
Keesokan harinya Qiara pulang ke rumahnya. Pagi-pagi sekali karena tidak ingin bertemu Thoriq. Walaupun dirinya yakin, laki-laki yang masih bertahta di hati masih akan fokus mengurus istri mudanya.
Setelah meminta kunci kepada Bu RT, Qiara masuk ke rumahnya. Hatinya berdenyut saat masuk ke ruang tamu. Bayangan Thoriq menampar dan mendorongnya dengan sorot mata penuh kebencian berkelebat.
Qiara melanjutkan langkahnya ke kamar mencari hape yang ketinggalan karena para tetangga langsung mengangkut dirinya tanpa membawakan hape.
Baterinya habis. Qiara mengisi daya sambil mengambil koper-koper. Setelah hapenya bisa dinyalakan ia masuk ke aplikasi pesan.
Tidak ada satu pun pesan masuk dari Thoriq. Bahkan untuk menanyakan kabar pun tidak.
“Kamu tidak menepati janjimu Mas. Maafkan aku kalau tidak dapat menepati janjiku. Di hati kamu sudah tidak ada aku,” gumam Qiara penuh sesal.
Qiara menyalakan desktop di meja kerjanya. Dia buka aplikasi CCTV HOME MONITORING yang ia pasang karena dipilih menjadi influencer produk tersebut.
Dipilihnya tanggal kemarin dan jam saat kedatangan Hanna dan Thoriq.
“Alhamdulillah semua terekam dengan baik.” Qiara menghapus air mata yang mengalir saat melihat di rekaman Hanna memperlihatkan foto USG janinnya. Tangannya menekan dada, menahan sakit hati yang kembali membuncah.
Dengan tangan gemetar Qiara menyimpan rekaman kejadian ke hapenya lalu juga mengirimkan ke email pribadi. Setelah itu ia membuat salinan di beberapa USB.
Perlahan, ia bergerak untuk memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam koper-koper. Hanya ada beberapa pakaian yang ia tinggalkan. Pakaian yang diberikan Thoriq untuknya.
Setelah itu ia membuka lemari penyimpanan berkas. Mengambil buku nikah untuk diserahkan ke pengacara yang akan mengurus perceraiannya.
Qiara membuka buku nikah itu. Betapa bahagianya mereka berdua saat Thoriq belum memutuskan untuk menikahi Hanna. Apapun alasannya, Thoriq telah merusak janji suci dan mimpi-mimpi yang mereka rajut bersama.
“Sepertinya hanya sampai di sini jodoh kita, Mas.”
Setelah mengunci koper, ia memasukkan laptop ke tas kerjanya. Lalu mulai duduk di meja kerja menuliskan surat untuk Thoriq. Ia berharap suaminya masih punya kesadaran untuk datang ke rumah ini. Kalau pun tidak, tekat Qiara sudah kuat untuk berpisah dari suaminya. Ia juga mengirimkan rekaman CCTV ke Dhanu dan Marianne.
Setelah selesai, Qiara mandi berganti pakaian dan bersiap. Ia akan ke rumah Angela, adik Marianne. Penerbangannya masih pukul 18 sore. Semua sudah dipersiapkan sedemikan untuk kalau-kalau Thoriq mencarinya.
“Kayak dia masih mau mempertahankan aku. Mas Thoriq udah benci sama aku sekarang,” batin Qiara miris.
Sambil menunggu kedatangan taxi online ia berkeliling rumahnya.
Kembali hatinya berdenyut. Ia merapikan tempat tidur. Disusunnya bantal, guling, dan selimut seperti biasa. Ia teringat percintaan yang sering dilakukan di kamar ini dan di kamar mandi.
__ADS_1
Thoriq yang begitu memujanya dan dirinya yang begitu mencintai Thoriq dengan sepenuh hati. Malam-malam ketika ia terbangun dan menatap wajah tampan suaminya. Kemudian Thoriq pun terbangun, mereka saling menatap dengan penuh cinta.
“Qia akan mengingat betapa kamu selalu perhatian dan lembut padaku, Mas,” ucapnya sambil menutup pintu kamar.
Ia melangkah ke meja makan. Diletakkan surat dan USB di atas meja.
“Semoga kamu tidak salah sangka lagi padaku, Mas.”
Kembali Qiara teringat saat-saat mereka menyiapkan makan pagi, makan siang, makan malam. Ada kala mereka bekerja di meja ini jika proyek sedang menumpuk. Qiara tersenyum atas kenangan indah di tempat ini.
