Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Halalkan Atau Lepaskan


__ADS_3

Dua minggu Hanna di rumah sakit. Thoriq memindahkan ke rumah sakit besar di Semarang untuk mendapatkan perawatan terbaik.


Ella mengusut tuntas kejadian yang menimpa Aira dan Hanna. Berdasarkan video beberapa menit yang sempat direkam oleh Aira.


Tanpa video, sebetulnya Reni, Nanda, dan Liliek sudah membawa bukti luka di wajah mereka karena terjerembab jatuh akibat dari perlawanan Hanna.


Para orang tua dipanggil. Ella tidak memaksa para santriwatinya mengaku, hanya mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan menerima ganjaran baik dunia dan akhirat. Entah itu dalam bentuk musibah, kesulitan, dan kelak menjadi penghuni tempat penuh api di akhirat.


Ketiga remaja itu akhirnya mengakui dan terpaksa dikeluarkan dari pesantren. Walau pun tidak mudah karena orang tua Reni menolak dan malah mempersalahkan kehadiran Hanna serta Aira. Mereka bahkan mengancam akan memviralkan kebijakan pesantren menerima mantan napi bekerja di sana.


Dengan kepala dingin Ella berkata bahwa pesantren memang membuat kesalahan dan kegagalan yang teramat besar. Gagal mendidik Reni, Nanda, dan Liliek menjadi muslimah berakhlak baik sesuai ajaran Baginda Rasul.


Ella siap menghadapi tuntutan apa pun dan bahkan mengancam akan menuntut balik atas pencemaran nama baik pesantren. Belum lagi tindakan penganiayaan yang masih belum dilaporkan ke polisi.


Berbeda dengan orang tua Reni yang keras kepala, maka orang tua Liliek dan Nanda sangat malu dengan perbuatan putri mereka. Dengan menyesal mereka minta maaf dan akan menutup biaya pengobatan Hanna dan Aira.


Ella juga berhasil membongkar keterlibatan dua remaja pria bernama Derri dan Haikal yang merupakan siswa menengah atas dari sebuah sekolah tak jauh dari lokasi pesantren. Diam-diam Liliek dan Reni berpacaran dan minta mereka membantu memberi pelajaran pada Aira.


Berdasarkan keterangan tersebut, Ella menghubungi kepala sekolah dan menyerahkan untuk ditindaklanjuti.


Hanna dan Aira sendiri tidak ingin memperpanjang masalah. Hanna menitip pesan pada Nanda, Reni, dan Liliek agar mau bertobat dan memperbaiki perilaku karena sebelumnya mereka juga suka membully adik-adik kelasnya.


Sebagai pimpinan pesantren, Ella sangat malu karena ada banyak hal yang ternyata luput dari pengawasannya. Dua minggu setelah peristiwa itu ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusannya mendapatkan penolakan keras dari para santriwati dan orang tua mereka. Bahkan para alumni yang sudah tersebar ke berbagai daerah dan negara juga memohon agar Ella tetap membersamai adik-adik santriwati.


Ella sudah lama menjadi kepala pesantren dan di bawah pimpinannya banyak santriwati yang lulus menjadi manusia-manusia bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.


Para santriwati berjanji untuk menjadikan Nanda, Reni, Liliek sebagai pembelajaran bagi mereka untuk tidak merendahkan orang lain apalagi sampai menyakiti. Jika ada kebiasaan buruk turun menurun, maka mereka akan memutus saat itu juga. Pun para santri junior akan selalu bersikap sopan pada seniornya tanpa diminta.


Nanda, Reni, dan Liliek menemui Aira di rumah Thoriq untuk meminta maaf. Begitu juga dengan Derri dan Haikal yang telah membantu mereka menyakiti Aira juga Hanna.


Kala harus berjuang sekuat tenaga untuk menahan sabar. Ia ingin menghajar dua laki-laki yang sudah memukuli adiknya.


Aira berbesar hati kepada mereka berlima hingga akhirnya Kala pun memaafkan. Ciut juga Derri dan Haikal jika harus menghadapi Kala yang kini sudah hampir setinggi dan setegap Thoriq.


