
Hanna berbaring di bawah tubuh seorang laki-laki yang tengah merengguk kenikmatan dunia darinya. Ia pasrah membiarkan laki-laki itu melakukan apa saja terhadap tubuhnya. Sesuai selera si laki-laki yang suka menjadi penguasa ranjang.
Laki-laki itu membalik tubuh wanita di bawahnya kemudian melakukan sesuatu hingga Hanna harus menutup mulutnya sambil menahan sakit.
Dengan mata terpejam rapat, Hanna membiarkan laki-laki itu terus beraksi. Hanna menghitung menit demi menit hingga akhirnya semua selesai.
“Terima kasih, Cantik. Besok malam, datang lagi, ya.”
Hanna tersenyum nakal lalu mencium pipi laki-laki itu.
“Anytime,” bisiknya menggoda.
“Nambah.”
“No, no, no … sampai besok, Sayang.”
Hanna memakai bajunya, sementara laki-laki itu pergi ke kamar mandi. Hanna menutup pintu lalu berjalan tertatih. Enam jam bersama laki-laki itu membuat area intinya sakit. Tubuhnya patah-patah.
Sebuah mobil mewah sudah menunggunya. Hanna menghela napas lalu masuk.
“Good work, Hanna. Next kita ke ke Pak Satyo. Dia udah antri dari minggu lalu.”
Hanna menggeleng. “Please Bastian, aku lelah.”
Tanpa kasihan, Bastian menjambak rambut Hanna.
“Maaf, maaf. Bastian, lepas, sakit. Iya kita ke tempat Pak Satyo.”
Bastian menyentak kepala Hanna. Sambil bersungut menyalakan mobilnya keluar dari sebuah rumah mewah menuju apartemen mewah.
Hanna terdiam menatap keluar jendela mobil. Tidak berani meratapi nasibnya.
Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di sebuah apartemen yang terletak di pusat kota.
“Awas, jangan ada complain. Ini klien besar gue.”
Hanna mengangguk lalu turun dari mobil. Mengangguk pada security yang sudah mengenalnya. Hanna menekan tombol 56, di sana seorang pria tua telah menunggunya.
“Aaah, akhirnya bidadari kecilku datang. Kebetulan aku belum mandi, temani ya.”
Hanna tersenyum menggoda sambil berjalan mendekat dan melepas satu persatu pakaiannya. Mata pria tua itu membola melihat tubuh mulus yang kini polos di hadapannya.
Dalam sekejap mereka telah berada di dalam bathtub. Hanna menjalankan pekerjaannya dengan sangat baik. Sebagai pemuas napsu.
Baru satu jam sebelumnya memuaskan pria yang satu, kini Hanna tengah membuat pria lain menyicipi surga dunianya berkali-kali. Berpindah dari kamar mandi ke ranjang, Hanna melanjutkan aksinya.
Setelah permainan selesai, Hanna berbaring di atas dada Pak Satyo, memainkan bulu-bulu dada yang mulai memutih.
“Malam ini aku nggak nginap. Istriku pulang dari Prancis.”
Walau lega, namun Hanna pura-pura merajuk. Tubuhnya amat sangat lelah, namun ia tidak berani berbuat apa-apa. Bastian pernah menghajarnya hanya karena dirinya menguap saat bersama pelanggan.
“Iih, Oom, padahal Hanna ada permainan baru lho.”
“Aaw sayang sekali,” pria tua hidung belang itu mencubit gemas hidung bangir Hanna.
“Ada temanku yang akan menemani kamu malam ini sampai pagi. Puaskan dia, ya. Aku harus menjalin kerja sama dengannya.”
Hanna mengangguk lalu mengerling nakal.
“Makasih, Oom. Nanti Hanna bikin dia klepek-klepek. Sebelum pergi, Hanna kasih bonus dulu.”
__ADS_1
Perempuan itu kemudian menghilang ke bawah selimut membuat Satyo mengerang penuh kenikmatan.
Dari hapenya, Bastian menyeringai melihat permainan Hanna. Diam-diam ia memasang video dan merekam perbuatan dosa yang sedang terjadi. Ia terus menonton hingga permainan selesai.
Bastian menyimpan hape yang berisi rekaman klien-kliennya ke dalam lemari besi.
