
Hanna dan Dicky memandang Malika yang lincah berlari ke sana ke mari di halaman belakang rumah mereka.
Sambil menyusui anak ke tiganya, Hanna tersenyum melihat Malika berlari kian kemari mengejar kupu-kupu.
Sebulan setelah melahirkan, Dicky dan Hanna memutuskan untuk membeli rumah dekat dengan kediaman Lastri. Rumah yang tidak terlalu besar namun cantik dan mampu dibeli oleh Dicky. Kini ia sudah resmi menjadi dokter bedah onkologi.
Dicky dan Hanna menepati janji untuk tidak melaporkan Lastri ke polisi. Malah jika panti asuhan yang dibuat Hanna sudah beroperasi penuh, Lastri akan tinggal di sana bersama anak-anaknya. Lastri akan membantu mengasuh bayi-bayi yang dititipkan karena pada dasarnya ia suka anak kecil.
Mikala mensyukuri keputusannya untuk jujur walau ia masih tidak mau mengaku ke ibunya.
Malika, Maira, dan Mirza asyik bermain sementara Lastri dan Mikala membantu mengeluarkan barang-barang Hanna dan Dicky yang belum semoat dikeluarkan dari box pindahan.
Mengikuti usulan Liam, Hanna akhirnya melunak. Ia akhirnya bisa menerima bahwa di awal kehidupan Malika, Lastri-lah yang berperan sebagai ibu.
Perubahan sikap dan cara pandang Hanna terhadap Lastri ternyata berpengaruh pada Malika. Terlebih dengan kehadiran adik bayi yang membuat Malika ingin terus berdekatan.
Malika pun sudah mulai mau memanggil Mama, walau untuk menginap dan tinggal bersama Hanna dan Dicky anak itu belum mau.
“Mama, adik agi apa?” Malika bertanya dengan gaya bicara lucu.
“Mimik cucu,” jawab Hanna dengan lembut.
Malika tertawa lebar lalu kembali main bersama Maira dan Mirza mengejar kupu-kupu.
Hanna dan Lastri sepakat untuk memberi batas waktu yaitu hingga Malika berumur dua tahun. Siap atau tidak siap, Malika akan tinggal bersama orang tuanya. Diharapkan dalam kurun waktu itu hubungan Malika dengan Hanna dan Dicky semakin dekat.
Dari dalam Mikala melihat adik-adiknya tertawa riang. Rumah mereka tidak ada halaman. Jangankan halaman, kamar saja tidak punya.
“Mika, ikut main gih sana. Biar Ibu yang beresin.”
“Nggak usah, Bu. Mika pengin bantuin Ibu aja.”
Tenggorokan Lastri tercekat. Mika nampak lebih dewasa dari anak seusianya. Ketika ayahnya meninggal ia baru berusia enam tahun. Mika adalah saksi mata yang melihatnya menangis tiap malam menahan lapar karena uang mereka tidak cukup untuk membeli makan dan susu untuk Mirza yang masih bayi.
Mikala hanya sekolah sampai kelas empat. Meski mereka tidak perlu membayar uang sekolah, namun anak itu memilih membantu ibunya dengan berjualan tisu. Terkadang membantu mengasuh Mirza jika Lastri ada panggilan jadi buruh cuci atau cleaning service di kantor.
Walau tidak sekolah, tapi Mikala rajin datang ke perpustakaan keliling. Atau duduk di pelataran masjid mendengarkan ustadz mengajar mengaji.
Lastri merasa sangat bersalah pada Mikala. Karena anak sulungnya itu banyak berkorban. Maira dan Mirza masih terus sekolah, itulah yang diminta Mikala. Adik-adiknya mengerti perjuangan ibu dan kakaknya hingga mereka rajin belajar dan berprestasi.
“Makasi ya, Mika.”
“Buat?”
“Udah jadi anak yang berbakti.”
“Mika hanya menjalankan pesan Bapak, Bu. Untuk jaga Ibu dan adik-adik.”
Lastri mengacak rambut ikal Mikala. Interaksi hangat itu tidak luput dari pengamatan Hanna. Semakin sering melihat Lastri, ia yakin jika Lastri-lah yang mengambil anaknya dari NICU.
Hanna yakin pasti ada sebab khusus. Lastri yang lembut dan penyayang terhadap anak-anaknya termasuk Malika tidak mungkin jadi bagian sindikat penculikan bayi.