Aira kembali ke pesantren setelah seminggu beristirahat di rumah ayahnya. Hanna pun telah kembali bekerja ke pesantren. Walau belum bisa berjalan jauh karena rasa sakit di punggung yang menjalar ke kaki. Ia terima dengan ikhlas sambil terus beristighfar berharap rasa sakitnya menjadi penggugur dosa yang telah lampau.


***


Seorang laki-laki duduk di hadapan Ella yang memandangnya dengan tersenyum geli. Ia membawa sekotak kukis yang dibelinya di bandara Kuala Lumpur.


Berulang kali laki-laki itu membenahi leher kemejanya yang sudah berdiri tegak. Keringat sebesar bulir-bulir jagung bermunculan di keningnya.


Setelah berdehem dan meneguk langsung segelas air putih yang disediakan Ella, Dicky berkata, “Ibu, jika diijinkan, saya ingin mengenal Aira lebih jauh.”


Senyum di wajah Ella langsung hilang. Belum sempat bereaksi, dari arah pintu Hanna memburu ke arah Dicky dan memukuli pria itu dengan tasnya.


“Cabul! Mau ngapain kenal anak saya lebih jauh, heh?”


Hanna terus memukuli Dicky yang menutupi wajah kedua tangannya.


“Dari awal emang saya sudah duga kamu aneh. Sadar umur, dong. Kamu terlalu tua buat Aira. Oom Cabul!” Hanna tak henti merepet.


Dicky lari menjauh dari Hanna yang terus mengejar, kini mengambil koran dan menggulungnya jadi pentungan.


“Sini kamu! Jangan lari.”


Dicky terus menghindari kejaran Hanna hingga Ella menengahi keduanya.


“Hanna, Hanna stop dulu. Kita dengerin penjelasan Dicky.”


“Bu, dari awal, orang ini emang cari masalah sama saya. Biar saya hajar dia!”


Ellla tersenyum geli melihat Hanna yang menatap Dicky dengan tatapan menuduh dan marah. Sementara Dicky kebingungan karena belum sadar kesalahannya.


“Dicky, Hanna, duduk!” Titah Ella bagaikan bicara tegas pada santri-santrinya.


Hanna masih mendelik pada Dicky yang kini mengikuti Ella dan duduk di sebelahnya.


“Salah, Dicky, kamu duduk di seberang saya. Hanna kamu di sini.”


Dicky gegas berpindah mengambil jalan memutar ke sofa yang ditunjuk Ella. Hanna bersiap menghajarnya lagi ketika Ella menarik dan mendudukkan di sampingnya.


“Duduk!” Perintah Ella lagi.


“Dicky, ulangi niatan kamu.”


“Seperti yang saya katakan tadi, saya mohon ijin untuk mengenal Hanna lebih jauh.”


Sementara Hanna tetap memandang sinis, Ella tersenyum.


“Kamu sadar nggak, tadi kamu bilang ingin mengenal Aira lebih jauh. Itulah yang membuat Hanna membabi buta.”


“Innaalillaahi, Bu. Naudzubillah, masak iya saya mau ta’aruf sama Aira. Mungkin salah dengar,” sahutnya keras kepala dengan sorot tak bersalah.


“Ini orang beneran minta dihajar …” Hanna mengambil pentungan koran hendak kembali memukuli Dicky.


“Hanna … Hanna, sebentar kita tabayyun dulu jangan asal gebug.”


“Hanna, ibunya … Atau Aira, anaknya?” Ella bertanya perlahan.


“Demi Allah, Bu, saya mohon ijin untuk boleh mengenal Hanna lebih jauh. Bukan Aira. Demi Allah, Bu, Hanna. Emang tadi saya bilang Aira, ya?”


“Menurut lo?” Jawab Hanna dengan nada jengkel dan masih menatap curiga pada Dicky.


“Maaf, Hanna. Aku benar-benar ingin mengenal kamu. Jujur aja, aku belum pernah merasakan hal ini. Maaf jika tadi aku terlalu gugup dan menyebut nama Aira.”


Hanna menatap Dicky. Lalu menunduk.


“Cari wanita lain yang lebih baik. Aku nggak pantas dikenal lebih jauh.”


