
London, dua belas tahun kemudian …
Qiara, Liam, Kala, Abby, Triplets, dan Zee berjalan beriringan. Mereka berhenti di depan baru sebuah batu nisan.
In loving memories of our dad and grandfather, Philip Donavy.
“Hai grandpa,” sapa Zee yang kini berumur tiga belas tahun. Pipinya kemerahan diterpa angin dingin yang menjadi ciri khas kota London dan sekitarnya.
Tangannya meletakkan rangkaian bunga di makam Phil yang telah berpulang dalam tidurnya sepuluh tahun yang lalu. Ia meninggalkan dunia dengan wajah tersenyum bahagia.
“I bet grandma Dian picked him up,” ucap Liam yang waktu itu hendak membangunkan Phil dari tidur, namun ternyata kakeknya sudah tidur untuk selamanya.
Mereka berdoa sejenak di depan makam Phil lalu berjalan menyusuri pemakaman yang dibuat seperti taman indah di pinggiran kota London.
Berhenti di sebuah batu nisan, Qiara menempelkan dua jari ke bibir lalu mengecupnya pelan.
“Hai, Dev, darling, how are you doing? I miss you,” ucapnya dalam hati.
Enam tahun berlalu dan Qiara masih belum bisa melupakan Devan.
Dokter yang banyak berjasa membantu pasiennya untuk memiliki keturunan itu didiagnosis mengidap kanker di tulang pungung akibat sisa luka saat cedera menunggang kuda menjauhi Stella.
Hanya setahun kanker menggerogoti tubuh Devan.
Suatu malam Qiara merasakan tangan Devan menyentuhnya lembut. Membangunkan dari tidurnya.
“Sayang, it’s time …” Ucap Devan lirih sambil tersenyum.
Qiara menggelengkan kepala. Air mata membasahi netranya yang indah.
“No, please, ya Allah, kumohon, jangan …”
“Jangan menangis lagi, Cantik. Kamu dan anak-anak harus terus bahagia, ya. Aku akan selalu ada bersama kalian. Kutitipkan anak-anak kita padamu. Maaf aku tidak bisa menemani hingga cucu-cucu kita lahir.” Devan berkata dengan perlahan, memaknai setiap kata-katanya.
Qiara menciumi tangan Devan.
“Sssh, let me see your beautiful face, Qiara Anjani, My Love,” pinta Devan lembut.
Mereka bersitatap. Malam itu Devan nampak luar biasa tampan. Sama seperti saat Qiara pertama kali jatuh cinta padanya. Tidak ada lagi guratan menahan sakit yang sering Devan sembunyikan dari istri dan anak-anaknya.
“Kamu akan selalu ada di hatiku, Dev. You are my true love,” ucap Qiara terisak.
“And you are my forever love.”
Devan menelusuri wajah cantik Qiara seakan ingin membawa dalam ingatannya. Pria itu menatap istrinya dengan penuh cinta.
Napasnya tersengal.
“Aku panggil dokter dan anak-anak.”
“Qiara Sayang, aku hanya ingin berdua denganmu. Tuntun aku …”
“Laa ilaahaillallaah …”
Dalam satu tarikan napas, Devan pergi menemui Sang Khalik.
Qiara terus menatap wajah Devan yang seolah lelap dalam mimpi indah. Raut mukanya bersinar, bibirnya menyungging senyuman dan ia memalingkan wajah rupawannya ke arah kanan.
“Innaalillaahi wa innaailaayhi roji’un. Allahumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.” Doa yang dilafazkan dengan sendu sambil mengusap air mata agar tidak menetes ke jasad suaminya.
Qiara melepaskan tangan yang masih digengam oleh telapak Devan ketika melihat secarik kertas kecil terselip di sana.
Saat aku pergi, kubebaskan kepemilikanku atas dirimu, Cintaku. Carilah kebahagiaanmu hingga kita bertemu lagi di surga. Your forever true love, Devan.
Qiara berusaha menahan air matanya, namun hatinya kini terasa hampa. Tidak ada lagi sosok tempatnya bersandar dalam suka maupun duka. Mata teduh yang selalu menungguinya hingga terlelap tidur. Tidak ada lagi Devan …
Kabar meninggalnya Devan membuat semua orang yang pernah mengenalnya ikut berduka.
Thoriq dan Aira langsung terbang ke London. Jeremy datang beserta istri dan anak-anaknya. Tak kurang Nadine dan Kevin. Lalu kolega dokter dan tak sedikit pasien yang ditolong hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Dicky, Hanna, dan keluarganya menyusul karena menunggu pengurusan visa.
Qiara duduk dikelilingi semua anak-anaknya dan Liam. Kini putra Devan menjadi pemimpin bagi Qiara dan adik-adiknya. Pemakaman berlangsung dengan khidmat dan penuh haru.