“Papa, papa, temenin Fay berenang. Mama lagi gendong adek.”
Bastian tersenyum lalu menggendong putrinya menuju kolam renang di belakang kediamannya. Rumah yang dulu adalah milik seseorang bernama Hanna Adinda.
***
Hanna menunggu di lobby apartemen. Bastian tidak mengijinkannya pulang sendiri. Ia harus diantar dan dijemput.
Tak pernah mengira, pria tampan berdarah Indonesia - Inggris itu adalah seorang mucikari. Pernikahan mereka ternyata adalah sebuah jebakan.
Hanna yang tak pernah merasakan dicintai sepenuhnya oleh seorang suami merasa terbuai dengan perlakuan Bastian. Kaya, tampan, dan penyayang.
Suaminya itu juga sangat lihai dalam permainan ranjang. Memberikan berkali-kali kenikmatan yang tak pernah ia rasakan dari Thoriq.
Bastian juga mengajarinya bagaimana memuaskan pria. Bagaimana setiap bagian tubuhnya bisa memberi kenikmatan.
Suatu malam, setelah pulang dari perjalanan panjang ke Amerika, Bastian mengajaknya ke sebuah club. Di sana ia diberi minuman. Keesokan harinya Hanna bangun dengan tubuh polos bersama seorang laki-laki yang tak dikenalnya.
Dirinya berteriak lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Hanna berlari ke arah pintu lalu membukanya. Langkahnya terhalang tubuh Bastian yang sudah berdiri di depan pintu.
“Good morning, Baby, enak tidurnya?”
“Bastian, maaf, Hanna nggak tau kenapa ada di sini.”
Mencubit lembut pipi istrinya, Bastian menutup pintu lalu berjalan ke arah laki-laki yang sudah rapi dan duduk di sofa. Hanna mengikuti suaminya menyangka Bastian akan menghajar laki-laki itu.
Hanna terbelalak. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia mundur lalu berbalik untuk membuka pintu. Berulang kali Hanna mencoba membuka pintu namun tetap terkunci. Ia menggendor-gedor dan berteriak minta tolong.
“Sayangnya yang ini agak bego,” ucap Bastian sinis.
“Nggak perlu pinter di sini,” balas si laki-laki menunjuk kepalanya lalu berjalan ke arah Hanna yang sedang panik.
“Bastian, tolong,” pinta Hanna dengan mata memohon.
“Lu balik aja, Bas. Gue mau nambah. Nanti gue transfer lagi.” Dengan sekali lempar, Hanna sudah terbaring di tempat tidur. Bastian terkekeh melihat selimut yang tersingkap hingga area privat Hanna dapat dilihat oleh dua pria bejat itu.
Tanpa memedulikan Hanna, Bastian membuka pintu. Hanna melompat hendak kabur namun si laki-laki menangkap dan kembali melemparkan ke ranjang.
“Makin melawan, aku makin napsu, Baby.”
Hanna menatap ngeri ketika pria itu melepas pakaiannya satu persatu. Laki-laki itu baru berhenti setelah dua hari mereka bersama.
Bastian menjemputnya tak lama laki-laki itu pergi. Hanna mengamuk. Awalnya Bastian tidak membalas, hingga Hanna makin membabi buta.
Hanna berhenti mengamuk setelah sebuah pukulan keras mendarat di perutnya. Perempuan itu langsung tersungkur. Bastian menendangi perutnya sampai Hanna minta ampun.
“Aku tidak akan memukuli wajahmu yang cantik karena itu adalah asetku. Tapi sekali lagi kamu memukulku, maka aku akan memukulimu sampai mati.”
Hanna menangis tergugu. Bastian membangunkannya lalu mendekapnya erat. Hanna yang polos berharap Bastian sadar dan mereka bisa kembali seperti dulu.
Bastian menuntun Hanna ke kamar mandi.
“Mandilah, aku bawakan pakaian, setelah sarapan, aku akan mengantarkanmu ke pelanggan lain.”
Hanna mendorong Bastian hingga terjatuh lalu berlari ke arah pintu yang lagi-lagi tidak bisa dibuka.