Hanna menggigit bibirnya.


“Sebelum kamu berpendapat seperti itu, ini biodata lengkap tentang aku. Kamu bisa cross check dengan Ustadzah Ella dan Bu Ruqqoyah. Mereka mengenalku dari dulu.”


Dicky menyerahkan map kepada Hanna. Karena Hanna tidak menerima, ia meletakkan di meja.


“Aku juga belikan oleh-oleh untukmu.”


Dicky meletakkan satu box kukis di samping map.


“Kita kan barengan ke Malaysia, Dicky.” Hanna mengerutkan kening melihat gambar Twin Tower yang menjadi ciri khas kota Kuala Lumpur.


Dicky nyengir lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Tetap aja aku belikan untuk kamu pas di luar negeri. Namanya apa kalau bukan oleh-oleh?”


“Ya tapi … ah sudahlah, terima kasih.” Hanna menyerah, bingung menanggapi muka tembok di depannya.

__ADS_1


“Hanna, hidupku juga nggak mulus. Ke depan juga aku masih punya banyak hutang. Aku nggak tau kita berjodoh atau tidak, tapi ijinkan aku menta’aruf kamu.”


Kening Hanna berkerut.


“Mana ada perempuan mau sama laki-laki banyak hutang. Hutang buat apa aja, sih?”


“Semua ada di biodataku, Hanna. Bacalah. Jika memang kamu nggak suka, sampaikan saja. Jika kamu suka, aku akan mengkhitbah lalu kita nikah.”


Hanna terbelalak.


“Dicky, kamu nggak lagi bercanda, kan? Kamu tau siapa Hanna Adinda. File tentang aku udah kamu baca. Aku … aku …” Suara Hanna bergetar antara malu namun juga bahagia karena masih ada laki-laki yang mau mempertimbangkannya.


“Aku nggak bercanda, Hanna. Waktu kamu tergeletak pingsan, aku sungguh takut kehilangan. Mungkin kamu justru yang akan mundur, betul, perempuan mana yang mau menikah dengan laki-laki banyak hutang. Tapi aku berdoa kamu akan menjadi satu-satunya.”


Ella memegang tangan Hanna.


“Kamu baca dulu biodata Dicky. Ta’aruf adalah waktu untuk kalian berdua saling mengenal. Jaga diri jangan sampai di masa ini kalian justru berbuat dosa. Jika cocok, halalkan. Jika tidak, lepaskan.”


Dicky dan Hanna saling bersitatap.


“Mau kan, Hanna?”


“In syaa Allah.”


***


“Kak Aira … Kak Aira … Bu Hanna said yes. Kita akan jadi kakak beradik!” Teriak Fatimah dan Latifah yang sedari tadi menunggu Aira di depan kelas.


“Beneran? Kalian tau dari mana?”


“Kami liat Oom Dicky hidungnya kembang kempis setelah bicara dengan Bu Hanna di kantin. Mukanya bahagia banget.”


“Aku tanya Mama, ya, yuk kita ke kantor admin.” Mereka bertiga kemudian berlomba ke kantor administrasi.


Aira mengetuk pintu sebelum masuk. Gadis belia itu melongok sebelum masuk.


“Ai, kenapa?” Tanya Hanna tersenyum melihat wajah putrinya.


Aira masih celingak-celinguk melihat apakah ada orang kain di ruangan itu. Peraturan pesantren tidak membolehkan santri bertemu dengan keluarga di luar waktu kunjungan. Tapi ia tidak mungkin sanggup menahan rasa ingin tahu.


“Ma, so it’s a yes?”


Hanna mengangguk. “In syaa Allah. Doain Mama, ya.”


“Allahu Akbar!” Seru Latifah dan Fatimah yang langsung menyerondol masuk dan memeluk Hanna.


“Bu Hanna, kan belum keluarga jadi nggak apa kalau kami yang menemui,” ujar Fatimah memeluk Hanna.


“Maa syaa Allah …” Hanna memeluk anak berusia sepuluh tahun yang menangis bahagia di pelukannya.


“Nanti setelah menikah sama Oom Dicky, Imah boleh panggil Bu Hanna dengan sebutan Mama seperti Kak Aira, kan?”