Saat semua sudah meninggalkan makam, Qiara berbisik, “Tenanglah di sana, Sayangku. Jawablah pertanyaan malaikat dengan baik. Semoga kuburmu menjadi taman surga bagimu.”
Qiara masih ingin berlama di sana ketika Liam dan Kala menjemputnya. Hujan mulai merintik turun membasahi bumi yang ikut menangis bersama Qiara. Enggan melangkah, wanita yang sedang kehilangan itu merelakan dirinya dituntun oleh kedua anaknya.
Kepergian Devan menyisakan duka yang tak bisa hilang. Enam tahun berlalu dan matanya masih menyiratkan kerinduan. Ia masih mencari Devan di setiap sudut rumahnya.
Semenjak ayahnya meninggal, Liam yang sudah tinggal sendiri di sebuah penthouse di tengah kota, memutuskan untuk kembali ke rumah Qiara menemai Bunanya dan Zee yang masih berumur enam tahun waktu itu.
Kala harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studi kedokteran. Abby melanjutkan studi kulinari di Swiss. Triplets tersebar di tiga benua, Azka belajar IT di Amerika dan sudah bekerja di Silicon Valley, Barran tak diduga memilih belajar ilmu agama di Madinah, sementara Hayyan kembali ke Australia untuk mengikuti program pendidikan militer.
Pekan itu seluruh anak-anak Qiara dan Devan berkumpul. Mereka ingin mengunjungi makam Phil dan ayah mereka.
Qiara menggigit bibir untuk meredakan kepedihan yang masih terasa walau enam tahun telah berlalu.
Liam merangkul ibunya, “Aku yakin Daddy sedang menatap Buna dengan pandangan bucinnya.”
Mau tidak mau, Qiara tertawa mendengar celetukan Liam.
__ADS_1
“Aku berharap jika suatu saat bertemu dengan seseorang, dia akan menatapku seperti Daddy menatap Buna,” ujar Abby yang melankolis.
“Kalau Zee pengin Daddy ada di sini,” Zee berkata polos sambil terus menatap nisan ayahnya. Gadis remaja itu baru enam tahun waktu ayahnya meninggal dan ia masih ingin bermanja dengan Devan.
Kala dan Hayyan serempak merangkul Zee. Azka berlutut di rumput menyamakan tinggi dengan adik bungsunya lalu berkata, “Zee, sabar ya, Kakak juga kangen sama Daddy. Kangen banget.”
Zee lalu memeluk Azka dan terisak-isak. Qiara memanggilnya, “Sini, Zee sama Buna, kita berdoa untuk Daddy.”
Suara Qiara yang lembut dan menenangkan membuat Zee berhenti terisak lalu langsung menghambur ke pelukan Bunanya.
“Buna juga kangen sama Daddy, kan? Zee nggak sendirian?”
“Buna kangen banget sama Daddy …selalu.”
Mereka kemudian mengirimkan doa untuk ayah mereka sambil mengingat semua kenangan manis waktu Devan masih bersama mereka.
Sepulang dari ziarah, Qiara menyibukkan diri di dapur bersama Abby dan Zee, sementara para anak laki-laki mengobrol di ruang tengah.
“Liam, have you proposed to Mbak Aira, yet?” Tanya Azka yang memerhatikan kakak sulungnya sedang termenung.
“Aku mau, tapi sepertinya Aira belum mau ninggalin Uncle Thoriq untuk tinggal di sini. Aku pun bingung kalau harus ninggalin Buna dan Zee.”
“No worries, dalam tiga bulan aku sudah lulus jadi spesialis dan juga sudah diterima kerja di rumah sakit di London,” sahut Kala menenangkan.
“Tau nggak apa yang paling bagus, kalau … ni kalau ya, Buna nikah lagi sama Uncle Thoriq, nah itu! Cerdas nggak aku?” Cetus Barran yang paling ceplas-ceplos di antara mereka.
“Nah, bener. Aku ingat pas Daddy meninggal, Uncle Thoriq terus menjagai Buna walau tidak kentara,” sahut Hayyan.
“Tapi Buna kini menutup diri dari Aya. Setiap Aya menanyakan kabar, Buna hanya menjawab seperlunya. Akhirnya Aya menanyakan lewat aku. Tapi kupikir-pikir semenjak kepergian Daddy, Buna seperti shut herself down. Buna hanya mengantarkan Zee sekolah lalu menghabiskan waktu untuk membaca di kursi favorit Daddy. Bahkan ia sudah menyerahkan jabatan di kantor pada sepupu Daddy, ya, kan, Liam?” Kala prihatin memikirkan Bunanya.
