
Keesokan hari Thoriq dalam perjalanan menuju rumahnya bersama Qiara. Sama sekali dirinya tidak mengirim pesan atau menghubungi Qiara. Bahkan tidak menanyakan kabar Qiara. Justru Thoriq menunggu Qiara meminta maaf padanya dan Hanna.
“Kenapa kamu sekarang jadi keras kepala Qia. Kemana Qiara yang lembut dan penyayang? Kenapa kamu nggak minta maaf padahal kamu sudah menyakiti Hanna dan calon anak Mas?” Ucapnya sambil memukul-mukul roda kemudi.
Sesampainya di depan rumah, Thoriq melihat mobil Qiara masih di garasi.
“Qiara, Qiara, di mana kamu? Mas perlu bicara. Qiara …”
Thoriq memandang berkeliling.
“Sudah pukul tujuh dan tirai belum dibuka?” Benar-benar ia merasa Qiara tidak lagi mengenal Qiara.
“Qiara, Qiara …”
Thoriq masuk ke kamar. Tempat tidurnya sudah rapi.
“Qia …” Ia membuka pintu kamar mandi yang kosong.
Thoriq mulai panik.
“Qiara!”
Thoriq keluar menuju dapur yang juga kosong. Buru-buru ia menelepon wanita yang masih jadi istri pertamanya itu.
Nomor tidak aktif.
“Qia, jangan main-main. Keluar Qiara, kita harus bicara.”
Thoriq melewati meja makan, melihat dua amplop bertuliskan namanya serta sebuah USB dan laptop cadangan yang kadang dipakai Qiara jika miliknya ngadat.
Dibukanya amplop yang diletakkan paling atas.
Mas Thoriq,
Minggu lalu Qia pasang CCTV di area ruang makan dan ruang tamu. Qia mohon Mas mau melihat ke file yang sudah disave di USB.
File asli ada di aplikasi desktop CCTV HOME MONITORING. Passwordnya anniversary kita. Lihat time stampnya supaya tahu bahwa rekaman ini tidak diedit.
Qiara
Thoriq menyalakan laptop lalu memasang USB. Ia membuka satu-satunya file yang ada di sana.
Dengan seksama Thoriq mengamati rekaman kejadian. Dia juga mendengarkan percakapan yang tertangkap oleh kamera.
Dari rekaman tersebut terdapat 3 angle. Satu menghadap Hanna, yang ke dua menghadap Qiara, dan satu lagi dari arah ruang makan.
Thoriq dapat mendengar percakapan antara Hanna dan Qiara. Betapa Hanna dengan lemah lembut namun menusuk meminta maaf telah masuk ke perkawinan Thoriq dan Qiara.
Melalui rekaman Thoriq dapat melihat ekspresi kesedihan yang berusaha disembunyikan Qiara. Sepanjang waktu, mata Qiara terlihat sendu. Berulang kali istri pertamanya menghela napas.
“Qia …” ucapnya lirih.
Kemudian Hanna memberitahukan kehamilannya dengan enteng tanpa mempertimbangkan perasaan Qiara. Jari-jemari Qiara gemetar saat Hanna menunjukkan sesuatu di hapenya.
Lalu Thoriq melihat Qiara bangkit menuju kamar untuk mengambil minyak kayu putih yang diminta Hanna. Sekelebat Thoriq melihat mobilnya masuk ke carport.
Kening Thoriq mengernyit melihat Hanna yang mengendap dan duduk di lantai depan meja makan.
Qiara yang baru keluar dari kamar terkejut dan langsung membantu Hanna. Kemudian Thoriq melihat dirinya masuk. Dengan ngeri mendengar bagaimana Hanna menuduh Qiara mendorongnya.
Tangan Thoriq menutup mulutnya yang ternganga ketika melihat dirinya tidak mau mendengar penjelasan Qiara dan kemudian dua kali menampar serta mendorongnya sekuat tenaga.
