
Stella duduk di lantai batu yang dingin. Hari itu ia mendapat hukuman bekerja lebih lama. Ia harus bangun pukul tiga pagi untuk mencuci semua peralatan kerja. Punggungnya hampir patah karena memindahkan alat-alat yang lumayan berat.
Begitu selesai ia harus mulai bekerja memetik kapas selama berjam-jam. Hanya diberi waktu istirahat selama satu kali untuk makan siang.
Karel, Si Pemimpin menyuruhnya tetap bekerja ketika tahanan lain kembali ke sel mereka. Hanya ada beberapa orang yang masih bekerja. Satu orang laki-laki bekerja dengan sumbat mulut. Stella bergidig ngeri saat tak sengaja melihatnya.
Dalam sel, Stella duduk selonjoran. Dengan tubuh gemetar kelelahan, Stella makan roti gandum, sup, dan menegak segelas jus segar. Ia menghabiskan seluruh makanan sebelum menegak sebotol air segar.
Satu hal yang ia syukuri, di tempat ini masih mendapat makanan layak. Setelah tubuhnya bertenaga, Stella bangkit buat membasuh tubuh. Dalam selnya hanya ada sebuah ember dan gayung serta toilet jongkok. Jauh dari kemewahan.
Stella mengisi ember hingga penuh sebelum perlahan membuka pakaiannya dan mengguyurkan air dingin ke sekujur tubuhnya yang nyeri. Hati-hati agar tidak membasahi lantai batu. Petugas kebersihan sering marah jika ia membasahi lantai dan langsung menjatuhkan hukuman.
Pikirannya melayang ke Liam. Ia tahu anaknya akan baik-baik saja bersama Devan.
“Sebegitu besarkah kesalahanku hingga aku dibuang ke sini sampai entah kapan.”
Stella mengguyur air dari kepalanya.
Setelah berpakaian ia merebahkan diri di kasur tipis tanpa bantal. Tak sampai semenit, wanita itu tertidur kelelahan.
Esok hari seperti biasa Stella bangun mendengar lonceng pagi. Hal yang tak lazim, pintu selnya dibuka.
“Ikut!” Perintah penjaga.
Stella menggeleng kuat-kuat.
“Tidak! Aku tidak mau dihukum lagi, tolonglah, kumohon.”
Dua penjaga masuk lalu menyeret Stella yang meronta-ronta.
“Tolong, tolong jangan hukum aku lagi,” Stella memohon, wajahnya ketakutan setengah mati. Wanita itu terus diseret menuju satu ruangan.
Dua penjaga mendorongnya masuk. Stella tertegun melihat ruangan yang luar biasa indah dibandingkan sel yang ditempatinya. Bagai bumi dengan langit ke tujuh.
Di ruangan itu terdapat peralatan make up lengkap. Beberapa baju rancangan desainer tergantung cantik. Ruangan itu dilengkapi dengan sofa yang terlihat empuk dan meja makan untuk delapan orang.
Stella memandang berkeliling.
“Jangan berharap kamu akan tinggal di sini. Berdandanlah, anakmu rindu dan menunggu teleponmu. Berdandan dan berpakaian seperti yang dulu biasa kamu lakukan,” ucap Karel yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
“Waktumu hanya lima menit untuk berdandan lalu kami akan menyambungkan telepon dengan Liam. Cepat!”
Karel keluar dari ruangan itu. Stella gegas menuju meja rias. Entah sudah berapa lama ia bekerja di kebun kapas, hingga wajahnya terlihat beberapa tahun lebih tua. Rambut dan kulitnya kusam, lingkar hitam nampak di bawah matanya, pipinya tirus, matanya memancarkan ketakutan.
“Dua setengah menit.”
Terkesiap, Stella mulai berdandan, memilih dress rancangan Givenchy berwarna kuning muda. Ia memulas bibirnya dengan lipstik berwarna pink.
Kelihaiannya berdandan berhasil menutupi jejak-jejak penderitaan. Kini ia kembali tampil sebagai Stella, Sang Model Internasional.
“Aku sudah siap.”
Karel masuk lalu menyiapkan alat komunikasi. Stella berdiri di samping sofa, tidak berani bergerak sebelum diperintahkan.