__ADS_1
“Nice try, haaaah, sayang sekali aku harus mengembalikan uang pelangganku,” ucap Bastian sinis.
Menatap suaminya dengan ngeri, Hanna menerima pukulan demi pukulan.
Tak puas memukuli, Bastian membuat Hanna menonton perbuatan durjana antara dirinya dengan laki-laki tadi.
“Aku akan menyebarkan ini ke internet. Kamu nggak punya pilihan selain mengikuti perintahku.”
Air mata membasahi wajah Hanna yang penuh lebam.
“Kenapa Bastian, apa salahku?”
“Tidak ada, nasibmu aja buruk. Hah sial, sekarang aku harus kehilangan pemasukan untuk dua hari ke depan,” gerutu Bastian sambil menatap lekat wajah Hanna. Karena emosi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan tamparan berulang kali ke wajah Hanna.
Tiga hari kemudian dengan tubuh masih remuk, Hanna harus kembalk memuaskan napsu pelanggan-pelanggannya. Bastian tidak memberinya waktu istirahat.
Bastian memaksa Hanna mengalihkan semua aset kekayaanya. Kini Hanna tinggal di sebuah apartemen kecil. Sementara Bastian dan keluarganya tinggal di rumahnya. Laki-laki yang dinikahinya itu ternyata telah memiliki istri, seorang anak berusia lima tahun, dan bayi enam bulan.
Hasil kerjanya melayani laki-laki dipegang seluruhnya oleh Bastian. Untuk makan, Bastian telah menyediakan dengan cukup. Begitu juga perawatan tubuh karena Hanna dituntut untuk tetap seksi dan kinclong.
Begitulah Hanna menjalani hidup setelah bercerai dengan Thoriq. Ia menyalahkan nasib buruknya pada perempuan bernama Qiara. Jika saja, Thoriq mampu melupakan Qiara.
Sebuah mobil mewah yang dulu adalah miliknya mendekat ke lobby. Hanna menghela napas lalu pergi bersama Bastian. Pasrah terhadap apapun yang diperintahkan padanya.
***
Hari-hari berlalu. Hanna berdiri di bawah pancuran kamar mandi apartemennya. Ia membiarkan air hangat membasahi tubuhnya yang kelelahan.
Ia bersyukur Bastian memberikan waktu untuk beristirahat setelah selama minggu keliling Eropa bersama pelanggannya. Agaknya Bastian telah menerima banyak uang hingga a dibebaskan dari pekerjaannya.
Hampir setahun Hanna menjadi budak Bastian. Budak, karena tak sepeserpun ia menerima bagian dari kerjanya.
Ia berbaring di tempat tidurnya. Alangkah nikmat bisa berbaring tanpa ada yang menyentuh tubuhnya.
Hanna membuka hape. Masih ada foto Thoriq dan Aira di sana. Matanya berkaca-kaca.
“Awas kamu Qiara, akan kubalas semuanya padamu,” ucapnya geram.
Hanna terlonjak ketika hapenya bunyi. Ada nama Bastian di sana. Hanna menjawab panggilan telepon.
“Bersiaplah, Pak Satyo mengadakan pesta di apartemennya.”
Hanna menggigit bibirnya. Air mata mengalir. Malam ini akan menjadi malam yang sibuk dan melelahkan.
Setelah mengiyakan Bastian, ia bangkit dari pembaringan, bersiap, dan dalam waktu lima belas menit telah duduk di mobil bersama Bastian menuju apartemen mewah milik Satyo.
***
“Ini pelanggan baru. Awas kalau belum apa-apa dia komplen. Gue buang lu ke warung remang-remang.”
Hanna bergidig. Ia mengangguk lalu masuk ke sebuah gedung apartemen, menekan nomor lantai yang sudah diberitahukan.
Seorang laki-laki membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Hanna hendak mulai beraksi ketika ia mendengar namanya dipanggil.
“Hanna, we don’t want that kind of service tonight.”
Seorang wanita teramat sangat menawan duduk dengan anggun di sofa besar. Hanna terbelalak mengenali wanita itu.
“Duduklah sini, kerjakan perintahku, kamu akan bebas selamanya dari bajingan bernama Bastian. Oiya, perkenalkan, namaku Stella.”
***
__ADS_1