Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Keraguan


__ADS_3

Di sebuah apartemen mewah, Stella dan Devan sedang menikmati makan malam romantis. Stella menitipkan Liam kepada orang tuanya agar bisa menghabiskan waktu berdua dengan Devan.


“Dev, kamu nggak minum?”


Devan menatap anggur merah mahal, pikirannya melayang pada Qiara yang selalu mengatakan bahwa sebagai seorang muslim, wajib hukumnya meninggalkan khamr atau minuman yang memabukkan.


“Aku, aku minum sparkling water aja, Stell,” balasnya sambil menatap Stella yang keheranan.


“Waw, tujuh tahun berpisah dan kini kamu jauh berubah.” Stella berjalan mendekati Devan lalu duduk di pangkuannya. Tangannya merangkul leher Devan yang kokoh.


“I miss you, Dev … I miss us together. Kita akan bahagia bersama Liam.”


Stella mendekatkan bibirnya ke telinga Devan lalu berbisik.


“Aku memakai lingerie yang lebih sexy daripada yang kupakai waktu itu.”


Tangannya mengarahkan tangan Devan untuk menyentuh aset kembarnya.


Mata Devan tertutup kabut hasrat. Tangannya mulai bermain sementara Stella menikmati sentuhan-sentuhan Devan.


“Stella …”


“I miss you, Dev.”


Masih duduk di pangkuan Devan, kini Stella menghadap wajah tampan itu. Bibirnya mulai mengecupi bibir Devan hingga keduanya bertautan dalam ciuman panas.


Jemari Stella mulai membuka kemeja Devan saat merasa organ pria di bawah sana mengeras. Bibirnya berkeliaran mencium area-area sensitif Devan yang masih dia ingat.


Jantung Devan mulai berdegup lebih cepat. Napasnya memburu, tangannya sudah bergerak untuk melepas satu persatu pakaian yang menutup tubuh indah wanita di hadapannya.


Devan berusaha membuang pikiran masa lalu yang berkeliaran di benaknya. Mengusik napsu yang mulai membuai dan membangkitkan kenikmatan. Matanya terpejam, meresapi setiap sentuhan dan kecupan di antara mereka.


Pakaian Stella sudah terlepas dari tubuhnya. Kemeja Devan entah terlempar kemana. Ketika tiba-tiba Devan menghentikan serangannya.


“Shit!”


Stella terkejut. “Dev…”


“Maaf, Stel, aku nggak bisa,” Ucap Devan sambil menggeser dari tubuh Stella yang masih duduk di pangkuannya.


“What do you mean? Kamu sudah berdiri tegak, Sayang. Pejamkan matamu dan nikmati apa yang akan kulakukan,” bisik Stella dengan napas masih memburu dan senyum menggoda.


“Stel, please, I … I don’t want to do this.”


Devan bangkit lalu memungut kemeja dan memakainya.


Stella memandangnya dengan marah dan kecewa. Sedikit terhina.


“Why? Is it because of her? Kamu nggak minum wine, kamu menolak bercinta? You love her that much, Dev? Come on ..! Kita punya Liam yang butuh orang tua yang utuh.”


Devan nampak berpikir.


“Qiara? I don’t know … may be, but I really don’t know. Aku bahkan nggak tau apa dia menyukaiku atau tidak. I’m sorry Stella, setelah semua yang terjadi, ini terlalu cepat untukku. Kamu mengkhianati cinta kita, lalu pergi di saat aku berada di titik hidup paling rendah, dan sekarang kamu ingin melenggang masuk lalu melanjutkan semua yang sudah berlalu. Aku belum bisa, maaf.”


“So, what are you saying? Liam needs us.”


“Aku hanya minta kamu bersabar, please. Perlu waktu untuk mengembalikan perasaanku padamu.”


“Bagaimana dengan Liam?”


“Selamanya aku adalah ayah Liam. Aku akan selalu mencintai dan menjaganya.”


Stella berjalan mendekati Devan yang kini sudah rapi.


“Orang tua kita sudah bolak balik menanyakan kapan kita akan menikah kembali. Kamu dan aku adalah pasangan serasi. Aku berulang kali telah minta maaf atas kekhilafanku, tak bisa kah kamu memaafkan? Demi Liam, demi orang tua kita?”


Stela kembali memainkan jemarinya di kancing-kancing baju Devan. Bibirnya mencium leher mantan suaminya.


Sekonyong-konyong Devan memegang pundak Stella kemudian menjauhkan tubuh sempurna itu.


“Kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kepada mereka? Penyebab kamu pergi?”

__ADS_1


“Of course not, Babe. Mereka hanya tahu kamu marah malam itu hingga aku pergi. I didn’t say anything.”


“Oh my god, Stella …”


“Kita harus menikah, Dev, cepat atau lambat. Aku akan mengalah saat ini, walau aku rindu ini…” tangannya membelai lembut area paling sensitif dari Devan.


