
Sudah tiga malam Hanna tidak bisa tidur. Tiap kali matanya terpejam memori pernikahannya dengan Thoriq seperti film menyedihkan yang diputar terus menerus.
Telah merasakan asam, garam, dan empedu kehidupan, Hanna merasa muak pada dirinya. Betapa tega ia sebagai sesama wanita berusaha merebut suami Qiara.
“Allah membenci manusia yang merusak rumah tangga orang lain.”
Demikian suara ustadz di tausiah tentang bab pernikahan terngiang di telinganya.
“Istri yang taat pada suami berhak masuk surga dari pintu manapun…”
Hanna menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
“Jauuh, aku dulu jauuuh dari taat kepada Mas Thoriq. Ya Allah …”
Yang paling menyedihkan adalah usai sidang pernikahan, ia melenggang pergi bersama Bastian tanpa memedulikan Thoriq yang waktu itu masih memakai kursi roda. Tidak juga menanyakan kabar Aira, putrinya yang baru berumur dua tahun dan sudah berbulan-bukan tidak ia temui.
Tak kuat menahan gelombang kenangan, Hanna mengambil air wudhu dan melakukan sholat sunah tahajjud diikuti sholat tobat.
Dalam dua minggu ke depan, ia akan bertemu dengan putrinya dan mungkin Thoriq. Dengan ketidakberdayaannya ia memohon kemudahan dan kekuatan agar Aira dan Thoriq mau memaafkan.
***
“Selamat, Anda diterima untuk bekerja paruh waktu. Mohon datang hari Minggu pukul sembilan dan lapor ke bagian purchasing.”
Hanna membaca berulang isi pesan. Tak menyangka pria nyinyir yang dituduh cabul itu meloloskan lamarannya. Berita baik itu lumayan menghibur kegalauan hatinya.
“Duuuh yang seneng,” goda Ruqoyyah, wanita paruh baya yang membersamai Ella mendirikan pesantren.
“Hanna keterima, Bu, yang di rumah sakit itu. Kerjanya tiap hari Minggu, in syaa Allah jadi punya penghasilan.”
“Maa syaa Allah… ikut seneng. Sukses ya, Nak. Moga Allah ridho. Terus itu file santri atas nama Kamelia kenapa nggak dibalikin. Ibu liat dari beberapa hari di meja kamu.”
“Oh iya, ini lagi coba hubungin ke whatsapp Aira maksud saya ke whatsapp Kamelia. Belum dibalas.” Aira tergagap. Padahal ia selalu menatap foto Aira remaja yang cantik. Wajahnya dulu mirip Hanna tapi sekarang garis-garis Thoriq mulai nampak di mata dan senyumnya.
“Whatsapp ke bapaknya aja, baik kok. Duda ganteng. Siapa tau dia naksir kamu…” sambungnya sambil tersenyum.
Hati Hanna tercubit. Dua kali gagal menikah membuatnya malas membuka hati. Dirinya siap hidup seperti ini.
“Assalamualaykum, saya mau mengembalikan formulir atas nama …”
“Ya Allah, Pak Cabul … maksud saya Pak Dicky,” seru Hanna melihat pria yang menyapa mereka.
Pria di depan pintu melotot ke arah Hanna. Dengan gamis dan cadar ia sulit mengenali.
Ruqoyyah melirik tajam ke arah Hanna yang buru-buru minta maaf.
“Waalaykumussalam, maaf latah. Bisa saya bantu, silakan duduk,” jawabnya sambil berdiri dan mempersilakan Dicky duduk di kursi seberang mejanya.
Dicky melangkah masuk dengan malas.
“Ini, saya mau masukin formulir buat anak saya, Latifah Sienna Johansyah.”
“Saya cek kelengkapan dokumen dulu, ya.”
Hanna membuka map lalu membuat ceklis terhadap semua dokumen.
