Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Suram


__ADS_3

“Buna, aku udah rapi belum?”


“Udah, kok. Liam udah ready ketemu Mommy.”


Anak itu mengangguk tegas. Devan merangkul pundak Liam. Bagaimana pun, Stella adalah ibu kandung Liam. Jika Liam meminta untuk bertemu, sedapat mungkin Devan akan memenuhi tentunya setelah diskusi dan sepakat dengan Qiara.


Qiara menyamakan tingginya dengan Liam. Menatap lembut wajah mungil tampan perpaduan Devan dan Stella.


“Sayang, Buna doakan semua lancar. Be strong, okay kiddo?”


“Strong as Thor!” Liam melucu untuk menyembunyikan kegugupannya.


“Terima kasih buat pengertian kamu, ya, Qia. Aku dan Liam pergi dulu.” Devan menyium kening Qiara sebelum menggandeng anaknya ke mobil.


Bertemu Stella membuatnya gugup. Bukan karena masih cinta, tapi ia mengkhawatirkan reaksi Liam.


Di perjalanan, mereka berdua berdiam diri. Devan melirik Liam.


“How are you?”


“Nervous, angry, disappointed, afraid, sad, embarrassed.”


Devan terhenyak mendengar jawaban anaknya. Di usia delapan tahun Liam harus merasakan kepedihan begitu dalam dan semua disebabkan karena ibunya.


Refleks, Devan merangkul Liam untuk melindungi. Ingin mengganti semua perasaan buruk itu dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang seharusnya mewarnai hari-hari anak itu.


“Kalau Daddy, apa yang dirasakan?”


“Kurang lebih sama, hanya saja, Daddy kan lebih dewasa jadi in syaa Allah bisa mengatasi semua perasaan negatif ini. Kamu … kamu masih muda, harusnya senang-senang, main …”


“Buna bilang, kehidupan terus bergulir. Hanya untuk Liam putarannya lebih cepat. Kita harus memilih bagaimana harus bersikap di setiap kejadian dalam hidup.”


Devan menyium pucuk kepala anaknya. Bersyukur ia punya istri bijak dan tegar namun penuh kasih sayang seperti Qiara.


“Kita berdua pasti bisa menghadapi ini. Daddy ralat, kita semua bisa melewati hal ini. Liam selalu punya Daddy dan Buna untuk cerita, ya.”


“Kala?” Liam tertawa mengingat adik sambungnya yang makin lama makin kocak dan sotoy. Karena masih kecil, Kala tidak paham dengan apa yang menimpa keluarganya.


“Juga Kala …” Devan ikut tersenyum membayangkan wajah Kala. Ia sudah sangat menyayangi Kala layaknya anak kandung.


“Dad, itu tempatnya?”


Devan mengangguk. Dinas Kesejahteraan Anak tidak mengijinkan Liam bertemu Stella di penjara. Siang itu mereka bertemu di sebuah kantor yang sudah disiapkan.


Stella tidak akan memakai baju tahanan namun tetap ada penjaga di dekatnya. Liam harus didampingi ayahnya dan seorang psikolog yang ditunjuk oleh kedinasan yang berwenang.


Devan menggandeng tangan anaknya menuju ruangan. Sebelum masuk Liam menghentikan langkahnya. Terlintas berbagai hal buruk yang terjadi di hari naas itu.


Ayahnya duduk untuk menyamakan tinggi lalu menatap netra Liam.


“Kita bisa batalkan kalau kamu nggak siap. It’s okay.”


Liam teringat nasihat Bunanya untuk selalu tenang dan berpikir sebelum bertindak. Ia memejamkan mata untuk mempersiapkan diri.


“I’m good Dad. Let’s do this.”


Ayah dan anak itu masuk ke ruangan dimana Stella sudah menunggu.


“Liam, come to Mommy.” Wanita beranak satu itu hendak menghambur ke Liam namun seorang petugas wanita dengan tegas mencegahnya.


“No physical touch between prisoner and visitor,” titahnya tegas.


Liam tertegun. Meski tahu wanita di hadapannya adalah Stella namun wajahnya yang sudah dioperasi membuat Liam harus beradaptasi.