“Duduklah!” Titah Karel menunjuk sofa.
Stella tidak ingat kapan ia terakhir duduk di sofa seempuk itu. Bokongnya kini terbiasa dengan lantai yang keras dan dingin.
“Ingat, jangan berkata macam-macam. Liam tidak tahu kenapa kamu dibuang ke sini. Ia akan sangat malu dan menderita jika mendengar kelakuan ibunya.”
Stella mengangguk, bagaimana pun ia sangat merindukan Liam.
“Mommy!” Wajah Liam terlihat gembira dan bersemangat melihat ibunya.
“Hey kiddo … how are you?”
“I miss you, Mommy … when will you be back?”
“I miss you too, darling. Soon, Mommy will be back soon.”
“Where are you, Mommy? Can I come over?”
“Sorry darling, no kids allowed here. Gak boleh ada anak-anak. Liam cerita dong ngapain aja?”
“Aaah you know, school … bored!” Liam terkekeh.
Bocah itu kemudian menyambung, “Aku baru pulang dari Jakarta, ketemu Kala dan adiknya. Kala ternyata punya adik perempuan, Mom, namanya Aira. She’s cute.”
Hati Stella bagai tersayat, akankah posisinya tergantikan oleh Qiara? Yang dia inginkan hanyalah kembali menjadi Nyonya Devan Donavy.
Dengan senyum dipaksakan ia mendengarkan celoteh Liam tentang keseruannya bermain bersama Kala dan Aira.
Karel memberi kode.
“Liam, Mommy harus kembali kerja. Kamu yang baik-baik. Sekarang kamu sama Daddy?”
Anaknya mengangguk penuh semangat.
“Aku lagi di kantor Daddy. Habis pulang sekolah dijemput ke sini.”
Stella tersenyum, sepenggal informasi yang bisa menunjukkan perbedaan jam antara Melbourne dengan tempatnya sekarang.
“I love you, kiddo. Talk to you soon, Bye love…”
“Bye, Mom, I miss you too, take care.” Wajah Liam kelihatan lebih ceria setelah bicara dengan ibunya.
Sambungan video call berakhir. Stella termenung, di hatinya timbul tekad untuk melarikan diri dari tempat terkutuk ini.
“Ganti baju, hapus make-up mu dan lanjut kerja,” perintah Karel sebelum keluar sambil membawa alat komunikasi.
__ADS_1
Stella kembali ke meja rias, membersihkan wajahnya dan kembali memakai overall abu-abu yang sangat dibencinya. Dalam sekejap ia sudah nampak seperti tahanan lainnya.
Setelah seperti biasa bekerja berjam-jam, Stella kembali ke selnya. Ia sibuk menghitung waktu Liam pulang sekolah dengan pagi hari dimana ia berada.
“Kemungkinan besar aku ada di benua Afrika. Sekarang aku akan mencari penjaga yang bisa kuajak kerja sama.”
Hari-hari berikutnya, Stella mulai mengawasi para penjaga. Kini ia rutin diberi kesempatan untuk bicara dengan Liam melalui video call.
Sekali pun ia tidak pernah melihat Devan. Diam-diam ia meninggalkan sisa make up, membuat garis cantik kembali muncul di wajahnya yang sempurna.
Hingga suatu hari ia melihat seorang penjaga yang mengamatinya dengan sorot mata berbeda.
“Bingo!”
***
“Tahanan Stella pingsan, saya ulangi, Tahanan Stella pingsan.” Lapor seorang penjaga bernama James.
“Bawa ke ruang kesehatan, kemungkinan dehidrasi.”
James segera melepaskan keranjang besar dari Stella lalu membopongnya ke ruang kesehatan. Ia meletakkan tubuh yang terkulai itu di atas brankar.
Seorang dokter wanita masuk.
“Tunggu di luar, aku akan memeriksanya.”
James patuh menunggu di luar. Tak berapa lama dokter menyusulnya.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saya sudah pasang infus setengah jam lagi dia sudah baik. Kembalikan ke sel, saya sudah infokan ke Karel agar Tahanan Stella diberi waktu istirahat.”
“Laksanakan, dokter.”
James sedang menunggu ketika mendengar suara dari dalam. Ia mengintip.