“Maaf, sebelumnya ini nama ayah di kartu keluarga kok tidak sama dengan KTP Pak Dicky, ya?”
“Eeer, itu … itu gimana, ya?” Dicky menggaruk kepalanya.
“Hanna, santri Latifah itu keponakan Pak Dicky. Ibunya meninggal di kecelakaan bus barengan suami dan putri Ustadzah Ella. Waktu itu beberapa warga ikut wisata ke Temanggung. Pulangnya bis mengalami musibah.”
“Oh, maaf, Pak. Saya ikut berduka.”
“Nah kalau Pak Dicky ini masih bujangan tingting. Belum pernah married.”
Dicky menutup matanya dengan tangan, sementara Hanna melotot luar biasa pada penipu bermulut nyinyir yang kini salah tingkah.
“Hanna emang kenal sama Dicky? Dia mah saya tau dari orok. Waktu kecil Dicky ini suka lari telanjang bulet kalau pulang berenang dari kali.”
Hanna menggelengkan kepalanya
“Dasar cabul, ya cabul,” batin Hanna.
Dicky makin mengkerut, tatapannya mulai putus asa.
Hanna membalas Ruqoyyah, “Saya ketemu pas wawancara buat rumah sakit. Small world ya.. ketemu lagi di sini. Saya juga liat foto Pak Dicky dan keluarganya …”
__ADS_1
Hanna sengaja menggantung kalimatnya. Yakin Ruqoyyah akan dengan suka rela memberikan informasi lengkap dan akurat.
“Aaah itu pasti foto Dicky sama kakaknya. Qadarullah, Almarhumah Aisyah itu single parent karena suaminya raib entah kemana begitu anak ke dua lahir. Almarhumah dokter gigi di kampung ini. Dicky juga dokter spesialis kulit dan kelamin tapi praktiknya di rumah sakit dan kampung sebelah.”
“Maa syaa Allah, dokter kulit dan kelamin. Cucok,” gumam Hanna jahil, namun masih terdengar oleh pria di depannya.
Dicky melirik tajam ke arah wanita bercadar yang ternyata punya lisan losblong.
Dia berdehem lalu berkata dengan suara rendah untuk mempertahankan wibawa yang masih tersisa.
“Jadi bagaimana Bu Hanna, apakah sudah lengkap? Kapan anak emm keponakan saya bisa tes?”
“Alasan pindahnya kenapa ya Pak, jadi sekalian saya kasih notes buat pertimbangan penguji.”
Hanna siap mendengar dan menulis.
“Tulis saja supaya keponakan saya punya akhlak yang baik sebagai muslimah,” sindirnya.
“Cocok, saya yakin di pesantren ini Latifah akan dibimbing dengan benar. Adiknya bagaimana, perempuan juga kan, nggak sekalian aja daftar?”
Dicky hanya mampu terbengong sementara Hanna menunggu jawabannya.
“Iy, iya saya juga akan pindahkan adiknya tahun depan ke sini.”
“Tahun ini aja sekalian, Pak. Kebetulan pesantren kami ada program kakak beradik.” Hanna menyodorkan brosur.
“Ruqoyyah cepat menyahut, “Iyo ****, udah pindahin aja. Kamu kan masih single, belum pernah pacaran pula, mana ngerti kamu masalah perempuan.”
Hanna setengah mati menahan tawa. Sementara Dicky mati-matian menjaga marwah sebagai laki-laki bermartabat.
“Baik saya, pikirkan. Saya pamit kalau semua sudah beres.”
Dicky berdiri mengucapkan salam. Dari balik pintu ia sempat mendengar Hanna pura-pura bersin sambil menyamarkan satu kata, “Cabul.”
Sambil berjalan menuju motornya, Dicky bertekat bulat membalas Hanna di rumah sakit.
“Awas kau, Hanna.”
Di dalam ruangan Hanna makin yakin atas dugaannya terhadap Dicky.