“Boleh, Sayang.”


“Ifah mau sekarang aja, Mama. Oom Dicky kita tanya aja, mau dipanggil Oom atau Papa.” Latifah kemudian memeluk Hanna dan adiknya. Mereka berdua merindukan sosok ibu yang walau baru beberapa tahun meninggal namun terasa sudah sangat lama.


“Mama masih belajar, jadi kalau ada salah, kasih tau ya.”


“Sama Kak Aira juga belum pernah tinggal sama adik-adik. Oya, kalian akan punya banyak saudara. Ada Mas Kala, lalu ada lima lagi di Inggris. Mereka bukan tiri atau kandung sih, tapi sama aku udah kayak saudara.”


“Aira,” sapa Ella lembut.


“Ya Allah. Ustadzah,” sapa Aira salah tingkah lalu mendadak kabur entah kemana.


Ella masuk menatap Latifah dan Fatimah yang sibuk mengeringkan air mata di wajah mereka.


“Ustadzah tadi ketemu paman kalian. Jadi udah dengar berita baiknya. Hanna, kamu siap-siap. Dicky nggak mau lama-lama nunggu.”


Hanna tersenyum di balik cadarnya. Sebulan mengenal Dicky dan dua keponakannya membuatnya merasakan kehangatan sebuah keluarga. Latifah dan Fatimah menerimanya dengan tangan terbuka.


Aira juga sama semangatnya. Katanya paling tidak satu dari orang tuanya bisa hidup bersama soulmate-nya. Thoriq juga sudah mendengar soal ini. Ia mendukung karena tahu Dicky adalah orang yang baik.


“Saya senang kamu bertemu dan akan menikah dengan Dicky. Saya doakan kamu bahagia,” ucapnya saat tak sengaja bertemu Hanna di pesantren.


“Makasih, Mas. Hanna doakan Mas juga akan menemukan kebahagiaan.”


“Aamiin,” sahut Thoriq.


“Tante Hanna,” panggil Kala dengan wajah serius.


Hanna menoleh kepada anak remaja yang semakin hari wajah, gaya, dan cara bicaranya seperti Thoriq.


“Sesuai janji Kala, selama ini Aira semakin bahagia semenjak dekat sama Tante. Kala mau bilang kalau Kala udah maafin Tante.”


“Maa syaa Allah, beneran Kala?”


Kala mengangguk. Adiknya langsung memeluk dan mencium pipi kakaknya.


“Makasih, Mas. Muah muah muah …”


“Iiih Aira apaan sih?” Balasnya pura-pura menghindar. Ia lalu menggeletiki adiknya yang kabur ke belakang Thoriq.


Setiap kunjungan, Thoriq akan berbagi waktu dengan Hanna. Sehari Aira akan bersama Hanna dan esoknya bersama Thoriq.


Bersama Aira, Hanna pergi ke penyewaan baju pengantin di pasar. Atau belanja keperluan pernikahan. Rencananya mereka akan menikah dengan sederhana di musala pesantren.


Dicky telah merapikan rumahnya. Beruntung bapak yang menyewakan rumah padanya dengan suka rela mengecat sehingga kini rumahnya nampak rapi.


Tak lupa ia mengganti tempat tidur single dengan tempat tidur ukuran lebih besar. Membeli karpet dengan motif bunga-bunga untuk ruang depan yang memang mengambil tema lesehan alias tanpa sofa. Pemilik rumah juga mengganti gorden yang sudah lusuh. Walau sederhana, rumah Dicky siap menerima Hanna sebagaimana Dicky sudah siap untuk menghalalkan Hanna.


Paman dan bibinya dari pihak Mariam, patungan membelikan bedding cantik berwarna broken white. Sementara adik ayahnya memberikan sejumlah uang yang oleh Dicky langsung ditabung.


Seminggu sebelum pernikahan, Dicky sedang merapikan kamar ketika mendengar pintu depan dibuka. Desa tempatnya tinggal memang aman jadi sebelum malam hari, penduduk jarang mengunci pintu.


Dicky berjalan keluar kamar ketika seseorang menubruknya hingga terjengkang.


