Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Tercyduk!


__ADS_3

Dicky tercenung membaca surat singkat yang ditulis ayahnya. Ia masih mengenali tulisan ayahnya yang sedikit bergelombang.


Hanna merangkul pundak suaminya. Tak lama kemudian, Babah Liong dan Wen Wen masuk membawa amplop kecil.


“Dicky, maaf baru sekarang surat ini kami berikan. Belum sempst Oom menanyakan alamatmu, Mardi sudah menghembuskan napas yang terakhir. Kasian dia, hanya kami dan pegawai-pegawainya yang bergantian menjagai di rumah sakit. Eliza pergi berlibur ke Bali bersama anaknya.”


Wen Wen menyerahkan amplop kecil itu dambil berkata, “Dalam amplop ini ada kunci safe deposit box di Bank Turi. Mereka perlu kunci dan kode. Bapakmu memakai tanggal ulang tahun Mariam, Aisya, dan kamu. Kami tidak tau apa saja isinya.”


Babah Liong menepuk pundak Dicky, lamu mengutarakan isi hatinya, “Apa yang dilakukan Mardi itu salah, dia telah mengkhianati keluarganya. Sedikit pun ia tidak memungkiri. Pernikahan dengan Eliza membuatnya menderita. Namun ia selalu mengatakan ini adalah hukumannya karena telah berbuat dosa dan menyakiti kalian. Oom harap, kamu mau memaafkan ayahmu.”


Dicky menatap amplop di tangannya dengan pandangan kosong.


“Sekarang kamu pergi ke bank, urus peninggalan ayahmu. Nanti Oom dan Tante akan bantu bereskan toko sebelah.”


***


Di ruangan safe deposti box, tangan Dicky gemetar ketika memutar kunci dan menekan kode rahasia. Begitu pintu terbuka ia bisa melihat tulisan rapi ayahnya di atas secarik kartu berwarna hijau : Untuk Aisya dan Dicky tersayang.


Dicky mengerjap mata.


Dua lembar deposito senilai masing-masing seratus juta diatasnamakan kepada Latifah dan Fatimah.


Selembar deposito senilai tiga ratus juta atas nama Dicky dengan pesan, yang menyentuh tertempel di atasnya.


“Bapak tidak sempat membiayai kuliahmu. Ijinkan Bapak membekali anak-anakmu.”


Lalu sebuah buku tabungan atas nama Muhammad Dicky Pahrevi. Dengan pesan tertempel berisi, “Bapak nggak tau apakah ini cukup untuk membayar hutang Ibrahim. Bapak hanya nggak ingin anak kesayangan Bapak susah.”


Dicky terbelalak melihat saldo disetor yang tertera di dalamnya: 1 milyar rupiah.


“Mas, bukunya belum ditanda tangan. Berarti Bapak langsung setor dan nggak liat lagi,” ucap Hanna lirih, terharu betapa ternyata ayah Dicky sangat mencintai anak-anaknya.


“Hutang Ibrahim sudah kucicil dan tinggal seratus juta lagi. Masih sisa banyak tanpa ambil bunganya juga. Riba.”


“In syaa Allah bisa untuk bekal Latifah dan Fatimah.”


Dicky menunduk lesu, matanya sendu.


“Sayang, aku ngerasa berdosa karena dulu memusuhi Bapak.”


“Mas pasti merasa sakit melihat Ibu disakiti dengan pengkhianatan Bapak.”


“Banget. Apalagi Eliza itu suka show off manja-manja di depan Ibu.”


Dicky tiba-tiba menangkup wajah Hanna.


“Aku takut… takut khilaf kayak Bapak dan menyakiti kamu serta anak-anak kita.”


“Hanna juga, Mas. Kita saling jaga, ya, dan berdoa yang paling penting, semoga jalan hidup serta perkawinan kita dijaga sama Allah.”


Dicky menempelkan keningnya ke kening wanita sangat ia cintai. Lalu dipeluknya Hanna dengan erat.


“I love you, Hanna Adinda.”


“I love you too Muhammad Dicky Pahrevi.”

__ADS_1


***


Sebuah bilboard terpasang di alun-alun dengan foto Eliza terpampang di sana.


“Kembalikan uang kami, Eliza Linggarwati. Lalu tertera angka senilai 5 milyar.”


