
Dicky hendak berangkat kerja ketika seorang wanita dengan dandanan sedikit menor muncul di depan rumahnya.
Wanita berwajah manis itu tersenyum sumringah menatap laki-laki yang sedang mendorong motornya keluar dari rumah.
“Selamat pagi, Bujang Ganteng.”
“Pagi, Tante.”
“Ini Mbak bawain nasi uduk. Sarapan bareng yuk,” katanya sambil mengulurkan sebungkus nasi uduk lengkap dengan lauk pauk dan krupuk di plastik terpisah.
Belum makan, tak dipungkiri air liur Dicky terbit dan perutnya mulai memberi kode-kode.
“Terima kasih, Tante. Saya sudah makan bubur ayam,” sahutnya berbohong.
“Dicky, kenapa sih manggil Tante? Mbak memang pernah jadi istri Ayahmu, tapi beliau sudah meninggal. Jadi kamu nggak usah panggil Tante. Kita kan cuma beda beberapa tahun.”
Mendengus kasar, Dicky memasang helmnya.
“Tante makan aja, saya sudah kenyang.”
Dicky kemudian menyalakan sepeda motornya. Sengaja membunyikan gas sekencang mungkin.
“Yah, mubadzir dong, Mbak beli dua.”
“Kasih orang aja, Tante. Saya berangkat, assalamualaykum.”
Tanpa menunggu jawaban Dicky ngacir menjauhi wanita yang memandangnya dengan penuh napsu.
“Aku bisa dapat ayahmu dulu. Tunggu aja, Sayang, kamu juga akan jadi milikku.”
Dari spion Dicky melihat ke belakang. Elisa, wanita yang pernah dinikahi ayahnya terus menatap sambil tersenyum menggoda. Ia seakan tahu Dicky akan melihat dari spion lalu melambaikan tangan dengan genit. Dicky bergidig lalu mempercepat laju motornya.
Tak jauh dari rumah sakit, Dicky mampir di warung bubur ayam. Sambil mengaduk bubur ayam yang masih panas, memori Dicky kembali pada masa remajanya.
Terlahir dari keluarga yang berkecukupan, ayahnya, Mardi, memiliki toko material yang cukup besar sedangkan ibunya, Mariam, memiliki toko kain terlaris di pasar.
Mardi dan Mariam adalah pasangan yang sangat romantis. Apalagi mereka sering melewatkan waktu berdua setelah Aisya dan Dicky sekolah di pesantren.
Gonjang-ganjing menerpa keluarga kecil itu setelah Mariam divonis terkena kanker rahim stadium lanjut. Aisya dan Dicky bertekat ingin keluar dari pesantren untuk menemani Mariam.
Permintaan kedua anaknya ditolak. Mariam menginginkan Dicky dan Aisya terus memperdalam ilmu agama. Apalagi Dicky hampir menyelesaikan hafalan Qur’an.
Tak bisa membagi waktu antara mengurus istri dan menjaga toko, Mardi menyewa perawat. Sebuah yayasan mengirim seseorang bernama Elisa yang berumur dua puluh tahun untuk menjaga dan membantu Mariam.
Setelah berjalan kurang lebih setahun, Badai Elisa akhirnya memporakprandakan keluarga kecil nan harmonis itu. Elisa mengaku hamil anak Mardi. Keluarganya datang dari kampung dan bersama para penduduk sekitar meminta Mardi untuk menikahi Elisa.
Mardi mengakui kekhilafannya. Terlepas dari rasa cintanya terhadap Mariam, jiwa laki-lakinya tidak cukup setia untuk menahan godaan gencar dari Elisa di belakang Mariam.
Dengan berat hati karena tak ingin seorang anak lahir tanpa ayah, Mariam merelakan suaminya menikahi Elisa. Kali ini Aisya dan Dicky membulatkan tekat untuk tinggal bersama ibunya. Mereka tahu betapa hancur Mariam menghadapi pengkhianatan Mardi. Ibu dan anak-anaknya akhirnya terpaksa menyaksikan suami dan ayah mereka mengucapkan ijab kabul.
Setelah menikah, Elisa benar-benar merajalela. Ia bertingkah bak nyonya besar. Bahkan di hadapan Mariam yang sedang kesakitan ia malah bermanja-manja dengan suaminya.
