Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Batasan


__ADS_3

Azka, Barran, dan Hayyan asik bermain dengan Qiara dan Devan. Tiga bayi itu bisa dikatakan kuat melek. Orang tuanya meletakkan mereka di tempat tidur kamar utama. Karena lelah harus bolak balik berjalan ke box mereka.


“Sayang, alhamdulillah ya, sejauh ini dalam empat bulan pantauan, Hayyan tidak ada tanda apapun seperti yang kita khawatirkan. Padahal ada beberapa menit dia dinyatakan sudah meninggal setelah lahir,” Qiara menciumi perut Hayyan.


“So far aman ya, Sayang. Semoga terus begini. Btw, aku gugup karena besok akan ada operasi besar untuk bayi kembar enam.”


“Hebat banget itu Ibu. Kembar enam.”


“Dua di antaranya siam, jadi setelah lahir akan ada operasi pemisahan.”


“Semoga semua lancar ya …”


Qiara termenung, menimbang apakah perlu mengajukan sebuah pertanyaan yang mengganggunya.


“Dev, Nadine masih deketin kamu?”


“Masih, tapi tenang aja. Aku sama sekali nggak gubris dia.”


“Hati-hati, cewek obsessed tu suka nekat. Kita kayaknya udah khatam dua kali ngadepin modelan gitu.”


“Kamu yang khatam, Sayang. Aku khatam jadi hero buat kamu. Selalu aku yang nolong loh. Inget nggak abis Hanna tembak kamu. Siapa yang gendong ke ambulans? Terus pas sama Stella, aku lagi kan? Oya ke awal banget, siapa yang nolongin kamu melahirkan Kala, hmm hmmm?”


“Devan Donavy, cintaku.” Qiara merangkul suaminya sambil mengecupi pipinya berkali-kali.


Devan melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, lalu berkata, “Qia, janji, ya, kamu jangan tinggalin aku. Kamu jadi milikku selamanya …”


“Bukannya kebalik, aku yang harus ngomong gitu, dokter Devan yang lagi ditaksir koleganya.”


“Janji dulu, Qia …” Devan berlagak merajuk, menggunakan taktik Abby jika maunya belum keturutan.


“In syaa Allah, Devan. Aku milik kamu selamanya. Kamu juga janji nggak akan mengkhianati cinta kita, apapun alasannya. Walau Nadine atau wanita mana pun nyawanya di ujung sakaratul, bukan alasan buat kamu untuk membagi cinta. Ingat itu, Devan!” Tegas Qiara sambil mengerutkan kening.


“Siap, Nyonya.”


Qiara membuat kode menggunting hingga suaminya bergidig dan refleks menutupi pusakanya dengan kedua tangan.


“Iiih cuci tangan, abis pegang-pegang itu.”


Devan tergelak lalu beranjak ke kamar mandi.


Azka mulai menjebik tanda jika ia mulai kehausan. Qiara mengambil posisi menyusui. Dua adiknya ikutan resah dan menjejakkan kaki.


Devan yang baru selesai mencuci tangan membuka lemari penyimpanan ASI lalu menghangatkan dua botol. Dengan sigap mengatur posisi Barran dan Hayyan, lalu memberikan susu dari botol kepada keduanya.


Dalam hal menyusui, Qiara kewalahan. Ia ingin menyusui Abby hingga masuk usia disapih, namun tiga bayi laki-lakinya juga selalu minta disusui. Bersyukur air susunya melimpah. Untuk menyiasati, Qiara membuat stok susu dengan memompa dan menyimpan di freezer.


Anak-anaknya tidak ada yang masalah berganti antara menyusu langsung dan menggunakan botol. Begitu Qiara mendekap, mereka langsung mencari ****** ibunya dan dengan nyaman menyedot ASI.


Jam tidur yang berkurang membuat lingkar hitam muncul di bawah mata Qiara. Terkadang binar matanya hilang karena menahan kantuk namun belum memungkinkan untuk tidur. Berat badannya turun karena sering melewatkan makan, padahal ibu menyusui haruslah banyak makan untuk memenuhi asupan gizi.


Devan memenuhi komitmen sebagai suami dan ayah. Dari mengganti popok hingga menyusui kadang memandikan dikerjakan untuk membantu Qiara. Hanya kalau untuk mandi Qiara sering protes karena Devan malah mengajak trio triplets main air.

