
Bulan berganti, kehamilan Qiara kini masuk usia delapan bulan. Tidak hanya Devan, namun Phil, Liam, Kala, bahkan Javier ikut menjaga Qiara.
Calon ibu anak kembar tiga itu tetap menyusui Abby. Hatinya lumayan sedih karena tidak bisa menitah Abby yang mulai berjalan, seperti dulu dengan Kala.
Perutnya terlalu berat untuk dia menunduk dan pinggangnya gampang lelah.
Liam dengan suka rela menjagai Abby. Sementara Kala sibuk menceritakan kehebatan Thor di depan perut ibunya. Anak itu bahagia luar biasa karena tiga adiknya nanti laki-laki.
“Kala, jangan cerita tentang Thor aja, cerita juga tentang kisah nabi-nabi.”
“Ay ay, Buna!”
***
Di rumah sakit, Devan dan Nadine sedang rapat tentang kasus seorang ibu yang sedang hamil kembar enam dengan dua di antaranya siam atau menempel satu sama lain.
Devan mengundang para dokter muda untuk ikut berdiskusi dengan mereka. Suatu tindakan yang tidak disukai Nadine.
Terkait koleganya, Devan tidak mau berlagak naif. Ia tahu Nadine memiliki perhatian khusus, namun ia tidak mau menanggapi.
Apapun akal bulus Nadine selalu dipatahkan dengan lugas tanpa keluar dari batas profesionalisme.
“Dev, coba kamu lihat foto ini, jika dilihat maka posisi kembar siam akan menghalangi jalan lahir bayi lainnya.” Nadine sengaja mendekatkan bahunya agar bersentuhan dengan bahu Devan.
Santai tapi pasti Devan mengubah posisi duduk hingga menjauh dari badan koleganya.
Para dokter muda melihat namun pura-pura tidak tahu.
“Caesar adalah satu-satunya jalan. Kita harus meyakinkan pasien jika lahir normal akan sangat membahayakan ibu dan janin,” tegasnya karena pasien bersikeras kuat melahirkan normal.
“Kita bisa sampaikan bersama.”
“Anda saja, saya yakin pasien lebih nyaman bicara dengan dokter wanita. Okay, jika tidak ada yang perlu dibahas, kita bertemu di rapat berikutnya.”
Devan gegas keluar untuk memeriksa pasien-pasien lainnya. Nadine yang menyembunyikan rasa kecewa juga ikut keluar menuju ruang operasi.
Beberapa dokter yang tinggal menggosip, “Aku pengin tahu, seberapa dokter Devan bisa bertahan tidak tergoda dengan dokter Nadine.”
“Mau taruhan. Aku bertaruh dalam waktu dua bulan akan terjadi perselingkuhan besar abad ini.”
“Aku tidak ingin itu terjadi. Selama dokter Devan tegas, tidak akan ada affair.”
“Aku tahu kenapa dua bulan. Istrinya hamil kembar tiga dan sebentar lagi melahirkan. Pasti jatah kurang. Aku bertaruh juga tiga bulan mereka jadian. Deal?”
“Oke, deal!” Tiga dokter muda berpisah menuju tugas masing-masing di rumah sakit itu.
Malam hari, Devan bermain dengan Abby, putrinya yang sedang tidak mau diam dan ingin terus dititah. Qiara punya hobby baru yaitu merajut, kini ia duduk di sofa nyaman membuat taplak meja entah untuk yang kesekian.
“Uuuunyaa,” Abby memanggil bunanya.
__ADS_1
Devan dan Qiara bersitatap.
“Uuuunyaa,” bayi sepuluh bulan itu makin ngebut menuju bunanya.
“Qia, anak kita manggil kamu.”
“Abby, coba ngomong Buna lagi,” pinta Devan sambil menggendong. Rupanya Abby masih mau dititah dan langsung berontak. Dengan sigap Devan menurunkan lalu menitah ke arah Qiara.
Sesampainya Abbi langsung minta gendong dan memegang payudara Qiara tanda ingin menyusu.
Qiara meletakkan rajutan yang sedang dikerjakan, membuka kancing kemeja, dan dalam waktu kurang dari sedetik, Abby sudah menikmati momen terdekat dengan Sang Buna. Matanya mulai merem melek.
Dari atas, Liam dan Kala turun setelah selesai belajar. Kini giliran Devan bercengkrama dengan kedua anaknya.
Sedang asyik memandangi wajah Abby, hape Devan yang diletakkan di meja depannya bunyi. Qiara melirik ada nama Nadine.
Devan berkata, “Angkat aja, katakan aku sedang main bersama anakku.”
“Kalau emergency?”
“Jalur emergency tidak melalui dia.”
Qiara mengangguk, “Hi, Nadine, I’m Qiara, Devan’s wife.”
“Selamat malam, hi, saya Nadine teman Devan.”