“Minum, tolong aku perlu minum.”
James masuk lalu menuangkan air ke dalam gelas.
“Tolong angkat, aku tidak bisa bangun.”
Lengan kekar James menyelip ke belakang leher Stella lalu menopangnya untuk duduk. Tangan lainnya mendekatkan gelas ke bibir Stella.
Wanita cerdik itu menyisakan sisa wangi parfum yang ia temukan di tas peralatan make-up. James yang sudah lama tidak bersentuhan wanita merasakan sesuatu bergerak di bawah sana. Buru-buru ia meletakkan kembali kepala Stella ke bantal.
“Terima kasih,” ucap Stella dengan senyum lemah namun cukup membuat James membasahi bibirnya.
Pria itu mengangguk lalu ke luar ruangan.
“Damn!” Rutuk pria yang merasakan getaran di bawah sana.
Di dalam ruang kesehatan, Stella menyeringai licik.
Stella berjalan dengan langkah yang dibuat sedikit lebih centil. Ia mendengar beberapa kali James menarik napas. Begitu masuk sel, Stella hampir terjatuh dan James menangkap tubuhnya.
Mudah bagi seorang model profesional untuk membuat wajahnya nampak lemah, namun tubuhnya tetap dalam posisi yang menonjolkan aset-asetnya.
“Maaf, kakiku masih lemas.”
James mengangguk lalu menutup pintu. Ia khawatir CCTV menangkap perubahan wajahnya ketika dihadapkan pada aset kembar Stella.
Dengan tetap menjaga wibawa, ia berjalan keluar area isolasi. Di benaknya terus berkelebat bayangan Stella, wangi parfum wanita itu seolah menempel di indra penciumannya.
Di dalam sel, Stella seolah tertatih menuju kasurnya. Ia tidak tahu apakah ada kamera monitor tapi ia harus berhati-hati agar rencananya berhasil.
Beberapa hari berlalu. Stella tidak melihat James. Ia tidak berani melihat ke sana kemari untuk mencari mangsanya.
Entah kenapa hari itu bertindak ceroboh dan menumpahkan keranjang berisi kapas yang sudah dipetik. Seorang penjaga menghukumnya. Selepas bekerja di ladang, Stella harus merapihkan semua peralatan kerja di gudang.
Stella benci karena peralatan-peralatan itu banyak dan berat. Hari mulai larut, Stella kelelahan dan baru sebagian alat yang selesai dirapikan.
Wanita itu sedang menyusun besi-besi pemetik ketika ia merasa sepasang tangan meraba tubuhnya.
“Hey, Baby …”
Stella berbalik, di sana ada James yang tersenyum penuh hasrat. Penjaga itu sengaja masuk ketika Stella berada di area yang tidak tertangkap kamera.
Pria itu menatap Stella dengan penuh keinginan. Tanpa segan, tangannya meraba area dada Stella dan dengan sekali tarikan resleting overall Stella terbuka, memamerkan kulit yang mulus.
Stella menahan dirinya agar tidak menangis ketika sepasang tangan kasar mulai merabanya. Ia merelakan dirinya dijamah oleh laki-laki yang jauh dari tampan dan cenderung memiliki wajah mengerikan.
Tak punya banyak waktu, James segera melampiaskan napsunya kepada Stella, tak memedulikan wanita itu meringis kesakitan karena belum siap. Tangan kasarnya membekap mulut Stella agar tidak bersuara.
Tak memedulikan perih di daerah intinya, Stella bergerak-gerak memberi kenikmatan untuk James. Pria itu adalah kunci baginya untuk keluar dari neraka jahanam.
Setelah selesai, James merapikan pakaian, meninggalkan Stella untuk terus menyelesaikan hukumannya. Dengan langkah tertatih, Stella kembali menyusun peralatan sampai semuanya rapi.
Penjaga lain mengantarkannya kembali ke sel. Stella tidak melihat dimana James. Ia merinding mengingat perbuatan penjaga bernama James padanya.
Dalam sel, ia langsung mengisi ember dan mandi berulang kali.