Lalu dapur. Dapur yang ditata dengan apik. Berwarna putih dan kayu-kayu muda. Bak cuci piring menghadap ke arah taman depan. Qiara ingat, dulu Thoriq sering mengganggunya kalau dia sedang mencuci piring. Suaminya memeluk dari belakang, menyentuh area-area sensitif hingga pekerjaan yang harusnya selesai lima menit baru selesai berjam-jam kemudian.
Dan terakhir ruang keluarga. Sebuah sofa besar nyaman menjadi tempat Thoriq dan Qiara melepas lelah sebelum tidur setelah pulang kerja. Sambil menonton acara TV favorit, bertukar cerita, malah terkadang mereka berdua tertidur berpelukan dengan TV masih menyala.
Terdengar klakson dari depan rumah. Taxi online yang akan membawanya pergi dari rumah ini selamanya telah datang.
Qiara menutup tirai-tirai menyalakan lampu luar lalu berjalan ke luar dari rumah. Sebelum menutup pintu depan ia melihat rumahnya untuk terakhir kali.
“Selamat tinggal,” ucapnya sendu meninggalkan mimpi yang terurai dan cinta yang tak utuh.
***
Thoriq merasa lega. Ia mendorong kursi roda Hanna menuju mobil.
“Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?” Tanya Thoriq penuh rasa khawatir.
Hanna mengangguk. Hatinya puas, rencananya berhasil. Sejak semalam ia tidak melihat Thoriq menghubungi Qiara.
Hari ini Thoriq mengambil cuti untuk menemaninya di apartemen. Hanna mengatakan dirinya masih shock dengan kejadian kemarin.
Thoriq benar-benar tidak habis pikir kenapa Qiara bisa setega itu. Apakah mungkin rasa cemburu bisa membuat orang menjadi brutal. Setelah Hanna aman, mungkin besok ia akan menemui Qiara. Ia akan menyuruh Qiara meminta maaf pada Hanna.
Di apartemen, Thoriq membantu Hanna merebahkan diri di ranjang.
“Mas, Hanna pengin,” pintanya manja.
Thoriq tersenyum. “Kata dokter libur dulu minggu ini. Tapi kalau yang lain-lain boleh.” Hanna mendengus, aktingnya membuat Thoriq menuruti semua anjuran dokter, termasuk tidak menyentuhnya.
__ADS_1
Dengan rakus Thoriq ******* bibir Hanna, memainkan jarinya di area-area sensitif istrinya. Semenjak hamil, Hanna terlihat makin seksi.
Setelah puas berciuman, Hanna menyandarkan kepalanya ke pundak Thoriq.
“Mas, enaknya kita mesti gimana sama Mbak Qia. Dia nggak terima banget sama kehamilan Hanna.”
“Kalau dia masih mau sama Mas, ya harus terima. Kalau enggak ya lebih baik pisah. Mas nggak mau ambil risiko dia meledak lalu nyakitin kamu dan anak Mas.”
Hanna diam-diam tersenyum.
“Mas hari ini nggak kemana-mana kan? Ketemu Mbak Qia kapan-kapan aja. Udah nggak penting. Yang jelas janin di perut Hanna aman.”
“Besok kayaknya. Mas nggak mau berlarut-larut. Mas akan tanya sikap dia.”
“Maafin Hanna, harusnya Hanna nggak ke sana.”
Thoriq menangkupkan tangannya di wajah Hanna yang mungil nan ayu.
“Mas justru bangga kamu lebih dulu datang untuk minta maaf dan membuka hubungan sama Qiara. Mas minta maaf malah karena nggak bisa mendidik Qiara.”
Thoriq mengecup bibir Hanna berkali-kali.
“Udah nggak usah pikirin Qiara. Yang penting Mama harus sehat. Debay harus sehat. Papa akan selalu jagain kalian berdua.”
“Makasi Papa,” balas Hanna dengan suara anak kecil yang hampir membuat Thoriq lepas kendali.
***
Senja di hari yang sama, dalam sebuah pesawat, seorang wanita berbadan dua menatap keluar jendela.
“Selamat tinggal Mas Thoriq, semoga kamu bahagia. Aku berharap ini terakhir kaki aku menangis untukmu, ada bayi yang harus kupertahankan di sini.” Dengan air mata berlinang, Qiara mengucapkan selamat tinggal pada cinta dan harapan yang kandas.
Qiara menatap keluar hingga pesawat tinggal landas. Tangannya sesekali mengelus perutnya.
“Kita akan berjuang berdua, Sayang. Bantu Abun untuk selalu kuat, ya.”
***
__ADS_1