
Hanna mengintip ke kamar tempat Kala dikurung. Anak itu sedang tidur di lantai. Semalaman ia terus berteriak ketakutan ketika lampu dimatikan. Agaknya setelah lelah berteriak Kala jatuh tertidur.
Tidak ada rasa iba pada diri Hanna. Jika awalnya ia berniat menyulik Qiara, rencananya berubah haluan melihat betapa ibu dan anak itu saling menyayangi. Hanna ingin membuat Qiara sekaligus Kala menderita.
Hanna dan anak buahnya telah berpindah beberapa kali untuk menghilangkan jejak Kala. Kini mereka berada di sebuah rumah di tengah hutan. Orang-orang Tom mengatakan polisi masih bergerak.
Kalandra Akira Putra Thoriq.
Hanna tersenyum miris menyadari kemiripan dengan nama yang diberikan Thoriq untuk putrinya.
Kamelia Aira Putri Thoriq.
Hanna yakin bahwa Thoriq dan Qiara pernah merancang nama anak-anak mereka dan tanpa memikirkan perasaan, mantan suaminya itu menyematkan pada anaknya.
“Nyonya, kita sudah siap bergerak.” Seorang pengawal berpakaian hitam-hitam membuyarkan lamunan Hanna.
“Bangunkan anak itu, jangan sampai ia melihatku.”
“Baik, Nyonya.”
Kala kembali memejamkan mata. Sedari tadi ia pura-pura tidur. Anak cerdik itu sempat melihat seorang wanita mengintipnya.
Laki-laki penjaga menutup matanya dengan kain lalu memanggulnya ke mobil. Kala tidak mengerti pembicaraan mereka dalam Bahasa Indonesia, namun ia yakin orang-orang jahat ini akan menjauhkannya dari Buna.
Kala ditidurkan di tempat duduk belakang. Seorang penjaga duduk bersamanya. Tiba-tiba orang itu berbisik dengan Bahasa Inggris yang fasih, “Aku tahu kamu tidak tidur dan aku tahu kamu meninggalkan tanda-tanda untuk ibumu. Dua lingkaran kecil di sudut ruangan. Jangan ulangi atau kupatahkan jari-jarimu.”
Air mata mengembang di pelupuk matanya lalu mengalir membasahi wajah kecilnya. Di balik tingkahnya yang membelot, sesungguhnya anak berusia tiga tahun itu ketakutan setengah mati. Ia terus berdoa agar segera bertemu Bunanya.
Beberapa kilometer dari iring-iringan mobil yang membawa Kala, aparat kepolisian telah bersiap untuk menyergap. Mario dan timnya tidak diperbolehkan ikut karena walau mereka profesional tapi mereka tidak punya ijin beraksi di wilayah Indonesia.
Devan dan Thoriq memantau bersama Mario. Satu hal yang tidak satu pun dari mereka termasuk Anwar sadari adalah Qiara berada di antara para polisi, bersembunyi di mobil.
Qiara mendengar pembicaraan Devan, Thoriq, dan Anwar tentang Kala lalu memutuskan untuk ikut bertindak demi menyelamatkan Kala.
Dia sudah tidak peduli lagi. Cukup sudah ia bersikap pasrah dan menunggu.
Jika pun ada yang menemukannya bersembunyi di salah satu mobil polisi, ia akan
bersikeras untuk ikut dalam misi penyelamatan anaknya.
Begitu tiba di area penyergapan, Qiara diam-diam keluar dan bersembunyi di bawah mobil polisi yang terdekat dengan para petugas agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
Dari walkie talkie, pengintai melaporkan bahwa kendaraan bergerak. Enam kendaraan hitam sejenis tanpa nomor bergerak.
Di tengah jalan, keenam mobil itu berpencar ke dua arah yang berbeda. Anwar sudah memblokade semua akses keluar dari tempat itu.
Qiara yang mendengarkan laporan pantauan berharap Kala ada di rombongan yang mengarah padanya.
Anwar waspada mengamati layar monitor, dengan sigap memberikan komando.
Rombongan mobil yang dicurigai akan segera tiba dalam hitungan detik. Jantung Qiara berdebar. Tak henti ia memohon agar Kala selamat dan bisa kembali ke pelukannya.
Pasukan polisi yang dibawa Anwar sedang fokus menghadang target kendaraan, tak seorang pun melihat Qiara merayap mencari posisi strategis.
Agaknya naluri seorang ibu untuk melindungi anaknya lebih besar dari kekuatan apapun. Tidak ada lagi rasa takut. Sedikit pun.
Tiga kendaraan hitam masuk perangkap, petugas telah siap menghadang. Dari dalam mobil seseorang menembakkan senjata beberapa kali ke arah pasukan.
