Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Dua Wanita Lucknut


__ADS_3

“Kenapa kamu mau membantuku lepas dari Bastian?” Apa hubunganmu dengan Bastian?”


“Tidak ada, aku tidak berhubungan dengan mucikari manapun,” jawab Stella sambil menghembuskan asap rokok ke atas.


“Aku dan kamu punya satu kesamaan. Kita punya masalah dengan wanita bernama Qiara Anjani.”


Hanna terbelalak.


“Apa hubunganmu dengan Qiara?”


“Well, katakan saja, ia mengambil hakku.” Stella tertawa sinis lalu mengulurkan foto Qiara dan Kala.


Hanna miris melihat kemiripan wajah Kala dengan Thoriq.


Ia menggumam, “Jadi rupanya Qiara sedang hamil waktu menghilang.”


“Yep, menghilang dari kehidupanmu dan masuk ke kehidupan mantan suamiku. Aku ingin bisa lebih jahat, mengatakan Qiara berselingkuh dengan suamiku, tapi aku yakin kamu tidak akan percaya.”


Alis Hanna berkerut tak percaya.


“Nggak percaya, ya? Aku juga nggak ngerti gimana bisa suamiku jatuh cinta pada wanita seperti Qiara setelah lepas dariku.”


“Kenapa aku harus membantumu?”


“Well kamu bisa menolak jika memang senang ditiduri banyak laki-laki setiap hari… kalau memang begitu, silakan pergi.”


Hanna terkesiap. Sebelum menemui orang suruhan Stella yang berpura-pura jadi pelanggan baru, Bastian menyuruhnya melayani beberapa orang sekaligus.


“Bastian itu mucikari bajingan. Kamu bukan satu-satunya wanita yang terjebak. Tom, how many women are there?”


“Four.”


“Four stupid rich women married to him and end up as prostitutes. Kalian malah lebih buruk. Wanita panggilan setidaknya menikmati hasil kerja mereka. Kamu …” Stella sengaja menggantung kalimatnya.


Mata Hanna berkaca-kaca.


“Bantu aku, kamu akan bebas dari Bastian. Kamu akan kupindahkan ke luar negeri. Di samping itu walau tidak mungkin kembali ke Thoriq karena ia pasti jijik, setidaknya kamu bisa membalas Thoriq dan Qiara.”


Hanna mengusap pipinya. Betapa benar ia adalah wanita kotor yang menjijikkan.


“Bagaimana aku tahu kamu bukan orang suruhan Bastian.”


“Ya ampun, kamu bodoh atau apa sih? Kamu pikir model internasional sepertiku mau kenal dengan bedebah macam Bastian. Tidak, Hanna, Sayang, jika bukan karena aku ingin menjauhkan Qiara dari mantan suamiku, aku juga nggak sudi mengenalmu.”


“Dasar sombong!”


“Aaah, it’s your life my dear. Silakan nikmati para lelaki hidung belang yang memperlakukanmu sebagai pemuas napsu. Kuberi waktu dua hari sebelum tawaranku hangus.”


Stella memberi kode kepada anak buahnya.

__ADS_1


“Apartemen ini aman, Bastian tidak bisa memasang kamera di sini. Beristirahatlah di kamar, aku yakin kamu kelelahan. Setelah dua jam, kamu harus keluar kalau tidak ingin Bastian menyusulmu ke sini. Dua hari lagi, aku akan menghubungimu.”


Tom menyuruh Hanna istirahat di kamar. Sebelum merebahkan tubuhnya, Hanna menyetel alarm. Dalam hitungan detik, ia tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur nyaman dan empuk.


Tom dan Stella mengintip wanita muda bernasib malang.


“Dia terlalu rakus ingin memiliki Thoriq seorang diri,” ucap Stella ketus.


Tom menggeleng karena tidak melihat perbedaan antara Stella dan Hanna. Dua wanita yang terobsesi dengan seorang pria.


Tak mau ambil pusing, Tom membuka pintu, mempersilakan Stella keluar menuju penthouse. Di sana mereka mendiskusikan langkah berikutnya agar misi memisahkan Qiara dan Devan berjalan lancar.


Setelah satu jam tertidur, Hanna membuka mata. Setelah tidur pulas, tubuhnya terasa lebih baik. Ia masuk ke kamar mandi menyalakan air di bathtub dan berendam dengan busa melimpah.


Matanya terpejam memikirkan tawaran Stella. Hapenya berbunyi, sebuah pesan masuk dari Bastian.


“Tiga puluh menit lagi. Di lobby.”