Belum sadar apa yang terjadi sekelompok laki-laki masuk dan mengepungnya.


“Heh, kamu mau berbuat macem-macem ya? Daripada zinah mendingan nikah!” Teriak mereka bersahut-sahutan.


Dicky mendorong tubuh di atasnya.


“Innalillaahi Mbak Eliza. Akal-akalan apa lagi ini,” ucapnya geram.


“Tolong, Pak. Dia mau perkosa saya.” Eliza berakting menangis.


“Ck, mana ada orang diperkosa kok di atas. Terus kalian, dibayar berapa sama perempuan ini buat bikin aksi grebeg?” Balas Dicky super ketus.

__ADS_1


“Kami nggak mau tahu! Yang jelas kalian harus segera dinikahkan.”


“Amit-amit. Ayo sekarang kita ke kantor polisi. Sekalian aja Mbak divisum. Kalau saya mau perkosa Mbak, pasti ada tanda kekerasan, dong. Bapak-bapak, ayo ikut sekalian semua jadi saksi.”


Wajah gahar itu langsung celingak-celinguk. Gentar juga berurusan dengan polisi.


“Ayo, satu saya bonceng, kalau takut bakal kabur. Ya kan, pasti mau dong cari bukti. Biar terang benderang. Ayo Mbak, kita berangkat.” Dicky tersenyum tenang.


Salah seorang yang sepertinya pemimpin di antara mereka berkata, “Mmm, Mas Dicky, udah lah, Anda kan pria baik. Tak seharusnya berdua-an dengan wanita.”


“Emang betul. Tak seharusnya juga perempuan diam-diam masuk dan menerkam laki-laki,” balas Dicky lagi.


Saat itu para tetangga berdatangan untuk tahu kenapa ada orang yang tidak dikenal berkumpul dan ribut-ribut di rumah Dicky.


Pak RT maju lalu bertanya tentang kejadian.


Eliza mengadu, “Dicky mengundang saya ke sini, lalu ketika saya datang langsung dibawa ke kamar, Pak. Dia mau berbuat tidak senonoh.”


“Udah lah, Mas, ngaku aja. Terus nikahin, beres, kan, mau gituan tiap hari juga udah halal,” seru salah seorang laki-laki yang tadi menyerbu masuk.


Pak RT menyeruak ke depan lalu bertanya pada para pria yang mengepung Dicky, “Anda-anda ini siapa? Kalian bukan warga kok bisa ada di sini?”


“Kami mendengar ada perbuatan maksiat.” Sahut mereka berbarengan.


“Dengar dari siapa?” Tanya Pak RT menyelidik.


“Ada lah, Mas Dicky ini kan suka didatengin Mba Eliza, jadi warga resah.”


“Warga yang mana, Pak?” Celetuk salah seorang tetangga Dicky yang tahu siapa Eliza.


“Mmm Pak Syaiful …”


“Mana ada nama Syaiful di desa ini. Ayo mana KTP, kalian ini siapa sebenarnya?” Bentak Ketua RT.


“Pak! Kok jadi ngurusin mereka? Saya ini mau diperkosa sama Dicky. Dia harus nikahin saya sebagai bentuk tanggung jawab!” Seru Eliza setengah berteriak menambah efek drama.


Bu Widya yang rumahnya bersebelahan langsung dengan rumah Dicky menyahut. “Maunya diperkosa sama Mas Dicky, kali.”


Eliza mendelik.


Dicky berusaha sabar, ia menjawab, “Mbak Eliza, saya bilang tadi kita ke kantor polisi. Laporkan aja saya. Kan nanti diproses harus lewat visum. Saya nggak mau kayak Bapak, dirempug lalu dipaksa nikahin Mbak karena ngaku hamil duluan anak Bapak. Itu juga saya belum yakin apa Karina itu benar anak Bapak saya atau bukan.”


“Dicky! Jangan kurang ajar kamu! Karina anak Bapakmu!”


“Ya ya … ya udah itu kita bahas lain kali. Sekarang ke kantor polisi.” Dicky mengambil jaket dan kunci motor di atas meja.


Gerombolan laki-laki tadi kasak kusuk.