Napas Devan tersentak, tangannya menghentikan Stella.


“Maafkan aku Stel, tapi aku belum merasakan apapun seperti yang kurasakan dulu. Beri aku waktu.”


Devan mengecup kening Stella lalu buru-buru meninggalkan apartemen.


Di dalam lift dua orang ibu setengah baya berbisik lalu terkikik melihat pusaka Devan yang masih berdiri tegak di balik celananya.


Dengan wajah merah padam, Devan berusaha menutupi lalu memburu keluar begitu pintu lift terbuka di basement.


***


Di apartemen Stella mengamuk, melempar semua barang.


“Awas kamu Qiara! Perempuan brengsek!”


***


“Kapan kamu akan menikahi Stella, Dev? Kami sudah tidak sabar, seharusnya kalian memang tidak berpisah.”


“Nantilah, Mom. Aku baru mulai mendapatkan hidupku kembali.”


Devan duduk di ruang kantor yang telah ditinggalkan selama ia lumpuh. Beruntung dirinya memiliki orang kepercayaan yang mengelola rumah sakit milik keluarga. Kini setelah orang kepercayaannya pensiun, Devan mulai lagi bekerja.


Sebagai dokter, ia mulai lagi membuka praktek. Setelah semua perijinan kembali diperoleh melalui rangkaian tes.


“Kamu sudah tidak mencintai Stella? Bukan salahnya dia meninggalkanmu.”


Kening Devan berkerut sebelum teringat bahwa ia tidak pernah menceritakan pada siapapun kenapa Stella hengkang dari pernikahan mereka membawa Liam.


Karena kecelakaan, Devan menjadi pemarah dan berangasan. Wajar jika semua orang menyangka Stella tidak tahan terhadap sikap Devan.


Devan sendiri merasa malu karena sudah mencintai Stella begitu tulus namun ternyata mantan istrinya tidak utuh mencintainya.


“Waktu untuk apa? Stella masih sangat mencintaimu. Kamu berhutang besar padanya karena telah menyakiti wanita sebaik Stella.”


“Maksudnya?”


“Jack cerita kamu melempari Stella dengan benda-benda saat kamu mengamuk di malam terakhir Stella di mansion. Devan, menjadi lumpuh adalah musibah, tapi Stella selalu merawatmu dengan penuh cinta.”


Devan diam.


“Mommy harap kamu mau menebus kesalahanmu. Liam perlu orang tua. Kamu dan Stella sama-sama saling membutuhkan. Jangan pikirkan Qiara, Mommy sudah memintanya untuk menjauhimu. Bahkan Daddy minta dia tidak lagi terlibat di proyek-proyek kita karena tidak mau jadi penghalang antara kamu dan Stella. Nikahilah Stella, Nak …”


“Mommy … Mommy bicara pada Qiara? How … how could you? Dia adalah single parents yang butuh pekerjaan.”


“Dia mengerti, kok. Dengar, ya, Mom tidak ada masalah dengan Qiara. Dia wanita tangguh. Perusahaan daddy bahkan telah memberikan rekomendasi dan penghargaan baik untuknya. Apapun perasaan kalian, buang dan mengalahlah untuk Liam.”


Wajah Qiara yang lembut dan teduh berkelebat di benak Devan. Ada rasa hangat di sana.


“Mom, tidak mudah melupakan apa yang terjadi antara aku dan Stella. Aku perlu waktu, mengertilah.”


Kening Dian berkerut, matanya menyelidik.


“Ada yang kamu sembunyikan dari Mommy? Tentang Stella? Atau tentang Qiara? Kamu tidak diam-diam menjalin hubungan dengan Qiara, kan?”


Devan mendengus, “Jika aku bisa memastikan di hati Qira cuma ada aku, maka tidak ada yang bisa menghalangiku untuk bersamanya. Tapi tidak! Di hatinya masih ada mantan suaminya yang brengsek itu. Aku tidak mau untuk kedua kali jatuh dalam problema yang sama. Aku menerima Stella lebih karena Liam. Cintaku padanya masih belum tumbuh seperti dulu.”


“Devan, apa maksudmu jatuh dalam problema yang sama? Apa yang terjadi sebenarnya antara kamu dan Stella?”


“Sudahlah Mom, semua sudah lewat.”


Dian menatap mata sendu anaknya. Entah kenapa, ia merasa banyak yang tidak diceritakan Devan padanya.


***

__ADS_1


“Qiara, can we talk a bit?” Mario memanggil Qiara ke ruangannya.


Qiara mengangguk lalu membawa tabletnya mengikuti Mario. Di ruangannya sudah ada Jessica, istri sekaligus partner bisnis Mario.


“Hi Jess,” sapa Qiara lalu duduk di sofa seberang Jess.