Air mata menetes, Hanna buru-burunmengusap wajahnya. Dirinya paham, Bastian akan membawanya ke laki-laki hidung belang lain.


Dua hari ia harus bertahan untuk melayani pelanggan yang sudah membayar mahal.


Kakinya menendang-nendang air, membuat cipratan di sana sini. Ia benci menjadi pemuas napsu. Benci harus menuruti semua keinginan lelaki yang menyewanya.


Hanna keluar dari bathtub dengan tubuh polos. Berdiri di depan cermin, menatap pantulan tubuh wanita muda yang sudah dijamah entah berapa laki-laki.


Wajahnya terlihat muda dan polos. Membuat pria-pria itu tertipu dengan permainan panas yang ia berikan di atas ranjang. Tubuhnya sintal sempurna dengan kulit mulus berseri. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan.


***


Dua hari kemudian Bastian membawa Hanna ke sebuah apartemen mewah lainnya.


“Ini klien baru yang waktu itu. Siapa sih dia?”


“Orang bule. Dia nggak banyak ngomong.”


Bastian terkekeh dengan nada merendahkan. Hanna meliriknya dengan penuh kebencian.


“Aku mau ketemu dia.”


“Terserah …”


“Sopan dikit kalau diajak bicara, aku ni masih suamimu.” Bastian mendorong pelan kepala Hanna hingga terantuk kaca jendela mobil.


Hanna susah payah menahan marah. Ia sudah tidak punya harga diri lagi di depan Bastian. Takut menggagalkan rencana, Hanna hanya mengusap kepalanya yang sakit.


Bastian tersenyum sinis.


“Daripada nganggur dan mumpung masih jauh, puaskan aku,” ucapnya sambil membuka resleting celananya.

__ADS_1


Hanna tertegun namun langsung patuh pada perintah Bastian. Tidak berani membantah laki-laki yang tak punya rasa iba.


Bastian menikmati bagaimana Hanna bermain dengan mulut dan lidahnya.


“Pantas saja dari semua, Hanna yang paling laku,” batinnya senang. Ia tak peduli pundak Hanna yang tergesek-gesek kemudi saat memuaskannya. Bastian terus menekan belakang kepala Hanna dengan satu tangan dan mengemudi dengan tangan yang lain.


“Cukup, bersihkan aku dan dirimu, kita sudah hampir sampai.”


Lagi-lagi Hanna menuruti titah Bastian.


“Sabar, Hanna. Tak berapa lama lagi kamu bebas.”


Setelah memarkir mobilnya, Bastian dan Hanna berjalan menuju lift khusus yang membawa mereka ke sebuah penthouse.


Pintu dibuka oleh seorang laki-laki yang belum pernah dilihat Hanna. Bastian masuk melihat berkeliling.


“Harusnya aku charge tiga kali lipat ini,” ucapnya dalam hati.


Bastian terus berjalan masuk, sambil menanyakan berbagai hal. Matanya bergerak ke sana kemari mencari spot strategis untuk kameranya.


Tanpa sadar dua orang bertubuh tinggi besar mengikuti di belakangnya. Salah seorang membekapnya dengan sapu tangan. Bastian hanya mampu melawan beberapa detik sebelum terkapar.


“Dia pingsan?”


Salah seorang dari mereka menjawab.


“Dia akan pingsan untuk dua hari.”


Hanna mendekati tubuh Bastian, memandangnya dengan penuh kebencian.


Dengan sekuat tenaga Hanna menendangi pria yang masih berstatus suaminya.


“Bajingan, bangsat! Mati kau bedebah!”


Di setiap tendangan, Hanna terbayang perlakuan yang dia terima dari Bastian. Betapa ia telah kehilangan seluruh harta warisan kedua orang tuanya. Hingga betapa hina dirinya harus berpindah dari ranjang ke ranjang.


“Miss cukup, kamu akan membunuhnya.”


Hanna berhenti ketika salah satu laki-laki itu menahannya.


“Mati kau!” Teriaknya di muka Bastian.


“Lebih baik kamu temui Nyonya Stella, beliau sudah menunggumu di atas.”


Hanna meludah ke tubuh Bastian sebelum naik menemui Stella.


***


“Selamat, kamu bebas, Hanna. Tinggal satu langkah lagi. Sebelumnya, jika kamu tiba-tiba menipuku, well, akhirnya aku punya kenalan seorang mucikari yang jauh lebih jahat dari suamimu.”

__ADS_1


“Nggak usah khawatir. Aku siap membuat Qiara menderita.”


***


__ADS_2