Kakaknya mengangguk. Sudah beberapa kali ia mengajak ngobrol Qiara untuk melepas beban duka, namun Bunanya selalu mengatakan semua baik-baik saja.
Kala terdiam untuk berpikir, “I think you should go ahead and purpose to Aira. Buna udah tau?”
“Really? Aku dan Aira hanya memikirkan Aya dan Buna. Hanya Daddy yang udah tau tentang aku dan Aira, Kal.”
“You got my blessings, jaga dan sayangi adikku ya, Liam. Tentang Buna, aku akan percepat studiku dan pulang ke London.”
“Awas aja kalau kamu nggak kasih blessings, sudah berapa banyak sogokan yang aku kasih supaya aku bisa berhubungan jarak jauuuh sama Aira.”
Kala tergelak-gelak. Ia memang menempatkan diri sebagai portal untuk menjaga adiknya.
“All the best, kalau kalian udah nikah pasti aku nggak minta sogokan. Mungkin …”
Liam sudah tidak mendengar apa kata adiknya, di benaknya hanya satu asa: menikah dengan Aira.
***
“Welcome, wah kejutan banget diajak makan di resto yang fancy …”
“Buat Buna harus ter debest,” katanya sungguh-sungguh.
Liam sudah memesan teh peppermint kesukaan Qiara dan makanan pembuka yang menggugah selera.
“Buna, terima kasih ya, sudah jadi Buna terbaik buat Liam. Aku bukanlah anak kandung, tapi sedikit pun Buna tidak membedakan aku dari saudaraku yang lain.”
“Kamu, anak Buna. Selamanya,” ucap Qiara sambil memandang wajah Liam yang mengingatkannya pada Devan.
“Buna, aku ingin mengajak Buna dan Zee ke Indonesia. Ada seorang gadis yang ingin aku persunting.”
“Indonesia? Wah, Buna ketinggalan cerita. Siapa, Liam? Buna pikir kamu belum punya pacar, baru aja mau Buna kenalin sama anak temen Buna.”
Liam tersenyum, di hati dan pikirannya hanya ada satu gadis yaitu Aira.
“Gadis manis, sholihah, Buna pasti suka.”
“Liat fotonya dong.”
Liam berpikir sejenak, namun bukan Love Guru jika semuanya sudah dibuka dari awal.
“It’s gonna be a surprise. Liam sudah lama mengenalnya, namun insting seorang ibu pasti lebih tajam dari radar Korea Utara. Jadi Buna kasih tau apakah dia adalah yang terbaik atau bukan …”
Qiara meraih tangan anak sambungnya. “I can tell that you are so in love. Buna minta maaf karena tidak menyadari perasaan kamu.”
“I’m cool … aku dan dia udah lama kenal, Buna. Tapi aku hanya sesekali ngobrol. Gadisku itu taat banget. Ayah dan kakaknya sangat menjaga dia. Terutama kakaknya, sih,” Liam menggaruk kepala yang tidak gatal mengingat tingkah polah Kala. Tidak terbayang bagaimana kalau Kala memiliki anak perempuan kelak.
“Bagus dong, umurnya berapa?”
“Sekarang ia hampir 28 tahun.”
“Oh seumur Kalandra, dong.”
“Hmm, cuma beda sebulan kalau nggak salah,” jawab Liam sambil menutupi agar Bunanya tidak menebak gadis itu adalah Aira.
“Kuliah di London juga?”
“Oh bukan, Buna. Bachelor degree dia di Indonesia, lalu dia lagi ambil master degree online di MIT. Udah kerja di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang pariwisata.”
“I can tell that you’re so in love with her … aaah my son is getting married.” Hati Qiara sangat bahagia. Untuk pertama kali semenjak Devan meninggal, Liam melihat Bunanya berseri kembali.
__ADS_1
“Jadi Buna dan Zee akhir pekan ini ke Indonesia, ya. Keluarga calonku akan menemui kita di Jakarta.”
Qiara mengangguk, mungkin sudah saatnya juga ia berganti suasana agar tidak terlalu sedih.
“Zee pasti minta ketemu Malika anaknya Tante Hanna, nanti Buna mau ke Semarang juga ah.”
Liam hanya mengangguk karena Hanna dan keluarganya akan ada di Jakarta.
***
“Kak Liam, bantuin Zee pasang ini.” Zee adalah satu-satunya adik yang ngotot minta memanggil Liam dengan atribut Kak. Gadis remaja itu mengulurkan kalung pemberian ayahnya ke Liam.
“Cantik amat sih, adik siapa ini?”
“Adiknya kakak.” Setelah selesai, Zee memeluk kakaknya. Ia sedikit posesif karena baginya Liam bagai pengganti Devan.