Mardi tidak berani menatap mata istri pertama yang sudah menyertainya berpuluh tahun. Mariam sabar menemaninya saat masih menjadi supir truk yang mengirim material, hingga akhirnya mereka punya toko sendiri.
__ADS_1
Mariam hanya memandang suaminya yang memilih membawa Elisa ke kamar. Delapan bulan Mariam bertahan sebelum akhirnya meninggal di pelukan Aisya dan Dicky.
Elisa pergi ke kampungnya saat proses pemakaman Mariam. Saat itu, Aisya dan Dicky sudah tidak peduli lagi dengan ayah mereka.
Mardi sangat terpukul, ia ingin bersama anak-anaknya selepas pemakaman, namun Elisa menelepon dan mengatakan kandungannya bermasalah.
Kepergian Mardi ke kampung Elisa merupakan terakhir kali Aisya dan Dicky melihat ayahnya. Setelah itu komunikasi benar-benar terputus. Ayahnya memilih pulang pergi dari kampung Eliza ke tokonya daripada pulang ke rumah.
Di tahun yang sama, Aisya diterima di universitas negeri di Semarang fakuktas kedokteran gigi. Dicky memutuskan untuk pindah sekolah mengikuti kakaknya karena tidak ada yang perlu ditunggu lagi di rumah.
Sebelum meninggal, Mariam menjual toko kain dengan harga lumayan. Hasil penjualannya dibagikan kepada Aisya dan Dicky. Dari tabungan inilah kakak beradik ini hidup dan membiayai kuliah.
Aisya yang jago masak berjualan nasi uduk di kantin fakultasnya. Ia tahu uang yang diberikan ibunya tidak akan cukup mengingat biaya kuliahnya juga mahal.
Dicky pun menyusul kakaknya masuk ke universitas negeri fakultas kedokteran. Parasnya yang tampan memberi peluang baginya untuk menjadi model iklan.
Di kalangan mahasiswa, Dicky menjadi idola, sudahlah ganteng, cerdas pula. Banyak tawaran menjadi bintang sinetron yang masuk, namun Dicky tetap pada pendiriannya menjadi dokter. Sesuai janjinya pada Mariam.
Setelah melahirkan, Elisa kerap menghubungi Dicky dengan dalih ingin menanyakan kabar. Enggan menanggapi, Dicky memilih tidak menjawab telepon atau apapun yang dikirim oleh Elisa.
Aisya dan Dicky saling menjaga seperti amanah Mariam. Mereka menjadi lulusan terbaik. Aisya bertemu dengan suaminya, Ibrahim saat bekerja di klinik. Setelah beberapa bulan Aisya dan Ibrahim memutuskan untuk menikah.
Aisya dan Dicky menemui ayah mereka yang kini kembali tinggal di rumah lama. Mardi tidak menyambut kedatangan putra-putrinya dengan antusias, padahal mereka sudah bertahun-tahun tidak berjumpa.
Ia hanya bersedia menikahkan Aisya dan memberi sedikit uang untuk pesta. Mardi malah lebih sibuk dengan Karina, putrinya dari Elisa.
Beberapa tahun kemudian, Aisya dan Dicky mendengar ayah mereka meninggal. Tidak ada warisan yang mereka terima karena semua aset sudah dialihkan ke Elisa.
Aisya dan Dicky datang untuk memberi penghormatan terakhir pada ayah mereka. Bagaimana pun, Mardi pernah menjadi ayah yang baik untuk Aisya dan Dicky.
Berbagai upaya diambil Dicky untuk menghindari ular yang memporakporandakan kehidupan kelurganya.
Beruntung di Jakarta ia tinggal bersama paman dari ibunya hingga wanita itu dihalau pergi ketika hendak menemuinya.
Selepas mendapatkan spesialis, Dicky dikejutkan dengan berita kakaknya meninggal karena kecelakaan bus.
Ia memutuskan untuk bekerja di rumah sakit kecil yang dekat dengan sekolah dua keponakannya. Latifah dan Fatimah menjadi tanggung jawabnya karena Ibrahim, ayah mereka kabur tak lama setelah Fatimah lahir.
Dengan berat hati ia melepas pekerjaan di rumah sakit ternama di Jakarta. Pindah ke kota kecil, ia belum mendapat banyak pasien.
Elisa mengetahui hutang-hutang yang diwarisi Dicky. Dengan gagah berani ia menawarkan untuk membayar lunas semua hutang asal Dicky mau menikah dengannya.
