
“Malam itu, kami selesai memberikan presentasi di panggung. Saya dan dokter Devan berjalan ke belakang panggung. Baru beberapa langkah ia mendorong saya lalu … lalu … ia mendorong saya melakukan tindakan tidak pantas.”
Nadine terisak-isak. Sementara Devan merasa muak bukan kepalang. Apa yang terjadi diputar balik.
Tidak ada CCTV yang menjangkau area kejadian atau dalam istilahnya, Nadine memilih area blank spot untuk melancarkan aksinya.
Tim Kepatutan yang dipanggil melihat Devan dengan sinis. Terkadang belum terbukti namun pihak wanita lebih mendapat simpati.
“Apakah dokter Devan selama ini bertindak jauh selama bekerja sama dengan Anda?”
“Tidak. Tapi saya tau kalau dia tertarik. Saya tetapkan batasan karena dia sudah berkeluarga.”
Devan menggebrak meja.
“Dokter Devan! Untuk ketiga kalinya, jaga sikap Anda.”
Pengacaranya, Michael Ross, menenangkan. Ini adalah kali ke tiga sidang diulang karena Devan tidak bisa menjaga emosi.
“Ia membalik cerita.”
“Kita dengarkan dulu.”
Tim Kepatutan memanggil tiga orang dokter muda yang berada dalam tim.
“Dokter Jeanny, dokter Meghan, dokter Sarah. Anda semua bekerja sama dengan dokter Devan dan dokter Nadine. Apa pengamatan kalian?”
Tiga dokter itu tidak menjawab dan menggigit bibir.
“Anda wajib menjawab atau kami akan memasukan Anda ke dalam daftar dokter dalam pengawasan.”
Dokter Jeanny menelan salivanya. “Dokter … Dokter Devan … beliau sepertinya menyukai dokter Nadine.”
Napas Devan tersentak. Jeanny meremas tangannya. Kesaksian yang akan menghancurkan dokter yang sangat ia hormati.
Kedua temannya ikut memberikan kesaksian dengan berbagai contoh kejadian. Bahkan pengacara Nadine memberikan rekaman CCTV yang menunjukkan seolah Devan mengejar Nadine. Padahal saat itu memang Devan mengejar Nadine untuk memberi tahu bahwa kondisi pasien membaik. Mereka memang bercakap namun dinarasikan seolah-olah Devan sedang menggoda Nadine.
Nadine menatap puas. Ia telah mengancam para dokter muda agar mendukungnya atau mereka akan dipecat dan tidak akan mendapatkan tempat kerja di rumah sakit manapun.
Ia juga sudah bergerilya mendapatkan rekaman CCTV dan menunjukkan kejadian-kejadian yang mendukung tuduhannya. Semua dimudahkan dengan adanya kesaksian tiga dokter muda yang bekerja satu tim dengan Devan dan Nadine.
Mario, orang kepercayaan Devan memasuki ruang sidang lalu berbisik. Membuat Devan terperanjat.
Michael langsung mengambil tindakan.
“Komite Kepatutan yang saya hormati, jika diperkenankan kami mohon penundaan karena ada bukti yang harus kami selidiki.”
Nadine tersenyum melecehkan. Devan harusnya bangga menjadi pria terpilih untuk mendapatkan cintanya dan kini wanita ambisius itu akan membuat Devan bertekuk lutut. Menyesali tingkah polah menolaknya selama ini.
Di luar ruang meeting rumah sakit, orang tua Nadine, Joe Grayson dan Philia Grayson duduk menunggu hasil sidang. Mereka adalah dokter terpandang di Inggris dan bahkan menjadi penyandang dana di rumah sakit itu.
Mereka menatap Devan dengan penuh kebencian ketika pria itu lewat. Setelah Devan dan rombongan masuk ke dalam lift, mereka mendekati Nadine yang berlagak sebagai korban.
Tiga dokter muda menyingkir dengan penuh rasa bersalah. Dibanding kemampuan Devan, Nadine masih bukan apa-apa, hanya saja di Inggris, Grayson lebih berkuasa dibandingkan Donavy.
Komite Kepatutan mendekati mereka untuk ikut menenangkan Nadine. Mereka berjanji akan menyelesaikan kasus sebaik-baiknya.
***
“Mario, aku ingin bicara denganmu.”
“Ya, Nyonya.” Mario mengangkat telepon Qiara. Dari semua klien, Qiara adalah favoritnya. Wanita cerdas dan tangguh. Ia heran Devan tidak melibatkan Qiara dalam tuntutan sebesar ini.
