Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Cinta tapi Galau


__ADS_3

“Abby, boleh Buna tanya sesuatu? Buna merasakan sesuatu yang beda saat kamu bersama Muhammad. Kamu terlihat bahagia namun Buna juga merasakan kebimbangan. Benarkah?”


Abby tidak menjawab ibunya. Ia memalingkan wajahnya ke luar jendela kereta api yang membawa mereka dari Dublin menuju Glasgow.


Thoriq duduk di seberang mereka sambil membaca. Barran memutuskan untuk bergabung karena tidak mungkin membiarkan Bunanya dan Abby pergi bersama Thoriq yang bukan mahram. Pas juga kuliahnya sedang libur panjang.


“Abby menyukai Muhammad, tapi kenapa feeling ini menyatakan ada yang salah?”


Qiara meraih tangan anaknya.


“Percayalah pada perasaanmu, Sayang. Jangan paksakan untuk sebab apapun.”


Thoriq mendengar ucapan Qiara dan tidak berani menatap mantan istrinya. Walau Qiara tidak bermaksud menyindir tapi dulu Thoriq yang mengambil keputusan untuk menikahi Hanna.


Terlepas dari kakek dan neneknya yang sampai bersujud memohon tapi seharusnya dia kuat dan tidak menyetujui pernikahan yang menyakiti cinta sejatinya.


“Kalau menurut Mbak, apa yang membuat rasa yang salah?” Barran ikut nimbrung.


Abby kembali menerawang jauh. Hamparan permadani rumput dan kastil-kastil di kejauhan mengiringi perjalanan kereta mereka.


“Muhammad itu selalu nice and sweet sama Mbak. Perhatian dan melindungi. All that women’s want. Mbak tu berbunga-bunga kalau denger suara dia, nanyain kabar, cek apakah udah makan atau belum. Namun di saat yang bersamaan, hati Mbak kayak takut.”


“Takut? Mbak, did he ever harm you?” Barran punya sifat paling tidak sabar di antara saudara-saudaranya. Itulah salah satu sebabnya ia memilih belajar agama di Madinah untuk belajar lebih sabar.


Thoriq meletakkan buku yang dibelikan Qiara.


“Abby?” Raut Qiara mencerminkan kekhawatiran.


“Mbak jangan takut, ngomong aja. Ada aku dan Uncle Thoriq yang akan melindungi.”


Qiara mendelik ke arah Barran. Bisa-bisanya dia mengajak Thoriq mengurus anaknya dan Devan.


“Nggak apa, Qia. Kali aja ada yang Mas bisa bantu.”


“Makasi, Mas,” ucap Qiara tidak enak, masih melayangkan lirikan maut ke Barran yang terkekeh melihat tingkah ibunya.


Abby tersenyum, dua hari ini Bunanya nampak berseri-seri. Sama saat ketika Daddy-nya masih ada. Enam tahun lebih Buna mengurung diri dalam kenangan bersama Devan. Abby dan saudara-saudaranya sangat ingin melihat Buna kembali ceria.


Sejenak harapan Buna yang bahagia mengusir kegalauan Abby terhadap seorang pria yang gigih mengejar cintanya.


“Abby, kamu bisa cerita sama Buna tentang apa aja. Jangan khawatir. Kalau memang belum nyaman dengan Muhammad Fauzan, jangan kamu paksakan.”


Abby mengangguk.


***


“Dasar anak goblok! Cuma bikin Abigail Donavy mau jadi istrimu aja kenapa susah amat sih?”


Muhammad mengusap pipinya yang terkena tamparan keras dari ayahnya. Ini semua gara-gara Abby tidak memberi jawaban pasti ketika ditanya apakah sudah siap untuk menikah dengan Muhammad.


“Kita perlu uang dan Donavy punya simpanan yang tidak terbatas. Kamu nikahi Abigail atau gadis miskin pujaanmu itu akan rasakan akibatnya.”


“Jangan Aba. Muha mohon jangan sakiti Qismina.”


“Bagus! Pulang Abigail dari jalan-jalan, kamu lamar dia. Kalau perlu kamu susul dia ke Scotlandia, buat dia terpesona. Jangan cuma bikin terpesona anak pembantu aja bisanya.”


“Muha, ini cincin pemberian ibuku. Pakailah untuk melamar Abigail. Ingat, Bunde tidak mau hidup pura-pura kaya. Bunde mau kaya seperti dulu lagi dan Abigail adalah tiket buat kemakmuran keluarga kita. Jangan lembek!”


Muhammad menatap cincin bertahta berlian sambil meneguk salivanya.


“Bbbaik, Bunde.” Kepalanya terasa berdenyut akibat tamparan ayahnya.


“Pergi sana, cuma bikin tekanan darah Aba naik.”


“Sepulang Abigail dari perjalanannya. Kamu ambil cincin ini dan lamar dia,” imbuh Bunde tidak peduli dengan perasaan anak tunggalnya.

