Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Tattoo Macan


__ADS_3

Hanna sudah menduga suara keras dari wanita tak berakhlak itu keluar dari mulut Eliza.


Tak ingin membuang emosi apalagi membiarkan wanita itu cari masalah dengan suaminya, Hanna menyapa.


“Assalamualaykum, halo Tante, ada apa ini dateng-dateng ngomel. Kayak kurang sesendok.”


Eliza mendelik. “Dasar mantu kurang ajar.”


“Tante mau apa sih ke sini? Dari awal aja udah kayak gini pasti niatannya sudah tidak baik. Padahal adab pertama saat kita bertamu itu adalah niat yang baik, loh,” ujar Hanna ringan membuat Eliza semakin terbakar.


“Kamu ngabisin duit Dicky aja bikin rumah buat gembel.”


Beberapa anak yang ada di sana merasa geram. Dicky mengajak mereka ke taman belakang sebelum kembali mendampingi istrinya.


“Kalau ya emang kenapa? Saya berhak koq untuk mendapatkan nafkah dari suami. Apalagi ini untuk membiayai anak yatim piatu …ya, kan, Mas?”


“Berhak dan aku sangat mendukung. Ini tabungan akhirat, Mbak. Saya ingatkan Mba juga supaya eling. Lagipula urusan apa Mbak ngurus uang saya? Mbak itu bukan Ibu saya.”


“Dicky kok gitu, aku kan cuma pengin kamu bahagia. Terus kenapa tamu nggak dikasih masuk?” Tanya Eliza melangkah ke dalam tanpa dipersilakan.


Dicky mendecak. Daru lewat sambil menatap tajam ke arah Dicky. Laki-laki itu bertingkah seperti bodyguard atau orang suruhan ketimbang suami yang harusnya mendidik istri.


Rumah Sa’aadah menganut konsep lesehan. Eliza memakai rok pendek, namun nampaknya ia tidak risih jika Dicky melihat dua paha mulusnya. Daru pun tidak ada dorongan untuk mengingatkan istri agar menjaga kehormatannya.


Pemandangan yang membuat Dicky muak dan memilih bermain di taman belakang disalahartikan oleh Eliza.


“Tuh liat, suamimu ngiler disuguhin kayak gini. Bosen liat istri krukupan terus.”


Hanna hanya terkekeh, ia tahu suaminya tak ingin mengotori matanya dengan dosa melihat aurat wanita yang bukan mahramnya. Sambil melirik ke reaksi Daru yang hanya senyum-senyum.


Tak mau membuka rahasia kamar, Hanna bertanya, “Tante ke sini mau apa?”


“Mau tau kabar Dicky. Sekalian mau liat tempat penampungan gembel."


“Cukup!” Sentak Hanna tiba-tiba hingga membuat Eliza dan Daru tersentak. Habis sudah kesadarannya terhadap wanita lupa daratan ini.


“Silakan pulang kalau datang tanpa niatan baik. Saya sebagai tuan rumah berhak mengusir kalian.”


Lastri yang berada di dapur kaget mendengar Hanna bicara keras, karena setau dia wanita itu selalu bicara lembut.


Ia berjalan keluar hendak menyuguhkan teh hangat ketika langkahnya terhenti. Nampan yang dibawanya bergetar. Ia kembali ke dapur.


Hanna sekelebat melihat Lastri yang masuk lagi dan bangun untuk membantu sambil melirik tajam ke Eliza dan Daru.


Di dapur, Lastri duduk sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


“Bu, ada apa?” Bisik Hanna lembut kaget melihat kondisi Bu Lastri.


“Ibu kenal laki-laki itu?”


“Nggak terlalu sih, yang perempuan tapi pernah menikah dengan ayahnya Pak Dicky.”


“Bu, dia yang menyuruh saya mengambil Malika. Saya jagain Malika dan Rafathar ya, Bu.”


“Ibu ada bukti?”


“Nggak ada, Bu. Hanya saya ingat di lengan kanan ada tato kepala macan. Saya nggak punya rekaman pembicaraan tapi waktu itu saya pas bawa hape Mikala jadi begitu dia keluar rumah makan saya sempat ambil foto..”


“Hmm, oke Ibu jaga anak-anak, bawa ke kamar atas.”


Hanna ke luar dapur membawa dua cangkir teh hangat. Ia menyodorkan ke Eliza namun untuk Daru ia sengaja memberikan dan dengan gerakan mulus menumpahkan cangkir hingga membasahi kemeja lengan panjang Daru.”


“Ck, perempuan bego!” Seru Daru kaget.


Daru mengibaskan lengan kemeja sebelah kanan lalu menggulung hingga ke siku, menampakkan tato kepala macan seperti yang di sampaikan Bu Lastri.


“Maaf,” ujar Hanna singkat karena susah payah menahan emosinya. Jika tidak ingat dia pernah punya catatan kriminal, sudah diterjangnya laki-laki dan perempuan di depannya.


Sepuluh tahun di penjara mengajarinya satu dua cara untuk menyerang. Namun posisinya sebagai mantan narapidana bisa jadi lemah di mata hukum.


