Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Kika Ayang Iwu …


__ADS_3

“Bapak, Ibu, kenalkan nama saya Mikala. Sepertinya anak Bapak dan Ibu yang hilang adalah adik saya …”


Suara Mikala bergetar, di matanya terlihat kekhawatiran dan kesedihan. Hanna dan Dicky merasakan kebenaran di setiap katanya.


Bukan kebenaran yang dirancang seperti kebanyakan orang yang mengaku memiliki Malika dan meminta ditransfer sejumlah uang. Hanna dan Dicky sudah kenyang menghadapi orang-orang yang hanya memanfaatkan keadaan demi keuntungan.


Mikala terus menunduk. Tangannya saling meremas. Air mata lolos ke pipinya yang terbakar sinar matahari.


“Kamu ke sini sama siapa, Nak?” Tanya Hanna lembut. Walau hatinya terjingkat, ia ingin mengenal lebih jauh Mikala.


“Sendirian, Bu. Saya jalan dari Godongdalem.”


Semua yang mendengar terbelalak. Godongdalem terletak jauh dari rumah Dicky dan Hanna. Naik kendaraan saja lama, apalagi jalan kaki. Mereka semua terenyuh dengan niatan Mikala.


Dengan jantungnya berdegup, Dicky berusaha tenang dan bertanya.


“Bagaimana kamu bisa mengatakan anak kami adalah adikmu?”


“Karena Mikala mirip Bapak. Saya tidak bisa melihat wajah Ibu karena bercadar,” jawab Mikala terus menunduk.


“Lalu bagaimana anak kami bisa bersama kalian?”


Mikala menelan ludah, ini adalah pertanyaan yang sangat ia takuti karena ibunya tidak pernah menceritakan kejadian yang sebenarnya.


“Ibuku menemukan Malika di sebuah rumah kosong, lalu membawanya pulang. Ibu tidak tau harus menyerahkan ke siapa, jadi Malika diasuh hingga sekarang. Kami juga memberi nama Malika …” ujarnya lirih.


Hanna menggenggam tangan Dicky. Asa yang runtuh mulai terbangun.


“Apakah ibumu tau kamu ke sini?”


“Tidak, Bu. Saya mohon, jika benar Malika adalah putri kandung Bapak dan Ibu, jangan tangkap Ibu saya. Kami tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu,” pintanya polos.


“Jika ternyata Mikala bukan anak kami?” Sambung Dicky yang ingin tahu ketulusan Mikala.


“Maka Ibu, saya, dan adik-adik akan selalu bersama Malika dan menyayanginya walau dia bukan adik kandung.” Mikala mengusap air mata yang sesekali lolos di wajahnya.


“Kenapa kamu memutuskan untuk memberitahu kami?” Hanna bertanya


“Sebelum Bapak saya meninggal, beliau berpesan agar kami selalu jujur. Ibu saya orang baik, tapi kami adalah orang kecil yang tidak bisa mengelak jika ditindas. Ibu saya takut dipenjarakan jika kami melaporkan Malika.”


Dicky menatap wajah istrinya. Wajah mereka penuh harap. Begitu juga Aira, Latifah, dan Fatimah.


“Mas …”


Dicky mengangguk, meletakkan satu tangan di wajah Hanna.


“Mikala, kapan kami bisa bertemu Malika?”


***


Lastri sedang melayani tiga anak gadis yang sibuk memilih aneka jajan pasar. Malika duduk anteng sambil bermain boneka tak jauh dari tempat Lastri berdagang.


Salah satu dari anak gadis itu bercanda dengan Malika yang langsung disambut tawa lebar terkekeh-kekeh. Satu dari anak itu langsung menggamit tangan kakaknya.


Aira, Latifah, dan Fatimah berusaha mengendalikan emosi haru. Seyakin itu bahwa anak ibu pedagang kue dan nasi tadi adalah adik mereka.

__ADS_1


Gaya Malika tertawa sama seperti Dicky. Bagi Latifah dan Fatimah, mengingatkan pada tawa renyah ibu mereka. Mereka berdua pun berusaha menahan emosi untuk tidak langsung memeluk Malika.


Setelah membayar dan menjauh, Imah berkata kepada kakaknya. “Mbak, senyumnya kayak Bunda dan Oom Dicky. Itu adik kita, Mbak.”