Thoriq menatap ngeri melihat bagaimana Qiara berusaha menghindar namun malah tersungkur dan perutnya membentur ujung meja ruang tamu dengan keras. Qiara merintih kesakitan.
“Astaghfirullah …”
Rekaman habis.
Tubuh laki-laki itu gemetaran. Dua hari ia tidak menanyakan kabar Qiara. Dua hari ia percaya bahwa Qiara-nya telah berubah menjadi wanita jahat karena cemburu pada Hanna.
Ternyata Hanna-lah penjahatnya di sini. Hanna telah melemparkan fitnah keji atas Qiara.
Bahkan ketika salah seorang dokter sempat mengusulkan untuk melaporkan Qiara ke polisi setelah mendengar cerita Hanna, Thoriq sempat berpikir untuk mengikuti nasihat dokter itu.
Tubuh Thoriq gemetar.
“Qia … Qia, kamu dimana Sayang?” Suara Thoriq bergetar.
Kembali ia menghubungi nomor Qiara.
“Nomor tidak aktif.”
__ADS_1
Ini artinya Qiara sudah tidak memakai nomor tersebut, bukan sekadar hapenya mati karena alasan tertentu.
Thoria melihat ada surat kedua. Dengan jari gemetar dibukanya amplop tersebut.
Dear Mas Thoriq,
Pertama-tama, Qia minta maaf karena Qia akan pergi tanpa minta ijin.
Kedua, Qia minta maaf karena melanggar janji untuk memberitahukan ke Mas jika Qia sudah nggak tahan.
Qia pamit ya Mas. Sepertinya hanya sampai sini kita berjodoh. Qia memang belum bisa menerima pernikahan Mas dan Hanna, tapi Qia lebih nggak bisa terima melihat Mas menjadi suami dzolim di antara Qia dan Hanna.
Mas, berbahagialah bersama Hanna dan anak kalian. Qia akan berusaha ikhlas. Ijinkan juga Qia merajut mimpi yang baru dan mencari kebahagiaan di jalan yang Qia ambil.
Terima kasih untuk duabelas bulan yang membahagiakan. Duabelas bulan dimana Mas hanya milik Qia.
Maafin Qia karena pastinya Qia banyak salah sama Mas.
Thoriq menutup wajahnya tidak sanggup meneruskan membaca surat perpisahan dari Qiara. Laki-laki itu menangis tergugu. Menyebut nama istrinya berulang kali.
“Jangan Qia, jangan tinggalin Mas. Maafin Mas …”
Air mata terus jatuh dari netra Thoriq.
Dipaksakan dirinya lanjut membaca surat dari Qiara.
Mas, nanti akan ada pengacara Qia yang akan mengurus perceraian. Ah perceraian. Nggak nyangka ya Mas, perkawinan kita akan sampai di titik ini.
Tapi Qia nggak pernah nyesel pernah jadi istri Mas. Qia hanya akan ingat kebahagiaan bersama Mas dan berusaha melupakan semua kesedihan. Qia berdoa jika suatu saat kita bertemu lagi, kita bisa menertawakan kejadian ini. Tanpa duka dan luka.
Salam buat Kakek Nenek, maaf Qia pergi tanpa pamit. Tapi ada hati dan diri yang harus dijaga.
Selamat tinggal, Mas. Qia doakan Mas selalu sehat dan bahagia.
Qiara Anjani
Tubuh Thoriq lemah lunglai. Tulang-tulang tidak mampu menopang bobot. Kepalanya menunduk, membaca berulang-ulang surat dari Qiara.
Thoriq bangkit dan berjalan menuju kamar. Pria itu jatuh tersungkur.
“Qia, jangan pergi,” isaknya.
Dipaksakan untuk berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian Qiara. Dibukanya lemari itu. Wajahnya pias mendapati lemari istrinya kosong. Hanya ada beberapa pakaian yang Thoriq ingat adalah pemberiannya.