“Aku tau kamu punya kewajiban untuk memenuhi kontrak dengan suamiku. Termasuk perjanjian tutup mulut. Kini aku memintamu sebagai seorang istri dan ibu enam anak, apa yang terjadi pada Devan?”
Mario ragu, karena Devan memerintahkannya untuk tidak bercerita pada siapapun terutama Qiara.
“Ini sangat memalukan. Dan Qiara punya trauma masa lalu. Aku tidak ingin membuatnya resah.”
“Istrimu lebih kuat dari yang kausangka. Tapi jika kau sudah memikirkan, baiklah. Aku akan tutup mulut.”
Percakapan dengan Devan terngiang di telinga Mario.
“Maafkan aku, tapi Boss kali ini aku akan melanggar janjiku,” batin Mario.
Segera semua permasalahan tuntutan Nadine mengalir dari mulutnya.
“Tidak ada perselingkuhan?” Tanya Qiara dingin.
“Menurut Tuan Devan tidak ada, Nyonya. Tapi bukti-bukti memojokkannya. Tiga dokter mengunci rapat mulut mereka walau aku tahu mereka diancam oleh keluarga Grayson tapi aku belum punya bukti konkrit.”
Qiara tidak mau membeberkan bahwa ia ada di selasar belakang panggung dan punya bukti kuat. Wanita itu memilih untuk memakai caranya.
***
Nadine duduk menyeruput kopinya. Pemandangan dari jendela Paper and Cup menyajikan lalu lalang manusia dengan berbagai tujuan dan keperluan.
Berkunjung saat jam sepi membuat Nadine bisa menikmati suasana cafe yang sangat cozy dan homey. Alunan gitar akustik mendayu-dayu memanjakan telinga. Paduan wangi kopi dan kue-kue yang sedang dibakar menerbitkan selera kuliner yang tertahan.
Nadine memikirkan langkah yang akan diambil untuk menghancurkan Devan. Tinggal satu saksi lagi yang akan diperiksa dan ini adalah saksi kunci. Patricia Jenkins.
Anak Pat menderita asthma akut, sementara ayahnya raib entah kemana. Pat kerja membanting tulang untuk pengobatan putrinya.
Nadine tahu jika ia memberikan uang, maka pengacara dan penyelidik dari pihak Devan akan dengan mudah membuktikan. Melalui koleganya, Apple, putri Pat, dimasukkan ke daftar penerima bantuan dari sebuah yayasan kesehatan paru.
Tentunya Nadine dengan berbagai rupa lihai menutupi keterlibatan. Pat yang merasa terbantu bersumpah untuk mengatakan apapun yang diminta.
Itulah sebabnya jika dugaan Nadine tepat, mengapa Michael Ross minta penundaan sidang. Mereka akan menyelidiki Pat.
“Selidiki saja kalau kamu bisa menemukan saksi kunciku,” gumam Nadine sambil menggigit cinammon scones yang legit.
“Haaaah, there you are.”
Nadine terkejut ketika seseorang duduk di kursi seberangnya. Lebih terkejut lagi ketika ia melihat siapa yang duduk.
“Nyonya Donavy,” ucapnya gugup.
“Yep, flesh and blood. Wait, miss, may I have one black coffee please,” pinta Qiara pada pelayan yang langsung mengacungkan jempol.
“Aku baca di beberapa website, Paper and Cup ini salah satu kafe terkenal di London. Nyempil, aku sempat nyasar, you know aku sampai di London langsung hamil kembar tiga, jadi ya jarang pergi-pergi.”
Nadine heran dengan betapa santainya Qiara.
“You’re not supposed to be here.”
“Oh well, but I’m here. Let’s might as well talk about what suppossed and NOT supposed to do.” Pelayan memberikan cangkir berisi kopi hitam pekat panas.
__ADS_1
“And one scones like she’s having, please.”
“Rigth away, Mam.”
“Aaah kamu pasti kalau kopi bisa mengusir bau-bau tak sedap ya.”
“I’m leaving,” cetus Nadine lalu berdiri dan mengambil tas dari sandaran kursi.
Dengan santai Qiara menekan hape memutar rekaman kejadian di belakang panggung.
Mata Nadine terbelalak.
“Please, take it, but don’t break it. It’s my son’s phone.”
“You’re sick!”
Qiara tergelak hingga air mata membasahi bulu mata lentiknya.
“Thank you, aku udah lama nggak ketawa lepas kayak gini. Fiuh.”
Nadine meraih hape hendak membantingnya.
“Wait, told you it’s my son’s phone. Kamu nggak akan merusaknya seperti kamu akan merusak nama baik ayahnya. Geser, geser aja lagi kalau nggak percaya.”
