
Stella menggebrak meja. Rencana mulus untuk menyingkirkan Qiara dari hidup Devan dan Liam hancur sudah. Semua gara-gara kebodohan Hanna yang bukannya menyulik Qiara malah menyulik Kala.
Setelah ditangkap, Hanna berkicau dan menyebut Stella sebagai dalang. Kini dirinya menjadi buronan bersama Tom.
Stella terpaksa meninggalkan kehidupan glamornya di Australia dan bersembunyi di negara antah berantah. Tom membayar petugas di sana agar mengabaikan red notice yang disebarkan untuk mereka.
Wanita yang terobsesi dengan mantan suaminya itu memandang sawah yang menghampar dengan wajah bosan. Dirinya terbiasa dengan gemerlap lampu kota-kota besar, pesta-pesta dengan banyak sosialita internasional, berteman dengan para artis kelas dunia.
Kini hanya suara jangkrik yang menemani malam-malamnya. Siang hari intuk mengirit, ia harus memasak di dapur seadanya dengan peralatan primitif.
Berbeda dengan Stella, Tom malah menikmati kehidupan sederhana. Membeli ayam peliharaan dan memeliharanya, ia juga belajar bercocok tanam dari para petani.
Stella melihat Tom dengan geram.
“Tom! Kenapa kamu terlihat santai? Kita harus kembali untuk menuntaskan pekerjaan kita.”
Tom menoleh ke arah Stella dengan malas. Ia sedang bersantai di bale-bale depan rumahnya setelah seharian menanam bibit sayuran.
“Stella, sudahlah. Aku sudah katakan rencana kalian itu kurang matang. Seharusnya kita tidak melibatkan Hanna. Jika memang mau melenyapkan Qiara, cukup pakai orang-orangku saja, beres.”
“Aku tidak mau menggunakan orang-orangmu. Seharusnya Hanna tidak berubah pikiran dan menyulik Kala. Harusnya dia langsung melenyapkan Qiara. Tom, cari cara untuk kembali. Aku tidak mau tahu, pokoknya …”
“Cukup Stella!” Bentak Tom.
“Berani kau membentakku, Tom. Siapa yang membayarmu?”
“Sekarang ini, bukan siapa-siapa. Bekas suami yang kau kejar-kejar itu telah membekukan seluruh asetmu. Entah dengan siapa dia bicara yang jelas kamu sudah bangkrut. Misqueen!”
Mata Stella berkaca-kaca.
“Bohong! Nggak mungkin Devan setega itu. Ini pasti karena Qiara yang menyuruhnya.”
“Sudahlah Stella, jangan buat dirimu gila dengan angan-angan. Dulu memang Devan tergila-gila padamu. Sekarang, dengan atau tanpa Qiara ia sudah tidak lagi mencintaimu. Sadarlah. Lebih baik benahi dirimu, pikirkan masa depan.”
“Masa depanku adalah bersama Devan dan Liam. Kamu, kamu nggak akan pernah mengerti itu. Kamu hanyalah bekas agen intelijen yang hidup dalam kesendirian. Kamu nggak tau rasanya mencintai.”
“Tapi aku bisa memprofil orang. Aku tahu kalau yang kamu rasakan itu adalah obsesi. Bukan cinta. Orang seperti kamu tidak biasa kalah. Qiara memang tidak secantik kamu, bukan juga seorang model, bukan siapa-siapa. Tapi Qiara punya ketulusan yang tidak dimiliki orang-orang sepertimu. Itulah yang diinginkan Devan.”
Dengan mata melotot karena marah, Stella membuka mulut hendak membantah.
Tom buru-buru menyela, “Stella, aku lelah, biarlah aku menikmati malam ini.”
Laki-laki paruh baya itu lalu memejamkan mata. Sementara Stella dengan marah menendang kaki bale-bale tempat Tom berbaring.
“Urus dirimu sendiri kalau sampai terluka,” ucap Tom ketus. Baginya Stella adalah wanita manja yang merepotkan. Dan kini ia terjebak sebagai buronan bersamanya.
Stella memutuskan untuk masuk ke bilik kecil. Ia mengambil hape lalu membantingnya karena tidak ada sinyal di desa itu saat malam tiba. Akhirnya ia tertidur berselimut udara panas dan nyamuk yang berdenging di telinganya.
Keesokan harinya Stella bangun. Badannya pegal-pegal karena tidur di atas kasur tipis.
“Tom, kamu sudah bikin kopi?” Serunya sambil meluruskan tangan dan punggungnya.
“Tom … Tom … aaah he’s so useless,” gerutunya lalu keluar bilik. Stella menatap berkeliling dengan heran. Biasanya Tom sudah membuka jendela-jendela dan menyiapkan kopi untuk mereka. Pagi itu jendela masih tertutup.