“Qi, who did you piss off? Siapa yang kamu buat kesal? Empat klien besar memintaku untuk menggantimu sebagai pimpinan proyek. Padahal sebelumnya mereka sangat tergila-gila dengan pekerjaanmu. Bahkan mereka rela menunggu kamu punya waktu untuk proyek mereka.”


Kening Qiara berkerut. Dia tidak merasa punya masalah dengan siapapun. Kalau pun tentang Devan dan Stella, itu adalah masalah pribadi.


“Aku tidak merasa punya masalah. Apa alasannya?”


Jessica menyerahkan empat lembar surat berisi permintaan untuk mengganti Qiara dengan personel lain.


Qiara membaca dengan teliti alasan-alasan yang diberikan:


Tidak profesional.


Tidak bekerja sesuai arahan.


Beberapa pekerjaan tidak selesai tepat waktu.


“Ini tidak mungkin, apa buktinya. Aku selalu membuat katalog tentang pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan. Kita bisa melakukan cross-check.”


“Mereka mengancam untuk memutus hubungan kerja dengan MJ. Maafkan kami Qiara, kami terpaksa menuruti permintaan mereka.”


“Ini nggak adil, Jess. Reputasi MJ dan reputasiku bisa rusak.”


“Sayangnya hanya reputasimu, Qi. Kami sudah bicara dengan mereka. Klien-klien tidak masalah dengan MJ, hanya denganmu.”


“Tapi ini aneh kan? Kenapa bisa terjadi serempak? Seolah ada yang mengomandoi.”


“Itulah sebabnya kami bertanya apakah membuat kesal seseorang berpengaruh. Mmm … Devan misalnya?” Jess bertanya dengan hati-hati.


“Devan? Kami memang tidak berhubungan lagi, tapi aku rasa bukan Devan karena aku mengenalnya. Walau kadang terlihat kasar, tapi hatinya baik dan lembut.”


Mario berkata perlahan, “Maaf Qi, karena kejadian ini kami terpaksa terminate employment kamu. Sesuai peraturan perusahaan.”


“What? No … no, you can’t please. Let me talk to them.”


“Qiara, you cannot. Ini memang tidak adil tapi mereka punya perjanjian dan berhak mengganti personnel apabila tidak menginginkan.” Mario tidak tega menatap Qiara. Begitu juga Jess yang memalingkan wajah untuk menyembunyikan air mata di sudut netra.


“Kami ingin membantu kamu. Ada beberapa proyek perumahan yang perlu jasa interior designer, tapi sepertinya tidak akan sebesar proyek-proyekmu ini. Dan ini semya proyek pribadi tidak di bawah naungan MJ,” sambung Mario.


Qiara menunduk lesu. Tangan yang satu *******-***** tangan yang lain. “Anything, Mario. I’m sorry to cause you trouble. Aku … aku akan bereskan barang-barangku.”


“Maafkan kami… Stay strong, Qi.” Jess bangkit. Kedua wanita itu berpelukan.


“In syaa Allah.”


***


Qiara keluar dari kantor MJ. Semua karyawan di sana termasuk Mario dan Jessica menatap punggungnya dengan sendu. Qiara adalah pekerja sekaligus teman baik mereka.


Semua tidak percaya pada alasan terminasi yang diberikan klien-klien itu. Qiara adalah konsultan dan pemimpin proyek yang selalu handal dan profesional. Semua hasil pekerjaan melebihi ekspektasi. Jika ada yang kurang pun itu hanya terjadi satu dua kali.


Atasan dan teman Qiara mendoakan agar wanita itu segera mendapatkan pekerjaan baru.


Qiara berjalan pelan menuju halte bus. Dia teringat pertama kali datang ke MJ dalam keadaan hamil muda. Wanita itu tak habis pikir bagaimana klien-klien yang memiliki hubungan baik minta dirinya untuk diganti.


Ketika bus datang, dengan langkah gontai, Qiara menaiki tangga bus lalu menghempaskan bokongnya ke kursi yang keras. Berulang kali menghela napas untuk mengusir akan kekhawatiran masa depannya dan Kala.


***


“Semua sudah dilaksanakan. Kamu hutang budi gede banget, Stel. Qiara adalah interior designer dan pemimpin proyek terbaik yang pernah kerja bersama kami.” Empat wanita yang menjadi pemilik properti yang dikerjakan Qiara sedang duduk di sebuah kafe bersama Stella.


“Ah kalian, ini soal kecil. Pasti kalian dapat gantinya.”


“Tapi tidak akan sebagus Qiara. Sudahlah, kami tunggu janjimu untuk membuat promosi gratis properti-properti kami selama setahun.”


“No worries, ini kerjaan mudah buatku.”

__ADS_1


Model cantik itu langsung bekerja, membuat endorse di laman-laman media sosialnya. Dia tak keberatan memberikan endorsement gratis, asal Qiara, yang diduga membuat Devan ragu padanya, tidak bahagia.


***


__ADS_2