Nadine menggeser file image dan melihat wajah Kala memenuhi layar dengan gigi ompong yang baru tanggal. Lalu Thor, lalu Thor, kemudian Thor lagi, lalu Kala sedang bermain bersama Kakak dikelilingi bayi-bayi kecil.”
“Yep, itu anak-anakku dan Devan. Enam.” Qiara mengangguk, menekankan oada kata enam.
“Kamu kebayang nggak kalau kamu berhasil merebut Devan, maka kamu akan menerima paket besar. Paling tidak kita akan berbagi lima hak asuh, empat di antaranya bahkan masih bayi unyu-unyu.”
Nadine terhenyak.
“I thought so, pasti kamu berpikir bersama Devan kamu akan ke pesta berdua, liburan ke Bora-bora, bercinta semalaman. Forget it. Five kids, four of them are babies. Ini yang akan terjadi. Pagi, kamu tidak akan memikirkan apakah rambutmu tertata rapi karena satu anak akan menggantung di kakimu dan dua lain mungkin memanjat kakimu yang lain minta digendong. Malam hari pasti cape setelah seharian kerja. Bisa istirahat, oh tidak, karena selalu ada tangisan, teriakan, perkelahian antarsaudara.”
Nadine semakin ciut.
“Oh and one more. Make love all night? Kamu akan beruntung untuk bisa melakukannya hanya lima menit. It’s quickie everytime, darling.”
Qiara menyeruput kopi lalu mengucapkan terima kasih saat pelayan mengantarkan scones.
“Memang kopinya luar biasa. Aku suka kopi pahit dan penganan legit.”
“A.. apa maumu?”
“Aaah, dokter Nadine, dokter termuda untuk spesialis kandungan. Umur kita kurang lebih sama. Well kamu lebih tua tiga tahun sih. Aku baru masuk tiga puluh. Kenapa tiba-tiba kamu jadi pilon.”
Tangan Nadine terkepal. Ingin rasanya mengacak-acak wanita di depannya yang asik menyantap scones.
“Nikmatnya, alhamdulillah … dalam waktu enam bulan, ini pertama kalinya aku bisa makan dengan tenang. Oh, ya, kamu tanya apa mauku? Aku mau kamu melepas tuduhan palsumu dari suamiku.”
Nadine mendengus.
“Sebentar, aku telepon Michael, ia sedang di depan ruang Komite Kepatuhan.”
“Wait! Gimana aku tau kamu tidak akan menyebarkan setelah kucabut tuntutan?”
“Kamu nggak akan pernah tau. Tapi aku orang yang memenuhi janji, … biasanya. Aku mau pesan lagi, masih lapar.”
Nadine menatap wanita yang asik memilih kue dari menu dengan tatapan bengis.
Qiara menata lekat netra Nadine. Suaranya lirih menyeramkan membuat Nadine merinding.
“So tertembak? Been there, done that. Kedua … aku sedang hamil tujuh bulan ketika Stella, mantan istri Devan, menodongkan pistol ke kepalaku di tengah hutan. Jika aku tidak hamil dan dia tidak menyandera Liam, putra Devan, model kurus kering itu sudah kuhajar. Jadi melawan orang gila, checked.”
Nadine semakin ciut, sementara Qiara memajukan badannya mendekati Nadine.
Menelan saliva, Nadine terbata, “A .. aku..”
“Setelah dua yang kuceritakan, menghadapimu semudah aku menyantap scones ini.” Qiara memasukkan sepotong besar scones ke mulutnya.
Nadine tak mampu berkata, mulutnya ternganga. Dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah untuk memeriksa siapa istri Devan. Nadine terlalu merendahkan Qiara berdasarkan penampilan.
“Jadi, kamu punya bahan untuk berpikir malam ini dokter Nadine Grayson. Maju terus pantang mundur, tentunya aku akan memakai video tadi untuk melawanmu. Atau mundur dan mengatakan semua adalah kesalahpahaman serta permintaan maaf tercatat di Komite Kepatutan.”
“Itu sama saja dengan menghancurkan karierku.”
“Ya, ya.. terus aku harus sedih gitu?”
Qiara berkata sambil menyantap blueberry cheescake yang baru datang.
“Maa syaa Allah, ini endolita. Mau coba? Atau langsung nggak bisa makan, ya …?”
Goda Qiara.
Nadine berdiri lalu beranjak pergi. Qiara menyetopnya.
“Aku akan mempertahankan rumah tanggaku, dokter Nadine. Tapi kalau itu gagal, ingat … lima anak menanti kasih sayangmu. Kopi dan kuemu aku yang traktir.”