__ADS_1
Stella berjalan ke bilik milik Tom. Ia mengintip dan tidak melihat seorang pun. Stella bergegas keluar ketika matanya menangkap secarik kertas tergeletak di meja.
Sebuah surat dari Tom.
Stell, aku pergi. Ada kerjaan menungguku. Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja jika tetap hidup seperti sekarang. Tunggulah selama dua atau tiga tahun jika kau ingin keluar dari persembunyian, biasanya ranking buronanmu akan turun dengan sendirinya.
Aku meninggalkan cukup uang untukmu. Hiduplah dengan baik. Lupakan Devan. Atau bisa juga kamu menyerahkan diri, menjalani hukuman lalu membuka lembaran baru.
Itu usulanku. Selain itu terserah apa yang mau kau lakukan.
Tom.
Stella meremas surat itu lalu membuangnya. Ia berteriak sekuatnya mengeluarkan emosi.
***
Penjara adalah hal terakhir yang dibayangkan Hanna sepanjang hidupnya. Sebagai putri seorang pengusaha ekspedisi yang cukup sukses, memiliki otak encer, dan pernah menjadi kembang desa, Hanna membayangkan kehidupan nyaman dan bahagia seperti mendiang ayah dan ibunya. Bersama Thoriq.
Itulah kesalahannya. Sebagai anak tunggal, ia biasa mendapatkan semua yang diinginkan. Walau orang tuanya juga selalu mengajarkan hal baik, namun sifat egois sudah terlanjur menjadi bagian dari sifatnya.
Dirinya tahu bahwa Thoriq sudah bahagia menikah dengan Qiara, namun dengan penuh keyakinan ia memaksa ibunya yang sedang sakit untuk membujuk Kakek dan Nenek agar Thoriq menikahinya.
Hanna yakin pada akhirnya Thoriq akan lebih memilihnya daripada Qiara. Lalu bersama Thoriq akan merajut hidup hingga mereka tua.
Setelah melahirkan Aira pun, Thoriq tidak lantas mencintainya. Laki-laki itu tetap bersamanya hanya untuk memenuhi amanah. Hingga akhirnya Hanna memutuskan menyerah dah menggapai cinta baru, Bastian.
Apalah daya bahwa ternyata Bastian tak lebih dari seorang mucikari terselubung. Menikahi janda muda kaya dan menjadikannya barang dagangan untuk pria-pria hidung belang.
Hanna merasa sangat kotor. Sangat. Dan ia menumpahkan segala kesialan pada Qiara. Jika saja Thoriq memilih mencintainya dan bukan Qiara.
Walau dia bersikukuh tidak tahu dimana Bastian. Namun kamera CCTV menunjukkan dirinyalah yang terakhir masuk ke apartemen bersama Bastian, dan keluar seorang diri. Tidak ada jejak Stella sama sekali. Dendam kesumat telah membuatnya lalai dan bodoh mempercayai Stella.
Tidak ada seorang pun dari keluarganya yang datang memberinya dukungan. Tidak Kakek, Nenek, bahkan Thoriq. Hanna benar-benar merasa seorang diri.
Ternyata berita dirinya sebagai pelakor telah tersebar. Para wanita penghuni penjara sebagian besar telah merasakan sakitnya diduakan. Hingga mereka melampiaskan pada Hanna. Terlebih setelah mereka tahu Hanna malah bekas kakak madu dan anaknya.
Hidup wanita itu sengsara. Tak ada yang mau berteman dengannya. Ia menjadi pelayan teman-teman sel yang selalu punya akal untuk membully-nya.
“Heh, pelakor, siapa suruh duduk? Berdiri di pojok!” Perintah Susi, salah seorang penghuni sel yang paling sering mengganggunya.
“Maaf, Kak, saya lelah. Ijinkan saya istirahat sebentar saja.”
“Brengsek! Kalau gue bilang berdiri ya berdiri!” Bentaknya.
Terkesiap, Hanna langsung berdiri dan menuju pojokan sel. Penghuni lain tertawa mengejek.
“Rasain, pas jadi plakor lu enak kan? Plakor bakal mampos!” Ejek mereka lagi.
Hanna menunduk, ia tak berani menangis karena biasanya mereka akan menghukumnya lebih berat lagi. Wanita itu pasrah menahan lelah setelah seharian di bagian laundry mengerjakan apa yang harusnya menjadi tugas Susi.
“Tahanan Hanna, ada pengunjung,” panggil seorang pengawal.
Hanna terkejut, namun ia bahagia karena setidaknya bisa duduk melepas kepenatan kakinya.
__ADS_1
Susi mengepal tangan ke arahnya, Hanna menunduk dan segera keluar dari sel. Dirinya bertanya-tanya, siapa yang mengunjunginya.
Tiba di ruang kunjungan, Hanna tertegun. Langkah kakinya terhenti melihat seseorang yang sudah menunggu. Petugas mendorongnya pelan agar terus berjalan menuju tamu yang terus menatapnya.