Di bagian tengah yang dulu milik Mardi, Eliza bolak-balik menelepon seseorang yang selama ini menjadi pelindungnya. Seorang laki-laki yang memiliki jabatan penting di daerah tersebut. Laki-laki yang selama ini selalu jadi teman tapi mesra baik semasa ia masih jadi istri Mardi maupun Daru.


“Brengsek!” Eliza membanting hapenya.


Emosinya menulikan telinga sehingga ia tidak mendengar langkah pelan namun pasti memasuki rumahnya.


Seorang wanita dengan mata sinis memandang Eliza.


“Nggak ada gunanya lagi kamu menelepon suamiku.”


Eliza menoleh ke asal suara. Wanita itu melangkah dengan anggun. Rambutnya tertata rapi, pakaiannya rancangan designer ternama, belum lagi tas dan sepatu yang pelafadzannya perlu ilmu bahasa tersendiri.


“Bertahun-tahun, aku menunggu saat ini, Eliza. Melihat kamu, jatuh ke jurang paling dalam dan bahkan suamiku atau laki-laki lain yang kau manfaatkan sudah tidak mau lagi mengangkatmu.”


“Ibu Petra …” cicit Eliza, wajahnya pucat pasi.


“Kamu pikir, saya nggak tau siapa Eliza ? Ikan teri yang bermain di kolam besar. Kamu pikir permainan ranjangmu bisa menyelamatkan? Ingat, teri akan selamanya teri.”


Eliza tidak bisa berkata-kata. Mulutnya komat-kamit bagai ikan mas koki. Dia tau wanita berkelas di depannya adalah Bu Petrania Alexandra, istri dari Bapak Adiyusuf, teman tidur yang merupakan pejabat di sana.


Tak lama berselang, dua langkah kaki menderap masuk. Eliza bagai melihat setan. Dua orang wanita yang suaminya juga sering bermain ranjang dengannya berdiri di ambang pintu utama.


“Eh, Nes, Ti, masuk. Kita mau goreng teri,” ucap Petra santai, matanya tidak lepas dari Eliza.


“Gaji?” Eliza tidak menyangka, masalah toko material akan diungkit juga.


“Ck, dasar dongok bisanya ngengkes doang. Nih liat,” sahut Nessa tak sabar lalu mengacungkan hapenya.


Rekaman para pegawai Toko Berkah yang berkeluh kesah ke pewarta TV sedang meramaikan jagad maya. Wajah orang kecil yang mengiba membuat netizen se-Indonesia Raya berjamaah menghujat Eliza.


“Saya … saya bisa kembalikan uangnya. Tolong, cabut bilboard-nya. Pasti Ibu Petra yang pasang, kan?”


“Kami bertiga yang pasang. Kamu bisa selamat karena suami-suami bejat kami melindungimu. Ya, suami kami bukanlah orang-orang yang suci. Bahkan kami pun juga bukannya bersih dari dosa. Ketika mendengar kamu mencuri uang banyak orang terlebih orang kecil, sudah saatnya kami melindasmu,” ucap wanita bernama Nessa dengan wajah dingin.


“Seyuyurnya kami sudah tidak lagi peduli, suami kami ini tidur dengan siapa,” ucap Petra tak peduli.


Tia menyambung, “Udah kebal. Bentaran juga mereka udah dapet pengganti yang lebih muda daripada kamu …”


“Kami terima pernikahan gila ini dan berusaha waras di dalamnya untuk anak-anak kami. Tapi kami paling nggak tahan kalau ada pelakor serakah macam kamu yang menindas orang kecil. Yang kamu ambil itu duitnya orang yang serius nabung buat masa depan anak-anak mereka!” Bentak Petra lagi.


“Saya bisa kembalikan uang investor dan bayar gaji pegawai. Dan saya juga akan pergi jauh dari suami-suami Ibu semua,” cicit Eliza dengan nada mengiba.


“Teri ya teri. Denger, kasus ini udah meledak, ya paling nggak kamu bakal kena pasal penipuan. Beb Tia, gimana anak buah laki lu dah suruh angkut ini kr kantor?”


“Udin, Beb, paling lima menit nyampe. Gue mau video-in,” sahut wanita bernama Tia yang berambut pirang sembari terkekeh.”


“Lu emang tetep harus bayar, tapi rumah lu bakal geser dikit, tu yang pagernya tinggi dan banyak yang jaga,” Petra tetap dingin menatap perempuan yang rajin memberikan kehangatan pada suaminya.