Qiara mengernyit, ada nyali juga wanita ini. Biasanya antardokter mereka akan tetap memanggil gelar dan menyebut diri sebagai kolega, bukan teman.
“Devan sedang bermain dengan anak-anak kami. Kalau ada emergency, biarlah mengikuti jalur seharusnya.”
“Qiara, you don’t understand, ini menyangkut nyawa pasien, kamu seharusnya tahu sebagai istri dokter.”
Devan yang dari ruang sebelah menghubungi rumah sakit memberi kode aman, tanda bahwa tidak ada emergency dari pasien-pasiennya.
“Look, Nadya, itu bukan namamu?”
“Nadine,” jawabnya ketus. Qiara tak bisa menyembunyikan senyum jahil. Ia ingin berlama-lama mengerjai calon pelakor tapi tidak juga ingin Abby terbangun.
“Oh ya, Nadine, justru karena aku menikah bukan kemarin sore, jalur emergency tidak seperti ini. Segala masalah di kedokteran pasti menyangkut hidup dan mati pasien. Setidaknya bukan malam ini.”
“Tapi aku harus …”
“Udah dulu, Nadine. Aku sedang menyusui bayiku, semoga malammu menyenangkan. Bye.”
Devan yang sedari tadi duduk di samping Qiara mengacungkan jempol.
“Kamu ini ngapain aja sih, kok sampe ada wanita gitu banget sama kamu.” Qiara merajuk tak mau melihat Devan. Air mata menggenang di pelupuknya.
Devan sadar istrinya trauma dengan perselingkuhan dan dirinya tak berniat untuk menyakiti Qiara.
__ADS_1
“Sayang, Sayang. Maafin ya. Aku nggak mau ada salah sangka dan fitnah. Tidak pernah sekali pun aku berdua dengan Nadine. Selalu ada para dokter intern yang bersamaku.”
Qiara terus menatap Abby sambil menggigit bibirnya. Bulir mata menetas dan langsung segera dihapus. Hati Devan terasa pilu melihat air mata di netra istrinya.
“Sayang, hey, kamu percaya kan, sama aku?”
***
Ribuan kilometer, di sebuah restoran di kota Solo, Thoriq sedang menunggu seorang wanita. Miriam namanya.
Untuk pertama kali, Thoriq ingin berkenalan dengan seorang wanita selain Qiara.
Sebelumnya, Thoriq juga sudah minta ijin ke orang tua Miriam untuk mengenal putri mereka lebih jauh.
“Assalamualaykum, Mas. Aku bawa adikku ya, Isa.”
“Waalaykumussalam, hai, Miriam dan Isa. Silakan duduk.”
Miriam, gadis manis berkulit sawo matang, malam itu memakai kerudung panjang berwarna sage dengan gamis senada.
Di sampingnya, Isa adik laki-lakinya juga terlihat gagah. Mereka adalah kakak beradik yang santun. Ayah mereka seorang ustadz dan ibunya adalah guru mengaji. Miriam sendiri sedang mengambil S2 untuk ilmu Al Qur’an.
Miriam hanya sesekali menatap Thoriq, selebihnya ia menunduk sambil memilih makanan dan minuman dari buku menu.
Setelah memesan untuk mereka, Thoriq berbincang dengan Isa yang baru lulus kuliah. Sesekali menanyakan sesuatu pada Miriam.
Pembicaraan mereka hangat. Thoriq berulang kali melirik Miriam yang dibalas dengan senyum manis malu-malu. Setelah makan malam, Isa dan Miriam pamit. Thoriq mengantarkan hingga ke mobil.
Setelah mereka pergi ia masuk ke dalam cafe, memesan secangkir kopi pahit.
Solo diguyur hujan malam itu. Thoriq melayangkan pandangan ke luar jendela yang basah.
Pria itu menghela napas setelah menyeruput kopi pahit. Matanya sendu.
“Belum ada yang bisa menggantikan Qiara di hatiku …”
Keesokan harinya, Thoriq datang ke rumah orang tua Miriam untuk pamit. Ia berharap Miriam menemukan laki-laki yang bisa membahagiakan putri mereka.
Kedua orang tua Miriam menghargai Thoriq dan mendoakan hal yang sama. Mereka sangat menyayangkan karena terlepas dari statusnya, Thoriq adalah seseorang yang santun dan taat.
Di dalam mobil, Thoriq merasa ringan. Akan menjadi suatu kesalahan untuk terjun bebas ke dalam sebuah ikatan tanpa rasa.
Ia pernah mencintai begitu dalam hingga kehilangan orang itu membuat sakit yang belum tersembuhkan. Thoriq juga pernah berjuang mencintai Hanna dan gagal.
Tak mau galau berkepanjangan, ia mengarahkan mobilnya ke kantor sambil memikirkan rencana pengembangan villa ke daerah Lombok.
“Jodoh tak kan kemana …”
Thoriq pun bergumam mengikuti shalawat badr, shalawat kesukaan Aira.
__ADS_1
***