“Assalamualaykum Hanna, duduklah.”
“Wa .. waalayakumussalam …” Tenggorokan Hanna tercekat.
“Waalaykumussalam Mbak Qia. Mau apa Mbak Qia ke sini? Mau mengejekku? Mau mendengar permintaan maaf dari Hanna? Mbak Qia udah menang sekarang,” ucapnya dengan suara bergetar, air mata mengembang.
Qiara menatap Hanna yang telah menghancurkan kebahagiannya, namun yang lebih membuatnya murka adalah wanita itu telah menyakiti Kala.
“Aku tidak tahu terbuat dari apa hatimu hingga bisa begitu busuk. Kamu baru berumur 21 tahun waktu memaksakan menikah dengan Mas Thoriq, akalmu sudah sedemikian rupa untuk memfitnahku. Tindakanmu membuat Kala tidak bertemu ayahnya dari lahir. Masih saja kamu mengganggu dengan menyakiti kami. Ck ck ck, Hanna, Hanna, kamu tau kenapa aku ke sini?”
Qiara menatap tajam wanita di depannya yang duduk menahan marah.
“Aku ingin melihat bagaimana kamu setelah disiksa teman-teman satu selmu. Kamu heran kenapa aku tahu?”
Mata Hanna terbelalak. Qiara maju untuk berbisik.
“Akulah yang menyuruh mereka. Aku sungguh rela menyisihkan uang untuk membayar Susi dan teman-temannya.” Mata Qiara berkilat jahat.
“Mereka memang benci pelakor, aku tinggal menyebarkan saja berita kalau kamu itu pelakor jahat,” imbuhnya tanpa melepas tatapannya dari Qiara.
“Kamu ternyata jahat, Qiara Anjani!”
“Heh! Sopan sedikit! Kamu lebih muda, panggil aku Mbak atau kusuruh Susi dan kawan-kawan menyiksamu lebih kejam.”
Sorot marah di mata Hanna berganti dengan ketakutan. Ia akan mati jika teman-teman selnya memukulinya lagi. Setiap hari setidaknya ia menerima tendangan dari mereka. Kadang hanya karena iseng.
Qiara melanjutkan, “Dan yang lebih menyebalkan, kamu itu sama sekali tidak ada rasa menyesal. Busuk memang hatimu itu!”
“Kamu memang brengsek, Mbak Qiara. Aku sudah mencintai Mas Thoriq sejak remaja. Kakek dan Nenek yang memintaku untuk menikah dengan Mas Thoriq! Aku tidak bisa mengatur cinta yang tumbuh kepada Mas Thoriq,” kukuh Hanna.
“Walaupun demikian, kamu tidak perlu mengiyakan. Cinta butamu itu menghancurkan kebahagiaanku dan Mas Thoriq.”
“Tidak! Mas Thoriq bahagia bersamaku. Kami sering bercinta dan ia menikmatinya,” bantah Hanna, tahu bahwa ucapannya hanya angan belaka.
Hati Qiara berdenyut mendengar ucapan Hanna. Qiara mengeraskan hati lalu berkata tajam pada Hanna, “Bercinta tidak sama dengan mencintai, anak bodoh. Well anyway, selamat menikmati sepuluh tahun dalam penderitaan. Aku sungguh berharap suatu saat ada sinar dan hidayah yang melembutkan hatimu. Sambil menunggu dan menderita, ini aku bawakan mukena dan Al Qur’an …”
Qiara menyodorkan seperangkat alat sholat dan Al Qur’an. Hanna melihat dua benda itu dengan heran.
“Di tas mukena ada kerudung, pakailah. Hanna, aku memang belum bisa, bahkan tidak akan memaafkan atau melupakan perbuatanmu padaku dan Kala. Aku tidak sebaik itu. Tapi aku berharap kamu mau menjalani hidupmu dengan lebih baik setelah ini. Selamat tinggal, Hanna. Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam,” sahut Hanna lirih. Ia memandang punggung Qiara yang berjalan menuju pintu keluar. Tangannya gemetar meraih barang-barang yang diberikan Qiara. Tak ingat kapan dirinya melaksanakan ibadah sholat, apalagi membaca Qur’an.
Hanna menangis tergugu. Kedua tangannya menutup wajah. Ia terus menangis hingga seorang petugas menyentuh pundaknya dan menyuruhnya kembali ke sel.
Di dalam sel, ia kembali berdiri di pojok. Tangannya terus membuka bungkusan dari Qiara. Ada mukena, sajadah, kerudung, Al Qur’an, lalu sebuah buku berjudul “Jalan Tobat.” Hanna kembali menangis kepalanya menyender ke dinding.
Setelah puas, ia berkata, “Kak Susi, ijin mau sholat dulu.”
“Jangan pura-pura nyesel. Kita ini lebih duluan busuk daripada elu. Kalau sampai sok baik, gue bejek lu!”
__ADS_1
***