Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Akhirnya


__ADS_3

Di sebuah pesawat militer, Stella duduk bersama pesakitan lain. Wanita itu kembali merasakan beratnya besi yang membelenggu tangan dan kaki.


Ia adalah satu-satunya tahanan wanita. Beritanya sudah mendunia, seorang model internasional yang ditangkap karena membunuh empat orang laki-laki.


Setelah terbang beberapa jam, Karel mendekati.


“Hey, Sugar.”


Stella meludah ke wajahnya menyeramkan di depannya. Karel tertawa terbahak.


“Apapun yang kau lakukan tidak akan membuatku membunuhmu.” Karel menarik Stella hingga berdiri. Mendorongnya ke belakang pesawat. Masuk ke ruangan tempat penyimpanan.


Dengan sekali pukul, Stella terkapar di lantai pesawat.


“Merintihlah untukku, ******.”


Karel membuka celana dan langsung memasukkan barangnya ke milik Stella, membuat wanita itu berteriak keras.


Tak ada yang mendengarnya karena bunyi mesin pesawat mengalahkan rintihan yang keluar dari mulutnya.


Tidak ada belas kasihan dari Karel. Selama sisa penerbangan Stella menerima siksaan demi siksaan hingga tubuhnya terasa remuk.


Karel baru berhenti setelah pesawat hendak mendarat. Ia tak memedulikan Stella yang tidak memakai sabuk pengaman dan terkapar di lantai pesawat. Laki-laki itu sendiri sudah berpakaian dan duduk rapi.


Begitu pesawat berhenti, Stella ditarik berdiri.


“Jalan!”


“Pa … kaia ..n.” Pinta Stella susah payah karena menahan sakit.


Karel meludahi wajahnya lalu menyuruhnya memakai kembali seragam tahanan.


“Jalan!” Laki-laki itu mendorong tubuh telanjang Stella keluar dari ruangan lalu turun dari pesawat. Belum ada penumpang lain yang turun.


Ia berhenti di pintu pesawat begitu menyadari dimana mereka mendarat.


“Jangan … jangan ke sini lagi! Kumohon.”


Karel mendorongnya hingga Stella terguling dan tersungkur di tanah.


“Jalan! Jangan berhenti sampai kusuruh!”


Dengan sisa tenaga, Stella menuruti perintah.


“Masuk ke rumah itu!” Perintah Karel.


Stella paham apa yang akan terjadi jika ia mengikuti perintah Karel. Tapi menolak berarti akan ada hukuman berat menantinya.


Tertatih-tatih ia memasuki rumah yang ditunjuk Karel. Tak sampai semenit ia sudah menjadi mainan ranjang bagi seorang pria kejam.


Hari-hari terus berlalu. Stella sudah tidak tahan. Dirinya tidak pernah dibawa ke pengadilan. Namun siksaan dan hukuman terus diberikan Karel.


Hingga suatu hari saat Karel mengerjainya dengan posisi telungkup, ia meraih pistol yang tergeletak tak jauh dari onggokan baju pria jahanam itu.


Kalimat terakhir sebelum peluru membuyarkan benaknya adalah, “Mommy loves you Liam, forgive me.”


***

__ADS_1


Berita kematian Stella sampai ke Devan yang langsung menyampaikan ke Qiara.


“Devan, aku turut berduka.”


Laki-laki itu terdiam, ada perasaan gamang karena bagaimana pun Stella pernah bertahta di hatinya dan menjadi ibu dari anaknya.


“Kesalahannya terlalu banyak, dulu ia tidak seperti ini. Dulu Stella adalah wanita yang lembut.”


“Sayang, sebaiknya kita tidak membicarakan hal buruk dari kerabat yang sudah meninggal. Kita doakan semoga kesalahannya diampuni.”


Devan merangkul istrinya, Qiara balas memeluknya.


“Kita harus beri tahu Liam,” ucap Qiara lirih.


Ini akan sangat menyakitkan bagi Liam. Qiara ingat ketika Dhanu memberitahukan ibunya sudah meninggal di rumah sakit.


“Aku sudah mengurus kepulangan jenazah Stella, orang tuanya sudah kuberi tahu.” Devan menjelaskan lagi.


“Sebentar lagi Liam pulang, aku akan menemanimu bicara dengannya, ya? Boleh?”


“Qia, aku butuh kamu. Aku takut Liam akan shock.”


“Kita akan selalu ada buat Liam. Kamu, Qia, Kala, Abby. Kita hadapi semua bersama.”


Devan menatap mata bening Qiara yang selalu berbinar.


“I love you sooo much, Qiara Anjani.”


“I love you more, Devan Donavy.”


Qiara dan Devan menyambut keduanya. Kala langsung memeluk ibunya minta digendong. Devan harus menggendongnya karena Qiara masih belum boleh mengangkat beban berat.