Nadine berbalik dan keluar dari cafe.
Beberapa kilometer dari Paper and Cup, di sebuah minivan, Mario bergidig menatap wajah Qiara dari layar.
“Devan, Devan, andai saja Qiara mengijinkan, aku akan memutar video ini dihadapanmu.”
“You got that Mario?”
Suara Qiara dari handy talkie mengejutkannya.
“Yes, Mam.”
“Bagus, simpan dan jangan berikan ke Devan kecuali kuperintahkan.”
“Yes yes mam, of course.”
“Kupegang omonganmu. Oya lain kali cari anak buah yang lebih profesional, dari tadi mangap terus.”
Seorang laki-laki yang duduk di pojok cafe langsung beringsut. Tanpa Qiara tahu, laki-laki itu adalah mantan agen intelijen handal di negaranya.
***
Nadine memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Mereka memang sangat dekat. Bungsu dari tiga bersaudara, dua kakak laki-lakinya juga selalu menjaga Nadine layaknya putri raja.
Walau mereka kaya dan berkuasa, tapi kedua orang tuanya mengajarkan anak-anaknya kebajikan. Nadine tahu pasti tindakannya tidak saja membuat keluarganya kecewa tapi juga akan mencoreng nama Grayson.
Nadine memukul-mukul stir mobilnya.
__ADS_1
“Kenapa aku harus jatuh cinta dengan Devan Donavy?”
Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam rumah besar keluarganya. Ayah, ibu, dua kakak sedang berkumpul.
“Sweetheart, you’re home. Come here.”
Nadine duduk di samping ibu dan langsung menjatuhkan diri ke pelukan wanita yang melahirkannya.
Ayah dan kakak-kakaknya memandang sendu sambil menahan geram terhadap Devan.
“Jangan khawatir, besok kita ajukan saksi kunci. Devan pasti tidak bisa mengelak.
Ayah sudah memastikan dia tidak bisa diterima di seluruh rumah sakit di Inggris Raya.”
“Kakak sudah siap menghajarnya. Kami akan datang ke persidanganmu besok.”
Nadine tidak sanggup menanggapi air matanya menetes.
“Honey, apa yang terjadi? Apakah dokter itu menyakitimu lagi?”
“Kurang ajar! Ayo Mark kita hajar Devan.” Kedua kakaknya berdiri.
“Wait. Wait …”
Nadine menatap mata teduh ibunya. Mata dengan manik biru yang menyadarkan betapa bodohnya dia dengan obsesinya.
“Duduklah, ada yang ingin kusampaikan …”
Berurai air mata, Nadine menceritakan kejadian sebenarnya antara dirinya dan Devan. Dialah yang selama ini mengejar, memaksa tiga dokter muda untuk mendukungnya, bahkan mengancam seorang petugas kebersihan.
Hingga perjumpaannya dengan Qiara serta bukti yang tidak hanya menghancurkannya tapi seluruh keluarga.
“Nadine …” ucap ibunya lirih.
“I’m so sorry. So, so, sorry. Aku bodoh. Aku ingin punya keluarga seperti Mom and Dad, bersuamikan seorang dokter kondang. Maafkan aku yang telah mengarang cerita dan memfitnah orang lain.”
Nadine menutup wajahnya, tak sanggup menatap ayah, ibu, dan kakak-kakaknya.
“Jadi Devan tidak pernah melecehkanmu?” Tanya Daniel, kakak sulung Nadine.
Nadine menggeleng.
“Dia adalah orang yang sangat setia dan mencintai istrinya.”
“Nadine, apa yang sudah kamu lakukan?”
“I’ve been blind by my ambition, stupid, and I’m a *****, Dad.”
“Kita harus bertanggung jawab. Nadine, you know what to do. Kami akan bantu kamu membersihkan nama dokter Devan. Kita harus bersiap dengan tuntutan hukum dari pihak dokter Devan,” ucap ayahnya sambil menghela napas panjang.
“Maafkan aku Dad.”
“Pergilah ke kamarmu, Nadine, kami sangat kecewa. Teramat sangat kecewa dengan kelakuanmu.”
“Besok surat pemecatan dokter Devan akan dikeluarkan dari Ikatan Dokter. Aku harus mencegahnya,” tegas Mark.
Nadine naik ke kamarnya. Ia masih mendengar keluarganya mengungkapkan kekecewaan yang mendalam.
Kedua kakaknya bahkan memalingkan padangan ketika bersitatap.
Malam itu Nadine tidak keluar dari kamar karena esok adalah hari yang berat.