__ADS_1
Dorongan karena ingin memiliki Malika juga rasanya tidak mungkin melihat kondisi keuangan mereka yang jauh di bawah cukup. Hanna melihat tubuh kurus anak-anak Lastri dan baju lusuh hasil pembagian barang bekas.
Hanna berulang kali ingin membelikan tapi ditolak.
“Jangan, Bu. Ijinkan kami bekerja dan menerima bayaran yang menurut Ibu pantas. Itu saja sudah cukup,” jawab Lastri dengan sopan dan tulus. Bukan sikap yang dibuat-buat.
Hanna bertekad untuk menyelidiki, jika saatnya sudah tepat. Kini ia berfokus untuk membuat Malika nyaman dengan situasi baru yang belum dipahami anak umur satu tahun setengah.
“Papaaa, Kika mau cucu,” Malika lalu mengelendot manja pada Dicky. Nasib ayah tiga anak itu lebih baik karena suami Bu Lastri sudah meninggal sehingga Malika tidak pernah merasakan hadirnya sosok ayah.
Dicky menciumi putrinya lalu menggandengnya ke kamar utama. Maira dan Mirza ragu apakah akan mengikuti Malika atau tetap bermain. Mereka tahu kebiasaan Malika setelah kenyang minum susu adalah tidur.
“Duduk sini sama Mama,” ajak Hanna. Untuk membiasakan agar Malika mau memanggil Mama, ia minta ijin pada Lastri agar Mikala, Maira, dan Mirza memanggilnya Mama.
Walau canggung akhirnya mereka bertiga setuju. Maira dan Mirza duduk berdempetan.
Rafathar yang baru berusia beberapa minggu masih lahap menyusu.
“Malika nggak pernah nyusu kayak gitu,” celetuk Mirza polos.
“Ya soalnya kan air susu Ibu udah nggak ada, orang kamu udah gede pas Malika dateng,” sahut Maira sama polosnya.
Dengan satu tangan, Hanna menuangkan empat gelas es teh manis buatannya.
“Setelah kalian minum, dua lagi tolong diantar ke Ibu dan Kakak kalian, ya.”
“Baik, Mama …”
Dengan hati-hati Maira dan Mirza membawa dua gelas es teh manis. Lastri dan Mikala minum dengan nikmat karena memang kehausan namun terlalu sungkan untuk minta minum.
Lastri mengetuk pintu dan masuk.
“Bu, barang-barang sudah rapi. Saya ajak anak-anak ke warung bentar, saya liat bumbu-bumbu di dapur banyak yang habis. Malika kayaknya lagi bobok. Saya nitip, eh maaf maksudnya Malika di sini aja, ya, Bu.” Suara Lastri terdengar tercekat.
“Terima kasih, ini uangnya. Beli makanan juga buat Ibu dan anak-anak, ya.” Hanna mengulurkan sejumlah uang.
“Nggak usah, Bu. Nanti kami makan di rumah aja. Saya ambil yang buat bumbu. Mari, assalamualaykum.”
Tak berapa lama, dari jendela Hanna melihat Lastri dan anak-anaknya keluar. Ada rasa hangat tiap melihat mereka bersama. Walau berkekurangan, tidak membuat mereka bersungut dan mengeluh.
Dicky datang membopong Malika yang sudah pulas. Ia ingin mereka di kamar utama berempat.
Malika ditidurkan di samping Rafathar. Tak berapa lama, mereka berempat tertidur. Entah berapa lama ketika Hanna dan Dicky terbangun mendengar suara terisak-isak.
Malika duduk di lantai depan pintu. Anak itu ingin keluar namun tidak bisa membuka pintu.
“Ibu … Ibu …,” isaknya.
“Malika …” Panggil Hanna lembut lalu mendatangi anaknya. Dicky menepuk-nepuk Rafathar sambil memerhatikan Malika.
Anak perempuan itu memandang Hanna dengan mata berkaca-kaca sambil menunjuk ke pintu.
__ADS_1
“Ibu … “ Malika menggandeng Hanna lalu mengajaknya ke pintu. Hanna refleks menggendong Malika lalu membuka pintu. Tak biasanya, anak itu tidak memberontak.
Hanna ke dapur mencari Lastri dan anak-anaknya. Mereka tidak ada di sana. Kemudian sambil bercanda dan menggendong Malika, ia mencari ke kamar-kamar lain.