__ADS_1


“Mom …”


“Yes, Liam, my boy …” Air mata mengalir dari sudut netranya.


Penjaga mempersilakan semuanya untuk duduk di tempat yang sudah ditentukan. Devan terus merangkul anaknya.


“Hi, Dev,” sapa Stella santai seolah tidak terjadi apapun. Wanita itu diam-diam berdandan lebih rapi karena akan bertemu Devan. Meski berbeda namun wajah oplasannya tetap cantik.


Devan tidak bereaksi dan langsung duduk di tempat yang diarahkan petugas.


“Liam, Mommy minta maaf. Tapi Liam tahu kan kalau Mommy tidak mungkin menyakiti kamu?”


Devan menahan marah.


“How could you say that? Tingkahmu membahayakan Liam. Kamu memang tidak menyakiti secara fisik namun psikisnya terluka!”


Devan hendak membuka mulut tapi petugas memberi kode untuk tetap diam. Mereka tidak ingin ada pertengkaran yang membuat situasi semakin tidak kondusif untuk mental Liam.


Tidak ada jawaban dari Liam. Matanya tertunduk lesu.


“Hey, Mommy’s here. Everything is gonna be alright. Kita akan bersama lagi. Liam akan bantu Mommy kan bilang sama mereka kalau Mommy tidak menyakiti Liam?”


“Tapi Mommy menyakiti Jack dan Buna. Jack meninggal, Mom. Jack adalah temanku. Ia selalu membuatkan aku hot coco dengan marshmallows sebelum tidur. Jack suka membacakan cerita bajak laut dan pedagang cerdik dengan kocak. Aku kehilangan teman, Mom.”


“Mommy minta maaf, Sayang. Tapi tidak pernah ada niat untuk menyakiti Jack.”


Mata Liam kembali berkaca-kaca. Ia memang tidak melihat ibunya menembak tapi ia ingat ibunya tidak menolong Jack dan malah mengajaknya pergi.


“We left him to die, Mom! We didn’t help him at all.”


Stella tertegun. Tak terbersit bahwa Liam menanggung rasa bersalah.


“No, Liam. You didn’t do anything. I did it,” ucapnya lirih.


“Dia menghancurkan kesempatan kita untuk menjadi keluarga yang utuh, Liam. Apakah kamu nggak mengerti? Kalau tidak ada Qiara, Mommy and Daddy bisa menikah lagi. Kamu nggak mau itu? Kamu lebih memilih Qiara dari Mommy?


“Tahanan Stella! Jaga kalimat Anda!” Tegur psikolog yang melihat Liam mulai tertekan.


“Maafkan Mommy, but I did it for us, Liam.”


“Mommy, aku nggak masalah Mommy dan Daddy tidak menikah. Banyak temanku yang orang tuanya bercerai. Mereka baik-baik saja. Temanku masih bisa bertemu ayah atau ibunya. Tidak ada yang harus mati terbunuh.”


“I love you, Liam. Aku hanya melakukan apa yang kupikir baik untuk kita. Suatu saat kamu akan bisa memahami tindakan Mommy.”


“Yang aku tahu, karena tindakan Mommy, aku tidak akan bisa bertemu denganmu setiap saat.” Liam terisak.


“Liam bisa bantu Mommy. Katakan bahwa Mommy tidak memaksamu dan ini semua adalah …”


“Peringatan terakhir Tahanan Stella! Anda tidak boleh memengaruhi kesaksian.” Kini seorang petugas dari penuntut umu memeringatkan Stella.


“Maaf …”


Stella menatap wajah putranya yang semakin pucat.


“Liam, jika kamu ingin terus bisa bertemu Mommy, bisa sampaikan nanti ke hakim.”


“That’s it! Pertemuan selesai.”


Liam menatap nanar ketika petugas menyuruh ibunya berdiri lalu membawanya pergi.


Anak itu sempat mendengar ibunya berteriak, “Kamu bisa bantu Mommy, Liam. I love you!”


***

__ADS_1


Julianne Lawrence, hakim yang memimpin persidangan Stella menatap ruangannya yang disulap menjadi lebih ceria.