Aira pun bisa melihat wajahnya dan ibunya di anak kecil tadi. Bentuk mata dan hidung mereka sama. Jika Aira berwajah lonjong mengikuti Thoriq, maka paras Malika berbentuk hati seperti Hanna.


Tiga gadis itu berlari menuju mobil yang diparkir agak jauh dari gang rumah Lastri.


“Ma, itu Malika. Aira yakin,” ucap Aira begitu masuk ke dalam mobil.


“Ketawanya kayak Bunda dan Oom Dicky,” tambah Fatimah.


“Oom, Mama, ibu pedagang tadi keliatannya baik dan sayang sama Adek, tapi rumahnya kasian banget,” susul Latifah dengan nada miris.


“Mas, baiknya gimana? Kita datangi sekarang? Hanna yakin Malika juga belum mau sama kita. Saat ini Hanna hanya ingin melihat dan memeluknya sekaliiii saja.”


Dicky mengangguk. Ia buru-buru keluar lalu lari membukakan pintu dan membantu Hanna keluar dari mobil. Tubuh Hanna sudah sulit bergerak cepat karena kehamilan yang memasuki usia sembilan bulan.


Diiringi tiga gadis, Dicky dan Hanna berjalan bergandengan menyusuri gang kumuh, hingga mereka tiba di rumah yang menjajakan kudapan aneka rupa.


Dari jauh Hanna mengamati rumah tempat anaknya selama ini berada. Walau sangat sederhana, tapi rumah itu terlihat paling rapi dan bersih. Seorang ibu keluar sambil menggendong anak. Bercanda riang menyiumi leher anak itu hingga tergelak-gelak.


Hanna menitikkan air mata. Malika mengingatkannya pada Aira waktu masih umur satu tahun. Aira paling suka bercanda dengan Thoriq hingga tergelak-gelak seperti itu.


“Mas …” Hanna mengeratkan genggamannya ke tangan suaminya.


Dicky menahan haru. Di gang sempit itu Hanna dan Dicky untuk pertama kali yakin bahwa mereka telah menemukan Malika.


Berjalan perlahan mereka mendekati Lastri. Wanita itu tiba-tiba menyadari keberadaan Hanna dan keluarganya. Wajahnya menegang, sementara Malika masih sibuk tertawa dan menggoda Lastri.


“Wa .. Waalaykumussalam,” jawab Lastri gugup. Malika kini ikut memerhatikan Dicky dan Hanna dengan mata menyelidik. Anak itu ingin tahu siapa yang telah mengganggu keasikannya bermain bersama Sang Ibu.


Lastri tahu siapa Dicky dan Hanna. Ia pun mengenali Aira, Latifah, dan Fatimah yang baru saja belanja jajanan pasarnya. Hanya saja kini ia bimbang, apakah sebaiknya memertahankan atau mengakui bahwa ia bukanlah ibu kandung Malika.


Malika terus menatap Hanna yang bercadar, sementara air mata Hanna sudah membasahi penutup wajahnya.


“Mmm silakan, silakan masuk,” ajak Lastri akhirnya dengan suaranya bergetar karena gugup.


“Ante langis …” Malika menunjuk ke arah Hanna yang sesekali terisak.


“Iya sayang,” Hanna menjawab lembut.


“Angan langis. Mimik cucu,” balas Malika yang langsung merosot turun dari gendongan Lastri lalu lari masuk menuju tempat penyimpanan susu. Matanya menunjuk-nunjuk ke kaleng susu, minta Lastri membuatkannya untuk Hanna.


Dicky dan Hanna kini tak sanggup membendung emosi. Kerinduan yang membuncah terjawab sudah. Malika adalah anak mereka yang hilang. Dicky yang memiliki hati lembut berjuang keras menahan tangis. Ia tidak ingin membuat Malika bingung.


Hanna mengerutkan kening saat menyadari sosok Lastri mirip perawat gempal yang mengambil anaknya dari NICU.


Di satu sisi Hanna ingin mengkonfrontasi Lastri, membuatnya mengakui perbuatan jahat dan bertanya sebab musababnya. Di sisi lain, Hanna tertegun melihat betapa manja dan sayang Malika kepada Lastri. Demikian pun Lastri yang terlihat lembut dan mencintai Malika.


Hanna memutuskan untuk bersikap baik, toh jika ia mengamuk maka akan membuat Malika takut.


Mereka duduk di lantai setelah Lastri menyingkirkan kasur tempat Maira, Mirza, dan Malika tidur berdesakan. Dirinya sendiri dan Mikala memilih tidur di lantai.