“Balas dengan hati-hati, kemungkinan ada anak kecil di dalam mobil,” perintah Anwar.
Hati Qiara mencelos membayangkan betapa takutnya Kala mendengar bunyi tembakan yang bersahutan.
__ADS_1
Wanita itu kemudian merayap ke arah mobil musuh yang berada di tengah. Qiara sedang mengendap-endap ketika tiba-tiba pintu mobil dibuka.
Seorang laki-laki keluar dengan membekap Kala dengan satu tangannya. Tangan yang lain menodongkan pistol ke arah anak laki-laki yang matanya ditutup kain hitam.
“Buna … Buna …” Panggil Kala lirih.
Dari monitor, Devan, Thoriq, Mario, dan Anwar menatap ngeri ketika tiba-tiba Qiara menerjang laki-laki itu. Tak menyangka mendapat serangan, Kala terlepas.
“Kala, run!” Qiara sekuat tenaga mendorong laki-laki itu ke dalam mobil. Senjata api terjatuh ke lantai mobil.
Kala membuka penutup matanya menatap Bunanya. Anak itu ragu-ragu.
“Kala, run to the police! Don’t luck back! Run!” Teriak Qiara sambil sekuat tenaga menahan pintu mobil dari luar.
Komandan pasukan berlari ke arah Kala sambil terus melontarkan tembakan ke arah musuh. Kala gemetar ketakutan tapi ia mengikuti nasihat Buna. Kaki kecilnya lari sekencangnya menuju komandan polisi.
Pasukan polisi langsung merangsek maju dan membentuk formasi penyelamatan.
Kala kini aman di pelukan komandan polisi yang langsung membawanya ke belakang barisan dilindungi oleh blokade tameng.
Melihat Kala berhasil diselamatkan, Thoriq langsung lari menuju anaknya.
Sementara itu, Qiara hendak berlari menyusul Kala ketika sebuah benda dingin menempel ke tengkuknya. Pria yang tadi di dorong ke dalam mobil segera bangun dan menarik Qiara masuk ke dalam mobil.
“Halo Mbak Qia, long time no see …”
Qiara dan Hanna saling bertatapan.
“Halo Hanna, pelacur kecil,” ucap Qiara sinis.
Hanna menatap Qiara dengan penuh kemarahan. Jika ada ungkapan benci hingga di ubun-ubun, itulah yang ia rasakan sekarang.
“Bawa dia, kita lihat siapa yang akan menjadi pelacur setelah ini.”
Pria itu memanggul Qiara, memasukkannya ke mobil paling belakang, kemudian duduk di belakang kemudi diikuti Hanna yang duduk di sampingnya. Mereka memutar mobil dan berusaha melarikan diri.
Melihat pergerakan aneh dan tidak bisa menemukan sosok Qiara, Devan menyadari apa yang terjadi.
“They got Qiara!” Teriak Devan histeris.
Devan, Tom dan anak buahnya gegas menuju mobil-mobil yang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi hal seperti ini.
“Minta ijin untuk bertindak. Saya mendapatkan visual kendaraan yang membawa Nyonya Qiara.”
“Ijin pengintaian diberikan tapi tidak untuk inisiasi kontak senjata!” Perintah Anwar kepada Mario. Perwira polisi itu langsung bergerak mengejar mobil yang membawa Qiara.
Dalam kendaraan Mario menyuruh Devan memakai vest anti peluru.
“Senjata di laci mobil. Kita akan mendapatkan Qiara. Walaupun jika harus melanggar perintah Anwar.”
Devan mengangguk, memakai vest lalu mempersiapkan senjata. Dia adalah ahli menembak di arena. Saat ini ia bertekad menggunakan keahliannya untuk menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Mario menginjak gas mengejar mobil yang membawa Qiara.
Di dalam mobil, Hanna menoleh ke arah Qiara yang masih terbaring tak berdaya. Matanya nyalang melihat ada dua mobil yang mengejarnya.
“Gue iket cewek brengsek ini dulu.”
Hanna melompat ke belakang, membawa tali segel plastik untuk mengikat tangan dan kaki Qiara.
Ia berencana menjual Qiara ke mucikari yang siap membayar dengan harga tinggi. Ia akan membuat Qiara merasakan penderitaanya detelah bercerai dengan Thoriq.
__ADS_1
Berbagai rencana jahat bermunculan di benaknya. Semua untuk membalaskan sakit hatinya pada Qiara, Thoriq, dan Kala.
Hanna berhasil mengikat tangan dan mulai mengikat kaki Qiara. Sebuah tendangan bersarang di perutnya. Qiara ternyata ternyata sudah sadar dan berniat melawan sekuat tenaga.