Setelah malam itu, James semakin sering mendatangi Stella, melampiaskan hasrat pada tubuh yang sudah remuk seharian bekerja keras. Stella merelakan tubuhnya menjadi pemuas. Melakukan segala teknik yang ia tahu agar James selalu menginginkannya.
Hingga suatu hari, saat Stella membiarkan James bersenang-senang, ia mendengar bisikan yang dinantinya, “Besok malam kita pergi dari sini, Baby.”
***
James adalah penjaga paling senior di kamp penahanan setelah Karel. Kamp yang dibuat untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap mengganggu.
Jika Stella tahu, maka teman tahanannya adalah pengkhianat gerombolan mafia, koruptor, maupun penjahat yang bakal lolos secara sistem hukum, memiliki alasan tidak boleh dibunuh, namun harus disingkirkan.
__ADS_1
James tahu jalan keluar yang tidak diketahui penjaga lain. Hanya dirinya dan Karel yang tahu seluk belum kamp ini.
Setiap Rabu, Karel pulang menemui ketiga istrinya dan libur hingga Sabtu. James yang tidak menikah memilih untuk memanfaatkan wanita penghibur. Ia berniat membawa Stella kabur dari tempat ini dan menjadikannya budak **** untuk dirinya.
Ia tidak takut menghadapi pengawal-pengawal lain. Hanya Karel yang harus diwaspadai. Sebagai wakil dari Karel, ia memerintahkan Stella untuk dibawa ke ruang kesehatan karena pingsan di sel.
Dari sana, ia akan menyelundupkan Stella melalui terowongan laundry yang biasa dipakai para nakes untuk melempar selimut, seprei, dan sarung bantal yang harus dicuci.
Ia menjanjikan tubuh Stella untuk sahabatnya yang akan menjemput. Dirinya harus bertindak seolah mengejar Stella.
Di Rabu malam, James melihat Karel berangkat. Langkahnya riang hendak menemui istri-istri yang dulunya adalah tahanan di kamp. Mereka seharusnya sudah dibebaskan namun Karel malah menikahi mereka dan menyekap di sebuah rumah besar di balik bukit.
Pukul sembilan saat pemeriksaan, Stella tidak menyaut. Ia terkapar di lantai sel. Penjaga bergegas melaporkan dan diperintahkan untuk membawa tahanan ke ruang kesehatan.
Perlu waktu bagi dokter yang tinggal di asrama untuk kembali ke ruang kesehatan. Jame memerintahkan Stella untuk mulai bergerak, seolah mencari jalan keluar yang sesungguhnya sudah diberitahukan.
Rencana berjalan dengan lancar, Stella sudah jauh berada di luar kamp ketika sirine berbunyi. Kamp yang di malam hari gelap gulita kini menjadi terang benderang.
Di kegelapan dan heningnya malam, Stella mendengar deru mobil dari arah kamp.
Kendaraannya terus melaju kencang hingga mereka tiba di pinggir sebuah kota.
Pria tua itu menyuruh Stella untuk mengganti baju.
“Sudahlah, jangan malu-malu, sebentar lagi aku juga akan melihat seluruh tubuhmu,” ucapnya terkekeh, memamerkan gigi yang sudah menghitam.
Stella menahan air matanya. Ia bergegas menanggalkan pakaian abu-abu yang dibencinya. Mengganti dengan rok panjang dan kaos yang dibawakan pria tua itu.
Ia melihat ke luar jendela, nampaknya betul ia berada di Afrika. Pria itu terus mengemudikan mobilnya melalui sebuah kota dan pindah ke kota berikutnya.
Sepanjang perjalanan, Stella merelakan tangan pria itu menyentuh bagian-bagian tubuhnya dengan brutal. Hingga akhirnya setelah beberapa jam mereka tiba di sebuah hotel kumuh.
Pria itu mengarahkan Stella untuk turun ke basement. Mereka masuk ke sebuah ruangan dengan satu tempat tidur. Pria itu menyeringai.
“Lepaskan semuanya!”
Stella ragu. Pria tua itu terkekeh lalu melemparkan pakaian laki-laki ke arahnya dan satu kotak pewarna rambut.
“Warnai rambutmu, lalu ganti pakaianmu dengan ini. Cepat!”
Pria itu duduk di tempat tidur, mengamati Stella yang satu persatu melepas pakaiannya. Bersiul setiap melihat bagian tubuh Stella yang sempurna.