“Kasihanilah, saya punya anak, masih di bawah umur.”

__ADS_1


“Perempuan murah! Lu kasian nggak sama Tante Mariam? Lu mikirin nggak anak-anak gue yang ditinggal bapaknya berhari-hari buat ngulek badan lu?” Bentak Nessa.


Dengan berapi-api, Nessa menyambung, “Dulu Ibu gue berhutang banyak sama Tante Mariam. Di awal karir jadi perancang, Tante selalu supply kain bagus-bagus dengan harga miring buat Ibu gue. Lu kan cuma perawat yang nyodorin badan sampe Oom Mardi tidur sama lu. Aisya, itu sahabat gue. Dia nangis sama gue waktu itu. Dan sekarang, elu main sama laki gue. Emang brengsek ini perempuan! Pengin gue jambak rasanya.”


Nessa bangkit hendak menyerbu Wliza namun ditahan oleh kedua sahabat sepenanggungan.


Eliza tidak berani membantah, ia tahu menyulut kemarahan tiga wanita berpengaruh di daerahnya ini sama saja mencari mati.


Tiga orang polisi masuk ke dalam rumah, memberikan surat penangkapan. Eliza menunduk, tidak ada lagi kesombongan di wajahnya. Ia hanya terpikir Karenina.


***


Dicky dan Hanna menunggu Eliza yang sedang dibawa dari ruang tahanan. Dicky menggenggam erat tangan Hanna. Ia tahu suasana tempat itu membuka kenangan buruk bagi istrinya.


Pintu terbuka, Eliza masuk dengan memakai seragam tahanan. Tidak ada lagi rok pendek dan baju seksi yang membalut tubuhnya. Hanna melihat lebam tipis di tulang pipi dan kelopak mata wanita yang biasanya selalu menganggapnya rendah.


Eliza tidak membuka mulut. Matanya terus menatap Dicky dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


“Baca,” ucap Dicky, tangannya mendorong secarik surat dari rumah sakit tempatnya praktik.


LAPORAN DNA


Menyatakan bahwa sampel dari DNA Karenina Mardi dari sampel usapan selaput lendir bagian pipi, memiliki 0% kesamaan dengan DNA Muhammad Dicky Pahrevi.


Dicky menatap Eliza dengan pandangan penuh kebencian.


“Karenina bukan anak kamu dengan Bapak, kan?”


Eliza menunduk beberapa saat. Tiba-tiba terdengar suara tawa mengerikan keluar dari mulutnya.


“Hhhhaaah, Mardi, Mariam, anak-anaknya adalah orang bodoh! Kalian terlalu polos menatap dunia, berharap semua orang itu sebaik kalian. Ya, Karenina memang bukan darah daging Mardi, aku memalsukan hasil DNA-nya.”


Eliza kembali tertawa terpingkal-pingkal. Tawa orang sakit jiwa.


“Dia memang bukan anak bapakmu, tapi harusnya ia jadi anak kita, Dicky. Malam itu aku dengar Mariam menelepon Mardi mengatakan bahwa kamu akan segera mampir ke rumah. Aku buatkan secangkir kopi dengan obat perangsang. Eh yang dateng malah bapaknya. Tapi …”


Sambil berbisik Eliza berkata, “Goyangan Bapakmu enak juga, aku yakin dengan Mariam dia tidak pernah seliar itu.” Tawa psiko kembali memenuhi ruangan 3x4m yang suram.


Hanna sekuat tenaga memegangi suaminya. Tangan Dicky terkepal kuat.


“Mas kita keluar, ayo!” Hanna menarik-narik suaminya sekuat tenaga agar tidak menyerang Eliza.


Karena merasa kekuatannya hampir habis, Hanna beristighar lalu berbisik, “Jangan biarkan hatimu dikuasai setan. Perempuan itu bukan mahram kamu, haram bagimu untuk menyentuh apalagi memukulnya. Istighfar sama Hanna, yuk.”


Suara Hanna lembut dan menenangkan. Amarah yang menggelegak di dada Dicky hilang dengan sentuhan Hanna di pipinya.


“Liat aku, Mas. Semua udah selesai.”


Dicky menyentuh wajah Hanna. Menatapnya penuh cinta.


Hanya perlu waktu sepersekian detik untuk Eliza lompat dan menusukkan gagang sikat gigi yang sudah ditajamkan ke punggung Hanna.


“Hanna!”


***

__ADS_1


__ADS_2