Dicky memandang miris ke tempat tinggal Malika selama ini. Rumah kontrakan tanpa kamar dengan atap terbuat dari asbes sehingga panas di siang hari.

__ADS_1


Namun sepertinya Malika tidak peduli selama ada Lastri di dekatnya. Anak kecil


itu terlihat ceria, bahkan mengeluarkan mainan yang sudah lusuh lalu mengajak Fatimah bermain.


Tawanya ceria, matanya berbinar-binar, bicaranya belum jelas namun cerewetnya tidak ketulungan. Mirip Dicky.


Hanna dan Dicky tidak bisa melepas pandangan mereka dari Malika. Pun Aira dan Latifah.


“Maaf …” ucap Lastri akhirnya. Di tengah ketakutannnya, naluri sebagai sesama ibu muncul melihat Hanna yang terlihat sangat merindukan Malika.


Lastri menunduk, tak sanggup menatap netra Dicky dan Hanna.


“Maaf saya tidak langsung mengembalikan Malika.”


“Kenapa, Bu? Dari foto di atas TV, saya lihat Ibu sudah memiliki tiga anak. Bukankah Ibu pasti paham perasaan jika kehilangan anak?” Tanya Hanna sambil mengusap air mata.


Hanna berkata pelan tidak ingin membuat Malika yang sedang asyik bermain dengan Aira, Latifah, dan Fatimah terganggu. Mereka hanya berada di ruang 4x5 yang panas dan sempit.


“Saya takut, Bu. Saya takut dimasukkan ke penjara. Bapaknya anak-anak sudah meninggal. Lalu anak-anak saya sama siapa?


Malika menoleh lalu menghambur ke Lastri begitu melihat wanita yang dikenal sebagai ibunya menangis.


“Iwuu anan langis, ini Kika,” ucapnya berusaha menghibur Lastri. Tangan kecilnya menepuk-nepuk pundak wanita itu.


Hanna terenyuh melihat tingkah Malika. Ia merasa ada yang janggal dari jawaban Lastri namun memutuskan untuk tidak bertanya sekarang.


“Malika … Malika sayang sama Ibu?” Tanya Hanna lirih.


Malika mengangguk sambil menyium pipi Lastri.


“Kika ayang iwuu,” ucapnya dengan bahasa yang masih belum jelas. Anak itu lalu duduk di pangkuan Lastri. Satu tangan memainkan rambut tanda ia mulai mengantuk.


Hanna menatap Malika dengan penuh kerinduan. Hatinya tercubit melihat anak yang harusnya bermanja-manja dengannya malah kini bersandar pada wanita lain.


Ingin rasanya ia langsung mengambil Malika dan membawanya pulang. Memeluk dan tak melepas anak yang telah hilang selama setahun. Namun Hanna memikirkan kondisi psikologis Malika yang pasti terpengaruh karena dipisahkan dari wanita yang dikenalnya sebagai ibu.


Malika mulai memejamkan mata. Dicky melihat kemiripan antara Malika dan Hanna terlebih saat tidur.


Dengan lembut Lastri menepuk-nepuk bokong Malika dan dalam sekejap anak itu sudah lelap di buaian ibunya.


Hanna tidak kuat, air matanya tumpah. Tidak ingin mengganggu Malika, dirinya mengajak Dicky dan anak-anaknya untuk


pulang.


“Bu Lastri, kita perlu bicara mengenai Malika. Bagi kami melihat Malika sehat dan disayang sudah teramat membahagiakan. Hanya kami berharap segera bisa membawa pulang anak kami.”


Menatap wajah Malika yang tersenyum sambil tidur, air mata lolos dari wajah Lastri. Setahun bersama Malika ia sudah menganggapnya sebagai anak kandung. Namun Lastri tahu Malika lebih berhak mendapat kasih sayang dari orang tuanya.


Lastri mengusap air mata di pipi agar tidak menetes ke wajah Malika.


“Baik, Pak, Bu. Saya mengerti …” ucapnya lirih.


Hanna memalingkan muka melihat Lastri memeluk erat Malika. Emosinya campur aduk antara lega dan marah. Dicky menggandeng Hanna lalu berkata kepada Lastri, “ Kami akan sering ke sini, Bu. Dan saya harap Ibu tidak menghalangi kami untuk mendekatkan diri pada Malika.”


Lastri mengangguk pelan.

__ADS_1


***


__ADS_2