pasien yang tidak berkecukupan.
Peresmian dihadiri oleh semua orang penting di kota Melbourne. Stella tersenyum miris.
“Harusnya aku ada di sana juga,” gumamnya.
“Yes, Mom, did you say something?”
“No, darling. Daddy hebat, ya?”
“Ya, kalau aku udah besar mau jadi dokter kayak Daddy,” jawab Liam, matanya lekat memandang Devan yang sedang menunjukan fasilitas-fasilitas perawatan.
“Maafin, Mommy nggak bisa kembali sama Daddy.”
“It’s fine Mom. Aku melihat Daddy nggak happy sama Mommy. Nggak seperti kalau ketemu Qiara.”
__ADS_1
“What?”
“Kenapa, Mom?”
“Daddy ajak kamu ketemu Qiara?”
“Aku juga udah temenan sama anaknya. Dia suka Thor juga. Aku mau ajak dia main ke mansion lalu kita akan …”
“Stop! Liam, Mommy larang kamu ketemu Qiara dan anaknya. Kamu boleh main sama siapa saja asal bukan mereka. Ngerti, Liam?”
Stella memegang kedua pundak Liam dan menatap tajam ke arah anaknya.
Liam ketakutan. “Mommy, you hurt me, sakit, Mom…”
“Aw, sorry, Liam.”
“Kenapa aku nggak boleh ketemu Qiara dan Kala?”
“Mereka bukan orang baik-baik, Liam. Tidak seperti kita.”
Liam mengerutkan alis. Seingatnya, Qiara selalu ramah padanya, apalagi Kala. Anak itu lucu dan celetukannya membuat tertawa.
“Tapi Mom …”
“Mommy said no, Liam. Bilang sama Mommy kalau Daddy mengajakmu ketemu Qiara dan anaknya.
Liam mengangguk karena tidak ingin Stella semakin marah. Ia tahu bagaimana jika ibunya sudah marah.
Stella mengecup kepala anaknya.
“Liam ke kamar dulu sana, belajar.”
Anak laki-laki itu langsung lari dan menutup pintu kamarnya.
Stella menekan nomor Devan.
“How dare you! Kamu ajak Liam ketemu Qiara dan anaknya tanpa seijinku?”
Devan memijit keningnya.
“Sudahlah, Stell. Aku ayahnya Liam juga. Aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan.”
“Brengsek kamu. Dengar, aku sudah bilang Liam agar tidak bergaul dengan orang-orang rendahan seperti wanita pujaanmu itu.”
“Rendahan? Sebaiknya kamu tidak asal bicara Stell. Aku bisa melaporkanmu kepada komisi pengawasan hak asuh. Aku tidak keberatan mengasuh Liam sepenuhnya seorang diri,” ucap Devan tenang.
“Oya, Stell, try to let go and move on,” tambahnya lagi.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu membawa Liam jika sedang bersama Qiara. Dia akan membawa pengaruh buruk.”
“Unbelievable! Lalu bagaimana dengan Nick? Cinta lamamu itu, bukankah dia suka main di belakangmu dengan model-model muda? Dan playboy kacangan itu pulang tiap hari bertemu anakku selama bertahun-tahun…”
“Aaaarg!”
Stella tidak menjawab lalu membanting teleponnya.
***
Tak lama setelah menutup telepon mantan istrinya, Devan menerima telepon dari Liam yang tersedu-sedu. Dia sangat menyukai Kala juga Qiara.
Devan berjanji akan bicara lagi dengan Stella jika sudah tenang. Percuma bicara jika wanita itu masih terbakar emosi.
Melalui telepon Devan berpamitan untuk pergi ke Indonesia selama seminggu untuk mencari Qiara. Liam menangis karena Kala kini jauh. Ia minta nomor telepon Qiara agar bisa mengirim gambar-gambar Thor ke Kala.
Devan menyiapkan segala sesuatu untuk menyusul Qiara ke Indonesia. Menitipkan pasien-pasiennya pada para dokter pengganti.
Sebelum tidur ia melihat fotonya bertiga dengan Qiara dan Kala.
“I miss you guys a lot …”
__ADS_1
***