“Kika, tunggu Ibu, ya mungkin akhirnya pergi ke pasar. Kika mau mam?”
Malika mengangguk. Hati Hanna berbunga-bunga karena ini adalah pertama kali Malika meminta sesuatu pada dirinya.
Hanna kemudian mendudukkan Malika di kursi makan untuk balita sambil ia menyiapkan nasi dan sup ayam. Tak berapa lama dengan lahap Malika makan disuapi Hanna.
Dicky keluar dari kamar menggendong Rafathar yang baru bangun. Mereka berempat bercanda layaknya sebuah keluarga kecil. Sudah lama mereka menunggu saat bersama Malika.
Menjelang sore, Lastri dan keluarganya tidak kunjung kembali. Hanna dan Dicky lalu memandikan anak-anak mereka. Malika asik main air di kamar mandi bersama Hanna sementara Dicky memandikan Rafathar di bak bayi. Ayah siaga itu sangat luwes dalam mengurus bayi.
Malam hari, Dicky dan Hanna mulai resah karena Lastri belum pulang. Mereka berulang kali menelepon hape Mikala tapi tidak ada jawaban.
Malika mulai menanyakan ibu dan kakak-kakaknya. Matanya terus melihat ke arah pintu. Walaupun demikian, Malika tidak rewel.
Dicky mencari ke warung namun penjaganya tidak merasa kedatangan Lastri dan anak-anak.
Malam itu untuk pertama kali, Malika tidur bersama orang tua kandungnya. Walau memikirkan kemana Lastri dan keluarganya, namun tidak dapat dipungkiri Hanna dan Dicky sangat bahagia dengan adanya Malika di tengah mereka.
Akhir pekan itu, Aira sedang menginap di rumah Thoriq, sementara Latifah dan Fatimah mengikuti program sekolah di pesantren.
Setelah Malika dan Rafathar tidur, Dicky dan Hanna keluar untuk beristirahat di teras belakang. Di sana mereka menemukan secarik kertas dan uang yang diberikan Hanna untuk membeli bumbu dapur.
Dicky dan Hanna membaca surat yang ditulis Lastri untuk mereka.
Assalamualaykum,
Pak Dicky dan Bu Hanna yang baik, Malika yang sangat kami sayangi.
Saya dan anak-anak pamit. Alhamdulillah semakin hari, kami lihat Malika semakin dekat dengan Bapak dan Ibu juga kakak-kakaknya. Sehingga kami memutuskan untuk melepas Malika bersama orang tua kandungnya sebelum waktu yang sudah kita sepakati.
Sekali lagi, saya mohon dimaafkan atas segala kebodohan dengan tidak mengembalikan Malika dari awal. Ya, betul, sayalah yang mengambil Malika dari NICU …
Saya terpaksa, Bu. Anak-anak perlu uang untuk kebutuhan sekolah dan tidak setiap hari kami bisa makan. Jadi saat seorang laki-laki menawarkan uang dua puluh juta, saya tergiur. Orang itu spesifik minta saya untuk mengambil bayi Bapak dan Ibu.
Mudah bagi saya untuk keluar masuk rumah sakit karena sering dipanggil sebagai tenaga cleaning service pengganti. Saya juga tau tempat penyimpanan seragam.
Ketika orang itu tidak datang, saya berniat meninggalkan Malika. Namun mendengar Malika menjerit dan menangis di rumah kosong, saya memutuskan untuk mengasuhnya karena mengembalikan ke rumah sakit sangatlah tidak mungkin. Saya tidak mau dipenjara.
Bapak dan Ibu, semakin hari saya melihat kemiripan Malika dengan Anda berdua. Saya yakin Malika akan lebih baik bersama kedua orang tua kandung.
Malika suka tiba-tiba panas kalau lama tidak bertemu saya. Ibu cacah bawang merah dan bawang putih campur dengan minyak telon lalu diurut di punggung san perutnya. Malika paling suka diurut, Bu.
Sekali lagi kami pamit dan mohon dimaafkan. Kami akan selalu mengingat Malika sebagai anak dan adik yang kami sayangi.
Peluk cium untuk Malika dari saya, Mikala, Maira, dan Mirza. Bye Malika, semoga kamu jadi anak baik dan sholihah. Kami akan selalu mencintai kamu.
Wassalam,
__ADS_1
Lastri
***