Stella hendak memakai pakaian yang diberikan.
“Cat rambutmu sekarang, pakai baju itu nanti kalau sudah selesai.”
Stella tahu pria itu ingin terus menikmati tubuhnya.
“Sabar, Stell, belum saatnya untuk kabur.” Lalu ia berjalan ke kamar mandi dan mulai mewarnai rambut dengan sepasang mata terus menatap nanar pada tubuh polosnya.
Setelah selesai, Stella nampak berbeda. Pria itu mendekatinya. Nampak di tangannya ada sebilah belati.
“Aku akan memotong rambutmu. Jangan coba-coba mengambil pisau ini. Aku akan membuatmu tertangkap hidup-hidup dan kau akan disiksa sampai mati di kamp.”
Tanpa aba-aba, pria tua itu menarik rambut Stella dan memotong pendek sekenanya. Stella menatap pasrah rambut indahnya berserakan. Sebelum pergi, pria itu menyuruhnya memakai baju sementarai ia membersihkan jejak Stella.
Tak sampai sepuluh menit, mereka telah berada di atas mobil menuju entah kemana.
Di sebuah rumah, mobil berhenti. James keluar sambil menyeringai.
“Thanks Bro, aku harap kamu puas. Sayang mereka sudah memotong anumu sehingga tidak bisa mencicipi perempuan ini.”
“Aku puas kok, makasi ya. Bye James!”
Stella melihat kendaraan itu melaju kencang. James menyuruhnya masuk.
Melihat ruangan di dalam rumah, Stella menelan ludah. Hanya ada dapur dan ranjang berwarna pink menyala.
“Penampilanmu yang tomboy membuatku makin bernapsu. Puaskan aku, Baby,” bisik James dengan suara serak yang sangat dibenci Stella.
***
Sudah beberapa hari Stella berada di rumah itu. Diam-diam mengamati apapun yang bisa membuatnya bebas. Tubuhnya memuaskan James namun otaknya terus memikirkan strategi kabur.
James dengan rapi menyimpan semua alat yang memberikan peluang Stella untuk kabur. Ia memiliki mobil yang kuncinya disembunyikan. Bila di rumah, hape disimpan di lemari besi. Entah bagaimana, James tidak pernah membawa dompet maupun uang.
Stella merasa terjebak. Ia sudah sangat jijik pada James, namun sekuat tenaga mengesampingkan perasaannya.
“Sabar, Stella, pasti ada celah.”
***
Kesabaran Stella membuahkan hasil. Suatu pagi, ia pura-pura tertidur. Dilihatnya James membuat sarapan, ia mengeluarkan pisah dari laci dapur yang terkunci. Stella melihat di mana James menyembunyikan kunci. Di atas meja dapur tergeletak kunci mobil.
James menoleh ke arahnya. Stella beruntung sebelumnya sering mengikuti arahan sutradara saat membuat iklan. James tersenyum melihat budak seksnya masih terlelap.
Hanya mengingat apa yang ia perbuat pada Stella semalam sudah membangkitkan lagi gairahnya. Ia meletakkan pisau lalu mendekati Stella.
Sambil tersenyum ia menikmati tubuh polos Stella yang sedang tidur tengkurap. Dengan sekali gerakan, ia membalik tubuh Stella. Pria itu membaringkan tubuhnya di samping Stella. Wanita itu tahu apa yang harus dilakukan.
James mulai menikmati sentuhan Stella dengan mata terpejam. Tak mau kehilangan peluang, Stella membekap James dengan bantal. Ia meraih lampu dari atas nakas lalu menghantam kepala James.
Dengan kekuatan yang luar biasa, James bangun membuat Stella terguling. Wanita itu melompat ke dapur mengambil pisau. James masih terhuyung ketika merasakan rasa sakit luar biasa di perutnya.
Stella berkali-kali menghujamkan pisau ke perut James. Laki-laki itu roboh.
Buru-buru Stella memakai pakaiannya, mengambil kunci mobil dan kabur membawa kendaraan.
Tak peduli apa yang terjadi esok, Stella pergi menjauh mengejar kebebasan.
__ADS_1
***