Kini gantian Liam yang memeluk Qiara. Anak itu semakin menunjukkan sayang kepada ibu sambungnya. Kadang membuat Kala cemburu. Walaupun demikian ia tak lagi membatasi dirinya untuk bermanja-manja. Qiara adalah bunanya sekarang.


“Mommy bikin brownies, sekarang semua cuci tangan. Oya di kulkas ada limun jahe segar.”


“Yaaay, limun jahe!” Kala dan Liam bersorak karena Qiara menyiapkan minuman favorit mereka. Setelah cuci tangan, masing-masing mengambil gelas dan piring kecil lalu antri di hadapan Qiara.


Wanita itu menggeleng kepala ketika Devan, suami tercinta ikutan mengantri bersama dua anak kecil.


Kala lahap sekali menyantap brownies buatan ibunya. Sudah habis dua potong dan ia masih menyorongkan piring untuk yang ke tiga.


Mereka bercakap ringan menanyakan hal-hal seru dari kegiatan mereka. Liam menanyakan kapan Abby boleh pulang.


Setelah suasana lebih santai, Qiara duduk memangku Kala. Sementara Devan melirik Qiara memberi kode.


“Liam, I have a bad news …”


“Daddy, Master Oogway said, there’s just news. There is no good or bad,” sela Kala sambil memainkan rambut Qiara.


“It’s about mom, isn’t?”


Devan dan Qiara mengangguk bersamaan.


“Liam, kami baru mendapat kabar kalau Mommy … Mommy meninggal dunia.”


Liam menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca, napasnya memburu.

__ADS_1


“Liam, hey …” Devan memegang pundak Liam yang masih tercenung.


Anak itu menghindar kemudian lari menuju kamarnya.


“Kala sama Daddy dulu, Buna mau nemenin Liam, boleh?”


Kala mengangguk, paham kakaknya sedang shock dan berduka.


Baru beberapa langkah, Liam berbalik kemudian menghambur ke Qiara.


“Buna … Buna … jangan tinggalin, aku takut.”


Liam memeluk Qiara erat-erat. Air mata bercucuran.


“It’s okay to cry, Liam. Menangislah. Buna tahu rasanya kehilangan ibu. Buna akan ada di sini selalu, in syaa Allah.”


Qiara membiarkan Liam menangis di pelukannya. Setelah tenang, Devan mengajak semuanya duduk untuk membuat rencana.


“Daddy sudah mengurus semua dari Afrika. Besok, Mommy akan tiba dan kita langsung menuju pemakaman. Grandad dan Nena malam ini terbang dari Hawaii.”


Keesokan hari, jenazah tiba dan langsung di bawa ke pemakaman. Karena Stella memiliki keyakinan yang berbeda, Devan menyerahkan semua pada keluarga Stella.


Untuk terakhir kali, Liam menatap wajah ibunya. Wajah yang sudah berbeda.


“Mommy, aku akan selalu mengingat wajah aslimu. Wajah yang dulu selalu kutunggu untuk menyanyikan lagu sebelum tidur. We had such a great time. Aku akan mengingat semua kenangan indah tentangmu, Mom. Rest in peace.”


Tak lama, Devan sekeluarga, termasuk ayahnya juga kedua mantan mertuanya, para kerabat dan sahabat mengantarkan Stella ke peristirahatan yang terakhir.


Setelah semua pelayat pulang, Liam duduk di samping pusara ibunya.


“Bye, Mom. I love you.”


***


Beberapa hari ke depan, Liam tidak terlalu banyak bicara. Bahkan tingkah laku kocak Kala sering dilewatkan. Dirinya banyak melamun.


“Liam, ada yang mau diceritain ke Buna?” Qiara mendekati Liam yang duduk di pojok menghadap jendela.


“Buna kalau kangen mamanya Buna, gimana?”


“Seringnya berdoa, tapi juga Buna suka nangis.”


“Mamanya Buna meninggal waktu Buna umur dua tahun?”


“Benar, Mamanya Buna sakit. Walau Buna masih kecil, tapi ingat memori indah sama Mama.”


“Apa yang paling Buna kangen?”


“Dipeluk Mama …” Suara Qiara bergetar mengenang ibunya.


“Liam kangen Mommy …”


“Buna juga kangen mamanya Buna …” Qiara merangkul Liam yang kemudian memeluknya. Anak itu terisak-isak. Qiara tidak berkata apa-apa hanya terus memeluk Liam sampai semua kesedihan tertumpahkan.


Kala mendekati Liam lalu ikut memeluk kakaknya. Devan menatap ketiganya dari sofa, ia berharap suatu saat Liam bisa kembali ceria.


***

__ADS_1


__ADS_2