“Kalau Kakak sudah menikah, jangan lupa sama Zee, ya.” Zee mengeratkan pelukannya.
Liam mengecup pucuk kepala adiknya lalu menjauhkan tubuh Zee. Ia menatap lekat netra bulat dengan alis terangkat yang menunggu jawabannya.
Liam kemudian merapikan anak rambut Zee yang keluar dari kerudungnya sambil menjawab, “In syaa Allah, enggak, Zee yang cantik, imut, dan lucu.”
Liam paham karena jarak usia yang terlalu jauh dengan kakak-kakaknya, Zee tidak merasakan serunya ketika mereka semua berkumpul setiap malam.
“Nanti ada Kak Kala yang akan tinggal di rumah sama Buna, karena mungkin Kakak akan tinggal di Indonesia.”
“In syaa Allah. Yay, beneran Kak Kala mau tinggal lagi di rumah? Asik, Kak Kala seru.”
Qiara keluar dari kamar, mereka menginap di penthouse sebuah hotel ternama di ibukota Indonesia.
“How do I look? Buna gugup ni, mau ngelamar anak gadis. Is this too much?”
Liam dan Zee terpana.
“Buna, cantik banget,” ucap Zee tidak berkedip.
“Oke too much, then.” Qiara berbalik hendak mengganti gamis hitam dengan hiasan payet warna warni di manset yang membuat Qiara nampak elegan.
“No no no! Buna, you are perfect.”
“Really, Liam? Kamu nggak lagi jahilin Buna, kan? Too much nggak sih buat makan malam perkenalan?”
“Perfect,” jawab Liam sungguh-sungguh, karena memang begitulah adanya Qiara. Di usianya yang menginjak lima puluhan dirinya masih nampak muda dan anggun.
“Let’so go, Buna …” Zee menggandeng Buna dengan ceria.
Acara makan malam ini diinisiasi oleh keluarga si gadis di sebuah ruangan privat di hotel yang sama.
Qiara berjalan di tengah diapit Liam dan Zee.
“Liam, kamu degdegan nggak?” Tanya Qiara sambil mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Liam.
“Nggak, in syaa Allah semua lancar.”
Liam telah lebih dulu menemui Thoriq dan Hanna sebelum ia bicara dengan Qiara. Semua menyambut baik rencana Liam untuk meminang Aira.
“Kok Buna yang degdegan, berasa Buna yang mau dilamar.”
Tanpa sepengetahuan Qiara, Liam dan Zee saling mengedipkan mata.
Dalam kegugupannya Qiara berkata, “I wish your Daddy were here.”
“Everything will be just perfect. Semua dari Allah adalah pasti yang terbaik. Kadang kita manusia belum bisa menyelaraskan harapan kita dengan kehendak Allah. Termasuk kepergian Daddy, Buna harus ikhlas dan meyakini sebagai yang terbaik buat Daddy dan kita semua.” Liam berkata sambil mengelus tangan Bunanya.
Qiara tiba-tiba menghentikan langkahnya membuat Liam dan Zee menoleh ke arahnya dengan heran.
Mereka melihat Qiara memejamkan mata. Sebulir air mata turun membasahi pipinya.
“Buna …” Liam dan Zee merangkul Buna mereka karena khawatir.
“I’m fine, I’m fine. Maaf karena Buna jadi melt down mendengar perkataan kamu.”
Qiara menangkup tangan ke wajah anak sambungnya, “Kamu akan jadi imam yang baik buat istri dan anak-anakmu. Teruslah menjadi Liam, The Love Guru, yang selalu menginspirasi. Terima kasih kamu sudah membuka hati Buna yang selama ini tertutup duka.”
Tak sadar, air mata mengalir di pipi Liam. Bunanya telah kembali.
“Is everything okay?” Seorang petinggi hotel mendatangi mereka. Kehadiran keluarga Donavy di hotel mereka adalah sebuah kehormatan. Ia ingin memastikan semua baik-baik saja.
“Maa syaa Allah, everything is perfect alhamdulillah. Come, Zee, temenin Buna ke ladies room dulu.“ Qiara mengangguk pada petinggi hotel lalu menggandeng Zee ke arah ladies room.
“Siap, Buna!” Zee yang juga kembali ceria.
Hanya perlu waktu singkat, Qiara sudah kembali bersama Liam. Kini langkahnya terasa lebih ringan. Senyum kembali merekah di bibirnya.
Pelayan membuka pintu ruang privat dan mempersilakan tiga Donavy untuk masuk.
Qiara menyapa dengan ramah ke keluarga calon besannya, “Assalamualaykum, selamat mal … loh Mas Thoriq, Hanna, Dicky, Aira …?”
***
__ADS_1