“Qia, sesakit itu sampai nggak ada satu pun barang dari Mas yang kamu bawa.”
Thoriq duduk di pinggir tempat tidur. Ia meraba sisi tempat Qiara. Direbahkan kepala ke bantal, dihirupnya wangi lotion yang masih melekat di sana.
Seminggu yang lalu dirinya masih bercinta dengan Qiara di ranjang ini. Seminggu lalu, ia berjanji menjaga hati yang sudah terluka begitu dalam.
Thoriq menatap tangan kanannya, tangan yang dipakai untuk menampar kedua pipi Qiara dan mendorongnya. Serta merta dirinya bangkit dan memukuli tembok dengan tangan yang telah dipakainya untuk menyakiti Qiara. Ia sudah tidak peduli lagi. Ternyata dirinya masih mencintai Qiara begitu dalam.
Thoriq mengindahkan rasa sakit yang tidak sebanding dengan rasa sakit yang diberikan pada istri pertamanya.
Dengan tangan terluka dan gemetar, ia menyalakan desktop, membuka aplikasi CCTV dan kembali memutar kejadian dua hari lalu.
Kembali ia melihat betapa Qiara berusaha menahan kesedihan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Hanna. Hingga Qiara terjerembab setelah perutnya mengenai ujung meja tamu. Dirinya mengatakan itu adalah hukuman bagi wanita jahat.
Thoriq menjambak-jambak rambutnya, mengusap wajahnya dengan kasar. Betapa kejamnya dia terhadap wanita yang telah merelakan suaminya berbagi ranjang dengan wanita lain.
Rekaman masih berlanjut. Thoriq tergugu melihat wajah Qiara yang pusat pasi menahan sakit. Teriakan minta tolong bercampur ******* tahlil. Betapa Qiara berusaha untuk bangun tapi kembali terjatuh. Sementara dirinya sudah pergi jauh meninggalkan Qiara untuk membawa Hanna ke rumah sakit.
Teriakan Qiara yang makin melemah hingga tetangga yang akhirnya berdatangan. Thoriq tersentak melihat wajah Qiara yang seputih kertas tak sadarkan diri saat dibopong para ibu-ibu yang dengan sigap membantu. Tubuhnya lemah lunglai.
“Qiara, Qiaraku, masih pantaskah aku memanggilnya Qiaraku? Aku sudah begitu kejam. Bahkan dua hari ini aku sengaja menghukum dengan tidak menghubungimu sama sekali,” sesal Thoriq.
“Mas akan cari kamu Qiara. Mas akan memohon ampun. Mas nggak mau pisah dari kamu.”
Thoriq menghubungi nomor Dhanu. Tidak diangkat.
Marianne. Direject.
Alya. Tidak diangkat.
Sabrina. Direject.
Cherish. Tidak diangkat.
Terakhir ia menghubungi Fauzan, suami Ella.
“Assalamualaykum Zan. Istri lu ada cerita nggak tentang Qiara?”
__ADS_1
“Waalaykumussalam, nggak Bro. Emang kenapa istri lu?”
“Gue bikin salah gede banget sama Qiara.”
“Ella nggak cerita apa-apa. Semalem sama gengnya emang ngumpul tapi kayaknya ngumpul biasa aja tuh.”
“Bro tolong kalau ketemu Ella lu tanyain ya. Gue telepon dari tadi nggak diangkat. Sorry gue jadi nelpon bini lu.”
“Ntar gue tanyain. Bro udah dulu gue mau cabut.” Fauzan mengakhiri sambungan telepon.
Ella yang berdiri di samping suaminya menunjukkan foto Qiara dengan wajah yang bengkak dan lebam.
“Thoriq dah keterlaluan. Tenang Dek, Abang nggak akan ngomong apa-apa sama dia.”