“Aku harus hati-hati. Pria seperti dia sepertinya banyak menyimpan masalah terpendam yang bisa meluap karena sebab tertentu.”
“Naudzubillah.”
***
“Mas Kala, bagi foto yang pas aku ngapung di ban dong.”
“Ini? Atau yang ini?”
“Iiih Mas Kala kok jadi ikutan Liam fotoin pas aku lagi jelek.” Aira berusaha merebut hape kakaknya. Kala yang jangkung cukup mengangkat tangannya tinggi-tinggi sehingga tidak tergapai oleh Aira.
“Mas eeeeergh. Aira gigit ya.”
Aira mengejar Kala yang lari sambil meledek.
Liam yang sedang santai di teras duduk di atas bean bag tak menghiraukan polah Aira dan Kala.
“Kids.. “ gumannya.
Liam sedang asik melihat foto-foto selama mereka liburan ke Yogya.
Anak itu tersenyum setiap menemukan gambar yang ia sukai.
Thoriq melirik sekilas apa yang dilihat Love Guru di sebelahnya, lalu berkata, “Harus bisa menahan, ya. Aira masih kecil.”
Liam mematikan hapenya kemudian membalas, “I know, aku suka dia malah dari Aira lebih kecil lagi. Awalnya puppy love, kalau di Indonesia disebut cinta monyet. Lama-lama jadi first love.”
Thoriq sedikit tergagap dengan jawaban terus terang dari Liam.
“Kamu nggak takut Uncle marah?”
“Karena aku suka Aira? Hmm, aku rasa Uncle bisa lihat aku tetap menjaga batasanku dengan Aira. Tapi silakan tegur kalau aku atau Aira kelewatan.”
“Uncle boleh tanya? Kamu nggak seperti anak tujuh belas tahun lainnya. Yang kalau naksir cewek langsung tembak. Atau coba curi-curi kesempatan. Kamu manusia bukan, sih?”
Liam tergelak, lalu setelah puas dia menjawab, “Urusan itu, Buna yang ajarin. Mungkin dari pengalaman dengan laki-laki, ya …” Liam sengaja melirik ke Thoriq. Yang dilirik menerawang jauh.
__ADS_1
“Qiara dan Aira adalah dua hal terindah buat Uncle. Yang satu, Uncle hanya bisa mendoakan buat kebahagiaannya. Aira akan Uncle jaga sampai akhir hayat, in syaa Allah.”
“Aku bisa liat Uncle masih cinta mati sama Buna. Ditahan, ya, Buna udah punya Daddy.”
Thoriq yang sedang menyesap teh poci tersedak mendengar ucapan Liam. Sebagian menyembur dan membasahi sarungnya.
“See, itu yang membuat Uncle harus cerita biar plong. Bertahun-tahun Uncle menahan rasa dan mungkin sampai selamanya. Itu berat banget dan nggak sehat buat mental.”
“Biarlah. Mungkin dengan terus memendam, Uncle bisa mawas diri. Jujur aja, Uncle nggak ada loh keinginan untuk menikah lagi. Kebahagiaan Uncle udah lengkap, punya anak ganteng, cantik, taat, dan Qia ..” Suara Thoriq tercekat.
“Dan Qia bahagia.”
Liam menatap tanpa kedip. Memiliki perasaan sensitif dia bisa memahami begitu dalam cinta Thoriq pada Qiara.
“Kalau sama Tante Hanna?”
Thoriq menghela napas.
“Kalau sama Hanna, Uncle campur aduk. Uncle dulu sempat berusaha mencintai Hanna. Setelah Qiara pergi. Sungguh-sungguh berusaha. Namun rasa itu tidak pernah datang. Mau benci, tapi tidak bisa karena dia udah kasih Aira.”
“Kalau ketemu Tante Hanna dan udah insaf, Uncle mau coba bangun hubungan?”
“Uncle lebih memilih hidup single. Hanna, Hanna sebaiknya menikah dengan orang lain saja jika dia keluar penjara.”