__ADS_1


Dua orang baby sitter akhirnya dipekerjakan. Qiara sebetulnya kurang nyaman namun keberadaan mereka bisa membuatnya punya waktu untuk mengurus diri. Devan khawatir istrinya akan jatuh sakit jika tidak ada bala bantuan.


Liam dan Kala bahu membahu menjaga Abby. Princess yang menginjak satu tahun menjelma jadi warrior princess. Membuat Kala girang bukan kepalang.


Abby memiliki sifat menyenangkan orang lain. Dengan Kala ia bisa menirukan gaya-gaya super hero dan main berantem-beranteman.


Sedangan jika bermain bersama Liam yang melankolis, mereka akan duduk berdua di depan meja kecil dan mengadakan jamuan minum teh layaknya bangsawan Inggris. Lengkap dengan topi cantik untuk Abby dan tuxedo keren untuk Liam.


Sebuah permainan yang pernah membuat Kala jatuh terguling dari bangku karena ketiduran saking bosannya.


“Qia, doain aku ya. Beneran nervous untuk operasi besok. Jika berhasil ini akan jadi highlight buat karirku di bidang medis.”


“Berusahalah karena Allah. Semuanya akan dimudahkan. Pahalanya in syaa Allah dunia akhirat. Di dunia kamu akan dapat keberkahan, di akhirat akan jadi amalan baik. Kalau kamu berusaha untuk mendapat dunia, maka sebatas itulah ganjarannya. Sementara yang kita harapkan adalah keberkahan yang bisa menembus semua batas.”


“Maksudmu?”


“Ya orang suka membuat tolok ukur keberhasilan adalah fame and famous. Ia bisa mendapatkannya, tapi hanya sebatas itu. Jika usaha ditujukan karena Allah, maka akan diperoleh keberkahan, misalnya anak-anak kita jadi anak yang baik, kita diberi kesehatan, rezeki dimudahkan, teman-teman yang mendukung. Menembus semua batas.”


“In syaa Allah yang aku lakukan memberi kebaikan dunia akhirat. Aamiin …”


Tak berapa lama ketiga bayi tertidur. Qiara dan Devan memindahkan mereka ke box kemudian keduanya tidur pulas dengan posisi berpelukan.


***


Penuh rasa syukur, Devan melihat ibu berusia 38 tahun di ruang recovery pasca caesar melahirkan quintuplets atau kembar enam.


Perjuangannya memang belum selesai karena dua di antara mereka siam dada hingga perut. Saat ini kembar siam itu sedang diobservasi oleh dokter bedah anak ternama.


Devan memandang jauh dengan siku menopang di railing balkony. Dirinya menikmati wajah yang diterpa angin. Sambil mensyukuri betapa banyak berkah yang diberikan Allah padanya.


Istri sholihah, banyak anak, kesehatan, rejeki melimpah, hingga kemudahan dalam merawat pasien.


Masih ada waktu dua jam sebelum berangkat mengantarkan triplets dan Abby ke dokter untuk periksa bulanan dan imunisasi.


“Aah there you are,” terdengar suara mengusik ketenangannya.


Devan hanya menoleh sekilas ketika Nadine menghampiri. Tangannya merangkul pundak Devan.


Risih, Devan menjauhkan dirinya dari jangkauan Nadine.


“What’s wrong with you, Dev? It’s just a friendly gesture …” Nadine mengerutkan keningnya, tersinggung dengan perlakuan Devan.


Antara balkon dan kafetaria hanya dipisahkan oleh pintu dan jendela kaca. Bisa jadi apa yang terjadi barusan disaksikan banyak mata.


“Well, I don’t want any touching gesture. Personal space is important to me,” gumam Devan berbalik menuju ke dalam cafetaria.


Nadine berlagak tertawa santai dan melambai ke arah Devan untuk menutupi usahanya yang gagal.


Melintas keluar dari cafetaria, Devan bergidig mengingat perilaku nyosor seorang wanita dengan intelektual tinggi.


“Naudzubillaah, naudzubillah … Abby, akan Daddy pastikan kamu jadi perempuan yang santun. Jangan jadi perempuan asal *****.”

__ADS_1


Tanpa sadar, tiga dokter muda menangkap kejadian dì balkon. Salah satu dari mereka berkata, “Makin seru nih, aku yakin dokter Nadine akan makin nyosor.”