Terbengong, Dicky menatap wanita yang melamarnya dengan santai. Tak dapat dibayangkan ia menikah dengan perempuan yang pernah menjadi penghangat ranjang ayahnya.
Suara klakson membuyarkan lamunan. Dicky melihat seorang wanita bercadar sedang memarahi pengendara motor yang hampir menabrak dirinya.
Seketika kenangan masa lalunya yang menyedihkan hilang. Di wajah tampannya terlukis senyum jahil ketika wanita itu masuk ke warung bubur.
“Apa senyum-senyum,” ucapnya sewot.
“Astaghfirullah, Bu Hanna, ucapkan salam dulu dong. Seperti ini, assalamualaykum Dokter Dicky, senang bertemu dokter terganteng pagi ini.”
Di balik cadarnya, Hanna menjebik. Matanya menatap sinis.
__ADS_1
“Assalamualaykum Dokter Cab ..,” cetusnya asal.
Dicky langsung pura-pura bersin mengalihkan perhatian. Matanya mendelik ke arah Hanna. Wanita itu hanya terkekeh, mengambil tempat duduk paling jauh lalu memesan bubur.
Diam-diam Dicky memperhatikan betapa besar komitmen Hanna pada cadarnya saat makan dan minum. Ada rasa hangat yang menyusup ke hatinya.
“Nggak, nggak, no way, not my type,” Dicky menggeleng kepala tak sadar ia mengucapkan kalimatnya dengan keras. Saat melihat berkeliling, banyak mata memandang heran. Hanya sepasang mata yang memandangnya dengan alis terangkat dan sedikit menggelengkan kepala.
Dicky mengambil gelas es teh manis lalu membawanya ke meja Hanna. Ia duduk di seberang wanita itu yang langsung resah.
“Pak, bukan mahram, jangan duduk di situ.”
“Lha trus dimana dong?”
“Itu ada pintu, keluar dikit ada bangku, noh di sana aja,” jawab Hanna yang terus menyendok bubur sambil menunduk.
“Pak beneran, jangan duduk situ. Nggak ada Bapak aja saya makannya udah susah.” Kini suara Hanna terdengar memelas.
Dicky duduk di bangku memunggungi Hanna.
“Baikan yuk,” ujarnya.
“Minta maaf dulu.”
“Waduh, buat?”
“Yang dulu itu, megang pinggul saya pas di rooftop.”
Dicky tergelak. “Demi Allah, Hanna, saya nggak ada niatan cabul sama kamu.”
“Terus kenapa bohong dan menutupi, bilang udah punya anak? Ketahuan terus malu sendiri, kan?”
“Ya udah, ya udah … saya minta maaf karena tidak sengaja. Saya tekankan, ti-dak se-nga-ja, memegang kamu karena saya pikir kamu mau bunuh diri.”
Hanna mendengus. “Jamku jatuh Tuan Dokter. Saya memang banyak masalah, tapi bunuh diri, naudzubillah, masih jauh dari angan-angan.”
Dicky berkata sambil tersenyum, “Saya juga minta maaf ngaku-ngaku udah punya anak. Padahal saya masih perjaka tingting.”
Mendengar perkataan Dicky, Hanna menyembur bubur yang baru masuk mulutnya.
“Astaghfirullah, kotor kan cadarku. Tuan Dokter, bisa nggak kalau ngomong disensor dulu?” Sungut Hanna sambil membersihkan cadarnya dengan tisu basah.
Dicky cengar-cengir, antara bersalah namun juga geli. “Maaf.”
“Jadi belum pernah nikah?” Tanya Hanna meneruskan suapannya.
“Ting ting ya ting ting.”
“Baiklah Tuan Dokter Ting ting. Saya sudah selesai makan. Selamat bekerja.” Hanna berdiri lalu gegas berjalan menuju rumah sakit. Tak lupa meninggalkan sejumlah uang untuk makan dan minumnya.
Dicky yang tidak mengantisipasi gerak cepat Hanna hanya menggeleng melihat kelakuan wanita yang kini hampir masuk ke halaman rumah sakit. Sekali lagi sambil mengomeli pengendara motor yang menyerobot zebra cross.
“Tuan Dokter Ting ting. Bagus lah daripada Cabul.”
__ADS_1
***