Siang itu, dirinya akan mendengarkan kesaksian Liam di ruangannya, bukan di ruang sidang. Tidak seperti biasanya, ia memakai pakaian semi formal agar tidak membuat suasana menakutkan untuk Liam.


Sebagai seorang ibu, sebenarnya ia merasa geram dengan perbuatan Stella. Namun sebagai hakim, ia harus mengambil keputusan seadil mungkin.


Mempertimbangkan berbagai aspek termasuk kesaksian Liam. Berdasarkan referensi psikolog, Stella tidak akan hadir karena dinilai akan mengintimidasi Liam.


Stella akan hadir di ruang yang berbeda dan menonton melalui layar kaca tayangan langsung dari ruangan hakim.


Hal itu juga untuk keselamatan Liam. Saat Qiara memberikan kesaksian, Stella naik pitam dan hampir berhasil menyerang Qiara.


Kejahatan Stella sudah terbukti jelas, hanya hakim perlu memutuskan apakah Stella akan dihukum di negaranya atau di Afrika.


Pukul 10 pagi, Liam, ayahnya, dan pengacara hadir. Perangkat pengadilan juga hadir, semua memakai baju semi formal agar Liam merasa nyaman.


Kue-kue disajikan, juga limun segar. Julianne bertanya dengan gaya santai sehingga Liam bisa menjawab dengan tenang.


Setelah mengajukan banyak pertanyaan, Julianne memberikan pertanyaan terakhir.


“Liam, apakah kamu ingin bertemu Mommy setiap hari?”


“Sure! Aku sayang Mommy.”


Julianne tersenyum mendengar jawaban polos anak kecil itu. Di ruang lain, Stella tersenyum, ia yakin pernyataan anaknya bisa sangat meringankan hukumannya.


“Tapi …”


Liam melanjutkan, “Tapi aku tahu apapun alasannya, Mommy tidak boleh menyakiti orang lain. Dan aku tahu Mommy tidak sedang membela diri dari Jack dan Qiara. Dari teman-teman aku mendengar Mommy juga menyakiti orang di Afrika.”


Stella tersentak.


“Judge, jika Mommy dipenjara, aku akan sangat merindukannya. Tapi aku paham Mommy juga sudah membuat banyak hal buruk.”


Suara Liam bergetar dan makin lirih. Psikolog memberi kode pada Julianne agar mengakhiri karena Liam terlihat mulai tertekan.


“Wow, Liam! Kamu hebat banget sih untuk anak umur delapan tahun. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan baik.”


Liam tersenyum malu lalu menatap netra ayahnya.


“Baiklah kita sudah selesai. Liam, ini hal yang berat tapi aku harap kamu tabah dan tegar,” ujar Julianne sambil berdiri dan menyalami Liam.


Julianne memang benar kagum dengan jawaban lugas Liam yang diyakini penuh kejujuran. Sebelum Liam keluar dari ruangannya, Julianne bertanya, “Hey, Liam, apa cita-citamu?”


“Kata Daddy aku cocok jadi penasihat cinta, semacam Love Guru, ya, kan?” Jawab Liam polos dengan alis terangkat menatap Devan.


“Astaga …” Devan terbelalak mendengar jawaban anaknya. Pria itu menggumam tak jelas ke arah Hakim Julianne yang menahan geli.


***


Stella berdiri gugup ketika hakim menyuruhnya untuk berdiri menerima putusan sidang.


“Berdasarkan bukti yang kami terima, Stella dinyatakan bersalah atas kematian Jack, penculikan terhadap Qiara Anjani, dan kekerasan psikis terhadap Liam Donavy. Di samping itu untuk pemalsuan data pribadi menjadi Jasmine Porter, juga bersalah.”


Stella menatap hakim dengan tatapan putus asa.


“Stella akan dijatuhi hukuman lima belas tahun penjara. Sedangkan untuk kejahatan yang dilakukan di luar negeri, persidangan akan dilakukan di wilayah hukum tempat kejadian perkara. Untuk itu, terpidana akan segera berangkat ke Afrika untuk menjalani pengadilan di sana.”


Senyum Karel mengembang saat mendengar kalimat terakhir.


Sementara Stella langsung jatuh pingsan karena tak menyangka akan diterbangkan kembali ke Afrika.


***

__ADS_1


__ADS_2