“Kayak nggak ada cowok lain aja. Gue mah ogah deh ngejar-ngejar cowok.”


“Sama.”


Sementara Nadine masih berada di balkon untuk menenangkan hatinya. Nadine Grayson, putri bungsu keluarga Grayson yang semuanya berprofesi sebagai dokter memang memiliki cita-cita bersuamikan seorang dokter. Bukan sembarang dokter namun yang sudah diakui prestasinya.


Nadine tidak gampang membuka hatinya, apalagi sampai pria menyentuhnya. Tidak akan. Hanya pria terpilih yang berhak mendapatkan cintanya.


Devan adalah senior Nadine ketika mengambil spesialis. Pria itu tidak pernah mengenalnya. Dulu Devan belum menarik perhatian. Selang beberapa tahun beberapa penelitian dokter Devan berhasil mendapatkan penghargaan.


Ia juga sering membaca jurnal-jurnal yang dibuat dokter Devan. Semakin lama ia mengagumi dan tanpa sadar mulai mengidolakan.


Mendengar dokter Devan pindah ke London dan akan bekerja di rumah sakit tempatnya bekerja membangkitkan motivas. Nadine menjadi dokter obgyn terbaik dan termuda di sana.


Targetnya adalah masuk ke dalam tim yang menangani kasus-kasus besar di mana ia akan berpartner dengan Devan. Jika awalnya sebatas mengidolakan, perasaan Nadine berkembang setelah bekerja sama dengan Devan. Hingga akhirnya ia menetapkan Devan sebagai pria terpilih. Meski dirinya tahu Devan sudah memiliki keluarga.


Devan dan Nadine akan menjadi pasangan dokter seperti kedua orang tuanya. Power couple. Nadine hanya harus bersabar. Ia berharap bekerja sama dalam satu tim dan sering berinteraksi akhirnya membuat Devan luluh.


Hanya saja Devan bagaikan awan yang tidak mungkin dikejar. Kepandaian Nadine, parasnya yang cantik, tidak jua membuat pria itu terpikat. Semakin tak tergapai, semakin keras pula usaha Nadine.


Apalagi setelah bertemu Qiara yang baru melahirkan. Istri dokter Devan sangat jauh dari dugaannya. Ia bukan dokter, fisiknya jelas tidak terurus. Rambutnya uwel-uwel dan di pakaiannya banyak noda susu. Guratan cantik alami memang masih terlihat di wajahnya.


Nadine tidak mengerti sebab Devan begitu setia pada Qiara. Nampak sekali dari mata keduanya yang menatap saling cinta, membuat Nadine mual.


Dari atas balkon, Nadine melihat Devan menuju mobilnya. Tubuh tegap walau hampir menginjak usia 40 tahun, wajahnya sempurna, tampan dan sangat maskulin. Nadine menghela napas dan memutuskan untuk juga pulang. Tidak ada faedahnya dia berlama di rumah sakit.


***


“Qia Sayang, minggu depan kita diundang di Malam Apresiasi Donatur Rumah Sakit tempatku bekerja. Kamu bisa datang, kan?”


“Waw, aku mau. Eh tapi anak-anak?”


“Ada para nanny dan Javier. Oya, aku minta istri Javier untuk menginap di sini juga kalau kamu memang mau ikut.”


Qiara menatap Hayyan yang asik menyusu. Matanya merem melek. Sudah lama ia tidak meninggalkan rumah tanpa anak-anak. Qiara lupa rasanya pergi tanpa membawa anak.


“In syaa Allah aku ikut. Dev, aku nggak punya baju yang pas. Aku boleh panggil Alexa untuk membawakan baju-baju rancangannya? Aku juga akan panggil MUA.”


“Boleh dong. Kamu ke butiknya aja sekalian jalan-jalan. Anyway, tanpa apapun kamu tetap cantik, Qia.”


Qiara nyengir sambil menaikturunkan alis. “Emangnya kamu mau aku datang tanpa apapun?”


“Qiara! Tanpa apapun hanya boleh di kamar, sama aku.” Devan menarik istrinya hendak memulai permainan malam.


Istrinya berbisik, “Aku lagi palang merah, Honey.”


“Aaaargh!”


***

__ADS_1


__ADS_2