Dengan tangan terikat, Qiara berusaha membuka pintu. Sekilas ia melihat mereka melintas di jalan pedesaan yang cukup sepi.
“Heh, mau kemana ******?”
Hanna menarik kerudung Qiara dan menariknya ke belakang. Kembali Qiara menendang tubuh samping Hanna hingga wanita itu terpekik kesakitan.
“Denger ya, brengsek, lu udah ambil suami gue, sekarang lu culik anak gue. Mati aja lu, Hanna.” Ucapnya sambil terus melancarkan tendangan membabi buta hingga Hanna kewalahan.
Hanna menangkap kaki Qiara lalu memukul tulang keringnya. Qiara berteriak kesakitan.
“Ternyata princess bisa marah juga,” ucap Hanna terkekeh. Qiara segera mengatasi rasa sakitnya lalu bangkit dan mengadu keningnya ke kepala Hanna. Apapun akan ia lakukan untuk melawan.
Hanna masih berusaha mengatasi rasa pusing. Sementara Qiara tetap berusaha membuka pintu. Dua wanita itu terus bergumul dalam mobil berkecepatan tinggi.
Qiara berhasil membuka pintu. Pengemudi menyadari dan langsung membelokkan mobilnya hingga membuat Qiara limbung dan terjatuh ke lantai mobil.
Hanna segera menyerang Qiara, menghujaninya dengan pukulan. Kemarahan benar-benar sudah menguasai dirinya.
Qiara yang sudah terikat tangannya berusaha bergerak dengan kakinya, namun posisi Hanna lebih menguntungkan. Perempuan kalap itu terus menampar dan memukuli Qiara.
Setelah merasa berhasil melumpukan lawannya, Hanna mencari tali segel plastik untuk mengikat kaki Qiara.
Qiara memanfaat keadaan, ia menghambur ke arah pengemudi hingga mobil menabrak sesuatu. Ia tidak menyadari bahwa mereka berada di pinggir jurang.
Dalam hitungan detik, mobil terguling ke dalam jurang.
Qiara berteriak ,”Laa ilaahaillallaah…”
Ia merasakan mobil terguling beberapa kaki sebelum mendengar bunyi ledakan kecil. Tubuhnya kini tersangkut di antara kursi depan. Hanna sepertinya berhasil melompat keluar dari mobil, sementara pengemudi diam tak bergerak dengan mata terpejam.
Dengan sisa tenaga, Qiara berusaha keluar dari mobil. Tangannya sakit luar biasa. Qiara merayap ke atas jurang. Menopang dirinya dengan satu tangan, berpegang pada akar-akar pohon.
Susah payah mendaki akhirnya Qiara sampai di jalanan yang mereka lewati. Hatinya mencelos melihat Hanna telah menunggunya bersama beberapa orang laki-laki.
Tanpa kesulitan anak buah Hanna berhasil meringkus Qiara yang sudah tak berdaya. Laki-laki itu mendudukkan Qiara di atas jalan tanah.
Hanna mendekatinya. Dengan sekali sentak, Hanna menarik kerudung Qiara, membuatnya terlepas. Qiara menatapnya dengan marah.
“Brengsek kau, Hanna!”
“Aku sangat mencintai Mas Thoriq dan ingin hidup bahagia bersamanya. Kamu menghancurkan mimpiku.”
“Hanna, aku nggak ngerti kenapa kamu menganggap ini kesalahanku. Kamu lah yang masuk dalam pernikahanku dan Mas Thoriq. Sadar, dong!”
“Mati kau, Qiara!” Hanna mengacungkan pistol.
“Nyonya, kita harus segera pergi. Mereka sudah makin dekat,” seru seorang pengawal yang bertugas mengawasi keadaan.
“Masukan perempuan ini ke mobil!”
Anak buah Hanna menarik Qiara berdiri. Qiara meringis kesakitan. Tanpa rasa iba, laki-laki itu mendorong Qiara supaya berjalan lebih cepat.
Baru beberapa langkah terdengar suara peluru berdesing. Empat orang pengawal langsung mengamankan Qiara, mendorongnya masuk ke dalam mobil yang dinaiki Hanna.
Pasukan polisi terus melumpuhkan anak buah yang kini kalah jumlah. Keadaan kacau. Mobil yang berisi Hanna dan Qiara memutar balik dan langsung melaju kencang.
Belum sempat kabur jauh, mobil Mario dan Devan menghantam. Tak ingin usahanya sia-sia, Hanna menembakkan pistol ke arah Qiara. Sebelum pintunya dibuka dengan kasar dan tubuhnya ditarik keluar, Hanna sempat melihat Qiara yang terkulai dengan tubuh bersimbah darah.
__ADS_1
***