***
“Saya, Dokter Nadine Grayson telah melakukan kesalahan dengan menuduh Dokter Devan Donavy dengan tuduhan yang tidak benar. Saya mencabut tuntutan dan siap menerima konsekuensi dari tindakan. Pengakuan ini saya berikan tanpa paksaan dari pihak mana pun. Saya, Nadine Grayson, minta maaf atas perbuatan yang merugikan dan merusak nama baik serta reputasi dokter Devan.”
Di depan para Komite Kepatuhan, pihak Devan, dan keluarganya, Nadine mengakui perbuatannya.
Orang tua dan kakak-kakaknya menatap ngeri mendengar hal-hal nekat yang dilakukan Nadine untuk meloloskan ambisinya.
Hati Nadine teriris melihat betapa ibunya menyesal hingga menitikkan air mata.
“Maafkan Mommy dan Daddy yang gagal mendidikmu Nadine. Kami juga gagal pada diri sendiri karena terbawa emosi hingga ikut menyudutkan dokter Devan di kalangan dokter. Kami semua di sini, saya, istri, anak-anak mohon maaf. Jika pihak dokter Devan akan memroses secara hukum. Kami siap.”
Seluruh keluarga Grayson berdiri. Sorot bersalah terpancar dari netra-netra mereka.
Devan dan timnya mengangguk. Pria itu keheranan dengan perkembangan kasus. Mario yang sudah tahu berakting terkejut, sama halnya dengan Michael. Mereka lebih memilih menghadapi Devan yang tidak diberitahu dibandingkan melanggar permintaan Qiara.
Ketua Komite Kepatutan terlihat canggung karena sepanjang sidang ia memang lebih condong membela Nadine.
“Dokter Nadine, dengan pengakuan Anda, kami membebaskan dokter Devan dari segala tuntutan dan sanksi. Dokter Devan, kami cabut scorsing dan Anda dipersilakan untuk kembali praktek.”
Dokter senior itu melanjutkan, “Dr Nadine, Anda akan kami berikan scorsing untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Silakan alihkan pasien-pasien yang Anda tangani ke dokter yang ditunjuk oleh kepala departemen obgyn. Selama scorsing, Anda dilarang keras menghubungi pihak rumah sakit kecuali melalui pengacara Anda.”
Melanjutkan keputusannya ia menatap tiga dokter muda yang memberi kesaksian palsu.
“Kalian sebagai dokter muda, seharusnya tetap bisa memilah mana yang benar dan salah. Tapi kalian lebih mementingkan karir pribadi dibanding karir dokter Devan yang bisa hancur karena kesaksian palsu.”
Tiga dokter muda makin menunduk. Ini akan menjadi coreng yang melekat sepanjang karir.
“Kalian harus menghadap ke Komite Etika untuk menerima sanksi karena sudah terbukti membuat kesaksian palsu.”
Di kursinya Devan bisa bernapas lega. Walau namanya sudah terlanjur ternoda tapi ia lega dirinya terbukti tidak bersalah. Selama proses sidang ia tidak memberitahu Qiara karena malu teramat sangat.
“Congrats, Bro. Moga nama baik kamu segera pulih.”
“Aamiin. Btw, apa yang membuat Nadine berubah pikiran? Kupikir hari ini kita akan mendengar saksi kunci dari pihaknya.”
“Well, katakanlah dia dibukakan matanya oleh seorang wanita tangguh,” ujar Mario dengan penuh kekaguman.
Devan mengerutkan kening. “Qiara? Kamu selalu seperti itu setiap membicarakan istriku. Apa hubungan Qiara dengan ini semua? Aku bahkan tak sanggup memberitahunya.”
Devan memberondong Mario dan Michael.
“Istrimu selalu membuatku kagum. Berhati-hati, jagalah dia. Atau …” Ungkap Mario iseng mengerjai bossnya memasang wajah mupeng.
“Atau apa? Berantem sini ayo!” Devan bangkit untuk memukul Mario yang terkekeh san menghindari.
“Dev, jujur aku lebih takut menghadapi istrimu daripada kamu. Aku nggak kebayang kalau ternyata Qiara tahu masalah ini tanpa kamu memberitahunya …” Michale bergidig.
Hape Devan berbunyi. Sebuah pesan masuk yang langsung membuat wajahnya seputih kertas.
PULANG KALAU MASIH MAU DIANGGAP SUAMI DAN AYAH!!!
Tak sampai semenit, Devan sudah memacu mobilnya menuju rumah, menembus traffic Kota London yang lumayan padat.
__ADS_1
***