“Kamu ya, bodoh banget!” Pekik Eliza sambil membantu suaminya.


Cadar Hanna hanya menyisakan mata, namun Eliza dan Daru bisa merasakan kilatan bengis dan kemarahan dari perempuan di hadapan mereka.


Dicky masuk, sepertinya Lastri sudah memberitahukan. Kemarahan juga menggelegak di dada pria itu.


“Apalagi yang ingin kamu rusak dari hidup saya, hah?”


“Dicky,” ucap Eliza sambil mendekat ke arah anak tirinya. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu. Dengan seenaknya ia menyentuh lengan Dicky yang langsung ditepis.


“Istrimu menyiram suamiku dengan teh panas. Dasar narapidana, aku akan mengembalikan dia ke penjara!”


“Dengan pasal apa kamu menjeratku hah?” Bentak Hanna lagi.


“Penganiayaan!”


“Mas foto dia, sebagai bukti dia baik-baik saja saat keluar dari sini. Aku pun bisa melaporkanmu untuk penculikan anak,” suara Hanna terdengar tenang dan dingin.


Eliza dan Daru langsung terdiam.


“Kita sudah bahas dan tidak ada yang bisa membuktikan bahwa kami menyulik anakmu,” jawab Eliza sinis.

__ADS_1


“Sekarang belum, tapi kami mulai mengumpulkan bukti-bukti baru. Tinggal tunggu waktunya saja,” gertak Hanna.


Dicky bersuara dengan tajam dan keras,“Apalagi yang kamu ingin kan dari saya Mbak? Belum puas menghancurkan keluarga saya? Kamu rebut Bapak saya, lalu kamu sakiti Ibu saya. Dasar perempuan brengsek!”


“Itu semua salah kamu, Dicky! Kamu pikir saya mau sama bapakmu yang tua bangka itu? Amit-amit. Saya menginginkan kamu, tapi dari awal kamu tidak pernah memperhatikan saya!”


Dicky menatap wanita di depannya dengan ngeri. Tak sadar bergidig. Dia masih berumur enam belas tahun waktu bertemu dengan Eliza yang yang bekerja sebagai perawat ibunya.


“Sakit kamu, ya! Saya masih di bawah umur!”


“Tidak ada istilah di bawah umur untuk laki-laki. Kamu tau Dicky, berbagai cara saya lakukan agar kamu sedikit saja menoleh padaku.“


Eliza melihat Hanna dengan pandangan merendahkan. “Aku lebih baik dari dia, penculik, pelacur, penjahat. Kamu tau dia sudah ditiduri berapa laki-laki?”


“Cukup! Pergi dari sini! Kamu tidak berhak menghina istri saya!”


“Paling tidak selama Malika hilang, kamu tahu rasanya menginginkan sesuatu tapi tidak bisa mendapatkannya …”


“Kamu tidak malu bicara seperti itu di depan suamimu?” Tanya Hanna yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Eliza.


“Daru? Dia hanya suami bayaran. Dengar Dicky Pahrevi, suatu saat aku akan buat kamu bertekuk lutut …”


“Ya ya ya, bertekuk lutut padamu, ck, lagu lama diputar lagi.”


“Tante, kami serius untuk membuka lagi kasus pencurian bayi kami,” cetus Hanna.


“Hah, asal wanita gempal mata duitan itu tidak bicara, kamu tidak ada bukti, Hanna!”


“Wanita gempal? Dari mana kamu tahu ada wanita bertubuh gempal terlibat di sini? Kami tidak pernah menyebutkan …”


Eliza gelagapan, sadar dirinya sudah keceplosan.


Hanna maju mendekati Eliza hingga wanita itu terpojok ke dinding.


“Kamu perlu tau bahwa penjara adalah tempat yang keras. Sepuluh tahun aku hidup di sana. Jangan ganggu keluargaku atau kamu akan jadi penghuni di sana.” Hanna memukul tembok tepat di samping Eliza.


Daru hendak menyerang Hanna ketika Dicky menghadangnya. Di saat yang sama anak-anak panti masuk dan mengerumuni Eliza dan Daru lalu menggiring dua mahluk itu keluar dari panti. Daru dan Eliza berteriak marah. Tak peduli, anak-anak panti terus mengusir mereka dan bersorak-sorai begitu mobil Eliza dan Daru pergi.


Dicky merangkul istrinya yang masih gemetar karena marah. Bersama anak-anak panti mereka masuk.


Lastri, Mikala, Maira, dan Mirza semua berada di salah satu kamar menjaga Malika dan Rafathar. Mikala memegang tongkat kruk bersiap untuk memukul mundur jika Daru atau Eliza memaksa hendak mengambil Malika atau Rafathar.


Hanna langsung menghambur ke anak-anaknya.


“Mama dan Papa akan jaga kalian.”

__ADS_1


“Nggak, Bu, kita semua di sini akan jagain,” sahut Mikala disambut teriakan setuju anak-anak panti.


***


__ADS_2