“Abang jangan pernah duain Adek. Nanti Adek bakal potong burung Abang! Nggak peduli abis itu Adek masuk penjara. Yang penting Abang nggak bisa nganu-nganu lagi. Ingat! Adek bukan Qiara yang hatinya seluas samudera.”
Fauzan bergidig mendengar ancaman istrinya. Tanpa sadar tangannya bergerak menutup pusakanya.
***
Thoriq menuju rumah sakit tempat Dhanu, kakak iparnya praktek. Dirinya yakin semalam Qiara dibawa ke sana.
Setibanya ia menuju ruang praktek Dhanu.
“Mas, Mas Dhanu,” panggil Thoriq begitu melihat kakak iparnya masuk ke elevator.”
Thoriq yakin Dhanu mendengarnya, tapi kakak iparnya malah menutup pintu elevator.
“Aaaargh!”
Thoriq menuju ke ruang praktek Dhanu.
“Suster, apakah Dokter Dhanu ada di dalam? Saya adik iparnya, ingin bertemu sebentar saja.”
“Oh harus appointment.”
“Saya nggak perlu pemeriksaan, Suster. Tolonglah, saya perlu bicara dengan Dokter Dhanu.”
“Maaf Pak, bisa liat sendiri kan pasien Dokter Dhanu sudah banyak. Mereka mengantri dari pagi, lho, Pak.”
“Suster, tolong lah. Mas Dhanu! Mas Dhanu!” Tiba-tiba Thoriq berteriak membuat kegaduhan. Dia sudah kalut karena ingin bertemu istrinya.
Dua orang security datang untuk mengusir Thoriq yang terus menerus berteriak memanggil kakak iparnya.
“Pak tolong jangan bikin keributan. Kalau mau periksa tolong bikin janji. Kalau masalah pribadi, tolong selesaikan di luar rumah sakit.”
Thoriq menarik kasar tangannya yang masih dicekal oleh dua security berbadan besar.
Kembali ia menelepon kakak iparnya. Dan entah untuk kesekian kali ia direject.
Setelah gagal, ia berjalan ke UGD. Dua security itu mengikutinya. Bersiap mendepak jika ia kembali berbuat onar.
“Pagi suster. Semalam istri saya ke UGD, namanya Qiara Anjani.”
“Siapa tadi namanya? Dan apa hubungan Anda dengan pasien?”
“Qiara Anjani. Saya suaminya.”
Perawat memeriksa komputer, keningnya berkerut. Setelah beberapa saat ia menjawab, “Maaf Pak, Bu Qiara Anjani sudah menandatangi permintaan kerahasiaan informasi termasuk terhadap suaminya. Ini suratnya silakan dibaca.”
Wajah Thoriq pias mendengar penjelasan dari perawat. Ia membaca surat permintaan kerahasiaan yang dibuat istrinya.
Sebegitu dalam luka yang ditorehkan Thoriq sehingga Qiara tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Thoriq mengusap tanda tangan yang dibubuhkan Qiara, ia membayangkan sedang mengelus punggung tangan istrinya.
“Tapi bagaimana kondisi istri saya?”
“Pasien Qiara sudah pulang, jadi Bapak percuma mencari di sini.”
Satu hal yang membuat Thoriq lega adalah Qiara telah ditangani baik dan sudah diperbolehkan pulang.
“Baik Suster, saya paham.”
Thoriq berlalu menuju ke parkiran. Di lobby ia mendengar dua orang suster sedang bercakap.
“Lu liat laki-laki yang ada di meja depan nggak? Itu suaminya pasien yang masuk semalem. Yang mukulin istrinya.”
“Oh yang semalem bengep itu?”
“Iya, Kak Feli yang ngerjain visum aja sampai nangis. Pasien itu nggak sadarnya lama juga. Kalau boleh nonjok pengin gue tonjok itu laki nggak guna.”
Penyesalan memang selalu datang di akhir dengan sangat menyakitkan. Thoriq duduk di dalam mobilnya. Termangu menyesali semuanya.
__ADS_1
***