__ADS_1


Muhammad mengangguk pasrah lalu meninggalkan ke dua orang tuanya.


Di kamar ia menghempaskan tubuh ke ranjang.


Muhammad Fauzan mengambil hapenya. Di galeri foto ia menemukan gambar gadis yang dicarinya. Qismina Baehaqi. Wajahnya manis, matanya selalu berbinar ceria padahal hidupnya tidaklah bergelimang harta.


Ayahnya adalah salah satu pekerja kebun sawit sementara ibunya adalah ART di rumahnya. Muhammad baru mengenal Qismina setelah mereka sama-sama dewasa. Gadis cerdas itu banyak mendapat beasiswa hingga bisa menyelesaikan kuliah. Muhammad Fauzan yang lima tahun lebih tua diundang sebagai dosen tamu di sana.


Qismina mengenalkan dirinya, tanpa malu menyebutkan bahwa ibunya dulu menjadi ART di rumah keluarga Datuk Khalid Muhammad.


Mereka tidak bertemu lagi sampai Qismina mendapat tugas belajar ke London dari perusahaan. Muhammad Fauzan sudah bekerja di salah satu konsultan manajemen di kota London. Lagi-lagi Muhammad adalah salah satu pembicara di kelas yang harus diikuti Qismina.


Tiga bulan mereka saling mengenal dan Muhammad Fauzan sangat terkesan hingga jatuh cinta pada Qismina.


Di samping pekerja keras, Qiamina juga sangat bertanggung jawab pada keluarganya. Ayah dan ibu membuka warung nasi di kampungnya dengan modal yang diberikan oleh putri sulung mereka itu. Ia pun berhasil menyekolahkan adik-adiknya hingga saat ini.


Muhammad mengenalkan kepada Aba dan Bunde. Ibunya mengenali Qismina sebagai anak salah seorang pembantu. Sepulangnya gadis itu, Khalid dan Siti langsung menyuruh Muhammad untuk meninggalkan Qismina dan mendekati Abigail Dian Donavy.


“Kita perlu uang. Aba kamu ditipu jadi kebun sawit kini dikuasai keluarga Aba Rasjidi,” jelas Bunde santai.


Muhammad memijit pelipisnya. Dari dulu keluarga Khalid selalu bertikai dengan sepupunya sendiri, Rasjidi. Apalagi kalau bukan terkait harta berupa kebun kelapa sawit warisan kakek mereka.


Mereka bukannya jatuh miskin, jika bisa hidup lebih sederhana dan tidak selalu ingin pamer, keuangan mereka masih lebih dari cukup. Apalagi Muhammad memiliki pekerjaan dan jabatan yang baik di kantornya.


Khalid sendiri memiliki perangai keras. Dari kecil Muhammad sudah terbiasa dengan pukulan atau sabetan rotan. Yang mengherankan adalah Bunde yang hanya diam saja.


Muhammad terpikir Abby. Gadis manis dan cerdas itu ditargetkan kedua orang tuanya untuk jadi istri hanya agar mereka bisa mengeruk kekayaannya.


Muhammad mengirimkan pesan kepada Abby:


Hi Cantik, gimana jalan-jalannya? Baru dua hari aja aku udah kangen.


Pria tampan nan atletis itu menghela napas lalu berkata lirih, “Maafkan aku, Qismina, Abby. Aku harus menuruti keinginan orang tuaku.”


***


“Heh, Mbak senyum-senyum sendiri kayak orang bener.” Barran menepuk pundak kakaknya.


Abby tidak menanggapi Barran yang usil. Pandangannya mencari Buna yang sedang mengambil foto-foto bersama Thoriq.


“Menurut kamu, mereka akan balikan nggak?” Tanya Abby sambil terus memerhatikan Qiara dan Thoriq. Barran pun mengarahkan pandangan melihat dua paruh baya saling menunjukkan hasil jepretan.


“Aku nggak pernah liat orang yang begitu mencintai seseorang seperti Buna, Daddy, dan Uncle Thoriq. Buna itu sepertinya takut melupakan Daddy jika membuka hatinya untuk Uncle Thoriq.”


Abby kembali bertanya, “Atau masih marah?”


“Diselingkuhi itu konon sakitnya sampai ke tulang. Buna nggak akan tertawa seperti itu jika masih menyimpan marah terhadap Uncle Thoriq. Apalagi sama Tante Hanna juga sekarang sudah akrab.”


Abby melayangkan pandangan ke arah lain. Sepasang muda-mudi duduk di bangku taman. Si pemudi menyandarkan kepalanya ke pundak pasangannya. Sepertinya mereka sedang menonton sesuatu di hape. Kadang tertawa bersama, lalu si pemuda mengelus kepala wanita cantik di sampingnya.