“Mas Dicky, kami sarankan Mas sama Mba Eliza aja yang ke kantor polisi. Nggak usah bawa kami.”


“Tadi saya minta KTP kok belum ada yang kasih? Saya mau tau kalian warga jalan apa? Warga baru? Kok nggak lapor?” Pak RT bersikekeuh.


Mereka semua terdiam sambil celingak-celinguk. “Maaf Pak. Kami hanya orang suruhan Bu Eliza.” Setelah terdiam salah satu dari mereka akhirnya mengaku.


“Johan!” Pekik Eliza putus asa.


“Maaf Bu, kami akan kembalikan uangnya. Tapi kami nggak mau berurusan dengan polisi.”


Masing-masing dari mereka mengumpulkan uang seratus ribu lalu menyerahkan pada Eliza.


“Brengsek kalian!” Eliza menyambar uang yang diulurkan Johan. Lalu berjalan keluar sambil menghentakkan kaki.


“Eiiits, tunggu sebentar …”


Bu Widya, Bu Joko, Bu Marjinem yang bertubuh stereg menghadang Eliza.


“Apa lagi?” Bentak Eliza.


“Kami dengar ada tindakan percobaan perkosaan warga kami. Anda coba perkosa Mas Dicky, kan?”


Dicky dan beberapa bapak-bapak warga menahan tawa.


Bu Joko memotret wajah Eliza lalu tersenyum penuh kemenangan.


“Pergi, atau saya viralin kamu sebagai sundel bolong pemangsa jaka tingting.”


“Sialan kalian!” Eliza mendorong Bu Joko yang bertubuh gemuk tapi malah tubuh kecilnya terjengkang.


Sambil tertawa terkekeh, trio ibu tadi memberi jalan pada Eliza yang langsung berdiri dan menghambur keluar diiringi orang-orang bayarannya.


“Astaghfirullahaladzim ya Allah. Hampir aja …” Ucap Dicky sambil duduk di pinggir tempat tidur.


“Duh Mas Dicky, nasib banget punya ibu tiri kayak Mak Lampir,” sahut Bu Marjinem.


Dicky tersenyum lalu berkata, “Bapak dan ibu sekalian, terima kasih. Ya Allah …” pria itunterus mengusap dada karena lega.


“Tenang, Mas. Kami kan tau Mas Dicky seperti apa. Sayang aja udah keburu melamar Mbak Hanna, kalau nggak Bu Joko mau ambil jadi mantu.”


“Hush, tapi yo bener je. Sayang ae Siti malah geleme karo Si Iwan. Halah, cah cilik. Nek Mas Dicky kan wis mateng.”


(Hush, tapi bener juga sih. Sayang aja Siti malah maunya sama Si Iwan. Halah, anak kecil. Kalau Mas Dicky kan udah mateng).


“Ranum yo, Bu,” celetuk Bu Widya membuat wajah Dicky merah padam.


“Ya udah, Mas Dicky, kami pamit. In syaa Allah minggu depan saya hadir di pernikahan.”


“Ya harus hadir dong, Pak, kan jadi saksi…” cetus Dicky setengah bersungut.


“Lak tenan wis kebelet iki. Seminggu masih lama lho Mas. Tujuh hari, seratus enam puluh delapan jam, sepuluh ribu delapan puluh menit, lalu berapa detik? Masih paaanjaaang dan luaaaamaaa …” Celetuk para tetangga menggoda Dicky yang hanya cengengesan.


“Makasi, Pak, Bu … ditunggu minggu depan, ya.


Dicky mengunci pintu. Ia bergidig dengan kejadian tadi.


“Naudzubillah. Ngeri kali kalau aku kawin sama Mak Lampir itu.”


***


Di awal chapter ini author menyinggung keinginan bagaimana sekolah seharusnya bertindak melawan bullying.


Namun masih saja ada sekolah yang mengamini bahkan menganggap itu hanya kenakalan biasa.


Anyway, say no to bullies and bullying. Mereka hanya orang-orang kurang kerjaan bin gabut yang sok kuat dan sok sempurna.


Peace!


***

__ADS_1


__ADS_2