“Beda banget.”
“Apanya?”
“Vibe-nya. Aku bisa merasakan Uncle benar-benar mencintai Buna. Tapi ketika bicara Tante Hanna, suaranya berubah jadi dingin.”
“Sebetulnya bukan Hanna penyebab utama Qiara pergi, tapi Uncle …”
“Ya iya lah. Kata Buna, hati wanita itu rapuh, hanya bisa dikuatkan dengan kesetiaan. Uncle udah married lagi sama Tante Hanna, dan kalian benar-benar menjalani pernikahan sampai menghasilkan Aira. Ya jelas Buna sedih.”
Tatapan Thoriq menjadi sendu, perlahan ia berkata, “Uncle nggak bisa adil dalam perasaan. Ketika Hanna hamil, nggak bisa dipungkiri kalau Uncle bahagia sekali. Namun dari sana, Uncle mengabaikan Qiara, menyakitinya. Uncle nggak tau kalau Qiara juga sudah hamil waktu itu. Uncle … uncle mendorongnya, menamparnya, karena Hanna menfitnah didorong oleh Qiara hingga terjatuh.”
“Mama …”
“Buna …”
Tak disadari Kala dan Aira sudah berdiri di belakang Thoriq dan Liam. Dua remaja itu mendengar penuturan Thoriq.
Aira menatap Kala dengan bingung. Sementara Kala mengeretakkan gerahammya karena marah.
Thoriq buru-buru berdiri lalu merangkul dua anaknya.
“Duduk, mungkin sudah saatnya kalian tau apa yang terjadi.”
Aira dan Kala duduk di antara Liam dan Thoriq. Aira terus menunduk, dalam beberapa hari ia mendengar ibunya adalah penculik dan sekarang ibunya pemfitnah. Anak itu merasa sangat malu terhadap asal usulnya.
“Kala, Aira, dan kamu juga Liam, jadikan apa yang terjadi sama Uncle, Buna, dan Mama kamu ini sebagai pelajaran.“
“Aya sebetulnya nggak terlalu salah. Toh Aya menikah dengan Mama karena mengikuti permintaan Kakek dan Nenek,” bela Aira dengan suara lirih.
“Benar. Bukan juga Aya selingkuh dan berzinah dengan Mama. Yang kami lakukan memang halal, tapi menyakitkan bagi Buna. Pesan Aya jika kelak kalian memiliki pasangan, jagalah hati. Putuskan semua bersama, apapun kondisinya.“
“Menurut Aya, apakah Buna akan setuju Aya menikah lagi?”
“Tidak. Tapi Aya yakin akan ada jalan keluar terbaik untuk Aya, Buna, dan Mama. Entahlah.”
“Yang jelas aku tidak akan memukul wanita,” cetus Kala yang sangat kecewa dengan Ayahnya.
“Betul, jangan ikuti Aya. Apa Aya perbuat sangatlah memalukan dan bodoh. Terlepas dari apapun kejadiannya tidak sepantasnya Aya menyakiti Buna.”
Netra Kala berkaca-kaca. Ia buru-buru mengusapnya dengan tangan.
“Kala, Aya tahu kamu kaget dan kecewa. Silakan marah, Aya pun bertahun-tahun merutuki diri sendiri. Hanya please jangan tinggalkan Aya.”
Kala tidak mau menatap wajah Ayahnya. Bayangan Buna didorong dan ditampar membuatnya sakit hati bukan kepalang. Akhirnya Kala tidak merespon Ayahnya.
“Aya, pernahkah Aya bahagia selama menikah dengan Mama?”
“Ketika Aya tau ada Aira di perut Mama, dan ketika Aira lahir.”
“Pernahkah Aya mencintai Mama?”
“Aya pernah berusaha, namun hingga akhir, Aya … Aya gagal.”
__ADS_1
“Aya, Aira pengin ketemu Mama …”
***