“Aku tidak merasakan ketulusan dari Muhammad padaku,” ujar Abby pelan, memaknai setiap kata yang keluar dari mulutnya.


“Tapi menurut Mas Kala …” Balas Barran.


“Ini sesuatu yang Mas Kala tidak mungkin bisa tau. Hanya Mbak yang bisa merasakan.”


“Tapi Mbak suka sama Muhammad?”


“Yep!”


“Hah! Itu bukan jawaban orang yang dimabuk cinta.”


“Kamu tanya Mbak suka atau tidak, kan?”


“Jangan dipaksakan, Mbak. Menikah itu harus pakai cinta.”

__ADS_1


“I know, itu yang bikin Mbak ragu. Mungkin aja yang Mbak rasakan adalah euphoria, kesenangan sesaat karena mendapat perhatian dari lawan jenis. Walau kok Mbak nggak merasa dia nggak tulus memberikannya.”


“Biar Mas Kala selidiki.”


“Mas Kala udah kena sogokan.”


“Mbak, Mas Kala itu gayanya aja kayak gitu. Tapi protektif sama adek-adeknya luar biasa. Aku juga kenal Muhammad, kok, dan sudah tanya ke teman-teman memang orangnya taat. Lurus lah nggak kebawa budaya barat.”


Barran merenung, “Umar bin Khattab berpesan bahwa ada tiga cara untuk mengenal karakter seseorang. Pertama, ketika dalam perjalanan jauh. Kedua, saat berbisnis. Ketiga, jika diberi amanah. Kita baru mengenal Muhammad dari luarnya saja.”


“Jadi Mbak harus safar dulu sama Muhammad?” Abby iseng bertanya.


“Mbak Abby! Berantem yuk.” Barran menatap dalam mata kakak perempuan satu-satunya.


Abby tertawa terbahak-bahak lalu mengacak rambut adiknya. Meski harus berupaya keras dengan berjinjit.


“Nggak, lah adikku sayang. Mbakmu ini hanya mau menyerahkan diri pertama kali pada orang yang sudah halal.”


“Euuuw. Mbak!”


Barran menunjukkan wajah mau muntah hingga membuat Abby gemas lalu mencubit pipinya.


“Aaw aaw, ampun!”


Qiara melerai anak-anaknya. “Abby, Barran. Ampun deh kalian nih. Udah gede-gede.”


“Mbak Abby tu aneh, Buna. Harus dididik lagi.” Abby memeletkan lidahnya bersiap menyubit Barran.


Thoriq senyum-senyum melihat polah tingkah anak-anak Qiara. Walau sering ribut namun nampak sekali kalau mereka saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.


“Buna sama Uncle Thoriq mau jalan ke sana. Kalian mau ikut atau lanjut berantem?”


“Ikut!“ Barran langsung jalan di depan menyusul Thoriq dan menjauh dari Abby.


“Ngobrol apa?”


“Biasa, gosipin Buna sama Uncle Thoriq.”


“Hush! Nggak usah digosipin. Kita cuma temenan.”


“Buna, jujur, sejak Daddy meninggal, baru kali ini Buna terlihat glowing lagi. Abby rasa, Daddy akan setuju kalau Buna membuka hati untuk Uncle. Buna, Uncle Thoriq memang pernah punya salah besar, tapi lihat, setelah itu Uncle sama sekali nggak membuka hati siapa pun. Di hatinya cuma ada Buna. Bahkan Tante Hanna pun nggak berhasil mendobrak cinta Uncle sama Buna.”


“Gombal, kamu.”


“Buna, please be happy again.”


“Happy, kan, nggak perlu menikah. Gini aja udah cukup.”


“Ooh gitu. Jadi Abby boleh happy-happy sama cowok tanpa menikah, dong.”


“Abigail!”


“Buna, ngomong apa dia? Pasti ngacok.” Barran menoleh ketika mendengar Bunanya memanggil Abigail dengan suara keras.


Abby menyeringai jahil.


Thoriq yang sudah jalan di depan menoleh ke arah Qiara. Pria itu tahu diri. Dia adalah orang luar di keluarga itu. Setelah memastikan Qiara baik-baik saja Thoriq lalu melanjutkan langkahnya.


“Apa yang bikin Buna ragu sama Uncle Thoriq?” Tanya Abby lagi.


“Perasaan Buna yang masih terikat sama Daddy kalian. Buna seperti berkhianat.”


“Kalau begitu cara pandangnya berarti Daddy lebih dulu berkhianat karena ninggalin Buna. Memang benar, nggak perlu menikah untuk bahagia, tapi kalau dengan menikah bisa lebih bahagia kenapa enggak?”


“Pinter juga, ya, kamu.”

__ADS_1


“Kan anak Buna sama Daddy.” Abby merangkul ibunya lalu menyium pipinya dengan penuh kasih sayang.


***


__ADS_2